Linda menjalin hubungan dengan tiga orang pria sekaligus. Hingga ia tidak mengetahui bayi yang ada dalam kandungannya. Siapakah pria yang akan dipilih Linda untuk bertanggung jawab atas kehamilannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erdin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkesan
Linda terlihat begitu terkesan dengan semua yang dilakukan oleh Farhan. Dia melihat bagaimana Farhan begitu berani dalam menghadapi para preman yang menyerangnya. Tidak ayal, Linda begitu terkesan dengan semua pertolongan yang sudah diberikan oleh Farhan. Pertolongan yang begitu sempurna dirasakan oleh Linda.
Hari ini Linda berniat membeli peralatan kost miliknya yang sudah habis. Mungkin Linda akan datang ke sebuah supermarket tempat dimana Linda akan mendapatkan semua peralatan yang dibutuhkan oleh Linda saat ini.
Tidak harus menaiki kendaraan apapun, Linda pergi ke supermarket dengan berjalan kaki. Hanya dalam hitungan menit, Linda sudah sampai di depan supermarket. Linda terlihat begitu tidak sabar untuk segera belanja peralatan kost yang sudah tidak ada di dalam kontrakan. Salah satunya tentu peralatan mandi yang sudah habis. Itu yang coba dilakukan oleh Linda.
Baru masuk ke dalam supermarket, Linda sudah dikejutkan dengan keberadaan dari Egi. Dengan seorang temannya, Egi terlihat sedang memilih beberapa minyak wangi. Linda melihat Egi, tetapi dia malu untuk bertegur sapa dengan Egi. Khawatir Egi tidak akan merespon baik dirinya.
Entah kebetulan, tetapi takdir mempertemukan Linda dengan Egi. Secara tidak sengaja, keduanya berpapasan di tempat di mana Linda biasa membeli sabun mandi. Linda terlihat canggung saat Egi menegur dirinya. Apalagi Egi terlihat begitu tampan dengan pakaian kerjanya.
"Kamu belanja di sini juga?" tanya Egi dengan raut wajah gembira.
"Iya. Kamu sendiri juga suka belanja di sini?" tanya balik Linda.
"Seperti yang kamu tahu. Aku suka belanja di sini," ucap Egi dengan penuh kebahagiaan.
Egi segera memperkenalkan Linda pada teman kerjanya yang bernama Oscar. Seorang pria yang terlihat begitu gagah dengan badan yang tegap. Egi pun mengatakan jika Oscar adalah sosok pria yang sedikit melankolis, sekalipun dia adalah sosok yang suka pergi olahraga seperti seorang binaragawan.
Kesempatan emas bagi Egi, dia berusaha menarik perhatian dari Linda. Sudah pasti kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Sehingga Egi harus bisa memaksimalkan apa yang sudah Tuhan atur untuk dirinya dan Linda.
Tiba di meja kasir, Egi pun berinisiatif membayar semua barang belanja dari Linda. Dia mengatakan jika dirinya memiliki uang lebih, sehingga berniat membayar belanja dari Linda tersebut.
Linda merasa tidak enak hati dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Egi. Dia sempat menolak apa yang coba diberikan oleh Egi. Tetapi sekali lagi, Egi melakukan semuanya dengan dasar uang lebih yang ada di kantongnya. Sehingga Linda tidak harus menolak apa yang sudah Egi berikan.
"Aku tidak enak," ucap Linda dengan wajah bersalah.
"Tidak apa Lin. Ada uang lebih, makanya aku berniat mentraktir kamu hari ini. Jangan khawatir," ucap Egi dengan santai.
Egi segera membayar semua belanjaan yang Linda beli. Tidak ada masalah bagi Egi kehilangan uang cukup banyak di hari ini. Terpenting misinya dalam mendekati Linda, akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan olehnya. Ini akan menjadi perjalanan waktu yang cukup mengesankan bagi Egi. Tidak heran Egi merasa begitu bahagia bisa membayar semua belanjaan dari Linda.
Tidak hanya membayar semua belanjaan dari Linda. Egi juga mengajak Linda untuk makan di salah satu restoran yang tidak jauh dari supermarket tersebut. Hal yang membuat Linda semakin tidak enak hati dengan kebaikan yang diberikan oleh Egi.
"Kali ini, aku mau kita bayar setengah-setengah. Jadi kamu bayar setengah, aku bayar setengah. Bagaimana?" usul Linda.
Egi tertawa, kemudian dia memegang kedua pundak Linda. Seraya berkata, "Uang kamu, di tabung saja. Jadi biar aku yang bayar makan kita nanti."
Merasa ada kesempatan, Oscar pun berharap mendapatkan traktiran dari Egi. Sehingga momen itu segera di manfaatkan oleh Oscar sebaik mungkin.
"Berarti, aku juga dapat traktiran dong. Masa Linda saja yang di traktir," ucap Oscar melirik ke Arab Egi.
Egi yang tidak bersedia untuk memberikan traktiran pada Oscar. Segera mengangkat alisnya sedikit lebih tinggi. Kemudian kedua matanya di buka lebih lebar lagi. Hal yang mengisyaratkan akan dirinya yang enggan memberikan traktiran pada Oscar.
"Iya Gi, gw bayar sendiri. Tidak di bayarin sama loe," ucap Oscar.
Seketika senyuman langsung terlukis di wajah Egi. Dia terlihat begitu gembira dengan apa yang disampaikan oleh Oscar. Hal yang tentunya berkesan untuk bisa di rasakan oleh Egi.
Mereka bertiga segera pergi ke restoran. Di mana Egi seakan tidak mau berjauhan dengan Linda. Oscar pun serasa menjadi nyamuk dengan keberadaan dari Linda. Di mana dirinya sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk berbincang. Egi hanya fokus pada Linda semata. Padahal sebelum ada Linda, Egi dan Oscar sedang membicarakan proyek dari perusahaan tempat mereka bekerja.
Setibanya di restoran, Egi tetap memperlakukan Linda bak seperti seorang ratu. Itu yang semakin membuat Oscar sedikit kesal. Di mana keberadaan dari dirinya semakin tidak terlihat saat ini juga. Oscar serasa semakin seperti nyamuk untuk saat ini.
Seorang pelayan mengantar ketiga menuju meja makan. Di mana Oscar terlihat begitu menyukai sosok pelayan perempuan yang mengantarkan mereka ke meja makan. Pelayan itu terlihat begitu cantik dengan senyuman indahnya. Oscar pun semakin terkesan dengan apa yang diberikan oleh pelayan tersebut. Hal yang membuat Oscar begitu berharap mendapatkan perhatian dari pelayan perempuan tersebut.
"Kalau Kakaknya mau pesan, nanti tinggal panggil saya atau teman saya. Buku menunya ada di atas meja," ucap pelayan.
"Kalau mau minta nomor kamu bagaimana?" tanya Oscar dengan wajah mesum.
Pelayan itu tersenyum. Sedikit risih dengan Oscar yang sedikit frontal.
Untung Egi segera mencairkan suasana. Sehingga tidak ada lagi kecanggungan yang di rasakan.
"Minta nomor Mbak, biar nanti kalau mau pesan makanan di sini. Jadi lebih gampang lagi," ucap Egi dengan tegas.
"Mungkin nanti saya kasih nomor restoran saja. Supaya mempermudah jika ingin memesannya. Nanti saya tuliskan nomornya," terang si pelayan.
Gagal usaha dari Oscar mendapatkan nomor perempuan cantik tersebut. Padahal Oscar begitu yakin bisa mendapatkan nomor telepon pelayan tersebut. Dengan modal gombalan mautnya. Tentu saja Oscar bisa meluluhkan perempuan manapun. Sehingga itu menjadi alasan paling logis di lakukan oleh Oscar.
"Ingat, bentar lagi loe nikah. Masih aja ganjen sama cewek. Kalau seandainya calon istri loe tahu. Bisa-bisa pernikahan loe batal hari ini juga. Jangan macam-macam. Udah berapa banyak biaya yang loe keluarkan untuk acara loe. Masa loe mau lakuin hal bodoh. Jangan seperti itu Oscar. Loe harus sayang pada segala yang sudah loe keluarkan," ucap Egi dengan lantangnya.
Oscar pun hanya terdiam mendengar semua nasehat yang di berikan oleh Egi. Tidak salah, apa yang sudah Egi sampaikan adalah hal yang paling logis. Tidak heran, Oscar merasa malu dengan dirinya yang masih ganjen pada perempuan.
Di sisi lain, Linda semakin melihat sisi dewasa dari Egi. Sepertinya Egi adalah sosok pria yang dewasa. Dia begitu memperdulikan temannya. Hal yang membuat Linda semakin terkesan akan Egi.