NovelToon NovelToon
Disenchanted

Disenchanted

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Teen School/College / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.

Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.

Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.

Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disenchanted 35

"Tapi kamu jangan marah, ya?"

"Ish, iya, mau tanya apa? Cepet ih, aku masih belum selesai bacanya." Jee mulai merasa kesal.

"Akhir-akhir ini kamu mulai menjauh dari aku. Kenapa?" tanya Harris serius. Selama sebulan terakhir, Jeehan memang lebih banyak menjaga jarak darinya.

Jeehan tampak diam sesaat sebelum menjawab, "Apa hal kayak gitu perlu ditanyain juga, Ris?"

Harris mengangguk pasti, "Harus, harus banget, Jee. Aku mau tahu alasan kenapa kamu menjaga jarak, apa karena Alisha?"

Perempuan yang ada di hadapannya itu mengangguk samar. "Aku gak mau mengganggu hubunganmu sama Alisha."

"Sejak kapan kamu mengganggu hubunganku? Alisha bilang begitu? Biar aku kasih tahu dia sekarang juga." Harris sudah bersiap mengeluarkan ponselnya, namun dicegah oleh Jee.

"Dia gak bilang begitu, ini memang kemauanku sendiri. Tapi, bukan berarti aku benci atau mencoba menjauhi kamu seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya mau memberi kamu dan Alisha waktu," alibinya, agar Harris percaya dan tak melebih-lebihkan sikapnya lagi.

"Ya tapi kenapa harus jaga jarak coba? Sebulan ini aku sampai berpikir keras apa salahku sampai-sampai kamu susah untuk dihubungi, gak mau berangkat dan pulang bareng aku lagi. Alasannya gak mungkin cuma itu kan?" Harris tetap bersikeras.

Jeehan menggeleng, "Ya ampun, Ris. Kamu coba deh pahami perasaan perempuan. Atau seenggaknya, kamu tanya gimana perasaan Alisha. Aku perempuan, makanya aku tahu."

"Aku gak paham maksudmu," kata Harris membuang muka. Sama sekali tak suka jika topik obrolan mereka harus melibatkan yang namanya perasaan seorang perempuan. Karena menurutnya, perasaan perempuan terlalu rumit untuk dipahami.

"Walaupun kamu bilang aku sahabat baikmu, dan hanya sebatas itu di depan Alisha. Tapi yang namanya perempuan, apalagi kalau dia mencintai kamu, dia akan tetap merasa cemburu, Ris."

"Cih! Ribet banget." Harris berdecak sebal. Benar saja dugaannya. "Kenapa sih perempuan tuh harus bikin segala sesuatunya jadi rumit?" tanyanya sebal. Tetapi, ia juga penasaran..

"Ya karena perempuan lebih dominan memakai hati, berbeda dengan laki-laki yang selalu mengutamakan logika. Ingat, cara berpikir laki-laki dan perempuan tak sama, Ris. Apa yang menurut laki-laki sederhana, bagi perempuan bisa jadi tak sesederhana itu," ujar Jeehan panjang lebar.

Memang agak sulit membuat seorang Harris mengerti hal-hal yang berkaitan dengan perasaan.

"Ck, iya, iya. Terus aku harus gimana dong?" tanya Harris lagi dengan nada cukup keras, membuat beberapa tatapan siswa yang berada di sana langsung tertuju padanya.

"Jangan keras-keras suaramu, ini perpustakaan, bukan lapangan." Jee mengingatkan.

"Iya, maaf, terus gimana? Masa kita harus jaga jarak terus?" Harris sepertinya tak suka dengan gagasannya itu.

"Memang seharusnya begitu, kalau kamu gak mau menyakiti perasaan Alisha. Terlebih lagi, aku gak mau ya disebut sebagai perempuan yang katanya suka merusak hubungan percintaan orang. Idih, gak banget. Kayak gak ada kerjaan lain aja."

Harris bergumam, "Hmm, iya deh. Tapi kita masih tetap komunikasi kan Jee?"

"Masih, tapi hanya untuk urusan penting!" kata Jee. Ia sengaja membuat batasan itu, semata bukan karena agar Harris tak selalu mendekatinya dan membuat Jee diteror oleh Alisha terus-menerus, tetapi juga agar perasannya tetap terjaga dan tak melebihi batas yang semestinya.

Hatinya sangat rapuh sekarang ini. Dan Jee takut, ia tak bisa menolerir perasaan kecewa lagi. Ia sudah terlalu lelah.

"Oi, Jee, yuk balik kelas, bentar lagi istirahat selesai." Anin memanggilnya, mengajak Jee untuk segera pergi dari perpustakaan.

•••

Alina merentangkan tangannya yang terasa pegal. Hari ini ia bangun kesiangan lantaran tidurnya terlalu larut semalam. Niat hati ingin memperbaiki mood yang dirusak anaknya, ia malah kelewat asyik menonton drama.

"Jam berapa ini? Al udah berangkat sekolah kali, ya. Ah coba cek dulu aja, takutnya dia kesiangan juga." Alina berjalan menaiki tangga satu persatu, dibukanya kamar sang putri.

"Gak ada, apa Alisha udah berangkat sendiri ya?" pikirnya pendek. Lalu, ia kembali ke bawah untuk membuat makanan tanpa merasa khawatir sedikit pun.

Selama siang itu, Alina hanya mencoba menghibur dirinya sendiri, berdandan yang cantik, berbelanja online, kadang-kadang menelepon teman-temannya dan bergosip. Hingga tak ia rasa, hari sudah sore.

"Kok Al belum pulang ya?" tanyanya heran. Biasanya, Alisha pulang tepat waktu. Jika pun sang anak memiliki kegiatan lain di luar, ia pasti akan mengirimkan pesan atau menghubunginya secara langsung.

"Ponselnya malah gak aktif lagi. Duh, Al ke mana sih?" monolognya mulai khawatir dengan keadaan sang putri. "Apa mungkin Al takut pulang gara-gara kemarin?" Alina mulai berpikir yang tidak-tidak.

"Oh, ya, coba telepon pacarnya aja deh, bisa jadi ponselnya mati kan?"

Alina mulai mencari-cari nomor Harris yang sempat ia minta pada Alisha beberapa waktu lalu. Panggilan pertama, tak terjawab. Panggilan kedua, barulah suara khas laki-laki itu menjawab dari ujung telepon.

"Halo, Nak Harris. Ehm, itu, lagi sama Alisha gak? Kok jam segini belum pulang juga ya?" tanyanya langsung.

"Maaf, Tan, tapi hari ini Alisha gak masuk sekolah. Kita pikir dia sakit?"

Makin panik Alina dibuatnya, ia langsung mematikan telepon. Berlari ke atas dan memasuki kamar sang putri, Alina mencoba mencari-cari apapun yang mungkin saja Alisha tinggalkan sebagai pesan.

"Gak ada apapun, sebenarnya ke mana Alisha pergi? Gak biasanya dia begini, apa mungkin dia kabur? Astaga." Alina mulai panik sendiri. Gerakannya tak tentu, seperti orang linglung.

"Aku harus gimana sekarang? Ya ampun Alisha! Bikin repot Mama aja deh!" katanya mulai memaki.

Namun, di tengah-tengah kepanikan itu. Terdeng🏃suara klakson mobil dari luar. "Itu pasti Mas Hasya!" Secepat kilat, Alina berlari menuruni tangga dan membuka pintu. Benar saja, Hasya datang dengan raut wajah tertekannya.

"Mas, kok kamu baru pulang? Aduh gawat Mas!" katanya panik. Hasya yang notabene tak tahu apa-apa malah dibuat bingung oleh Alina. Perempuan itu menarik lengan Hasya agar lekas masuk ke dalam.

"Pelan-pelan, Al, ada apa? Apa yang gawat? Coba ceritakan pelan-pelan."

Alina yang panik, kini berubah putus asa dan mulai menangis, membuat Hasya kian bingung dengan apa yang terjadi pada perempuan itu.

"Alisha, Mas, Alisha gak ada di rumah," katanya sambil terisak-isak. Hasya menggiringnya agar duduk di sofa dan mencoba menenangkan perempuan itu.

"Ada apa sama Alisha? Apa maksudnya gak ada di rumah? Kamu jangan nangis gitu, Al, kamu bikin Mas makin bingung kalau gini," ucap Hasya merasa lelah.

"Alisha ... Alisha per—"

"Lah, itu Alisha!" kata Hasya melihat Alisha yang masuk dari pintu utama. Alina langsung menghambur memeluk sang putri.

"Ya ampun, Al! Dari mana aja kamu? Mama khawatir tahu gak? Kamu gak apa-apa kan? Ada yang sakit gak, Sayang? Coba Mama lihat dulu." Alina memeriksa dengan sesama sekujur tubuh sang putri. Barangkali ada lecet atau luka yang membuat sang putri semata wayangnya tak nyaman.

Alisha menepis tangan sang Mama dari tubuhnya, "Alisha baik-baik aja kok, Ma."

"Terus kamu dari mana aja? Mama cari di kamar gak ada, pergi ke sekolah aja enggak. Ke mana kamu?" tanya Alina khawatir. Namun di telinga Alisha, itu terdengar seperti ocehan tak bermakna.

"Telat banget Mama khawatir nya, Alisha cuma nginap di rumah teman, kok. Udah ya, Alisha jelasin nanti, Alisha capek banget, Ma. Alisha mau ke kamar," katanya langsung berjalan menaiki tangga.

Alisha bahkan tak memedulikan keberadaan Hasya di sana. Sedangkan Alina, tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa melihat sosok sang putri yang menaiki tangga.

"Mas, lihat sesuatu yang aneh sama Alisha gak?" tanyanya meminta pendapat dan pandangan Hasya.

Hasya menggeleng, "Enggak tuh, memanggnya ada yang aneh sama anakmu?"

Alina mendelik, "Alisha juga akan menjadi anakmu gak lama lagi, Mas. Biasakan memanggilnya putri atau anak," ujarnya memperingatkan Hasya.

"Aku lihat-lihat kok cara jalan Alisha agak aneh, ya?"

"Mungkin cuma pikiran kamu aja kali. Ya sudah, Alisha kan sudah pulang, aku mau istirahat dulu, jangan ganggu aku." Hasya pun pergi tanpa melihat Alina yang tampak kepikiran dengan cara jalan putri semata wayangnya itu.

"Ah, mungkin cuma pikiranku aja."

•••

Sesampainya di kamar, Alisha langsung membasuh dirinya di bawah shower. Ia menggosok seluruh tubuhnya dengan kuat, rasa perih yang ditimbulkan tak lagi ia pedulikan. Yang Alisha tahu, ia harus menggosok semua tubuhnya yang telah kotor.

Rasa perih di area kewanitaannya tak sebesar perih di hatinya. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Ia mengutuk dirinya sendiri yang dengan begitu lucunya percaya pada kata-kata manis Bastian.

"Bodoh banget, Alisha. Lo bodoh banget!" makinya pada diri sendiri. Air matanya sudah luruh, bersamaan dengan tubuhnya yang luluh di lantai kamar mandi yang dingin.

Entah berapa lama kiranya ia membiarkan dirinya berada di bawah guyuran shower. Ia menangis sepuasnya dan meratapi hal yang telah terjadi.

"Apa yang harus kulakukan setelah ini?"

Bayang-bayang kekecewaan dan kemarahan sang Mama seandainya tahu bahwa kesuciannya telah terenggut secara paksa, membuat Alisha ketakutan hingga memeluk lututnya sendiri.

Setelah selesai membiarkan dirinya basah di bawah guyuran shower, Alisha meraih bathrobe dan berjalan sambil menahan nyeri di area kewanitaannya. Ia mematung di depan cermin, memandangi bekas kemerahan yang ditinggalkan laki-laki bajingan itu.

Marah? Tentu saja Alisha marah. Bukan hanya pada Bastian, tetapi juga pada dirinya sendiri. Ia bahkan merasa jijik dengan tubuhnya sekarang.

Ingin sekali Alisha berteriak kuat, melampiaskan segala perasaan kecewa dan amarahnya. Tapi ia tak bisa, ia tak bisa membiarkan sang Mama tahu. Ia tak bisa membiarkan orang lain tahu, apa yang telah terjadi pada dirinya.

Yang bisa Alisha lakukan hanyalah menangis dan menangis. Berharap segalanya cuma mimpi, dan ketika ia terbangun besok, semuanya akan baik-baik saja.

Tetapi, siapakah yang ia bohongi?

Hal yang telah terjadi, tak akan bisa diulang.

Apalagi sampai memutar waktu ke belakang.

1
falea sezi
terusan jee mana jangan bkin gantung donk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
fokus saja pada kebahagiaanmu Jee
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
salah orang woy 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bastian udah kabur 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju,
Semangaaat Jee 💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Surprise 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hadeuh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kan bener,ngapain marah" 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ternyata numpang dirumah istrinya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan pas seneng" aja, noh urus suamimu yg lagi sakit 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Emang bukan madu tapi racuun 🤬
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Salah sendiri kenapa harus ada perempuan" padahal cukup 1 perempuan 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
alasannya karena ayahmu punya istri baru 😏
falea sezi
kok end thor
Mukmini Salasiyanti
udah End ajaa.... ??
hiks.. hiks...

Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk

tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
HK: Entah harus berakhir di sini atau tetap lanjut, kita pikirkan idenya dulu Kak Min. Thanks ya udah baca karya recehan author ini. 🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kebangetan nih masa ayahnya gak tau kl anaknya sekolah disitu😏
falea sezi
hahahah mampus kau azab tuh buat pelakor ma anak nya nunggu karma bapaknya stroke aja q
Mukmini Salasiyanti
tell the truth..
walaupun itu sgt pahit.....
Mukmini Salasiyanti
aihhhhh
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
HK: Tunggu kelanjutannya /Chuckle/
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Bagus laaa kl ingat Bastian..
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya

wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!