Ben Wang hidup kembali setelah kematian tragis yang membuka matanya pada kebenaran pahit—kekasihnya adalah pengkhianat, sementara Moon Lee, gadis sederhana yang selalu ia abaikan, ternyata cinta sejati yang tulus mendukungnya.
Diberi kesempatan kedua, Ben bertekad melindungi Moon dari takdir kelam, membalas dendam pada sang pengkhianat, dan kali ini… mencintai Moon dengan sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Promo novep Dendam Anak Selingkuhan
Di sebuah rumah sederhana yang terlihat gelap dan sempit, di dalam salah satu ruangan tampak seorang gadis dengan tangan kiri dirantai. Gadis berambut panjang itu duduk di lantai dingin sambil menggambar sesuatu. Coretan-coretan garis tak beraturan memenuhi kertas putih di hadapannya.
Wajahnya pucat dan tubuhnya kurus, namun semua itu tak mampu menutupi kecantikannya.
“Malam ini kau harus pergi menemani Tuan Yao, apa kau dengar?” suara wanita itu terdengar dingin. Dia tak lain adalah Sannia, ibu Joyce.
Gadis yang tengah fokus mencoret-coret kertas itu adalah Joyce. Walau diperlakukan seperti tahanan—tangan kiri dan kaki kanannya dirantai sehingga tak bisa bergerak bebas—ia tetap melanjutkan gambarnya.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Apa yang kau coret, ha? Semuanya hanya sampah,” kata Sannia.
“Jam berapa aku pergi?” tanya Joyce dengan nada patuh.
“Jam tujuh malam. Ingat, jangan berulah lagi kalau tidak mau dipukul,” kecam Sannia sambil menggenggam rotan panjang.
Joyce kembali melanjutkan coretannya, seolah tak peduli dengan ancaman ibunya.
“Dasar tidak berguna. Apakah kau tahu anak laki-laki dan perempuan papamu telah pulang dari luar negeri? Mereka kini telah melamar kerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Lin. Anita Lu seusia denganmu, tapi dia jauh lebih berguna darimu, berhasil menjadi seorang desainer perhiasan. Sedangkan kau… hanya bisa menangis dan bahkan tidak bisa menulis sama sekali,” kata Sannia.
“Bukankah aku tidak pernah diberi kesempatan untuk sekolah? Bagaimana aku bisa menulis dan membaca? Bahkan namaku sendiri aku tidak bisa menulisnya,” jawab Joyce.
Sannia yang semakin kesal langsung memukul punggung gadis itu.
“Berani melawan! Kalau bukan karena aku melahirkanmu, hidupku tidak akan hancur,” bentak Sannia.
Joyce hanya diam, menahan sakit yang menjalar di punggungnya.
***
Restoran terkenal
Calvin terlihat duduk bersama Johanes Wu, membahas urusan bisnis dengan serius.
Pelayan restoran tersebut menuangkan minuman ke dalam gelas Calvin.
Calvin mengangkat gelasnya, bersulang dengan Johanes, lalu meneguk minuman itu hingga tak tersisa.
Beberapa saat kemudian, pertemuan pun berakhir. Calvin keluar dari ruangan VIP sambil menarik dasinya. Namun langkahnya sedikit terhuyung ketika ia mulai merasakan keanehan pada tubuhnya.
“Minumannya ada yang mencampur sesuatu,” gumam Calvin.
“Calvin Lin di sana!” ucap salah satu pria yang datang bersama dua temannya.
“Siapa kalian?” tanya Calvin, berusaha melawan efek obat yang mulai menyerang tubuhnya.
“Calvin Lin, kami adalah orang-orang yang menginginkan kematianmu,” jawab salah satu pria bersenjata tajam itu.
Calvin bergerak cepat. Ia menendang kaki lawan terdekat hingga pria itu terjatuh, lalu menahan serangan berikutnya dan menghantam wajah penyerangnya tanpa ragu.
Seorang pria lain mencoba menyerang dari belakang, namun Calvin berputar dan melayangkan tendangan panjang yang menghantam tubuhnya keras.
Bruk!
“Kalian mencampur obat ke dalam minumanku,” ujar Calvin dingin, napasnya sedikit berat namun tatapannya tetap tajam.
“Benar. Itu obat perangsang,” jawab pria itu sambil tersenyum sinis. “Kau akan menderita dan takkan mampu melawan kami. Selain itu, kami sudah mengirimkan seorang wanita untukmu. Nikmati saja. Besok, kau akan segera menjadi berita besar.”
“Berani sekali kalian menyentuh bos kami!”
Shane muncul bersama beberapa anak buahnya. Tanpa memberi kesempatan, ia menyerang tiga pria itu. Tendangan dan pukulan menghantam mereka satu per satu hingga terkapar di lantai.
“Bawa mereka,” perintah Calvin sambil melonggarkan dasinya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun suaranya tetap tegas. “Tahan mereka. Aku akan menghukum mereka dengan caraku sendiri.”
Tanpa menoleh lagi, Calvin melangkah pergi meninggalkan restoran itu.
Di sisi lain, Joyce tengah dikejar oleh beberapa pria. Punggung gadis itu tampak mengeluarkan darah akibat pukulan keras dari ibunya sebelumnya. Sambil menahan rasa sakit yang menusuk, ia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kejaran empat pria itu.
“Jangan sampai dia lolos, gadis sialan. Ibunya sudah mengambil uang kita,” ketus salah satu dari mereka.
Joyce yang ketakutan hampir tak mampu lagi berlari. Tubuhnya terasa lemas, rasa sakit menjalar di setiap langkah. Keringat dingin membasahi wajah pucatnya.
“Joyce Chen, ibumu sudah menerima bayaran dari kami. Kau harus melayani kami berempat sampai pagi,” teriak mereka, membuat ketakutan Joyce semakin menjadi.
Joyce membelok ke arah lain tanpa arah yang jelas. Dalam kepanikannya, ia menabrak seorang pria yang berdiri di dekat mobilnya.
Tubuh Joyce hampir terjatuh, namun pinggangnya tiba-tiba ditahan oleh sepasang tangan yang kuat.
Pria itu tak lain adalah Calvin.
Joyce terdiam.
Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, sementara tangannya mencengkeram baju pria asing itu tanpa sadar.
Pandangan Joyce perlahan terangkat.
Namun cahaya lampu jalan tepat berada di belakang pria itu. Sinar kuning dari tiang lampu membentuk bayangan gelap di wajahnya, membuat Joyce hanya bisa melihat siluet tinggi dengan bahu lebar dan postur tegas. Wajah pria itu tertutup bayangan, tak satu pun garisnya terlihat jelas.
Yang bisa Joyce rasakan hanyalah— kehangatan tubuh pria itu… dan tangan yang mencengkeramnya dengan kuat.
Calvin menunduk menatap gadis di pelukannya.
giliran dibalik nnti baru nangis kejer kalo si Ben perhatian dan senyum ke cewe lain pas mereka pacaran
mending moon mati aja deh gausah jdi fl
makin seru😍..
dobel up