Dapat pacar satu negara ❌️
Dapat pacar beda dimensi ✅️
Alexa Olivia Jonshon,gadis cantik yang harus rela terjebak di dimensi berbeda hingga menjadi buruan orang tak di kenal.
Hal itu terjadi di saat dia di beri gelang oleh seorang nenek nenek yang pernah dia tolong karena di ganggu para preman.
Dan sebagai ucapan terima kasih,nenek tersebut memberikan sebuah gelang batu giok berwarna hijau pada Alexa.
Dan dari sinilah awal petualangan Alexa di mulai.
Mampukah dia mengatasi rintangan yang datang di hidupnya ?
Atau apakah dia memilih berhenti dan kembali ke tempat semula ?
Lalu siapa nenek yang memberikan Alexa gelang itu ?
Ada banyak kejutan yang ada di cerita ini.
Jadi silakan mampir dan jangan lupa tinggal kan jejaknya ya...😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Adiramanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PBD ( 35 )
🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷
Marlo terlihat masih menahan sakit akibat tangannya yang terputus oleh senjata Alexa yang entah dia dapatkan dari mana.
Cairan merah pekat itu terlihat masih menetes dari bekas luka yang diakibatkan oleh senjata milik Alexa.
"Masih tidak ingin menyerah?"ucap Alexa yang sekarang terlihat berdiri di samping Aine.
Marlo masih diam , dia tidak pernah mengira jika seorang gadis kecil di hadapannya bisa melakukan hal yang paling berbahaya bagi gadis kecil seusianya.
Tanpa tahu jika itu adalah Alexa yang sedang bertubuh mini.
"Kau akan menerima akibatnya karena telah melukaiku"ancam Marlo yang terlihat sudah mulai lemas akibat terlalu banyak mengeluarkan cairan merah itu.
"Menyerahlah Marlo , lukamu harus secepatnya di obati"sahut Diego yang merasa kasihan pada Marlo.
"Tidak akan pernah , sebelum kau memberikan apa yang ku inginkan"
"Kau tidak akan mendapatkan apapun"ucap Alexa yang tiba tiba muncul di hadapan Marlo hingga membuat Marlo mundur dan hilang keseimbangan lalu kemudian terjatuh tepat di hadapan Alexa.
"Bereskan"ucap Alexa lagi menoleh kearah Diego , yang kemudian dengan cepat Diego mengamankan Marlo.
Sedangkan Alexa terlihat berjalan kearah naga yang sudah terlihat tak berdaya di hadapannya.
"Jangan mendekati nya"ucap Axelle yang sudah ada di belakang Alexa.
Alexa hanya menoleh sekilas lalu kemudian melanjutkan hal yang membuat dia sangat penasaran dengan sosok naga di hadapannya itu.
Alexa berdiri tak jauh dari naga yang tergeletak di tanah itu , melihat ketidak berdayaan naga itu membuat Alexa penasaran ingin menyentuhnya.
"Kau menderita?"ucap Alexa tepat berdiri di depan mata naga tersebut.
"Jika aku membantu mu apa kau akan bersikap baik dengan menjaga kota ini?"ucap Alexa lagi yang meski tidak ada jawaban namun dari sorot matanya Alexa bisa tahu jika dia hanya di manfaatkan oleh Marlo.
Alexa mencoba memegang kepala naga tersebut , dan sekilas dia bisa melihat kilasan ingatan dari si naga yang ada di hadapannya ini.
"Jadi kau juga memiliki keluarga"gumam Alexa yang melihat mata emas naga itu yang terlihat sama dengan manik mata milik Axelle.
Alexa mundur , lalu dia berjalan ke sisi dimana panah cahaya itu menancap di dada naga tersebut.
Hanya dengan memegang nya , panah itu langsung hilang di sertai cahaya yang menyelimuti tubuh si naga hingga membuat luka yang ada di tubuh si naga sembuh seketika.
Alexa berjalan mundur saat melihat naga itu yang akan mulai berdiri , sedang Axelle terlihat berjaga di samping Alexa , takut jika naga itu akan menyerang Alexa tiba tiba.
Namun yang terjadi adalah , naga itu terlihat pergi dari sana setelah dia memberi hormat pada Alexa dan kemudian mengepakkan sayapnya pergi meninggalkan kota itu.
"Dia pergi begitu saja?"ucap Gilang yang juga menyaksikan Alexa yang mendekati naga tadi.
"Memangnya kau mau dia menyerang kita lagi?"sahut Azka.
"Tentu tidak tuan Azka , aku hanya penasaran apa yang di lakukan Alexa hingga membuat naga itu pergi tanpa menyerang kita lagi"ucap penasaran Gilang.
"Entahlah , yang jelas sepertinya Alexa dapat memahami perasaan naga tersebut"
"Kau benar tuan Azka"ucap Gilang penuh sesal saat dia ingat mengenai apa yang pernah dia lakukan pada Alexa .
"Menyesal eoh..."cibir Azka yang kemudian berlalu dari sana , diikuti Gilang yang selalu mengekorinya.
"Menjauhlah dariku Gilang!!"kesal Azka karena sejak tadi diikuti oleh Gilang.
"Aku akan menjadi pelayan setiamu tuan Azka"sambil mengejar Azka yang terlihat berlari menjauhinya.
"Aku tidak butuh"
"Tapi aku tidak akan pergi meninggalkan mu tuan Azka"
"Sialan...itu benar benar menjijikan"ucap Azka bergidik ngeri dengan perkataan Gilang barusan , hingga mengundang tawa Raymond dan Savian yang melihat nya.
Sedangkan nenek Hoshi , sudah sejak tadi pergi dari situ mengikuti Diego yang membawa Marlo yang terluka.
Lalu Alexa terlihat mengambil sesuatu yang jatuh tak jauh dari tempatnya berdiri , sebuah batu hitam yang tahu apa itu.

"Itu batu berlian hitam"ucap Axelle melihat raut wajah penasaran Alexa.
"Wah...jika di jual pasti harganya sangat mahal"kagum Alexa dengan batu yang ada di gengaman tangannya.
"Beriakan padaku , kau tidak boleh memegang nya"sambil mengadahkan tangannya meminta batu yang sekarang di sembunyikan Alexa di belakang tubuhnya.
"Mau apa? pasti mau menjualnya untuk diri sendiri kan"ucap Alexa sambil menyembunyikan batu berlian hitam itu di belakang tubuhnya.
"Tidak sayang , hanya saja batu itu penuh aura hitam , dan sepertinya batu itu dibawa dari pulau buangan , jadi bisa berikan padaku"
"Sayang..sayang..tetapi hampir tidur dengan cewek lain"sungut Alexa yang kemudian melemparkan batu itu begitu saja dan setelahnya dia pergi meninggalkan Axelle yang sepertinya tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi.
"Lexa tetapi semua itu belum terjadi , jadi..."
"Diam , aku sedang tidak ingin berdebat denganmu"bentak Alexa hingga membuat Axelle memilih untuk diam dan hanya mengikuti Alexa dari belakang.
"Masalah baru"ucap Savian yang memungut batu berlian hitam yang di lemparkan Alexa tadi.
"Sepertinya begitu"sahut Raymond yang juga ada di sana.
"Lebih baik kita urus warga yang terluka"ucap Savian setelahnya.
"Yah...itu lebih baik daripada mengurusi percintaan mereka"
Yang setelahnya mereka berdua pergi ketempat dimana warga kota yang mereka ungsikan untuk sementara.