Sebuah kasus pembunuhan berantai terus saja terjadi di tempat yang selalu sama. Menelan banyak nyawa juga membuat banyak hati terluka kehilangan sosok terkasih. Kasus tersebut menarik perhatian untuk diselidiki. Namun si pelaku lenyap tanpa sebab yang jelas dan justru menambah kekhawatiran penyelidik. Kasus ini menjadi semakin rumit dan harus segera dipecahkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherry_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Sesungguhnya
“Halo, apa benar ini pemilik kedai Lecho’s The Best Friend?”
^^^“Tak perlu banyak drama, Arron! Langsung ke intinya saja! Ada apa? Mengapa pula hp Picho ada padamu?”^^^
“Iiiih! Kakaknya galak! Aku takut! Heran, bagaimana bisa kedainya laku?”
^^^“Berisik! Kubilang langsung ke intinya saja! Aku tak punya banyak waktu!”^^^
“Sahabatmu yang bernama Picho Nicholas sedang aku culik malam ini, ia berada di rumahku.”
^^^“Apaan? Jangan banyak drama! Bilang saja kau ingin memperpanjang jam pinjam mu terhadap asetku!”^^^
“Cerdas juga kau! Malam ini dia menginap di rumahku tak apa ya? Titip adik manisnya di sana.”
^^^“Terserah, pinjam dia sesuka hatimu. Tapi jika ada lecet padanya walau hanya segores, aku takkan pernah memaafkanmu."^^^
^^^"Jangan juga kau mencoba mencuci otaknya, dengan asumsi anehmu tentangku yang akan merusak hubungan persahabatan kami!”^^^
“Dia tidak akan ku lukai dan tak akan juga ku cuci otak. Aku hanya ingin sedikit berdiskusi saja tentang kasus ini."
"Selebihnya mau dia tetap bersahabat atau tidak denganmu, itu pilihannya sendiri. Aku hanya ingin tahu sudut pandangnya terhadap kasus ini.”
^^^“Cih! Dasar pemabuk dramatis! Jangan katakan yang aneh-aneh padanya!”^^^
Senyuman kecut menghiasi wajah, berbagai fikiran dan asumsi mengaliri lamunan.
Setelah mendengar untaian kalimat yang terlontar dari sebrang saluran panggilan sana, hati mencoba menelaah setiap makna didalamnya.
Leo, pria itu benar-benar menjadi serius dan membuas jika sahabatnya sedang dalam ancaman.
Namun aku masih tak mengerti apa makna dari ‘aset’ yang ia juluki pada Picho?
Pria yang terkenal dengan sebutan ‘pangeran tembok es’ itu, rela berusaha setengah mati demi menjaga sahabatnya.
Namun dengan alasan apa ia berkorban sampai sejauh ini? Apa benar dia menyayangi Picho dengan tulus? Tapi mengapa?
Dari jawaban yang kudapatkan saat interogasi dengannya, ia mengatakan bahwa Picho adalah satu-satunya tempat hangat yang bisa mencairkan es di hatinya.
Jika difikirkan lagi, kepribadian Picho yang ramah manis juga selalu ceria, memang memberikan kesan hangat.
Jarang aku melihat Picho murung, kalau bukan saat membahas tentang keselamatan Taira atau sahabatnya Leo.
Dia benar-benar menghargai setiap hubungannya, dengan orang yang ia anggap memberi kepedulian padanya.
Sepertinya es teh manis itu memang membutuhkan sosok keluarga dalam hidupnya?
Sebenarnya ia merasa sedih akan kepergian orangtuanya, namun pria berambut panjang itu selalu menyembunyikannya dalam sikap manis, manja, dan ramah, agar ia bisa menjaga teman-temanya yang sudah dianggap keluarga.
Picho tak ingin kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya, itulah sebabnya dia selalu menunjukkan sikap yang sempurna, dan mungkin kehilangan jati dirinya.
Anak yang menyedihkan!
“Oy, Julian! Mengapa kau bisa diam saja sedangkan aku sibuk membersihkan istanamu!? Kau kira aku pelayan hah!?”
Amukan Picho, seketika membuyarkan lamunan panjangku.
Aku melirik kesal ke arahnya sebelum bersuara.
“Sudah kubilang, kau tak perlu repot-repot membersihkannya! Masih banyak hal yang lebih penting dari itu untuk diurus!”
“Kebersihan adalah hal yang paling penting dari segalanya, dasar detektif bodoh!"
"Bagaimana bisa kau menyelesaikan kasus serius, jika kesehatanmu terganggu oleh lingkungan yang tidak higenis!?"
"Debu-debu di sini bisa merusak paru-parumu, apa kau tidak terfikir sampai situ!?”
Omelnya seperti seorang ayah yang memarahi anaknya. Aku jadi rindu ayah, dia apa kabar ya sekarang?
“Badanku terlalu kecil untuk membersihkan tempat sebesar ini sendirian!”
Aku mencoba memberi alasan.
“Kan ada aku! Jika dilakukan bersama akan lebih ringan, bukankah begitu?”
“Lupakan! Ini sudah terlalu malam untuk membersihkan rumah. Sebaiknya kita fokus saja pada hal penting yang harus didiskusikan.”
“Aku tak mau berdiskusi di ruangan berdebu ini! Napasku sesak hingga fikiranku tak jernih!”
“Yasudah, ayo pindah ke kamar! Setidaknya itulah satu-satunya ruangan yang bersih di bangunan megah ini.”
...***...
Wajah seputih salju, bibir sebiru laut beku, peluh menghujani tubuh.
Itulah yang kulihat dari Picho, saat ia melihat sekumpulan foto-foto yang tertempel pada dinding dekat kasur.
Dapat terdengar degup jantungnya yang tak beraturan, jelas ia sedang dilanda rasa takut yang luar biasa, entah apa yang membuatnya setakut itu.
Atensiku terpaku heran, pada pria yang mematung menatap deretan foto di dinding.
Menunggu jawaban dari setiap pertanyaan yang terpenjara dalam kepalaku, enggan keluar dari mulut.
Tak ingin mengganggu renungannya, yang penuh dengan perasaan mendalam.
Bulir air nyaris saja mengalir dari manik indahnya.
Picho mulai membuka suara dari bibirnya yang bergetar.
“A- Apa ini?" ia menghentikan sejenak suaranya.
"Mengapa wajahku tampak tampan sekali di dalam foto ini?”
Sontak membuatku tak kuasa, menahan kepala yang jatuh akibat berat, hingga terbentur pada dinding.
“Sakit!” rintihku, sambil memegangi kepala yang tadi terbentur.
Pria yang tingkat percaya dirinya tinggi ini, menatapku heran bercampur cemas sebelum bertanya dengan polosnya.
“Kenapa? Kau ngantuk kah?”
“Ini semua gara-gara kau!” geramku pada pria tak peka ini.
Bagaimana bisa ia mengungkapkan hal yang menyombongkan dirinya sendiri, setelah menunjukkan wajah seolah ketakutan seperti itu!?
“Oh? Maaf.”
“Jangan cuman ‘oh, maaf’!”
“Yasudah sini ku cium kepalanya biar ga sakit lagi.”
“Bukan itu yang ku butuhkan, dasar bodoh! Berhenti melakukan hal menggelikan seperti itu!”
“Lalu apa yang harus kulakukan, yang mulia Julian?”
Tanganku meremas setiap hal yang bisa diremas pada kasur, untuk menahan emosi agar tak meledak.
Namun tetap saja aku meledakkan amarah padanya.
“Kau sudah membuatku khawatir dengan wajah pucat mu, itu tahu ga!? Ku kira apa yang sedang kau fikirkan, ternyata hanya ketampananmu sendiri!”
“Eh? Aku pucat kah? Separah itu kondisiku?” dia malah tidak sadar diri!
“Sudahlah, jangan mengalihkan pembicaraan! Aku tahu bukan itu yang kau fikirkan sekarang, ada apa?”
“Ini foto dari pimpinan polisi kan? Bagaimana bisa beliau mendapatkan foto kami dengan posisi yang sejelas ini?"
"Seperti foto pada KTP atau surat lamaran kerja, tapi aku tak pernah memberikan foto seperti ini pada saat membuat KTP ataupun melamar kerja.”
lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan!
Aku menghela napas kasar, tak kuasa menahan kekesalan pada pria yang pandai menghindari pembicaraan penting ini.
Terpaksa aku harus memancingnya duluan, agar mau memberikan jawaban yang ku nantikan.
“Bukankah itu tak penting sekarang? Lihatlah foto cewek di sini, apakah kau tak mengenalnya?”
“Kenal, tapi apa kau akan percaya jika aku menceritakan hal yang sebenarnya? Karena semua tuduhan pak pimpinan itu pada kami salah total.”
Aku memejamkan mata sejenak, mengatur kembali emosiku.
“Ceritakan!” perintahku kemudian.
“Seperti yang pernah aku ceritakan, saat kali pertama kita bertemu di kedai Lecho’s malam itu."
"Aku bertemu dia di gunung, tepat setelah kami dipecat dari Lyly Lavender."
"Gadis itu mengaku padaku, bahwa dia juga ingin menangkap pembunuh berantai karena kakaknya telah dibunuh."
"Entah dia berbohong atau jujur."
"Setelahnya dia meminta bantuanku untuk menemukan pembunuh tersebut.”
Picho mulai bercerita ulang akan apa yang pernah ia ceritakan tentang Taira, walau aku tak mengerti apa hubungan ceritanya dengan Rubby yang berada di foto pada dinding kamar megah ini.
Mulai semakin fokus, aku pun menatap pria yang sedang bercerita dengan serius, tak ingin melewatkan informasi penting dari mulutnya yang tulus.
“Jadi, jika dibilang Taira adalah Rubby sang detektif yang bekerjasama denganku dan Leo untuk melakukan aksi membunuhnya, itu sebuah kesalahpahaman besar."
"Karena aku sendiri tak mengetahui bahwa Taira adalah detektif yang menyamar, dan Leo bahkan baru menemui gadis itu saat rumahku digerebek polisi."
"Kami sama sekali tidak memahami apapun tentang Taira, yang kau sebut dengan nama Rubby.”
Ia menyelesaikan kisah yang sebenarnya terjadi.
“Lalu mengapa dia membela kalian berdua, setiap pak tua sok berwibawa itu membahas kasus di kedai Lyly Lavender?”
Aku masih tak mengerti, dengan hal janggal pada perilaku gadis misterius itu.
“I don’t know!" sentaknya, tegas.
"Memang apa yang membuatmu masih tak melaporkan kami, padahal tahu jelas aku berpotensi membunuh tanpa sadar karena pengaruh topeng sialan itu?” ia mengembalikan pertanyaan.
“Kau ingin dilaporkan?”
“Jika memang aku yang bersalah, silahkan saja laporkan dan tangkap aku.” Picho menatapku tulus.
“Bagaimana bisa, aku menyalahkan orang yang bertindak kriminal tanpa ia sadari!?" sergahku.
"Yang bisa kulakukan adalah, mengamankan hal yang menjadi penyebabmu terpengaruh untuk melakukan kejahatan. Kau bukanlah pembunuhnya!”
Aku berusaha bertindak adil dalam mengambil keputusan.
“Taira juga mengatakan bahwa bukan aku pembunuhnya, tapi ia tak tahu siapa pembunuh sebenarnya dan meminta bantuanku untuk menemukannya." sahut Picho jujur.
"Ia bilang aku memiliki kemampuan untuk itu,"
"Leo juga menyadari bahwa kemampuan yang aku miliki adalah Empathy, yang bisa merasakan isi hati dan fikiran orang lain."
"Mungkin itu sebabnya, aku bisa mendengar suara bisikan pilu dari para korban pembunuhan.”
Aku termenung sesaat, mencoba mencerna makna dari kata yang Picho lontarkan.
Yang bisa kupahami sekarang adalah, Picho sendiri tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi padanya.
Ia hanya bisa mengumpulkan jawaban dari kedua kawannya, tapi apa yang membuatnya percaya dengan mereka?
Teramat polos kah pria manis ini, sampai mudah percaya tanpa mencari kebenarannya lagi?
Namun jika difikirkan lagi, semua jawaban yang ia dapat dari kedua orang itu cukup masuk akal.
Walau sulit dipercaya, kemampuan khusus sejenis itu memang benar adanya.
Aku mempercayainya, sejak menyadari Picho yang selalu mampu menyadari kebohonganku.
Masuk akal jika memang ia bisa mendengar isi fikiranku, setiap kali aku berbohong padanya.
Tapi yang masih menjadi pertanyaan sekarang adalah…
“Mengapa kau tak bisa menyadari, bahwa Taira adalah detektif yang menyamar dengan kemampuanmu itu? Apa kau tak mendeteksi kebohongannya?”
“Dia tidak berbohong saat mengatakan kakaknya dibunuh di gunung itu." tatapannya penuh keyakinan.
"Mungkin dia memang tak pernah berbohong padaku, dia hanya mengalihkan jawaban yang sebenarnya pada kejujuran lain." kali ini, suaranya terdengar ragu.
"Ini seperti menyembunyikan sesuatu dengan tidak menceritakannya, dan mengalihkan pada kejujuran yang tak ada hubungannya dengan disembunyikan, kau paham kan maksudku?”
“Begitu rupanya?" aku memegangi daguku.
"Ini semacam dia bertekad menjadi detektif, untuk mencari pembunuh yang melenyapkan kakaknya, tapi ia tak mengatakan padamu bahwa dia adalah detektif."
"Jadi kau berasumsi bahwa dia adalah orang biasa yang ingin mencari pembunuhnya?” terkaku, menyimpulkan.
“Sederhananya, seperti itulah analisis yang ada dalam benakku sekarang.” ia memperkuat asumsiku.
“Terakhir, aku ingin bertanya. Apa yang Taira katakan padamu, saat ia mengecup luka di lengan kirimu?”
“Sebelum ku jawab, apakah setelah ini aku boleh bertanya padamu?” lagi-lagi ia mengembalikan pertanyaan.
“Silahkan, tapi jawab dulu pertanyaanku yang tadi.” tegasku, santai.
“Dia menyuruh ku menyembuhkan lukaku, lalu menemuinya di gunung membawa topeng itu untuk mengakhiri segala kasus mengerikan ini.”
“Begitu rupanya? Pelakunya adalah topeng itu dan dia ingin memusnahkannya?”
“Sepertinya begitu?” ia masih ragu, namun aku melihat kejujuran dalam matanya.
“Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan sekarang?”
.
.
.
.
.
*ilang ke Isekai*