Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Adinata dan teman-temannya
Fregy memencet secara acak tombol di remote televisi yang sedang ia pegang, sedangkan tangan lainnya melemparkan popcorn ke dalam mulutnya dengan mudah.
“Sebenarnya yang mau lo tonton itu apa, Freg?” Xavier mengangkat salah satu kakinya ke atas sofa dengan santai.
Suyuy—nama panggilan dari Wi Seo-yeol, merebahkan dirinya di sofa panjang. Ia berbagi tempat dengan Xavier, walaupun tempat yang ia tiduri ruangannya lebih baiknya dibandingkan dengan tempat yang Xavier duduki.
“Kaki lo gerak terus, Yuy. Diam sebentar bisa gak? Kalau gak bisa, pindah di bawah aja. Lebih lebar. Lo bebas mau gerak ke sana-sini,” omel Xavier.
“Ribet banget masalah tempat tidur saja.” Suyuy membalas omelan Xavier dengan nada santai.
Suyuy berdarah campuran, Indonesia dan Korea Selatan, tepatnya Yongsan, Seoul. Ia hanya menumpang lahir di sana, setelah ia lahir orang tuanya berpindah ke Indonesia. Ia bekerja sebagai Atase Perdagangan Indonesia dan Korea Selatan, dari pertemanan ini dia disebut sebagai ‘Si Bungsu’ karena dia paling muda setelah Adinata.
Xavier Borero juga memiliki darah campuran dari orang tuanya, Indonesia dan Belanda. Indonesia bagian timur karena namanya berasal dari lagu daerah Maluku Utara. Ia mendapat panggilan sebagai ‘Si Dokter’ di pertemanan ini.
Tidak lupa dengan Fregy Hasibuan. ‘Si Pengacara’ pertemanan ini juga memiliki darah campuran dari orang tuanya, Indonesia dan Inggris, Cambridge.
Dan terakhir, ‘Si calon CEO’ Adinata Hardiyanto memiliki darah campuran, Indonesia dan Jerman. Sayangnya, ia menjadi satu-satunya anak laki-laki berketurunan Jerman di keluarganya, sedangkan 2 adiknya adalah perempuan.
“Pesan makan, Yuy.”
“Sudah. Gue pesankan banyak makanan untuk kita,” ucap Suyuy dengan ceria.
“Bayar sekalian, ya, Yuy.” Fregy menimpali ucapan Suyuy.
“Adinata yang bayar.” Suyuy menunjuk wajah Adinata dengan jari telunjuknya.
Xavier tertawa. “Bangkrut lo sekarang?”
“Amit-amit.” Suyuy mengelus dadanya dengan terus mengucap kata ‘amit-amit.’
“Xavier yang bayar. Kan dia yang akan menikah sebentar lagi.” Giliran Fregy menunjuk wajah Xavier dengan jari telunjuknya.
“Lo yang duluan. Gue ‘kan setelah lo, Freg.” Xavier berdecak. “Jadi lo yang bayar.”
“Enak aja. Kalau gitu buat Adinata aja yang bayar.” Fregy tidak terima. “Duit dia lebih banyak daripada duit gue.”
“Lo ‘kan sudah mendapat gaji juga dari Adinata, Freg,” ucap Suyuy. Suyuy mengubah posisinya menjadi duduk. “Kasus apa yang lo tangani, Freg?”
Xavier menahan senyum tipisnya. “Lo penasaran atau penasaran banget, Yuy?”
“Kalau tentang Adinata, gue selalu penasaran banget.” Suyuy menatap Xavier dengan senyuman tengil di bibirnya. “Omong-omong, Nadine apa kabar, Ad?”
Xavier dan Fregy memberi tatapan sinis ke Suyuy.
“Kenapa? Santai aja, gue cuma tanya. Gak akan bisa gue merebut Nadine dari Adinata. Walau gue pengen.” Suyuy mengangkat bahunya.
“Baik,” balas Adinata dengan singkat.
“Lo beneran tahu, Ad?” tanya Xavier.
Fregy melempar bantal sofa tepat ke wajah Xavier. “Gak usah dengarkan ucapan Xavier.”
“Dengar dari siapa, Xav?” tanya Adinata. Suaranya terdengar santai, tapi menurut para sahabatnya itu jenis ‘santai’ yang tidak benar-benar.
“Dia baca dokumen yang ada di mobil gue. Gue lupa kalau dokumen itu masih ada di dalam mobil.” Fregy menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Simpan yang benar, Freg. Jangan ceroboh.” Adinata mengingatkan. Ia menghela napas lalu mengalihkan pandangannya menatap televisi yang menyala.
Sedangkan ketiga sahabatnya serempak menatap dirinya.
“Ini ada apa? Gue saja yang gak mengerti?” Suyuy menolehkan kepalanya menatap Xavier dan Fregy bergantian.
“Kenapa pilih ceria, Ad?” tanya Xavier.
Suyuy terkejut mendengar pertanyaan Xavier. Ia berganti menatap Adinata dengan wajah tidak menyangka karena sahabatnya tahu perjalanan Adinata untuk menikah dengan Nadine.
“Nadine yang minta.”
“Dan lo mengiyakan.” Xavier tertawa.
“Gue ada di posisi yang gak baik kalau tetap mempertahankan Nadine,” ucap Adinata. Ia menatap Xavier dengan sekilas, setelahnya ia menatap Fregy. Tatapannya tidak bergairah.
“Ya udah,” ucap Xavier dengan santai.
“Apa?” balas Fregy dengan suara sinis. “Kalau bicara, jangan setengah-setengah, Dok.”
Xavier menatap Fregy dengan tatapan datar. “Ya udah, biarin aja. Itu yang Adinata pilih, bukan gue yang pilih. Dia juga yang nikmati perasaannya.”
“Sebentar.” Suyuy menyela. “Adinata cerai dari Nadine? Terus sekarang Nadine dimana? Dia sama siapa?”
Adinata berdecak. “Ada, dia tinggal dengan om dan tantenya.”
“Alamatnya?”
Fregy melempar bantal dari balik punggung Xavier ke wajah Suyuy. “Gak usah dekati Nadine.”
“Kan sudah bercerai. Dia jadi single ‘kan?”
“Masih istri gue,” balas Adinata dengan nada sinis.
Xavier dan Suyuy menolehkan kepalanya dengan tatapan penasaran ke arah Adinata, sedangkan Fregy menghembuskan napasnya dengan kasar.
“Surat perceraian yang gue kasih ke Nadine bukan surat asli.” Adinata menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan menatap wajah para sahabatnya.
“Lo palsukan, Ad?”
“Iya dan surat aslinya adalah surat yang lo baca di mobil gue tadi,” balas Fregy.
“Jadi ini kasus Adinata yang sedang lo tangani?” Suyuy menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak menyangka. “Lo gak takut kalau surat palsu itu menjadi hal yang lebih membuat hubungan kalian renggang, Ad?”
“Setidaknya untuk sekarang gue masih bisa berkata ‘tidak’ untuk pertanyaan lo.”
Xavier memberi tawa. Tawa yang menurutnya tawa sinis, tapi bagi sahabatnya itu adalah tawa biasa yang sering ia tunjukkan. “Jangan pura-pura bego, Yuy. Kepalsuan ‘kan udah jadi makanan kita.”