NovelToon NovelToon
(Batas Tipis) CINTA & PROFESI

(Batas Tipis) CINTA & PROFESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Penasigembul

Dorongan kuat yang diberikan sepupunya berhasil membuat Marvin, pria dengan luka yang terus berusaha di kuburnya melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang praktek seorang Psikolog muda. Kedatangannya ke dalam ruang praktek Bianca mampu membuat wanita muda itu mengingat sosok anak laki-laki yang pernah menolongnya belasan tahun lalu. Tanpa Bianca sadari kehadiran Marvin yang penuh luka dan kabut mendung itu berhasil menjadi kunci bagi banyak pintu yang sudah dengan susah payah berusaha ia tutup.
Sesi demi sesi konsultasi dilalui oleh keduanya hingga tanpa sadar rasa ketertarikan mulai muncul satu sama lain. Marvin menyadari bahwa Bianca adalah wanita yang berhasil menjadi penenang bagi dirinya. Cerita masa lalu Marvin mampu membawa Bianca pada pusaran arus yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara keluar dari sana.
Ditengah perasaan dilema dan masalahnya sendiri mampukah Bianca memilih antara profesi dan perasaannya? apakah Marvin mampu meluluhkan wanita yang sudah menjadi candu baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penasigembul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Bram mengalihkan fokusnya dari laptop yang ada di hadapannya ketika melihat siapa yang sedang masuk ke dalam ruangannya, tadinya ia berpikir itu adalah Vivi yang mengantarkan secangkir kopi untuknya.

Kemunculan Bianca di balik pintu ruang kerjanya berhasil membuat senyum merekah pada wajah Bram yang tampak lelah.

“Hai, Pa.” Sapa bianca sambil meletakkan secangkir kopi yang tadi dititipkan oleh Vivi untuk diberikan kepada Bram.

Bram tersenyum dan mengangguk. “terima kasih, Ca.” Ujar pria paruh baya itu dengan tangan meraih cangkir kopi yang baru saja Bianca letakkan.

“Boleh Caca duduk disini?” tanya Bianca menunjuk kursi yang ada di depan meja kerja Bram.

“tentu saja, duduklah. Kenapa harus bertanya?” Bram menyesap kopinya sekali lagi sambil terus melihat pada putri kecilnya yang semakin beranjak dewasa.

“Ada apa, Ca?” tanya Bram memecah keheningan karena putrinya hanya duduk diam dengan kepala menunduk. Bram yang melihat itu sedikit was-was jika putrinya akan kembali menolak atau bernegosiasi dengan waktu yang sudah ia berikan.

“Boleh Caca minta sesuatu sama Papa?” Meski ragu Bianca akhirnya mengeluarkan suaranya, ia sedikit melirik pada Bram berusaha menelisik reaksi pria itu.

“Tergantung dari apa permintaanmu.” Sahut Bram sambil meletakkan cangkir kopi yang sejak tadi masih berada di tangannya kemudian menyandarkan punggungnya. “Jika menyangkut pilihanmu, Papa rasa kamu sudah tahu jawabannya.”

Bianca menggeleng cepat, tidak ingin ada perdebatan apapun dengan papanya.

“Lalu, apa yang kamu inginkan?”

Bianca mengangkat kepalanya, melihat wajah Bram, sesuatu yang mungkin hampir tidak pernah ia lakukan, memerhatikan raut wajah pria yang selalu membuatnya takut untuk melakukan banyak hal tanpa ijin.

“Caca mau mengambil liburan sebelum masuk perusahaan.” Pinta Bianca dengan mata penuh harap.

Bram menatap putrinya, dalam dan jelas menunjukkan kasih di balik tatapan itu. “Apa kamu sudah menyelesaikan semuanya?”

Bianca tersenyum tipis kemudian mengangguk. “Iya, semua sudah Caca selesaikan, hanya saja Caca merasa beberapa waktu terakhir ini terlalu melelahkan.”

“Ya, ambillah waktu untuk berlibur. Papa rasa kamu memang memerlukan itu.”

Bianca menatap Bram dengan tatapan berbinar, tanpa sadar ia berdiri dan melangkah menuju papanya dan memeluk pria itu. “Terima kasih, Pa.”

Baik Bram maupun Bianca sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja Bianca lakukan. Ini menjadi yang pertama kalinya bagi Bram mendapatkan pelukkan dari putrinya. Bram tersenyum dan menoleh, memberikan kecupan yang sudah lama tidak ia berikan di pipi putri yang sangat ia sayang dan banggakan.

*

Di gedung concelling tempat biasa Bianca bekerja, Marvin tengah melangkahkan kakinya masuk untuk bisa menemui wanita yang sudah satu minggu lebih ini ia hindari.

Setiap perkataan Saka beberapa hari lalu terus terlintas dalam benaknya, setelah berpikir cukup lama Marvin akhirnya memutuskan tidak ada salahnya mencoba untuk memperjuangkan sesuatu yang menurutnya akan membuat dirinya bahagia.

Penantiannya untuk kembali bertemu Bianca sudah ada di depan mata, ia bertekad untuk mengatakan kepada Bianca bahwa dia lah anak laki-laki yang di tunggu Bianca untuk bisa di temui, dengan membawa semua fakta itu Marvin juga membawa harapan besar bahwa Bianca dan dirinya tidak saling menjauh, meskipun tidak bisa saling memiliki jika itu yang Bianca inginkan.

“Selamat sore Mba Jean.” Jean mengangkat kepalanya dari kesibukan membuat beberapa surat rujukkan yang diminta Bianca siang tadi dan cukup terkejut mendapati Marvin berada di depannya.

“Selamat sore Pak Marvin.” Jean bangkit dari duduknya. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Apa saya bisa menemui Mba Bianca?” tanya Marvin penuh harap.

Jean menggeleng sekilas, membuat harapan yang Marvin bawa seolah sirna.

“Mba Bianca sudah pulang sejak siang tadi.”

Dengan sedikit rasa kecewa mendengar jawaban Jean dan mendapati dirinya tidak bisa menemui Bianca akhirnya Marvin hanya mengucapkan terima kasih dan kembali melangkah meninggalkan gedung itu.

Marvin sudah berada di dalam mobil dan membelah keramaian jalanan sore itu, melajukan mobilnya masih dengan tujuan yang sama menemui Bianca, kali ini ia mengarahkan mobilnya menuju kompleks perumahan elit dimana Bianca tinggal.

Dengan langkah pasti, Marvin menghampiri pagar tinggi yang ada di seberang tempat mobilnya ia parkirkan, seorang satpam yang melihat kedatangan Marvin dan mengenali pria itu sebagai teman dari nona mudanya berjalan membuka gerbang dan menghampiri pemuda itu.

“Sore Pak.” Sapa Marvin pada satpam yang sudah berada di depannya.

“Selamat sore, Pak.” Balas satpam itu sambil menunduk hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Saya ingin bertemu dengan Bianca.” Ujar Marvin mengutarakan tujuannya.

“Maaf Pak, saat ini nona Bianca sedang tidak ada di rumah.” Sekali lagi ada rasa kecewa yang melesat dengan cepat di hatinya. “boleh saya tahu dengan Bapak siapa? Tanya satpam itu menyadarkan Marvin dari keterdiamannya. “Biar nanti bisa saya sampaikan kepada nona Bianca.”

“saya dengan Marvin, tolong katakan kepada Bianca saya mencarinya.”

Satpam itu mengangguk, “Baik Pak, akan saya sampaikan ketika nona Bianca sudah pulang.”

Marvin mengucapkan terima kasih , membalikkan tubuhnya dan melangkah kembali ke mobilnya dengan rasa kosong dari harapan yang ia bawa untuk bisa bertemu dan berbicara dengan wanita yang begitu membuat hari-harinya mengalami banyak perubahan.

*

Di sebuah restoran Bianca dan kedua orang tuanya sedang menunggu pesanan mereka sambil membicarakan beberapa hal ringan dan Bram yang terus mengenalkan bianca pada banyak hal yang nantinya akan mengisi hari-hari Bianca sebagai seorang CEO mudah.

Viivi merasa terharu dan bahagia dengan terwujudnya makan malam ini, momen yang sulit sekali terjadi di dalam keluarganya. Ada sebuah rasa yang tidak dapat diungkapkan oleh wanita yang sudah semakin menua itu, melihat putrinya seperti saat ini membuat hatinya sangat berbunga.

“Jadi destinasi mana yang akan kamu pilih sebagai tempat liburanmu, sayang?” tanya Bram pada putrinya, Vivi pun menatap putrinya menunggu jawaban dari gadis cantik itu.

Bianca menggeleng. “Belum tau, Pa. Apa papa dan mama ada ide?” Bianca meminum orange juicenya setelah meminta saran pada Bram dan Vivi.

Bram terdiam sejenak, berpikir destinasi mana yang cocok untuk putrinya berlibur. “dalam atau luar negeri?”

“Dalam negeri aja, Pa.”

Bram hendak menyampaikan usulan namun terhenti ketika seorang pelayan menghampiri mereka dan mengatarkan semua pesanan.

Pembicaraan akan destinasi liburan Biancapun terhenti dan tertunda karena mereka sudah memulai makan malam, ini bisa menjadi waktu untuk memikirkan kembali destinasi mana yang cocok untuk Bianca kunjungi.

Bianca menatap kedua orangtua yang duduk di hadapannya, senyum tipis merekah dibibirnya. Harus ia akui momen seperti ini memang tidak pernah terjadi sebelumnya, semua karena keegoisannya yang tidak menginginkan hal itu.

Selama beberapa waktu ini Bianca selalu menyibukkan dirinya dan berpikir tentang hubungannya dengan Bram.

Pertemuannya dengan Marvin mampu menyadarkannya, jika dia bisa berbicara dengan lantang untuk berdamai dengan diri sendiri pada orang lain, kenapa hal itu tidak bisa ia lakukan kepada dirinya sendiri, dan hari ini ia sudah melangkah dan mencoba, berdamai dengan dirinya, dengan Bram dan dengan keadaannya

1
Tít láo
Aku udah baca beberapa cerita disini, tapi ini yang paling bikin saya excited!
Michael
aku mendukung karya penulis baru, semangat kakak 👍
Gbi Clavijo🌙
Bagus banget! Aku jadi kangen sama tokoh-tokohnya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!