NovelToon NovelToon
Tergoda Adik Tiri

Tergoda Adik Tiri

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Hamil di luar nikah / Romansa / Tamat
Popularitas:72.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nita03

Dari kecil Raka tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu, Ibu nya selingkuh saat ia baru berusia satu tahun. dan saat itu Ayah nya tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan.
Sampai Raka di usia 22 tahun, Ayah nya memutuskan untuk menikah dengan janda satu orang anak.
Disanalah hidupnya berubah setelah berkenalan dengan Adik tirinya bernama Nadine, Nadine baru berusia 20 tahun, mahasiswi semester 4 jurusan Tata boga.Dan ternyata mereka satu kampus.
Nadine tidak ikut tinggal dengan keluarga barunya, ia memilih untuk tinggal di apartemen nya, tapi sesekali ia akan menginap di rumah keluarga barunya, dan disanalah Mereka sering bertemu dan berinteraksi. mau di rumah ataupun di luar.
Ada kejadian dimana membuat Raka mulai jatuh cinta dan tertarik kepada Nadine.
kira-kira kejadian Apa ya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Lima

***

Setelah sempat beristirahat sebentar di kamar hotel, Nadine terbangun dari tidurnya ketika sinar matahari sore menembus tirai tipis. Suara deburan ombak yang terdengar jelas dari balkon membuatnya tersenyum kecil. Ia meregangkan tubuh lalu menoleh, mendapati Raka duduk santai di kursi dekat jendela sambil menatap layar ponsel.

“Bangun juga akhirnya,” sapa Raka sambil tersenyum begitu menyadari Nadine sudah membuka mata.

Nadine menguap kecil. “Aku ketiduran, ya? Padahal cuma mau rebahan sebentar.”

Raka berdiri, lalu mendekat. “Pantesan nggak ada suara dari tadi. Abang biarin kamu istirahat, soalnya besok kita bakal sibuk banget. Tapi…” ia berhenti sebentar, “Abang pengen ngajak kamu jalan-jalan ke pantai sore ini. Sayang kalau kita cuma di kamar.”

Mata Nadine langsung berbinar. “Beneran, Bang? Aku pengen banget lihat pantai di sini.”

“Ya udah, ganti baju yang nyaman. Abang tunggu di lobi.”

Tak butuh waktu lama, Nadine sudah keluar dengan dress sederhana warna biru muda yang jatuh selutut, rambutnya ia ikat setengah ke belakang. Raka menunggu di sofa lobi dengan kemeja tipis yang lengannya ia gulung sampai siku. Begitu melihat Nadine, ia sempat terpaku sesaat.

“Kamu cantik banget, sayang,” ucapnya spontan.

Nadine tertegun, lalu tersenyum sambil menunduk malu. “Biasa aja, Bang.Ini cuma dress santai.”

“Justru itu. Kamu nggak perlu usaha keras buat terlihat cantik.”

Mereka berjalan keluar hotel, menyusuri jalan setapak yang langsung terhubung dengan pantai pribadi hotel. Pasir putih terasa lembut di bawah kaki ketika sandal mereka menapakinya. Laut membentang luas, berkilauan terkena sinar matahari sore yang mulai turun. Angin membawa aroma asin khas pantai, membuat suasana terasa menenangkan.

Nadine menutup matanya sejenak, menghirup udara dalam-dalam. “Ya ampun… indah banget. Aku kayak nggak percaya bisa ada di sini.”

Raka meliriknya, tersenyum melihat ekspresi kagum Nadine. “Abang senang lihat kamu bahagia. Itu tujuan abang bawa kamu ke sini.”

Mereka berjalan berdampingan di tepi pantai, sesekali air laut menyapu kaki mereka. Nadine mengangkat gaunnya sedikit agar tidak basah, sementara Raka sengaja membiarkan celana panjangnya terpercik air. Ia tertawa kecil melihat Nadine sibuk menghindar.

“Abang, nanti bajuku basah,” protes Nadine sambil setengah berlari kecil menjauh dari ombak.

Raka mengejar dengan tawa, lalu berhasil menangkap pergelangan tangannya. “Kalau pun basah, abang yang keringin.”

Nadine menoleh dengan wajah memerah, lalu berusaha melepaskan tangan Raka. Namun genggaman itu justru terasa hangat dan membuatnya enggan benar-benar pergi.

Setelah cukup jauh berjalan, mereka duduk di sebuah batu besar menghadap laut. Matahari mulai turun, langit berubah jingga keemasan. Nadine terdiam menatap horizon, sementara Raka memperhatikan wajahnya dari samping.

“Sayang…” panggil Raka pelan.

Nadine menoleh. “Hm?”

“Abang pengen momen kayak gini terus. Berdua sama kamu, tanpa takut atau ragu.”

Nadine terdiam, hatinya terasa hangat oleh kata-kata itu. “Aku juga pengen, bang. Cuma… aku masih kadang takut orang lain nggak bisa terima hubungan kita.”

Raka meraih jemari Nadine, menggenggamnya erat. “Selama kamu sama abang, biarin aja orang lain ngomong apa. Yang penting kita tahu apa yang kita rasain. Abang akan terus jagain kamu.”

Nadine menunduk, senyumnya merekah tipis, lalu membiarkan kepalanya bersandar di bahu Raka. Sore itu, di bawah langit senja dan suara deburan ombak, keduanya larut dalam keheningan yang justru terasa paling indah.

Ketika matahari akhirnya benar-benar tenggelam, Raka berbisik lirih, “Besok kita mulai cerita baru. Tapi hari ini… aku bersyukur, karena aku bisa lihat matahari terbenam pertama kali di Lombok bareng kamu.”

Nadine hanya menutup mata, mengabadikan momen itu dalam ingatannya. Baginya, ini adalah sore yang akan selalu ia kenang—sore yang membuat cintanya pada Raka semakin dalam.

.

Malam itu, setelah mereka kembali ke hotel dan beristirahat sebentar, Nadine baru saja selesai mengeringkan.

“Kamu udah siap, sayang?” tanya Raka sambil menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

Nadine, yang malam itu memilih memakai dress putih sederhana dengan cardigan tipis warna pastel, mendadak salah tingkah. “Siap? Maksudnya?”

Raka tersenyum kecil. “Abang mau ajak kamu keluar lagi. Dinner. Ada kafe bagus deket pantai, katanya suasananya romantis. Abang pengen kamu lihat sendiri.”

Nadine sempat ragu, tapi tatapan penuh keyakinan dari Raka membuatnya akhirnya mengangguk. “Oke. Tapi jangan salahin aku kalau aku makan banyak, ya.”

Raka terkekeh. “Makan sebanyak yang kamu mau. Abang malah seneng kalau kamu doyan makan.”

Mereka berjalan keluar hotel, menyusuri jalanan yang diterangi lampu-lampu temaram. Udara malam terasa sejuk, angin pantai membawa aroma asin bercampur wangi bunga dari taman sekitar. Jalanan agak sepi, hanya sesekali ada wisatawan lain yang juga menuju pantai.

Tak lama, mereka sampai di sebuah kafe semi-outdoor yang menghadap langsung ke laut. Lampu-lampu gantung kecil menghiasi area terbuka, menciptakan suasana hangat dan romantis. Di beberapa meja, pasangan lain juga terlihat menikmati makan malam sambil ditemani musik akustik yang dimainkan live oleh penyanyi lokal.

“Ya ampun… indah banget,” bisik Nadine kagum.

Raka menoleh, tersenyum puas melihat reaksinya. “Aku udah yakin kamu bakal suka tempat ini.”

Mereka memilih meja di tepi, dekat pagar kayu yang hanya berjarak beberapa meter dari pasir pantai. Dari sana, suara ombak terdengar jelas, berpadu dengan petikan gitar yang lembut. Seorang pelayan datang membawakan menu, lalu pergi meninggalkan mereka setelah mencatat pesanan.

“Abang pesan pasta seafood sama mocktail tropis. Kamu?” tanya Raka sambil meletakkan menu.

Nadine tersenyum. “Aku mau grilled chicken sama jus mangga.”

“Pilihan yang aman,” goda Raka.

“Daripada nanti aku nggak habis kalau pesan seafood. Kamu aja yang jago soal itu,” balas Nadine sambil terkekeh.

Mereka lalu terdiam sejenak, menikmati suasana. Lampu-lampu kecil di atas kepala berkilau seperti bintang, sementara laut yang gelap menambah kesan tenang. Nadine menatap sekeliling, lalu matanya jatuh pada wajah Raka yang sedang serius memperhatikannya.

“Kenapa liatin aku gitu?” tanya Nadine pelan.

Raka menyandarkan dagunya di tangannya. “Soalnya kamu cantik banget malam ini. Abang kadang masih nggak percaya kalau abang bisa duduk di sini, sama kamu, dalam suasana kayak gini.”

Pipi Nadine memanas, ia menunduk sambil memainkan sendok di meja. “Abang, jangan bikin aku malu…”

Raka tertawa kecil, lalu menggenggam tangannya di atas meja. “Abang serius, sayang. Kamu selalu bikin abang lupa sama hal-hal ribet di hidup abang. Sama kamu, abang ngerasa… cukup.”

Hati Nadine bergetar mendengar kata-kata itu. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Untung saja pesanan mereka segera datang, membuat suasana canggung sedikit mencair. Aroma makanan yang menggoda membuat perut Nadine berbunyi pelan.

Raka mendengar itu, lalu terkekeh. “Tuh kan, lapar beneran. Yuk, makan.”

Mereka pun mulai menikmati hidangan masing-masing. Sesekali Raka menyodorkan garpu berisi pasta seafood ke arah Nadine. “Coba deh, enak banget.”

Nadine sempat menolak, tapi akhirnya membuka mulutnya juga. Begitu merasakan gurih dan segarnya seafood yang berpadu dengan saus pasta, ia langsung mengangguk. “Enak banget! Pantes kamu suka.”

“Makanya jangan ragu kalau abang rekomendasi makanan,” jawab Raka sambil tersenyum puas.

Makan malam itu terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena hidangan lezat atau pemandangan pantai yang indah, tapi karena keintiman yang terjalin di antara mereka. Nadine merasa jantungnya berdegup lebih cepat setiap kali Raka menatapnya, sementara Raka sendiri tak bisa melepaskan senyum dari wajahnya.

Ketika hidangan mereka habis, seorang musisi kafe mendekat sambil membawa gitar. Ia menawarkan untuk memainkan lagu permintaan. Raka langsung menyebut satu lagu cinta yang nadanya lembut. Nadine tersenyum, merasa seperti berada di dalam adegan romantis sebuah film.

“Sayang,” ucap Raka lirih di sela-sela musik yang mengalun, “aku nggak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi malam ini aku janji satu hal.”

Nadine menatapnya penuh tanya. “Janji apa?”

“Aku bakal terus berusaha bikin kamu bahagia. Sekecil apa pun itu. Karena lihat kamu tersenyum, itu udah cukup bikin aku bahagia juga.”

Nadine menahan napas, matanya berkaca-kaca. Ia hanya bisa menjawab dengan senyum tulus, lalu meremas lembut tangan Raka yang masih menggenggamnya. Malam itu, di kafe tepi pantai dengan cahaya lampu temaram dan alunan musik akustik, mereka sama-sama tahu bahwa hubungan mereka semakin dalam.

1
Lies Atikah
cerita nya bagus banget manis banget
Anime aikō-kā
p
Caramellmnisss
semangat author😍
Blu Lovfres
kok nandin hamil, kpn
raka seror nabungnya🤣🤣🤣
Blu Lovfres
ahh nandin sok polos🤣🤣
sok kaget dn sok suci lo🤣🤣🤣
udah sering tidur pelukan dn bahkan dgn keadaan naget,
Evi Lusiana
satu kluarga yg waras cm fahri
Evi Lusiana
jauh² dah dr cowok ky el
Aan
lanjutkan Thor 😍
Lies Atikah
iah atuh El satu juga gak bakalan abis
Lies Atikah
eeemh manis banget
Lies Atikah
crita bagus bikin gereget aja nih yang lagi diem 2 man semangat thor
Lies Atikah
tetap semangat kamu pasti bisa
Lies Atikah
betul kalau gak jelas jangan di terusin ngapain yang rugi tuh cewe betul kata Tari kita harus punya harga diri jangan mau di leceh kan pria yang baik itu yangmenjaga dan menghargai kita
Lies Atikah
jangan ngalah yah Nadin kalau mereka jahat apa lagi si bumbu masak tuh mesti jaga jarak dan hati 2 walau pun dia adik mu kayanya dia suka tuh sama Raka
Lies Atikah
semoga Raka tulus.mencintai Nadin
Lies Atikah
gak kebayang ih punya pacar kaya gitu
Suharni Mardono
benih2 cinta sudah tumbuh 🤭
Suharni Mardono
ya Allah pemain semua satu keluarga 🤭
Suharni Mardono
haayy,,salam kenal
Lies Atikah
kaya nya seru nih semoga konplik nya ringan dan gak lebay lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!