"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
"Iya, benar. Sudah seminggu lebih Yuri tidak masuk kantor, bahkan
tidak memberitahukan alasan ke pada saya. Kenapa ia tidak masuk ke kantor
selama seminggu ini."
"Apa ada sesuatu dengan Yuri."
"Saya juga tidak tahu, saya sudah menghubungi Yuri berkali-kali,
Namun tidak dijawab olehnya, Bahkan saya sudah mengirim pesan padanya, tetapi
belum juga ada balasan dari Yuri. Dan itu membuat saya bingung, apalagi
perusahaan akan mengadakan acara yang mana semua karyawan wajib menghadirinya,
tanpa terkecuali." Ali yang mendegar penjelasan dari Adi hanya bisa
mengeritkan keningnya dan menebak-nebak apa yang sudah terjadi dengan Yuri saat
ini.
…
"Tadi, pas selesai makan siang. Kamu ngobrol apa aja sama Pak Adi?
Dari tadi saya perhatikan kamu loh, kayanya pembicaraan kamu serius amat.”
Tanya Alex ketus entah kenapa kalau melihat wajah Adi di depan matanya ia
menjadi merasa jengkel.
"Hoh, masalah itu? Pak Adi tadi cerita sama saya tentang masalah
bawahannya yang namanya Yuri. Kaya dia, sudah 1 minggu bawahannya enggak masuk
kerja tan[a kasih kabar sama sekali.”
“Apa! Yuri enggak masuk 1 minggu kamu bilang?”
bercerita kepadaku, katanya
bawahan pak Adi nona Yuri sudah seminggu lebih ini tidak masuk kantor."
Ucap Ali seraya menjelaskan pada Alex perihal Yuri.
"Seminggu lebih katamu? Kamu sudah tahu penyebab Yuri tidak masuk
kantor." Alex terkejut mendegar
perkatann Ali barusan, pantas saja setiap kali Alex menghubungi dirinya tidak
pernah digubris, membuat hati Alex semakin was-was.
Semenatara di Kota X tempar tinggal Yuri.
"Sayang." Panggil ibuku.
“Iya, Mah.”
"Sudah seminggu lebih kamu enggak kerja. Kamu bilang masa cuti kamu dikasih seminggu, tapi ini
sudah mau seminggu lebih loh
"Mamah tenang aja, besok aku kerja kok. Aku, ‘kan masih mau cari
uang buat Mamah.” Aku langsung memeluk ibuku, rasanya nyaman sekali berada
dipelukan orang tua yang kita sayang. Selama aku di sini, keadaan mentalku
sedikit tenang, selama 1 minggu aku tidak membuka ponsel sama sekali. Aku yakin
sekali ada banyak pesan atau panggilan yang tidak aku jawab.
"Apa kamu ada masalah di tempat kerjamu yang sekarang? Ibu
perhatikaan dari saat kamu pulang ke rumah, hingga saat ini kamu terlihat tidak
bersemangat? Ada apa sayang?"
“Yuri enggak apa-apa kok Mah, aku baik-baik aja kok.”
"Aku tidak apa-apa bu, aku baik-baik saja. Ibu tidak usah khwatir
dengan ku." Balas Yuri dengan senyuman manisnya.
"Ya sudah kalau tidak ada masalah apa-apa di tempat kerjamu. Mamah
cuma khwatir aja sama kamu sayang."
Mamahku kembali memelukku dengan erat, seharus dalam peraturan perusahaan aku
sudah dikeluarkan karena tidak memberikan alasan yang kuat kenapa aku tidak
masuk selama satu minggu, tapi aku sudah tidak peduli lagi, jika tempatku
bekerja akan memecatku, aku siap menerimanya dan mencari pekerjaan di tempat
lain.
Saat ini Yuri sedang duduk di balkon rumahnya, sambil menikmati
secangkir susu hangat yang telah di buatkan oleh sang ibu.
***
"Ali, sudah kamu cari info tentang Yuri?"
"Saya, sudah mendapatkan info tentang Yuri, kemarin saya pergi ke
tempat tinggal Yuri yang berada di jl. Dalang 1. Saya langsung menemui pemilik ibu kost katanya dia pulang ke kota X untuk menemui
kedua orantuanya."
“Pulang kampong?” Alex mengeritkan keningnya. Untuk apa Yuri sampai
pulang ke kampungnya. Alex yakin pasti ada sesuatu masalah besar sampai Yuri
seperti ini. “Kapan dia pulang ke sini lagi? Apa pemilik kotsan tahu?”
“Untuk masalah itu, seperti tidak bisa diprediksikan kapan Yuri akan
kembali. Kata Ibu kostnya Yuri pasti kembali ke sini lagi kerena
barang-barangnya masih ada di sini semua.” Alex merasa lega jika Yuri masih
bisa kembali ke kota ini lagi, ia tidak bisa membayangkan jika Yuri tidak akan
pernah kembali ke kota ini. Ia tidak akan sanggup jika kehilangan Yuri untuk
kedua kalinya setalah sekian lama. Bahkan sampai 7 tahun mereka berdua baru
bisa bertemu kembali.
***
Paginya, aku sudah menyiapkan semua barang-barangku. Aku sudah
memutuskan untuk kembali ke kota tempatku bekerja, aku memang kembali. Tapi
tidak untuk bekerja, aku akan memberikan surat pengunduran diri dan tidak akan
pernah kembali bekerja di sana lagi. Paginya aku sampai di kota B, cukup
melelahkan memang karena perjalannya membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Ting
Ponselku berbunyi menandakan ada notif pesan masuk, setelah kulihat
ternyata Adi yang mengirim pesan. Sudah puluhan pesan yang sudah ia kirimankan
kepadaku tapi tidak ada satu pesan yang aku balas untuknya. Kubuka pesan
darinya dan kubaca secera teliti.
“Yuri, gimana keadaan kamu? sudah puluhan pesan saya kirim ke kamu, tapi
belum ada balasan apa pun dari kamu. tolong beritahu saya kabar kamu sekarang.”
Itulah isi pesan yang ia kirimkan padaku. Sebenarnya aku masih takut membalas
pesan darinya, tapi aku harus melakukannya karena aku akan mengundurkan diri
dari perusahaan. Sebelum mengajukan risgen kepada Adi terlebih dahulu aku
meminta maaf karena tidak masuk kerja selama satu minggu, jika perusahaan ingin
memecatku, maka dengan senang hati aku akan menerimanya.
Ting.
Tetaplah masuk kerja, sebagai atasan kamu. saya akan berikan satu
kesempatan, tolong jangan mengajuka resigen, saya akan menerima kamu kembali
bekerja.” Itulah pesan yang disampaikan oleh Adi, aku tercengang melihat
balasan pesan darinya. Ternyata dia masih mengharapkan aku untuk tetap masuk
kerja. Dengan cepat aku membalas pesan
darinya, aku sudah membulatkan keputusanku untuk risen dari perusahaan.
“Baiklah, kalau kamu mau mengajukan risgen. Kamu bisa datang ke kantor.”
Aku belum bisa membalas pesan dari Adi, aku masih takut jika bertemu dengan
Adi. Tapi aku harus mengembalilkan id card dan juga membereskan sisa
pekerjaanku yang masih belum selesai.
Paginya aku bersiap-siap untuk ke kantor, bukan untuk bekerja melainkan
menyerahkan surat pengunduran diri. Akhirnya aku sampai di kantor, rasanya kaki
ini berat untuk melangkah masuk ke dalam, apalagi aku harus bertemu dengan Adi
laki-laki yang sudah berani melecehkanku.
"Yuri!” Tiba-tiba saja Airin memeluk tubuhku, “ya Allah, kamu habis
dari mana aja sih? Sudah seminggu lebih kamu enggak masuk kantor, aku kangen
banget loh sama kamu.” airin terus saja memelukku, jujur saja aku juga kangen
dengan teman-teman di sini terutama Airin.
“Aku juga kangen banget loh sama kamu.”
“Aku kira kamu enggak bakal kerja di sini lagi, habisnya kamu enggak ada
kabar sama sekali, pesan sama panggilan telepon juga enggak kamu jawab.”
“Sekali lagi maaf ya, tapi aku datang ke sini memang mau berhenti
kerja.”
“Apa! Berhenti? Kenapa?” Raut wajah Airin terlihat sedih saat tahu aku
ingin mengajukan risen dari sini.
“Enggak apa-apa kok.” Aku sengaja tidak memberitahukan yang sebenarnya
pada Airin, aku takut masalah ini akan menjadi panjang jika aku beritahukan
yang sebenarnya. Biarlah kupendam sendiri.
Sebelum aku pergi ke ruang kerja Adi, terlebih dahulu aku mampir ke ruang
kerjaku. Dan aku disambut bahagia oleh teman-teman satu timku, aku juga
berpamitan kepada mereka semua karena aku akan bernhenti dari sini. Selesai
dari ruang kerjaku, aku berjalan ke ruang kerja atasanku. Baru melangkah
beberapa saja kaki sudah gementaran. Aku belum siap jika harus bertemu dengan
Adi.
Akhirnya aku sampai di depan ruang kerja Adi,
kutarik napasku dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Aku harus
menyiapkan mentalku, aku harus berani jika ingin cepat keluar dari sini.
Kuketuk pintunya dalam keadaan gementar, saat ketukan