Apakah kalian yakin sudah mengetahui semuanya?
Perihal peristiwa-peristiwa gaib dan misteri yang selama ini membisu berkeliaran di celah-celah kehidupan. Kemari lah akan aku beritahu.
Ini adalah Arsip Kisah Horor.
Kisah-kisah horor yang tercatat rapi dan selama ini bungkam telah bangkit kembali untuk diceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat Bangun Subuh
Aku terbangun.
Baru sekitar setengah jam yang lalu aku mulai bisa tidur. Tadi malam aku wajib begadang. Ada pertandingan final sepakbola. Tim yang aku dukung bermain di laga final. Tapi sayang tim jagoanku harus menelan kekalahan. Kalah dengan skor tipis. 1 – 0.
Kepalaku masih goyang-goyang. Mood ku jadi tidak bersemangat. Sudah jam 5 pagi. Sebentar lagi waktu sholat subuh habis.
Dengan langkah gontai aku keluar kamar. Di depan kamarku ada kamar ibuku yang sudah terbuka. Ia sedang duduk di depan meja rias sambil membaca kitab suci. Masih memakai mukena.
Itu rutinitas ibuku setelah habis sholat. Membaca al quran.
Aku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sesudah itu aku lekas mengambil air wudhu.
“Assalamualaikum”,
Itu suara ibuku yang baru pulang dari masjid.
Setelah selesai wudhu aku memeriksanya.
Heran. Baru saja aku melihat ibuku yang sedang membaca al quran di kamarnya. Sekarang aku mendengar suara ibuku yang mengucap salam masuk rumah setelah pulang dari sholat berjamaah di masjid.
Aku tidak menemukan siapa-siapa.
Aku kembali ke kamar untuk melakukan sholat subuh. Ketika aku lewat depan kamar ibuku aku masih melihatnya di sana sedang membaca al quran. Memang ibuku kalau baca al-quran suaranya tidak terlalu dibesar-besarkan.
Selesai sholat subuh aku ingin tidur lagi.
Baru juga aku menarik selimut. Mata pun belum sempat terpejam.
Suara sepiker toa masjid terdengar dinyalakan. Bunyi khas ketika mikrofon dihidupkan.
“Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing………………………………………………”,
Rumahku dekat dengan masjid. Sedekat itu.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”,
“Innalillahiwainnailaihirojiun”,
“Innalillahiwainnailaihirojiun”,
“Innalillahiwainnailaihirojiun”,
Ada pengumuman orang meninggal di kampung ku. Orang yang meninggal itu satu lingkungan tempat tinggal denganku.
Dengan begini sudah dipastikan aku tidak bisa melanjutkan tidur sampai larut siang. Aku harus ikut berpartisipasi. Gotong royong di kampung karena ada orang yang meninggal. Apalagi almarhum adalah tetanggaku sendiri. Rumahnya dekat dengan rumahku. Aku juga mengenalnya dengan baik. Seorang yang memang usianya sudah sangat tua.
Aku pun jadi enggan untuk melanjutkan tidur. Aku pergi ke dapur untuk membuat kopi.
Aku masih melihat ibuku duduk di depan meja rias sedang membaca al quran masih mengenakan mukena.
Setelah selesai membuat kopi. Aku membuka jendela dapur.
Ada yang aneh. Ternyata hari sudah pagi. Langit sudah terang dan gelap sama sekali sudah pergi.
Aku kemudian melihat waktu. Jam dinding mengatakan ini sudah pukul 06:00 pagi. Biasanya ibuku sudah pergi jalan-jalan keluar. Ia tidak pernah mengaji sampai sepagi ini.
Aku kembali ke kamarku. Dan ketika lewat depan kamar ibuku. Ibuku masih di sana. Duduk di depan meja riasnya sedang membaca al-quran masih mengenakan mukena.
Karena penasaran aku mendekat.
Tapi aku sama sekali tidak mendengar bunyi lantunan ayat suci alquran yang sedang dibaca ketika aku sampai di depan pintu kamar ibuku yang sudah dibuka.
“Ada yang meninggal Bu”, kata ku.
Tapi ibu diam saja.
Aku pun mendekati ibuku. Aku melihat wajah ibuku melalui cermin di meja riasnya. Ibuku hanya terdiam. Ia seperti sedang melamun.
“Bu”, aku kembali menegurnya.
Ibuku akhirnya menoleh ke arahku.
Tapi itu bukan ibuku. Mukanya rata. Tidak memiliki wajah.
Aku kaget, merinding dan takut.
Aku langsung berlari keluar rumah.
*
Beberapa saat kemudian.
“Kamu kenapa?”,
Tanya ibuku yang baru saja pulang. Ia mendapatiku tengah duduk bersandar di depan pintu garasi rumah.
“Ibu darimana?”, tanyaku.
“Tadi habis dari masjid ibu langsung melayat ke rumah duka”, jawab ibu.