Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 pengakuan adrian
Dari balik jendela besar ballroom, Bianca memperhatikan mobil Adrian yang perlahan meninggalkan area hotel.
Lampu belakang kendaraan itu semakin jauh hingga akhirnya menghilang di antara deretan kendaraan lain yang memenuhi jalanan malam.
Di dalam mobil itu ada Adrian dan ada Nadia.
Pikiran itu tiba-tiba membuat dada Bianca terasa sesak.
Sejak awal Bianca tahu siapa Adrian, tahu bahwa pria itu sudah menikah.
Tahu bahwa Nadia bukan hanya istrinya, tetapi juga wanita yang telah menemani Adrian jauh sebelum dirinya hadir.
Namun selama beberapa bulan terakhir, Bianca mulai terbiasa mengabaikan kenyataan tersebut.
Ia menikmati perhatian Adrian.
Menikmati pesan-pesan yang dikirim pria itu setiap hari.
Menikmati makan malam rahasia mereka.
Menikmati cara Adrian membuatnya merasa istimewa.
Sedikit demi sedikit, Bianca mulai membiasakan dirinya hidup di dalam kebohongan yang sama.
Sampai akhirnya malam ini.
Saat melihat Adrian kembali pulang bersama istrinya.
Ballroom yang tadi terasa hangat mendadak membuat Bianca tidak nyaman.
Suara musik yang merdu berubah menjadi kebisingan yang mengganggu telinganya.
Percakapan para tamu terdengar jauh dan samar.
Ia memaksakan senyum saat beberapa kolega mengajaknya berbicara, namun pikirannya tidak berada di sana.
Matanya terus teringat pada sosok Nadia.
Wanita yang malam itu terlihat begitu anggun.
Begitu tenang.
Dan entah mengapa, hal itu membuat Bianca merasa bersalah untuk pertama kalinya.
Ia mengambil segelas air dingin dari meja pelayan dan mencoba menenangkan diri.
Bianca mengira itu hanya akibat kelelahan atau karena ia terlalu lama berdiri.
Namun beberapa menit kemudian rasa mual itu datang lebih kuat, membuat wajahnya langsung pucat.
Bianca buru-buru meninggalkan keramaian dan berjalan menuju area toilet wanita, langkahnya sedikit tergesa.
Salah satu tangannya menekan perutnya pelan.
Napasnya terasa lebih berat dari biasanya.
Begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Bianca langsung bersandar pada wastafel marmer yang dingin.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menyukai apa yang dilihatnya.
Air keran mengalir membasahi kedua telapak tangannya.
Bianca menempelkan air dingin itu ke wajahnya beberapa kali.
Namun rasa mual yang muncul tidak juga hilang.
Sebaliknya, jantungnya justru berdetak semakin cepat, bukan karena sakit.
Melainkan karena ketakutan yang tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas.
Ketakutan yang membuat pikirannya kembali mengingat beberapa hal yang selama ini berusaha ia abaikan.
Dan semakin ia memikirkannya, semakin besar perasaan tidak tenang yang menguasai dirinya malam itu.
Malam sudah lewat tengah malam ketika mereka tiba di apartemen.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka. Adrian beberapa kali mencoba membuka pembicaraan mengenai acara pernikahan yang baru saja mereka hadiri, tetapi Nadia hanya menjawab seperlunya. Sikap istrinya yang terlalu tenang justru membuat perasaan tidak nyaman di dalam dirinya semakin besar.
Begitu pintu apartemen tertutup, Nadia tidak langsung menuju kamar seperti biasanya.
Ia berdiri di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram dari sudut ruangan. Suasana terasa sunyi dan dingin, seolah seluruh kehangatan yang selama ini mengisi rumah mereka perlahan menghilang.
Adrian yang sedang meletakkan kunci mobil akhirnya menoleh.
"Nad, kamu nggak tidur?"
Pertanyaan itu terdengar biasa, namun kali ini Nadia tidak menjawab.
Wanita itu perlahan berbalik menatap suaminya.
Tatapan yang membuat Adrian langsung merasa ada sesuatu yang salah.
Dan ketenangan itu jauh lebih menakutkan.
"Aku lihat kalian malam ini."
Namun cukup untuk membuat darah di wajah Adrian menghilang seketika.
Tubuh pria itu langsung menegang.
"Apa?"
Nadia tersenyum tipis.
Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Jangan bohong lagi."
Suaranya tetap tenang.
"Aku melihat sendiri kamu dan Bianca di taman hotel."
Ruangan mendadak terasa sesak. Adrian membeku di tempatnya. Pikirannya langsung kacau. Selama beberapa detik ia bahkan tidak mampu mengatakan apa pun.
Nadia melangkah mendekat.
Justru itu yang membuat setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa semakin menyakitkan.
"Awalnya aku masih mengira semua itu cuma kecurigaanku."
Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Adrian.
"Tapi ternyata aku benar."
Napas Adrian terasa berat.
"Nadia, dengarkan aku dulu."
"Dengar apa?"
Potong Nadia pelan.
"Tentang pesan di ponselmu?"
"Tentang perhiasan Dior?"
"Atau tentang kalung dengan inisial BA yang dipesan khusus dari Hong Kong?"
Mata Adrian langsung membesar, keterkejutan terlihat jelas di wajahnya.
Ia tidak menyangka Nadia mengetahui sejauh itu.
Tidak menyangka istrinya telah mengumpulkan begitu banyak potongan informasi.
Dan sebagai seorang pengacara, Nadia memang selalu mampu menyusun fakta lebih cepat daripada kebanyakan orang.
"Kalian sudah berapa lama?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar, kali ini suara Nadia terdengar lebih lemah, lebih rapuh.
Karena di balik semua ketenangan yang ia tunjukkan, hatinya sebenarnya sedang hancur.
"Berapa lama kamu membohongiku sambil pulang ke rumah setiap malam?"
Adrian menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia tidak memiliki jawaban yang bisa menyelamatkan keadaan.
Keheningan memenuhi ruangan, beberapa detik terasa seperti berjam-jam.
Lalu Adrian mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Nadia... aku minta maaf."
Suara itu terdengar serak.
"Aku nggak pernah berniat menyakitimu."
Kalimat tersebut justru membuat Nadia tertawa kecil.
Tawa yang terdengar begitu pahit.
"Lucu sekali."
Matanya mulai memerah.
"Kamu selingkuh dengan wanita lain, berbohong setiap hari, lalu bilang nggak berniat menyakitiku."
Adrian merasa dadanya semakin sesak.
Ia tahu dirinya bersalah.
Tidak ada alasan yang bisa membenarkan apa yang telah terjadi.
Namun ada satu hal yang lebih ia takutkan saat ini, jika semua ini terbongkar.
"Nadia."
Ia melangkah mendekat.
"Tolong."
Wanita itu mengangkat wajahnya. Adrian terlihat benar-benar panik sekarang.
Berbeda dengan pria percaya diri yang selama ini dikenalnya.
"Tolong rahasiakan dulu semuanya."
Kalimat itu membuat Nadia terdiam.
Beberapa detik kemudian ia menatap suaminya dengan tidak percaya.
Bukan karena perselingkuhan itu.
Melainkan karena permintaan yang baru saja ia dengar.
"Rahasiakan?"
ulang Nadia perlahan.
Adrian mengangguk.
"Kalau ini sampai diketahui firma, keluarga, klien, semuanya akan berantakan."
Napasnya terdengar berat.
"Ayahku baru masuk ke firma."
"Karier Bianca juga bisa hancur."
"Aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya."
Mata Nadia perlahan berkaca-kaca, bukan karena terharu.
Melainkan karena akhirnya ia menyadari sesuatu yang menyakitkan.
Bahkan setelah ketahuan berselingkuh.
Bahkan setelah menghancurkan kepercayaannya.
Hal pertama yang dipikirkan Adrian bukanlah perasaan istrinya.
Bukan luka yang baru saja ia buat.
Melainkan bagaimana menjaga rahasia itu agar tidak diketahui orang lain.
Dan kesadaran itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan itu sendiri.
Nadia memandang Adrian cukup lama setelah kalimat itu terucap.
Ruang tamu yang beberapa menit lalu terasa sunyi kini terasa menyesakkan. Setiap sudut apartemen menyimpan begitu banyak kenangan yang tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang asing.
Pria di hadapannya adalah orang yang pernah ia perjuangkan melawan seluruh penolakan keluarganya.
Orang yang dulu ia pilih ketika banyak orang mengatakan hubungan mereka tidak akan bertahan.
Orang yang tetap ia dampingi ketika kariernya tertinggal jauh dibandingkan dirinya.
Namun malam ini, pria itu berdiri di hadapannya bukan sebagai suami yang meminta maaf.
Melainkan sebagai seseorang yang memintanya ikut menyimpan kebohongan.
"Nadia, aku tahu aku salah."
Suara Adrian terdengar semakin pelan.
"Aku benar-benar tahu."
Namun Nadia hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalau kamu tahu itu salah, kenapa kamu tetap melakukannya?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Adrian terdiam.
Tidak ada jawaban yang terdengar cukup baik.
Tidak ada alasan yang terdengar masuk akal.
Karena pada akhirnya, semua pembelaan hanya akan terdengar seperti upaya mengurangi kesalahan yang sudah terjadi.
"Aku nggak tahu kapan semuanya jadi seperti ini."
Adrian akhirnya duduk di sofa dan menundukkan kepala.
"Awalnya cuma teman bicara."
Kalimat yang mungkin sudah ia dengar puluhan kali dari klien-klien yang datang mengurus perceraian.
"Aku sering mendengar alasan itu dari orang lain."
ucapnya pelan.
"Tapi aku tidak pernah membayangkan suatu hari aku akan mendengarnya dari suamiku sendiri."
Adrian mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Ia terlihat lelah.
Namun untuk pertama kalinya Nadia tidak lagi merasa iba.
Karena selama ini setiap kali Adrian tertekan, setiap kali Adrian merasa gagal, setiap kali Adrian membutuhkan seseorang untuk menopangnya, Nadia selalu ada.
Selalu.
Bahkan ketika ia sendiri sedang lelah.
Bahkan ketika ia baru kehilangan calon anak mereka.
Bahkan ketika ia harus menanggung beban pekerjaan dan rumah tangga sekaligus.
"Apakah kamu mencintainya?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Adrian tampak benar-benar terpukul.
Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Kekecewaan.
"Nad..."
Suara Adrian hampir tidak terdengar, namun Nadia tidak mengalihkan pandangan, ia membutuhkan jawaban, mungkin bukan karena ingin mendengarnya.
Tetapi karena ia sudah lelah hidup di antara kebohongan.
"Aku bertanya sesuatu."
ucapnya tenang.
"Apakah kamu mencintainya?"
Keheningan yang muncul setelahnya terasa sangat panjang.
Dan keheningan itu sendiri telah menjadi jawaban yang cukup.
Karena jika Adrian benar-benar tidak memiliki perasaan kepada Bianca, seharusnya ia bisa menjawab tanpa ragu.
Seharusnya ia bisa langsung menyangkal.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Air mata akhirnya jatuh untuk pertama kalinya
Hanya air mata yang mengalir diam-diam di wajah wanita yang terlalu lama berusaha kuat.
"Aku kehilangan anakku bulan lalu."
suara Nadia bergetar.
"Aku kehilangan banyak hal."
Ia menatap Adrian yang kini terlihat semakin hancur.
"Tapi ternyata selama aku berusaha pulih..."
Napasnya tersendat.
"Kamu memilih mencintai wanita lain."
Adrian langsung berdiri.
"Nadia, tidak seperti itu."
Namun Nadia menggeleng pelan.
Untuk pertama kalinya ia tidak ingin mendengar penjelasan.
Karena tidak ada penjelasan yang bisa menghapus apa yang telah terjadi.
Tidak ada penjelasan yang bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah rusak.
Dan tidak ada penjelasan yang bisa menghapus kenyataan bahwa setiap malam selama ini, Adrian pulang ke rumah sambil membawa rahasia yang perlahan menghancurkan pernikahan mereka.
Justru keheninganlah yang memenuhi apartemen itu.
Keheningan yang terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.
Karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan mereka, Nadia mulai mempertimbangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan.
Bukan bagaimana menyelamatkan hubungan mereka.
Melainkan apakah hubungan itu masih bisa diselamatkan sama sekali.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah