Gelya akhir-akhir ini sering bermimpi bercinta dengan seorang lelaki misterius. Wajahnya tak jelas hanya tubuhnya yang terasa lebih dingin dari manusia biasa.
Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan lelaki tampan yang selalu hadir saat malam hari. Lelaki yang mampu mengguncang hati Gelya dan membuatnya jatuh cinta setengah mati. Lelaki yang ternyata selalu hadir dalam mimpi Gelya. Bagaimana percintaan antara manusia dan vampire ini terjalin? Ada misteri apa dibalik kedatangan vampire yang berusia hampir 2000 tahun itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membingungkan.
"Terima kasih sudah menolongku." kata Zoran kepada Driniti Boldan, kakek buyutnya Gelya.
"Aku dapat melihat di matamu kalau kamu adalah vampire yang baik. Kamu pasti telah melalui hari yang berat saat harus menjadi vampire."
"Aku sebenarnya tak pernah mau menjadi vampire. Aku benci dengan keadaanku."
Seseorang membuka pintu.
"Papa, ini adalah darah yang sudah aku siapkan. Aku mengambilnya pada kambing yang baru saja disembelih."
"Terima kasih menantuku."
Wanita itu tak lain adalah Iren, Omanya Gelya. Perempuan itu sempat melihat Zoran yang sedang tertidur di atas lantai yang dialasi dengan karpet.
"Jika sesuatu terjadi padaku, karena para vampire akan mengejar darah suciku, aku mohon jangan biarkan aku menjadi vampire."
Zoran mengangguk. "Aku juga tak akan pernah menciptakan manusia menjadi vampire."
Driniti tersenyum. "Aku percaya padamu. Oh ya, keturunan darah suci hanya akan lahir setiap 3 atau 4 generasi setelah keturunan yang pertama. Aku tahu salah satu cicitku akan memilikinya. Darahku ada dalam tubuhmu, kamu akan tahu jika bertemu dengan pewaris darah suci. Aku berharap agar mereka tak akan pernah kembali ke Rumania. Karena di sini ada setan yang ingin terus membunuhnya."
************
Gelya terkejut mendengar cerita Zoran.
"Aku melupakan itu, sayang. Aku justru mengajak kamu ke sini karena ingin agar kamu bertemu dengan keluargamu. Seharusnya aku menyelidiki dulu siapa mereka sekarang."
Gelya menyandarkan kepalanya di dada Zoran. "Tapi mereka keluargaku, Zo.Oma bahkan sangat senang saat bertemu denganku. Kata paman Alden, Oma jadi seperti itu karena papaku pergi dan tak kembali."
"Mungkin papamu tahu kalau keberadaan mu di sini sangat berbahaya untukmu."
"Menurut mama, kami hanya 2 tahun tinggal di Rumania. Waktu itu aku masih sangat kecil sehingga aku tak mengingat lagi tempat ini. Dari Rumania, kami kembali ke Rusia karena papa bekerja di sana. Saat aku berusia 6 tahun, kami pindah ke Indonesia."
"Sayang, bagaimana menurutmu jika kita kembali saja ke Indonesia?" tanya Zoran.
Gelya membalikan badannya dan menatap suaminya. "Tapi, Zo. Aku masih ingin bertemu dengan keluarga ku. Lihat saja semalam saat kita pulang, Oma menangis."
"Oma mu tak menyukai aku karena ia mengenal aku. Dia tahu aku vampire. Untungnya pamanmu tak memperdulikan apa yang omamu katakan. Saat aku bertemu dengan omamu, dia baru saja menikah dengan opamu. Ia bahkan belum hamil."
Gelya menggenggam tangan Zoran. "Ada kamu yang menjaga aku, Zo. Aku akan merasa aman dan nyaman saat bersamamu."
Zoran memeluk istrinya. Ia mengecup puncak kepala Gelya. Ia sebenarnya ingin segera pergi namun ia juga tak mau membuat Gelya pergi. Dia berharap tak akan ada bahaya yang terjadi di sini.
Pukul 2 siang, Gelya dan Zoran kembali ke rumah keluarga Boldan. Langit seperti biasa. Mendung dan nampaknya akan hujan.
Sepanjang jalan, Gelya melihat rumah-rumah penduduk memasang umbul-umbul berwarna ungu dan ada pita putih yang di pasang di depan pintu rumah. Di penginapan juga di pasang beberapa umbul-umbul dan pintu-pintu diberi pita putih.
"Paman, mengapa semua pintu rumah di desa ini diikat dengan pita putih?" tanya Gelya saat mereka sudah tiba di rumah pamannya.
"Ini adalah perayaan setiap 100 tahun sekali. Menurut kepercayaan kuno, setiap 100 tahun sekali, Dewa melepaskan para iblis jahat untuk berkeliaran di bumi. Makanya manusia diharapakan untuk selalu mawas diri dan membentengi dirinya dari si iblis. Umbul-umbul berwarna ungu sebagai lambang pengusiran setan. Sedangkan pita putih akan membuat iblis jahat melewati rumah kita karena ia tahu hanya ada kesucian di dalamnya. Entahlah, paman sendiri tak mempercayai itu." Alden tertawa setelah menjelaskan. Sedangkan Gelya dan Zoran hanya saling berpandangan.
"Paman, dimana Oma?"
"Tadi pagi mama tiba-tiba saja menjadi sakit. Dia sedang istirahat di kamarnya." jawab Alden.
"Boleh aku melihatnya?"
"Tentu saja, nak. Kamar mama ada di bagian belakang. Zoran, ayo ikut denganku ke kandang kuda. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." ajak Alden.
Zoran tak bisa menolak. Ia menatap Gelya dan memberi isyarat dengan tangannya agar Gelya berhati-hati.
Gelya pun segera ke kamar Omanya. Saat ia membuka pintu, dilihatnya sang Oma sedang berlutut di lantai. Di sekelilingnya ada lilin yang di pasang mengelilinginya. Sang Oma nampak sedang berdoa.
Gelya memilih duduk di tepi ranjang sampai menunggu sang Oma menyelesaikan doanya.
"Gelya.....!" panggil Iren.
"Ya, Oma."
Iren meminta agar Gelya membantunya berdiri. Gelya pun menolong Iren dan mendudukkannya kembali ke atas kursi rodanya.
"Kata paman, Oma sedang sakit. Sakit apa?"
Iren memegang pipi Gelya. "Aku sakit karena para iblis akan datang. Mereka akan masuk ke hari setiap manusia yang jahat, rakus akan kenikmatan dunia dan selalu ingin mencelakai orang."
"Oma, jangan memikirkan tentang mereka. Apakah Oma sudah makan?"
"Bagaimana aku bisa makan kalau aku tahu mereka akan mengambil mu dari ku? Kini aku mengerti mengapa Adam tak pernah kembali. Dia melindungimu dari para iblis."
Gelya tahu kalau pikiran Omanya kadang tak fokus seperti apa yang dikatakan oleh pamannya. Gadis itu memegang kedua tangan Omanya dan mencium punggung tangan sang Oma. Ada rasa bahagia dalam hatinya karena ketika ia menatap mata Omanya, ia justru mengingat mata papanya.
"Aku akan ambilkan makanan untuk Oma."
"Temani Oma tidur saja."
Gelya mengangguk. Ia membantu sang Oma berpindah dari kursi roda ke atas ranjang. Setelah menutupi tubuh Omanya dengan selimut, Gelya pun ikut berbaring di sampingnya. Ia memegang tangan sang Oma sampai akhirnya, Gelya merasa ia sangat mengantuk dan akhirnya tertidur.
**********
Gelya terbangun saat hari sudah gelap. Ia menatap jam tangannya yang menunjukan pukul setengah 7 malam dan Gelya merasa sangt lapar. Ia tak menemukan lagi sang Oma ada di sampingnya. Begitu juga dengan kursi rodanya, tak ada di kamar itu. Saat Gelya keluar kamar, rumah nampak sepi, namun di meja makan sudah berkumpul Oma, paman dan bibinya.
"Zoran kemana?" tanya Gelya.
"Zoran mengatakan kalau dia pergi ke penginapan sebentar. Ada sesuatu yang dia lupakan. Sebaiknya kamu duduk dan makan dulu, Gelya " kata pamannya.
Gelya mengangguk. Ia berpikir kalau Zoran sengaja menghindar untuk acara makan malam supaya perutnya tak sakit.
Gelya pun menikmati makan malam yang sangat lezat itu.
"Maaf ya Oma. Tadi aku ketiduran. Entah mengapa aku sangat mengantuk." kata Gelya setelah makanannya hampir selesai.
"Itulah yang terjadi jika kamu bersetubuh dengan setan. Ia akan mengambil seluruh kekuatanmu." jawab Iren ketua. Gelya jadi kaget. Tadi Omanya begitu lembut. Ada apa sampai dia menjadi ketua seperti ini?
"Mama, kenapa bicara seperti itu? Suami Gelya kan manusia bukan setan." Alden menegur mamanya.
Iren menatap Gelya. "Kamu sungguh menjijikan memberikan dirimu kepada setan."
"Mama......!" Alden memarahi mamanya.
"Tidak apa-apa paman. Aku mengerti dengan kondisi Oma." Gelya tak tersinggung dengan perkataan omanya.
Saat mereka sudah selesai makan, Gelya membantu membereskan meja. Tepat di saat itu Zoran datang. Gelya langsung berlari dan memeluk suaminya.
"Maafkan aku meninggalkan kamu, sayang. Aku lapar dan mencari darah." bisik Zoran saat Gelya memeluknya.
"Aku mengerti."
"Kita pulang sekarang?" tanya Zoran.
Mereka pun pamit pada keluarga Gelya sekaligus juga pamit karena besok mereka akan segera pulang. Oma kembali menangis dan seakan enggan melepaskan cucunya pergi. Ia juga menatap semakin sinis kepada Zoran seakan ingin memakan pria itu.
Saat mereka tiba di penginapan, nampak suasana penginapan juga sangat sepi. Gelya dan Zoran segera masuk ke kamar mereka. Saat pintu kamar terbuka dan ditutup kembali, Zoran langsung mencium Gelya dengan penuh gairah. Gelya kaget namun langsung menyambut ciuman suaminya itu. Ia tahu kalau Zoran memang ingin setiap hari mereka bercinta walaupun sebenarnya tadi pagi mereka baru saja bercinta.
Namun saat Gelya akan membuka kain penutup inti tubuhnya, ia terkejut. "Zo, maaf. Aku nampaknya baru saja mendapatkan tamu bulananku."
Zoran menatap Gelya dengan sorot mata ke ih bernapsu lagi membuat Gelya terkejut.
"Ayolah sayang, aku sudah tak tahan lagi." Zoran kembali mencium Gelya membuat gadis itu mendorong dadanya suaminya. "Zo, aku nggak mau. Ini menjijikan."
"Gelya, come on....!" Zoran sudah mengeluarkan kemeja yang Gelya kenakan.
"Zoran......kamu menyakiti aku!" Gelya kembali mendorong Zoran saat ia merasakan kalau kuku Zoran menancap ke lehernya.
Gelya tiba-tiba ingat sesuatu, sejak kapan Zoran memiliki kuku yang panjang?"
Apa yang terjadi dengan Zoran?
*************
Oh.....oh.....siapa dia?
good thor👍👍