NovelToon NovelToon
Pelakor Itu Sahabatku

Pelakor Itu Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Bullying dan Balas Dendam / Fantasi Wanita
Popularitas:211.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dinni Iskandar

Alina tidak menyangka sahabat yang dia kira baik dan pengertian telah menghancurkan biduk rumah tangga yang telah di jalin Alina selama tiga tahun lamanya. Lenna adalah sahabat Alin. mereka berdua telah menjalin persahabatan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. ternyata Lenna menyukai suami Alin sejak lama. Lenna merasa tidak adil kenapa Alin bisa mendapat seorang pria tampan dan kaya seperti Revan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinni Iskandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Meskipun tangisannya belum sepenuhnya mereda, ia mencoba berbicara pada sopir taksi, walaupun suaranya tersendat-sendat akibat tangis yang masih ada.

Ia memutuskan untuk pulang kerumahnya dahulu, agar tidak ada orang yang tau dengan apa yang sedang terjadi padanya.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga puluh menit, perjalanan yang begitu menyakitkan bagi Alina. Sebelum keluar dari dalam mobil, ia mencoba bersikap normal, menghembuskan nafasnya dalam.

Dengan wajah memerah dan mata sedikit sembab, ia keluar dari dalam taksi.

"Terimakasih, ya Pak" ucapnya dengan suara parau, tangannya memberikan selembar uang berwarna merah.

Langkahnya dipercepat, ia hanya ingin sampai didalam rumah. Kerena terlalu lama menangis, akibatnya tenggorokannya terasa kering.

Alina meneguk segelas air putih hingga tandas. Lalu, ia segera pergi meninggalkan dapur dan berjalan keatas menuju kamarnya. Langkahnya begitu gontai

Ia mengunci dirinya dikamar, lalu duduk dipinggiran ranjang, bayangan dua orang yang tengah bermesraan kembali melintas dibenaknya

"Aaaarrrgggghhhh....."

Alina menjerit dengan keras, ia meluapkan segara perasaan yang menggumpal dihatinya yang begitu menyesakkan dada.

Tubuhnya luruh kelantai, ia menangis sejadi-jadinya, memukul dadanya.

"K-kalian tega" ucapnya keras setengah berteriak dengan nafas tersengal. Tangisan Alina begitu tampak memilukan.

Jeritan Alina dipagi hari itu memenuhi seisi rumah, ia bahkan tidak perduli apakah orang lain mendengar atau tidak.

Mbak Yati yang sedang berada didapur begitu berjingkat mendengar suara teriakan majikannya yang menjerit keras.

Karena rasa khawatir dengan majikannya, Mbak Yati meninggalkan cucian piringnya yang dia tinggal begitu saja. Ia berlari dengan kencang dengan tergopoh-gopoh menaiki anak tangga.

Begitu sampai didepan kamar majikannya, ia mengetuk sedikit keras, karena takut terjadi apa-apa dengan majikan yang begitu baik kepadanya

TOK !TOK ! TOK !

"Bu... Bu Alina !" teriaknya seraya mengetuk-ngetuk pintunya.

Tangisan majikannya terdengar begitu memilukan, Mbak Yati menempelkan telinga didepan daun pintu.

"Semoga, ibu nggak kenapa-napa" ujar Mbak Yati dengan khawatir.

Setelah beberapa menit tidak ada jawaban dari majikannya, ia segera pergi dan kembali kedapur. Hanya isakan tangis yang terdengar

"Bajingan, kamu Mas"

"Kalian berdua tega, sejak kapan mereka bermain curang dibelakangku". Saat ini, pikiran Alina dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.

Hening. Hanya isak-isakan kecil yang masih terdengar dari mulut Alina, sesudah merasa lelah menangis, wanita cantik itu bermaksud mencuci mukanya.

Ditatapnya sendiri wajahnya didepan cermin, wajah memerah, hidung merah dan mata sembab menghiasi wajah cantik Alina.

Helaan nafas terdengar. "Apa kurangnya aku, Mas?" ia menatap wajahnya dicermin. "Apa karena aku belum bisa ngasih kamu, Anak?"

Dadanya kembali sesak, ia mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah kembali.

"Kenapa harus suamiku, Len. Diluar sana begitu banyak pria yang lebih dari suamiku. Tapi kenapa harus suamiku!!" teriaknya didalam kamar mandi.

"Aku akan membalas rasa sakit ku ini. kalian akan lihat sedang bermain-main dengan siapa?" ucapnya dengan nada lirih nyaris berbisik. Sorot matanya begitu tajam

******

Ketika hari telah beranjak siang Alina memutuskan untuk pergi ketoko butiknya, segera ia turun kebawah.

"Mbak Yati!"

Ia duduk dimeja makan, menunggu pembantunya yang sedang beristirahat dikamar.

"Iya, bu. Ada apa?"

Kini mata indah Alina beralih menatap kearah pembantunya yang menunduk.

"Saya, boleh minta tolong nggak, Mbak?"

Sontak pertanyaan itu membuat wajah sang pembantu mendongak, namun hanya sesaat saja.

"Tolong kejadian tadi yang barusan kamu dengar atau kamu lihat jangan diceritain ke Mas Revan, bisa?"

"Tentu, Bu, bisa"

"Makasih ya, Mbak"

"Iya, bu"

"Saya, mau pergi kebutik dulu, Mbak. Jaga rumah ya?"

"Iya, bu".

Setelah berpamitan, lantas Alina meninggalkan rumahnya yang dahulu begitu damai dan tenang yang ia rasakan.

Tapi setelah tahu sang suami yang tidak benar-benar setia, semua rasa nyaman dan damai itu sirna dalam sekejab.

******

Disepanjang perjalanan, mata Alina memandang keluar jendela. Wajahnya tampak begitu murung. Sesekali cairan bening dari mata menetes dipipinya.

Istri mana yang tidak terluka jika melihat suaminya berkhianat, apalagi selingkuhan suaminya adalah sahabat baiknya.

Entah sudah keberapa kalinya ia mengusap cairan bening itu dipipinya. Ia bersikap seolah-olah kuat dan tegar, namun nyatanya saat ini dia benar-benar rapuh. Hatinya sudah hancur luluh lantah

Saat sedang menikmati rasa sakitnya, ponselnya berbunyi, ia mengira suaminya lah yang mengirim pesan singkat. Lantas membiarkan saja ponsel itu berbunyi.

Ia sudah tidak ada gairah untuk melewati harinya saat ini. Karena merasa terganggu dengan dering ponsel yang terus menggangu, akhirnya dengan malas ia merogoh ponselnya dari dalam tasnya.

Ketika ia melihat layar ponselnya, nama Kayzo tertera disana. Ia nampak ragu untuk mengangkatnya.

Entah mengapa tangannya begitu saja menekan tombol hijau. Dengan ragu menempelkan ponselnya ditelingannya

"Assalamualaikum"

Suara lembut seorang pria dari sebrang sana terdengar menyejukkan hatinya. Entahlah... Saat mendengar suara lembut Kayzo, Alina ingin mencurahkan semua keluh kesahnya pada pria bermata biru itu

Sebelum menjawab, Alina berdehem sejenak, untuk menetralkan suaranya

"Walaikumsalam"

"Humairah, apa kamu baik-baik saja". Karena tidak tahan, akhirnya Alina mematikan sambungan teleponnya.

Cairan bening kembali membasahi pipinya, ia gigit bibirnya kuat agar tidak mengeluarkan isakan tangisnya.

Menahan rasa tangis itu begitu menyesakkan dada, bahkan Alina dengan kuat menekan dadanya.

Lagi-lagi, ponselnya berdering. Nama Kayzo tertera, sepertinya pria itu merasa wanita pujaannya sedang tidak baik-baik saja.

Alina mengabaikan panggilan telepon dari Kayzo. Ia hanya takut untuk tidak bisa menahan tangisnya.

Tidak lama. Alina telah sampai didepan butik miliknya, butiknya tampak begitu ramai. Sebelum benar-benar keluar, ia telah mempersiapkan dirinya. Bersikap seperti tidak terjadi apapun

*******

Ditempat lain, Revan sedang menikmati makan siangnya dengan sang kekasih gelapnya.

Hari ini, Lenna telah masuk kembali kekantor, ia merasa sudah sedikit membaik. Ia benar-benar jenuh dan merasa bosan jika hanya berdiam diri di apartemen menunggu Revan untuk datang.

Saat mengecek ponselnya, ia tidak menemukan pesan singkat yang biasa dikirimkan oleh istrinya.

Tapi ia tidak berprasangka apapun tentang istrinya. "Tumben, nggak ada kabar?" ucapnya dalam hati seraya menekan aplikasi berwarna hijau. "Sibuk kayaknya"

"Ada apa, Mas?" tanya Lenna menatap kearah Revan dengan tatapan heran

"Enggak ada apa-apa kok" jawab Revan, kembali memasukan ponselnya dalam saku jasnya.

Setelah menyudahi makan siangnya, lantas keduanya segera kembali kekantor masing-masing.

Revan masih tampak santai, mengira bahwa istrinya belum tahu tentang perselingkuhannya.

Sore telah menjelang tiba, seperti biasanya, Suami Alina itu akan menghabiskan sebagian malamnya berada diapartemen Lenna.

Apalagi kalau bukan bercinta, saling bertukar saliva dan bermandikan peluh bersama. Berulang-ulang tanpa merasa bosan.

Meskipun dalam keadaan hamil pun, Lenna masih saja bersikap liar jika sedang diatas tubuh Revan.

Sudah beberapa kali Revan dibuat mengerang kenikmatan oleh Lenna malam ini, Seolah ia tak memberi kesempatan Revan untuk pulang.

"Aaaaahhhhhh..... " Suara erangan Revan mengakhiri pergumulan keduanya.

"Aahhh... Nikmatnya, Sayang. Aahhhh...." Ia masih menikmati sisa-sisa kenikmatan itu.

"Mas, kamu nggak ada puasnya sih" ujar Lenna dengan manjanya, tangannya mengusap dada bidang Revan yang masih berada diatas tubuhnya.

Senyum miring tersungging dibibir Revan, matanya masih terpejam, masih menikmati lembah surgawi milik Lenna.

Tubuhnya ambruk disamping tubuh Lenna, nafasnya masih tersengal.

"Makasih ya servisnya malam ini" ucapnya kepada Lenna.

Tangan kekar Revan sebagai dibuat sebagai bantal oleh Lenna. jari-jarinya mengusap dada Revan. "Gagah banget sih ini suami orang" batin Lenna tertawa puas.

Merasa sudah lelah, ia bangkit dari rebahannya, menyingkirkan pelan kepala Lenna. Meraih ponsel diatas nakas. Jam telah menunjukkan pukul hampir 2 dinihari.

Lagi-lagi, ia tidak menemukan pesan singkat dari istrinya. "Tumben banget, biasanya sesibuk apapun pasti dia kirim pesan" ucapnya dalam hati.

Entah kenapa hatinya mulai resah. Lantas beranjak kearah kekamar mandi. Tidak lama, ia sudah memakai celananya.

"Buru-buru banget sih, Mas, pulangnya" kata Lenna yang sedang duduk dipinggiran ranjang, berharap Revan akan tergoda kembali dengannya

"Iya, udah larut malam banget" katanya, tangannya sibuk mengancingkan baju kemejanya.

"Yakin nggak mau nambah lagi?" Lenna berjalan mendekat menghampiri Revan. Tubuhnya masih polos tanpa benang sehelai pun.

Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Revan, menempelkan bagian tubuh depannya yang menonjol.

"Enggak, aku takutnya Alin butuh apa-apa, nggak ada orang"

Dengan hati yang kecewa ia membiarkan Revan membereskan dasi dan juga sepatunya. "Lagian besok kita masih bisa ketemu kan?" katanya tanpa menoleh kearah Lenna, matanya fokus memakai kaos kaki.

"Yaudah deh, pokoknya besok sampai pagi" ancamnya yang seketika membuat Revan terkekeh.

Tidak ingin berlama-lama lagi, gegas ia keluar dari apartement. Lalu turun kebawah menuju mobilnya terparkir.

Dengan kecepatan penuh ia melajukan mobilnya, Dimalam seperti ini kendaraan mulai lengang. Entah mengapa Revan merasakan jantungnya berdebar kencang.

Setelah memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh, akhirnya Revan telah sampai didepan rumahnya. Ia membunyikan klakson mobilnya

Seorang satpam tampaknya sedang menahan kantuknya, tergopoh-gopoh berlari membuka pintu gerbangnya

Ia mempercepat langkah kakinya, agar sampai dikamarnya. Tujuannya saat ini hanya satu, Melihat wajah istrinya seperti malam-malam biasanya.Saat telah berada didepan pintu kamarnya.

KLEK.

Gelap, ia menekan saklar lampu kamarnya. Kosong.Ya. Kamarnya tampak kosong

1
efridaw995@gmail.com
sekian lama tidak update alurnya masih berputar "Thor
Princess Hinata: maaf kak saya terlalu fokus di forum sebelah. bentar lagi tamat kok kak di jamin deh kagak muter lagi
total 1 replies
Endang Supriati
bpk ibu nya jahat, dia bukan anak ksndungnya tapi berani menikahkan alina dgn wali nikah bpk adopsi/ sambung. membiarkan ansknya zinah selama pernikahan. jagsnsm tuh orang tua. hrsnya kena penyakit yg mematikan seperti kanker.
biar sadar ds. taubat.
Endang Supriati
ya alina yg bodoh,teman2 ogah berteman sama lenba,krn tahu sifat lenba udj gitu tukang jual diri. kan bisa keliatan di sekolah banyak kasak kusuk.bodohhh
Endang Supriati
audh janda mah bebas,bpk nya kuatir lata ansk gadis dan.perawan sja. hrsnya udh pinter dong.
Endang Supriati
kebodohan yg hakiki.
Endang Supriati
masa revan laki2 dewasa sdh beristri,artinya sdh tahu perempuan model apa ! apalagi dia pengusaha.
teman2 ksntor saya aja suka cerita dan memberikan gambaran tentang perempuan, perempuan baik2 terlihat dr cara bicara,cara jalan, cara menatap. cara liat tatapan matanya.
dia akan bercerita klu perempuan model A begini..
peremouan model b begini!
dst nya.
Endang Supriati
nunggu apa,klu mau habisin harta revan gpp,klu pura2. lah klu cuma nunggu apa! bilang aja tadi pagi akj ikutin mas revan ke apartemen dimana lenna tinggal, mesra banget mas, selingkuh,zinah!!
udh selesai kamu ngapain masih melayami revan jijik banget klu lena punya oenyakit gimana!
Endang Supriati
makanya saya tdk punya sahabat sejak lulus kuliah, sata menjauh dr teman2 waktu sma dan kulish. teman saya adalahbtetangfa rumah. krnbtetangga rumah adalah daudara ygvterdekat. ada reuni smp,dma,kuliah saya tdk pernah datang begiti juga suami dikarang dan komitnen tdk ada masa lalu. jd mereka ydk tahu dimsna ksmi tinggal, dan tidak pwrlu dan tidak penting mereka!!
Princess Hinata: betul kak
total 1 replies
dapurAFIK
7wn7wbnn7wn
Yuli Yulianti
ky gitu dong jgn sampai harta mu diambil sama binalu yg cuma numpang hidup minta bantuan sama BPK kandung mu Alina
Princess Hinata: siap kak
total 1 replies
efridaw995@gmail.com
pada akhir nya Alina bisa melawan Amir jangan sampai terluka kembali semoga ayah kandungnya memberikan bodyguard bayangan untuk putrinya Thor
Pirly Pranata
tamatin aj udh critany
cman muter2 aj.
Farida Rida
Cerita yg membosankan, Alina yg goblok end tolol apa ceritanya yg mbulet
Yuli Yulianti
ini cerita nya Alina jadi orang bodoh ya
efridaw995@gmail.com
cerita nya bertele -tele tyus pemeran utama nya kurang cerdas
NuLa
enak banget jadi adiyakso.... dulu di buang sekarang di akui
kemarin² lebih sayang anak tiri,,,
coba istri dan anak tiri kesayangan nya gak bikin ulah mana di akui itu Alina...
Farida Rida
Ceritanya mbulet muter", masa ceritanya awal sampai skrg Alina kok gk pernah bahagia, apa aq kasih ranting bintang satu aja ya
efridaw995@gmail.com
seharusnya Alina bisa menerima ayah kandungnya alur ceritanya lama"kurang seru terlalu bertele-tele
cinta semu
bagus
Yuli Yulianti
ko Alina ky orang bodoh kamu tu punya hak dgn butik mu sendiri nie Alina ky dibikin bodoh ..minta bantuan ke orang lain ini malah menye menye aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!