Pernikahan di depan mata batal begitu saja saat mempelai pria malah melarikan diri karena dia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Hal itu membuat Deviana Dewi menaruh dendam pada mantan calon suaminya itu.
Deviana Dewi tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia jadikan penebus dosa mantannya malah membuat dia jatuh hati. Syafiq Mahadewa dengan ikhlas menggantikan posisi saudaranya untuk menikah dengan Deviana. Dengan sabar ia menghadapi kelakuan calon mantan kakak iparnya yang sekarang menjadi istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komandan Naga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Lima
Deviana termenung memikirkan semuanya. Entah mengapa wanita itu malah takut kehilangan Syafiq. Rasanya ada yang aneh di dalam dirinya ketika mendengar kondisi Syafiq sesungguhnya.
Mobil mulai berhenti di pekarangan rumah. Lamunan Deviana terhenti saat ada tangan besar yang mengusap lengannya. Wanita itu menoleh kearah samping memperhatikan Syafiq.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Deviana.
Syafiq mengernyitkan keningnya. "Harusnya aku yang nanya itu ke kamu. Kenapa kamu malah bengong hm?"
"Syafiq ... Umi—"
"Ssst ... Nggak ada yang boleh tau kalau aku sakit."
"Tapi kenapa?" tanya Deviana tidak mengerti dengan suaminya. "Kenapa kamu harus menutupi ini semua dari keluarga mu? Sementara aku, kamu malah menceritakannya. Aku bukan siapa-siapa."
"Sekarang aku hidup bersama mu. Aku mau merasakan kebahagiaan dengan orang yang berada di samping ku. Istriku yang aku sayangi."
"Kamu aneh, Syafiq. Bisa-bisanya kamu berpikiran kalau aku akan membahagiakan mu."
"Jadi kamu enggak mau?" tanya Syafiq.
"Bukan aku orangnya, Syafiq ... Bahkan aku mencoba untuk mencelakakan kamu."
Syafiq menggenggam telapak tangan istrinya. "Aku yakin, kamu adalah orang yang baik."
"Tapi—"
"Ana, istriku ... Apakah aku berhak mendapatkan bahagia itu dari kamu? Istriku sendiri."
Deviana begitu bingung saat ini. Dia ingin balas dendam tetapi kondisi Syafiq membuatnya kasian.
"Sekarang kita masuk ke dalam. Jangan ada cerita tentang penyakit ku."
"Hmmm ... Oke!"
Pasangan suami istri itu masuk ke dalam rumah. Di sana ada empat orang yang sedang berada di ruang tamu.
"Assalamualaikum ..." Ucap Deviana dan Syafiq secara bersamaan.
"Waalaikumsalam ..."
"Syafiq!" Putri beranjak dari tempat duduknya dan memeluk lelaki itu.
"Kamu kemana aja sayang? Kamu enggak apa-apa 'kan?"
"Enggak, Umi. Syafiq baik-baik aja kok."
"Kamu masih bertengkar dengan, Ana?"
"Umi, Umi." Syafiq melepaskan pelukannya. "Kami baik-baik aja."
"Tapi Ana bilang kalian bertengkar."
"Biasalah, Umi. Urusan rumah tangga."
"Terus kenapa sampai lari dari rumah?" tanya Andro.
"Syafiq nggak lari, Ayah. Syafiq ada urusan."
"Mungkin Syafiq sama Maura. Dia 'kan sering seperti itu. Lari dari rumah taunya sama Maura." Ucap seorang pria yang ada di sana juga.
"Emir ... Jangan ngomong gitu, nanti Ana berpikiran kalau Syafiq selingkuh."
"Ya ampun, Umi. Emir yakin, Ana sama sekali nggak peduli sama Syafiq. Sekalipun Syafiq selingkuh!"
"Kamu kenapa sih selalu membuat aku marah?" tanya Deviana dengan nada perlahan. "Apa kamu mencoba untuk membuat aku buruk di hadapan semua orang?"
"Ana, Ana ... Sekalipun kamu pakai hijab seperti ini, kamu tetaplah wanita murahan."
Syafiq tidak senang mendengar ucapan saudaranya itu. Dia pun menghampiri Syemir mengangkat tubuh lelaki itu.
"Syafiq." Panggil Deviana saat lelaki itu akan memukul Syemir. "Jangan."
Deviana mendekati suaminya dan merangkul tangan Syafiq. "Kita ke sini mau ketemu Umi dan Ayah 'kan. Jadi kamu nggak perlu emosi dengan perkataan Emir. Semuanya juga tau kalau aku memang murah."
"Hei sayang ... Dengerin aku, aku nggak akan biarin siapapun menghina kamu. Saat ini kamu adalah hidupku."
Sekilas pandangan Deviana mengarah pada Syemir. Dia tersenyum miring karena berhasil membuat Syafiq bertekuk lutut kepadanya dihadapan Syemir.
"Cukup! Jangan ada pertengkaran apapun lagi. Ini sudah malam, silakan tidur." Andro pun berlalu pergi dari hadapan semua orang.
"Ana ... Terima kasih, Nak. Umi melihat kamu mulai menerima Syafiq."
"Iya, Umi ... Aku akan mencobanya demi, Umi."
[] [] []
Hampir tengah malam pasangan suami istri itu belum juga tertidur. Deviana memikirkan tentang penyakit suaminya, sementara Syafiq memikirkan pernikahannya yang sudah di ujung tanduk.
Tiba-tiba saja mereka berdua secara bersamaan memanggil nama masing-masing salin memandang satu sama lain.
"Kamu dulu." Ucap Syafiq.
"Kamu aja." Balas Deviana.
Syafiq menghembuskan napasnya dengan perlahan. Kemudian ia menggenggam telapak tangan Deviana. "Jangan benci cintaku. Aku ikhlas menjadikan kamu sebagai istriku."
Deviana pun melepaskan genggaman Syafiq. Dia memalingkan wajahnya dari lelaki itu.
"Aku mohon, Ana. Cobalah menerima aku ... Sekarang Luna udah hamil. Harusnya sebagai seorang wanita kamu juga menginginkan hal yang sama."
"Aku mau, tapi bukan berarti aku mau mengandung benih yang kamu berikan."
"Kamu benci sama ku. Tapi begitu aku ingin menceraikan mu, kamu malah menolaknya. Apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan, Ana?"
"Aku mau menyiksa hati mu seperti Emir menyiksa perasaan ku."
"Kamu tersiksa bukan karena salah ku. Kenapa harus aku yang menanggung semua dendam mu?"
"Karena kamu adalah saudara, Emir!" Deviana beranjak dari tempat duduknya.
Syafiq menyaksikan wanita itu keluar dari dalam kamar. Rasanya ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap istrinya.
[] [] []
Deviana melihat sepasang suami istri sedang duduk di kursi meja makan. Luna tengah menyuapi suaminya untuk makan. Tanpa disangka mereka melihat Deviana.
Wanita itu merasa cemburu dengan situasi yang ia saksikan sekarang. Dia mengingat kenangan-kenangan bahagia saat bersama mantan calon suaminya itu.
"Anak Papa baik-baik di dalam ya." Ucap Syemir mencoba untuk membuat Deviana kesal.
"Oh iya, sayang. Nanti kalau anak kita udah lahir kamu harus ajarin dia berperilaku baik."
Langkah Deviana terhenti, kemudian ia berbalik arah dan menghampiri pasangan suami istri itu.
"Maksud kamu apa ngomong gitu?" tanyanya. "Kamu mau bilang kalau perilaku ku buruk?"
"Kan emang bener perilaku kamu itu buruk. Sama suami sendiri aja kasar."
"Kamu—"
"Ana!" Syafiq datang dan menghentikan aksi istrinya. Dia menarik lengan wanita itu dan membawa Deviana kembali masuk ke dalam kamar mereka.
[] [] []
"Kamu apa-apaan sih? Kamu seneng ya aku dihina seperti itu?"
"Aku nggak suka Emir memperlakukan kamu seperti ini. Karena itu aku membawa kamu ke kamar supaya kalian enggak bertengkar."
"Saudara kamu itu memang kurang ajar. Dia pasti sengaja berbicara sama bayinya supaya aku sakit hati."
"Kamu gimana sih? Dia 'kan lagi bahagia karena sebentar lagi mereka punya anak. Kok malah bilang sengaja manasin kamu."
"Kamu dengerin aku, Syafiq. Bayi mereka nggak akan selamat."
Syafiq mengernyitkan keningnya. "Aku nggak nyangka ternyata kamu bisa berkata seperti itu. Padahal kamu perempuan."
"Bagaimana pun juga, bayi yang ada di dalam kandungan Luna adalah keponakan ku." Sambung Syafiq.
"Kamu nggak berhak berkata buruk kepada Luna."
"Oh, jadi kalau mereka menghina aku semuanya berhak? Aku nggak boleh marah begitu?"
Syafiq mengusap kepalanya dengan kasar. "Bisa nggak sih kamu lupakan masalah kamu dengan Emir?"
Deviana sama sekali tidak memandang lelaki itu.
"Pandang aku, Ana! Aku suami mu!"
"Selagi aku belum bisa menghancurkan, Emir. Aku nggak akan tenang."
"Sayang—"
"Jangan sentuh aku!"
"Sadar, Ana. Perilaku kamu ini akan membuat kamu menyesal di kemudian hari."
"Berhenti ceramah di depan ku. Pikirkan aja hidup mu yang sebentar lagi akan berakhir."
Syafiq menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Kamu nggak khawatir dengan ku?"
"Enggak! Malahan aku senang, tanpa susah payah aku melukai mu, ujung-ujungnya kamu akan mati juga!"
"Jadi semua yang kamu katakan sama Umi adalah kebohongan? Kamu sama sekali nggak punya niat untuk membuat pernikahan kita baik-baik aja?"
"Pernikahan ini tidak diinginkan. Sudah pasti akan hancur dikemudian hari! Ngerti kamu!"
Deviana naik ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Sementara Syafiq terduduk di lantai menundukkan kepalanya merenungi semua yang sudah terjadi.