Karena kesalahpahaman, membuat seorang gadis bernama Ghina harus terseret ke sebuah hubungan yang rumit dengan seorang pria yang berusia 25 tahun lebih tua darinya.
Hanya karena wajah yang mirip, Ghina pun harus menerima dijadikan tersangka dibalik kematian seorang pemuda bernama Erfin Darmawan.
Hal itu membuat Erwin Darmawan, yang tidak lain adalah ayah dari Erfin pun akhirnya kembali ke tanah air untuk membalas dendam pada gadis yang sudah membuat putranya meninggal.
Hingga akhirnya Erwin pun dipertemukan dengan Ghina. Gadis yang di duga sebagai alasan di balik kematian putranya. Lalu, mereka pun akhirnya terlibat sebuah hubungan yang cukup rumit.
Lalu, setelah semuanya terbongkar. Mampukah Ghina bertahan dalam penjara cinta dari si pria tua itu??
Dan apa yang akan Erwin lakukan setelah tahu jika ternyata bukan Ghina yang sudah membuat putranya meninggal??
Akan kah Erwin melepaskan Ghina atau malah semakin mengikat gadis itu dalam jerat cinta nya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34
Rasa haru pun seketika dirasa oleh pasangan yang kini telah resmi menikah beberapa bulan yang lalu itu. Bahkan, Erwin tidak bisa menyembunyikan rasa haru atas kebahagiaan yang Tuhan berikan karena akan kembali di berikan momongan setelah gagal menjaga 3 anaknya terdahulu.
"Baik Dokter, terima kasih. Akan saya ingat semua pesan dari Dokter ini," jawab Erwin dengan mata yang berkaca kaca.
"Ini resep vitamin dan anti mual untuk mengatasi morning sickness yang di alami selama masa kehamilan di trimester pertama ini. Sampai bertemu lagi bulan depan, semoga sehat selalu hingga hari persalinan nanti ya Bu, dan sekali lagi selamat untuk Bapak dan Ibu," lanjut dokter itu lagi.
"Iya Dokter, terima kasih. Kalau begitu kami permisi,"
"Iya Pak, silahkan."
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, keduanya pun langsung pergi ke bagian obat untuk menebus resep obat yang tadi di berikan oleh sang dokter.
"Sini, duduk dulu dan tunggu di sini ya? Mas ambil dulu obat nya," ucap Erwin mendudukkan sang istri di kursi tunggu. Sementara Erwin, langsung pergi kebagian obat untuk menyerahkan resep obat itu pada apotekernya.
Saat tengah duduk menunggu suaminya kembali dari mengambil obat. Tiba tiba saja ada seseorang yang menarik paksa tubuhnya, hingga Ghina pun dengan terpaksa harus bangun dari duduknya.
Tanpa basa basi, orang langsung saja mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras di wajah cantik Ghina hingga membuat pipi Ghina yang putih dan juga mulus itu menjadi merah.
Set
Plaakkkk
"Bagus kamu ya, dasar wanita murahan. Setelah dulu kamu hamil tanpa suami, dan kabur ke luar negeri. Sekarang, apalagi yang kamu lakukan di sini, hah? Apa, jangan jangan hamil lagi ya? Iya? Dengan pria hidung belang mana lagi kamu melakukan perbuatan menjijikan itu, hah? Dasar anak tidak tahu diri dan tidak tahu di untung. Bisa nya cuma bikin malu keluarga," cecar orang yang baru saja menampar wajah Ghina.
Seseorang yang ternyata seorang wanita paruh baya yang sama sekali tidak Ghina kenali. Belum selesai rasa keterkejutan nya akan hal itu, Gia kembali di kejutkan dengan ucapan dari ibu itu.
Dimana, Ghina sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh wanita baya yang saat ini sedang memarahinya.
"Maaf, tapi anda siapa?" tanya Ghina setelah berhasil mengendalikan diri dari keterkejutan nya, sambil memegangi pipinya yang terasa begitu panas karena tamparan yang di layangkan oleh wanita baya itu.
"Heh, Ghiya tidak usah belaga sok tidak kenal ya. Aku ini Ibu mu, Ibu yang sudah membesarkan kamu dengan susah payah. Berbulan bulan aku mencari kamu yang kabur dari rumah, sekarang setelah aku menemukanmu. Kamu mau pura pura tidak mengenalku, begitu?" bentak wanita baya itu lagi yang semakin membuat Ghina kebingungan.
"Maksud Ibu apa? Saya, benar benar tidak mengenal Ibu, kenapa Ibu tiba tiba datang lalu menampar saya?" tanya Ghina lagi, tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh itu. Karena ini pertama kalinya Ghina bertemu dengan wanita baya itu.
"Ya Tuhan laga mu. Belagu sekali, dasar anak tidak tahu diri dan tidak tahu di untung, anak kurang aj__,"
Wanita yang hampir saja melayangkan kembali tamparan di wajah Ghina terpaksa menghentikan ucapannya saat merasakan ada seseorang yang mencengkram kuat pergelangan tangan nya.
Wanita baya itu segera menoleh ke arah orang yang menghentikannya, yang ingin kembali menampar Ghina. Wanita baya itu tersentak kaget saat melihat seorang pria sedang menatap tajam ke arahnya.
"Hey, anda siapa, Tuan? Kenapa anda menghentikan saya? Tolong, jangan ikut campur, ini urusan keluarga kami," tanya wanita baya itu menatap penuh tanya pada Erwin.
"Aku suaminya, dan kamu. Siapa kamu? Berani beraninya kamu menyentuh istriku?" jawab Erwin dengan nada yang cukup tegas, karena pria itu begitu menahan diri dari emosinya karena melihat langsung wanita baya itu menampar wajah istrinya.
"Suaminya? Heh Tuan, sebelum anda menjadi suaminya. Anak tidak tahu diri ini adalah anak yang sudah susah payah aku besarkan dan sekarang, seenaknya saja dia bilang dia tidak mengenalku. Dasar anak pungut tidak tahu diuntung," jawab wanita baya itu penuh dengan emosi yang meledak ledak, menatap penuh dengan amarah pada Ghina.
Mendengar ucapan dari wanita baya itu sontak membuat Erwin menoleh ke arah istrinya yang tampak masih kebingungan. Erwin tidak tahu jika istrinya memiliki orang tua lain selain kedua orangtuanya yang sudah meninggal dunia.
"Sayang, apa kamu mengenalnya? Apa benar, jika dia adalah orang tuamu juga?" tanya Erwin pada istrinya.
"Tidak Mas. Aku berani bersumpah kalau ini pertama kalinya aku bertemu dengan Ibu ini. Aku, benar benar tidak mengenalnya." jawab Ghina jujur.
Mendengar jawaban dari Ghina, tentu saja membuat wanita baya itu tidak terima dan kembali tersulut emosi.
Wanita itu kembali menoleh ke arah Ghina yang masih tampak kebingungan. Dia tidak menyangka jika anak angkatnya akan menolak mengakui dirinya sebagai orang tua.
"Heh, jangan bohong kamu ya. Jangan mentang mentang kamu sudah menikah dengan pria kaya maka kamu tidak mau mengakui ku sebagai Ibumu. Ingat Ghiya, kalau bukan karena aku dan suamiku kamu sudah mati di jalanan," lanjut wanita baya itu.
"Ghiya? Siapa Ghiya?" tanya Erwin dan juga Ghina secara bersamaan saat mendengar wanita baya itu menyebut nama 'Ghiya' lagi.
"Oh Tuhan, hebat sekali kamu ya? Kamu bahkan melupakan namamu sendiri. Tentu saja itu kamu, memang nya siapa lagi?" jawab wanita baya itu membuat Erwin dan juga Ghina saling melirik dan saling menatap satu sama lain.
Merasa jika wanita baya itu salah paham, Erwin pun akhirnya memutuskan untuk melepaskan cengkraman tangan nya di tangan wanita baya itu.
"Maaf Nyonya, tapi sepertinya anda salah mengenali orang. Istri saya namanya Ghina, bukan Ghiya. Jadi, anda sudah salah orang," ucap Erwin yang berjalan ke arah istrinya lalu merengkuh bahu sang istri untuk membawanya pergi dari sana.
"Salah mengenali orang bagaimana? Jelas jelas saya yakin kalau dia ini adalah anak angkat saya yang Ghiya yang menghilang hampir satu tahun yang lalu," lanjut wanita baya itu lagi.
"Tapi maaf Nyonya, saya benar benar tidak mengenal anda dan nama saya juga bukan Ghiya, tapi Ghina," jawab Ghina yang akhirnya merasa kesal karena wanita baya itu terus saja menganggapnya sebagai anak angkatnya yang bernama Ghiya.
"Tidak mungkin, kalau kamu bukan Ghiya. Lalu, kenapa wajahmu mirip sekali dengan nya?"
Deg
Seketika, Erwin langsung menoleh pada wanita baya itu saat mendengar jika wajah Ghina mirip anak angkat dari ibu itu yang bernama Ghiya. Bagaikan dejavu, Erwin kembali di ingatkan pada kejadian di mana awal awal dirinya mengenal Ghina. Dimana dirinya yang juga salah paham dan salah mengenali orang.
Saat itu juga, Erwin langsung teringat pada Miya. Wanita yang memang memiliki kemiripan dengan istrinya. Bahkan, jika saja wanita itu melepas make up tebalnya. Maka sudah di pastikan jika Erwin akan menganggap Miya adalah istrinya, Ghina.
5 like buatmu kak. semangat
Saran sedikit parents ghiya/ghina siapa mereka di jelasin lbh mwantap lagi..
Terus & tetap berkarya thor..