Rahmadhani gadis yang menikah setelah ia lama berpacaran dengan kakak kelas saat mereka SMA bernama Vino Subagyo Dua bulan pernikahan mereka Rahma tidak menemukan kebahagiaan dalam pernikahannya, mertuanya yang suka ikut ikutan dengan urusan pernikahan mereka berdua. Dan suami yang mulai berubah dari perangai dan sikapnya. Hingga akhirnya Rahma sering bertengkar dengan ibu mertuanya yang selalu memojokkan dirinya karena sang suami tidak pernah betah di rumah.
Rahma pun akhirnya memutuskan untuk mengambil peputusan dalam menyikapi polemik dalam rumah tangganya, sampai akhirnya Rahma menemukan kejangalan pada snag suami.
Lalu bagaimanakah kisah rumah tangga Rahma dan Fino? apakah Rahma akan mempertahankan rumah tangga nya atau ia akan menyerah dengan apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jagan Usir Aku
Tak lama Rahma sampai di rumah sakit. Ia melihat Vino yang baru pulang dari rumah sakit tersebut bersama sang mamah Amara.
Deg
Perasaan Rahma semakin tak karuan, ternyata Vino dan Amara sudah sampai terlebih dahulu dari pada dirinya. Rahma menarik nafas pelan dan membuangnya sembarang, walau bagai mana pun ia harus tetap bertemu dengan keluarganya. Entah kebohongan akal bulus apa lagi gang Vino lakukan pada kekurangannya saat ini.
Rahma melihat Kahfi dan Razi di depan ruangan dimana bu Aisyah di rawat. Dengan perasaan yang penuh tanya Rahma mendekat dan memberikan salam kepada Kahfi dan Razi.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Rahma, yang membuat Razi dan Kahfi menoleh ke arah suara Rahma.
"Wa'alaikum salam." Jawab Kahfi dan Razi bersamaan.
Razi menatap kehadiran sang adik dari bawah sampai ke atas.
"Masih berani kamu datang ke sini?" Tanya Razi yang kesal akan kehadiran Rahma.
Deg
Hati Rahma hancur saat mendengar perkataan sang kakak padanya. Rahma berusaha untuk tenang dan tidak terbawa emosional nya. Walau sebenarnya ia ingin menangis dan menumpahkan kesedihan dan kekecewaannya pada kakak pertamanya. Namun, setelah mendengar perkataan sang kakak ia berusaha untuk tenang.
"Dimana ibu, a?" Rahma tak menjawab perkataan Razi justru ia malah menanyakan sang ibu kepadanya.
"Semuanya gara gara kamu, ibu jadi masuk rumah sakit. Vino sudah mengatakan semua yang kamu lakukan kepada nya... dan aa gak menyangka kalau kamu bisa semurahan itu, Rahma." Razi menjadi emosi, dan ia ingin menampar Rahma namun Kahfi berhasil mencegahnya.
Rahma merunduk dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sudah, jangan buat keributan... kasihan ibu... Rahma masuklah, ibu mencari kamu sedari tadi." Ucap Kahfi yang tak menghakimi Rahma terlebih dulu.
Rahma masuk ke dalam, saat dirinya membuka pintu ada pak Hasbi, Kia dan Tari di dalam. Rahma mencium punggung tangan pak Hasbi namun sang ayah tak begitu ramah saat ini kepadanya. Biasanya pak Hasbi selalu memeluk dirinya saat Rahma baru datang tapi tidak dengan sekarang. Pak Hasbi justru pergi setelah Rahma mencium punggung tangannya.
Bu Aisyah melihat itu dan air matanya mengalir. Bu Aisyah tahu kalau sang suami marah bahkan lebih marah dan kecewa kepada putri keduanya saat ini.
Kia mencoba menenangkan sang ibu, dan memberikan segelas air putih agar sang ibu sedikit lebih tenang.
"Kak!" panggil Rahma mengulurkan tangannya serta memeluk Kia dengan erat.
Kia tidak bisa menutupi perasaannya yang sedih dan ikut hancur setelah tau apa yang Rahma lakukan.
Selesai memeluk Kia, Rahma menatap wajah sang ibu dengan wajah yang pucat dan terlihat juga kesedihan pada wajah sang ibu, Rahma ingin memeluk sang ibu dengan rasa kerinduan yang lama ia pendam. Ingin rasanya ia membagi cerita kepada ibu dan kakaknya.
"Bu... maafkan Rahma, Rahma baru tahu kalau ibu sakit." Ucap Rahma yang menahan tangis di dalam dirinya.
Rahma membenamkan wajahnya ke dada sang ibu yang sedang berbaring. Tangisnya pecah saat ia merasakan kehangatan didekat sang ibu.
Bu Aisyah, ikut menangis ingin rasanya ia mengusap lembut punggung Rahma. Namun rasa kecewa lebih menguasai dirinya, dadanya terasa sesak dan ia meraih sebuah amplop putih dibawah bantalnya yang ia akan berikan kepada Rahma.
"Nak Vino menitipkan ini kepada ibu!" Ucapnya lemah dengan tangan gemetar bu Aisyah memberikan amplop putih tersebut kepada Rahma, dimana Rahma kini sudah berdiri di samping ranjang sang ibu.
Kia tak kuasa melihat kesedihan sang ibu dan juga sang adik hingga akhirnya Tari memberikan sebotol air kepasa Kia. Kia mengambilnya namun hanya ia pegang belum sempat ia minum karena ingin melihat reaksi sang adik yang saat ini sedang membuka amplop tersebut.
Perlahan Rahma membukanya, dan ia keluarkan surat yang berisi pengajuan perceraian yang Vino layangkan untuknya, Vino langsung menalak tiga Rahma, karena dengan sengaja Vino melakukannya untuk membuat Rahma semakin bersalah di hadapan keluarganya.
"Nak Vino dan mamahnya sudah menceritakan semua sikap buruk mu selama ini kepada ibu dan ayah... Rahma ibu tidak pernah mendidik kamu untuk menjadi wanita yang membangkang dan murahan." Ucap Bu Aisyah lemah, dadanya merasakan sesak karena rasa sedih dan kecewa kepada Rahma.
"Kak, bu... tolong dengarkan Rahma." Rahma meletakan surat itu di atas kasur.
Ia sudah menebak hal yang akan laki laki itu lakukan kepadanya, Vino seakan tidak memberikan ampun kepadanya.
Lalu Kia yang penasaran dengan isi surat itu merasa terkejut saat melihat kata perceraian dalam isi surat itu, bahkan yang membuatnya marah adalah tulisan talak tiga yang Vino berikan.
"Apa, talak tiga?" Ucap Kia yang seketika membuat bu Aisyah shock.
"Kak, bu tolong dengerin penjelasan Rahma, kalian jangan percaya dengan video itu, video itu hasil rekayasa kak Vino... Rahma dan kak Yazid tidak melakukan apa apa... sumpah kak, bu!?" Jelas Rahma dimana kata katanya tak di hiraukan oleh Kia dan Tari karena melihat kondisi bu Aisyah drop lagi.
Bu Aisyah pingsan, Tari dan Kia panik begitu juga dengan Rahma, ia menangis melihat sang ibu pingsan.
"Bu, ibu... bangun bu... ibu..." Panggil Rahma dan juga Kia.
Kia menyingkirkan tangan Rahma. Saat melihat kondisi ibunya tidak baik baik saja.
Tari memanggil pak Hasbi dan Razi, sementara Kahfi memanggil dokter.
"Sekarang lebih baik kamu ke luar dari sini, Rahma... kalau terjadi sesuatu pada ibu, kakak gak akan memaafkan mu." Ucap Kia dengan air mata di pipinya dan rasa marah pada adik nya.
"Tidak, tidak, kak... Rahma tetap mau disini nemenin ibu, jangan... jangan usir Rahma." Ucap Rahma dimana kini Razi menarik tangan Rahma untuk ke luar dari ruangan dimana sang ibu di rawat.
Dokter masuk ke dalam ruangan, dan meminta keluarga untuk menunggu di luar.
Rahma yang sudah di luar terlebih dulu, sedang menangis di bawah lantai dimana tadi Razi mendorong Rahma sampai tersungkur di lantai.
"Rahma, ayah minta kamu pergi... jangan perlihatkan lagi diri kamu di sini. Ayah kecewa dengan kamu, setelah ayah mengetahui semua perbuatanmu kepada keluarga pak Nugraha." Pak Hasbi menarik tangan Rahma untuk keluar dari rumah sakit. Kahfi hanya diam tak bisa membantu Rahma, dia sendiri bingung harus bagaimana, dilain sisi ia juga harus menemui Yazid untuk mencari kebenarannya.
Pak Hasbi sampai meminta security untuk membawa Rahma pergi dari rumah sakit, tak banyak mata yang melihat iba kepada Rahma yang di perlakukan seperi itu oleh sang ayah, dan banyak juga yang menyimpulkan pasti Rahma sudah berbuat hal yang fatal hingga membuat orang tuanya murka.
"Yah, ayah... dengerin Rahma, Yah... biarin Rahma disini menemani ibu, yah!?" Rahma merengek dan mencoba untuk berontak dari kedua security yang menariknya keluar.
Dengan perasaan yang hancur Rahma meratapi nasibnya, yang kini di jauhkan oleh orang orang terdekatnya. Tak ada satupun orang yang mau mendengar kan penjelasannya Vino telah berhasil menyingkirkan dirinya dari keluarganya sendiri.
Rahma duduk di pinggiran lantai depan rumah sakit dengan koper yang ia bawa bawa sejak sore tadi. Teringat jelas wajah sang ibu yang sedang sakit, bayangan masa masa indah Rahma ketika bersama keluarga nya, sebelum ia menikah dengan Vino. Sesekali Rahma tersenyum saat mengiat itu semua. Tak terasa hujan turun dengan lebat, Rahma masih setia duduk dibawah guyuran hujan yang menyapa wajahnya.
Suara petir yang menggelegar, yang dulu iya takuti seakan tak terdengar di telinganya, yang terngiang-ngiang hanyalah perkataan sang ayah. Bagaikan pedang menusuk hatinya, sedih, hancur dan kecewa semua jadi satu dalam diri Rahma. Ia tak lagi memperdulikan langkah kakinya menuju ke arah mana.
Vino sudah berhasil membuatnya dijauhi oleh keluarga nya sendiri. Dengan langkah kaki diiringi derasnya air hujan malam ini Rahma terus berjalan menyusuri jalan, sesekali ia terjatuh dan mencoba bangkit lagi tanpa mengeluh rasa sakit di kakinya. Lalu lalang mobil sesekali membunyikan klakson ketika Rahma melangkah ke arah tengah jalan. Tak tahu apa yang harus ia perbuat untuk memperbaiki semua yang sudah di hancurkan Vino.