"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Jejak Di Bali
Cindy terlanjur datang kembali ke dalam kehidupannya dengan membawa seorang anak kecil berusia empat tahun bernama Ega, bocah yang diklaim sebagai darah daging Elang yang selama ini telantar.
Elang mengetuk puntung rokoknya ke asbak taman, lalu terngiang-ngiang kembali perkataan menohok dari Nenek Aisyah di dalam kamar tadi sore mengenai status Ega. Kalimat sang nenek seolah berputar konstan di dalam kepalanya, memicu sebuah keraguan besar yang perlahan mulai menggerogoti keyakinannya.
"Apakah benar Ega adalah anak kandungku?" tanya Elang dalam hati, mengerutkan dahi kian dalam.
Jika dipikirkan secara logis menggunakan akal sehat, memang belum ada bukti valid secara medis atau selembar kertas hasil tes DNA yang sah yang ia pegang saat ini. Satu-satunya alasan mengapa Elang langsung memeluk Ega dan membawanya pulang semalam adalah karena secara visual, garis wajah bocah kecil itu sekilas tampak memiliki kemiripan dengan dirinya sewaktu kecil dulu. Namun, apakah kemiripan fisik saja sudah cukup untuk mempertaruhkan takhta jabatannya sebagai CEO di depan hukum waris keluarga besar?
Elang menarik napasnya dalam-dalam, ingatan masa lalunya mendadak ditarik mundur, berputar kembali pada kejadian lima tahun yang lalu. Kejadian krusial yang menjadi awal mula dari segala kehancuran hubungan asmaranya dengan Cindy.
Saat itu, menjelang akhir tahun, Elang mengajak Cindy untuk pergi berlibur bersama ke Bali selama satu minggu. Selama bertahun-tahun menjalin kasih dengan Cindy, Elang selalu memegang teguh prinsip hidupnya untuk menjaga kehormatan Cindy sebagai seorang wanita yang ia sayangi. Ia tidak pernah sekali pun berani melintasi batas suci sebelum ada ikatan pernikahan yang resmi di antara mereka.
Namun, ada satu malam di sebuah vila privat di kawasan Seminyak yang mengubah segalanya secara drastis. Elang mengingat dengan sangat jelas, malam itu mereka berdua menikmati makan malam romantis di tepi kolam renang pribadi dengan penerangan lilin dan beberapa gelas minuman yang disiapkan khusus. Setelah itu, ingatan Elang mendadak menjadi sangat buram dan kosong.
Hingga keesokan paginya, saat mentari mulai menyengat, Elang terbangun dari tidurnya dengan rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Dan yang paling mengejutkan adalah, ia mendapati dirinya berada di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat bersama Cindy di sampingnya. Selama berpacaran, hal seperti itu tidak pernah terjadi, namun malam itu entah mengapa hal tabu itu bisa terjadi begitu saja tanpa bisa ia cegah setelah mereka menghabiskan makan malam romantis tersebut.
Sebagai seorang pria yang bertanggung jawab dan dididik dalam kehormatan keluarga besar, Elang tentu tidak tinggal diam setelah menyadari apa yang telah terjadi. Begitu mereka kembali dari Bali, dengan jantan Elang langsung menghadap Nenek Aisyah di rumah besar ini. Ia mengutarakan niatnya untuk segera melamar dan bertanggung jawab menikahi Cindy secepatnya.
Namun, yang terjadi saat itu justru adalah penolakan keras dan mutlak dari Nenek Aisyah. Sang nenek sejak awal sudah mengendus ketidakberesan pada latar belakang dan sifat asli Cindy yang dinilai terlampau manipulatif. Akibat penolakan itu, terjadilah perdebatan yang sangat sengit dan panas antara Elang dan Nenek Aisyah di ruang tengah lantai bawah ini. Ego muda Elang yang tinggi beradu keras dengan prinsip kokoh sang nenek, hingga puncaknya, Nenek Aisyah tidak kuat menahan tekanan emosi dan mendadak terkena serangan jantung pertamanya sore itu juga.
Kejadian kritis itu menjadi dilema terbesar untuk Elang pada saat itu. Di satu sisi ia harus bertanggung jawab pada kehormatan Cindy, namun di sisi lain ia nyaris membunuh neneknya sendiri yang merupakan satu-satunya wali pengganti ibunya. Elang terpaksa mundur demi menyelamatkan nyawa sang nenek yang kritis di rumah sakit.
Dan hal yang paling janggal di luar dugaannya kembali terjadi. Tak lama setelah Nenek Aisyah dilarikan ke rumah sakit dan kondisi keluarga mereka sedang kacau, Cindy mendadak menghilang bak ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak atau pesan apa pun, hingga akhirnya wanita itu kembali muncul tadi malam dengan membawa Ega di atas pelaminan.
Elang mematikan puntung rokoknya yang sudah memendek ke dalam asbak marmer dengan sentakan kasar. Asap terakhir menguar tipis dari bibirnya. Dilema, keraguan, dan misteri malam di Bali lima tahun lalu kini kembali bangkit mengepung akal sehatnya, bersanding kontras dengan bayangan wajah Alin yang menantangnya secara terang-terangan di dalam rumah besar ini.
***
Sementara itu, di dalam rumah mewah baru milik Elang yang berarsitektur modern, atmosfer malam terasa begitu sunyi namun menyimpan gejolak kelicikan yang kian menebal. Cindy sejak tadi tidak bisa diam. Ia mondar-mandir di ruang tamu yang berlantai marmer mengilat, melangkah dengan ritme kaki yang cepat sembari mendekap kedua tangannya di depan dada. Namun, di balik kegelisahannya menunggu kepulangan Elang, sudut-sudut bibir Cindy berulang kali terangkat, mengulas senyuman kemenangan yang begitu puas.
Hati Cindy benar-benar sedang berbunga-bunga malam ini. Pasalnya, beberapa jam yang lalu, ia baru saja memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Alin sudah tidak lagi berada di dalam kamarnya.
Rasa penasaran dan ambisi besar untuk menggeser posisi istri sah membuat Cindy bertindak terlampau berani. Memanfaatkan situasi rumah yang lengang karena para Asisten Rumah Tangga baru sedang sibuk di area belakang, Cindy dengan langkah mengendap-endap nekat menaiki tangga menuju lantai dua. Ia tidak hanya memastikan keberadaan Alin, tetapi bahkan bertindak begitu lancang dengan memutar kenop pintu dan menyusup masuk ke dalam kamar utama yang seharusnya menjadi area paling privasi bagi sepasang pengantin baru.
Di dalam kamar berukuran luas dengan aroma wewangian mahal itu, mata tirus Cindy seketika melebar sempurna. Pandangannya langsung tertuju pada deretan kotak hantaran pernikahan berbahan akrilik transparan yang ditata rapi di sudut ruangan dekat meja rias. Kotak-kotak itu berisi barang-barang seserahan mewah pemberian keluarga Elang untuk Alin.
Cindy melangkah mendekat dengan napas yang mendadak memburu kencang. Jemarinya yang kurus mulai membuka satu per satu kotak hantaran tersebut dengan gerakan kasar yang tidak tahu malu. Saking mewahnya barang-barang itu di mata Cindy, rasa cemburu dan iri dengki yang teramat pekat seketika membakar dadanya hingga terasa sesak.
"Sialan ... semuanya bermerek internasional," desis Cindy, matanya berkilat penuh amarah saat meneliti tas kulit, sepatu, hingga kosmetik papan atas yang harganya pasti mencapai puluhan atau ratusan juta rupiah.
Bersambung ...
beristri duaaaaaaa??????
😡😤
😄😄
lanjut mommy