Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.
Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.
Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghalalkannya
“Mau bertemu Irma, Pa.” Jawab Yordan dengan senyum hambar.
Dia menatap Amara dan Marthen dengan bingung. Dia masih tidak mengerti, mengapa Marthen tiba-tiba tiba melarang dirinya menemui wanita yang dicintainya.
“Kalau boleh,” kata Yordan kemudian.
Ia menjadi gentar saat Marthen tak juga memberikan sinyal persetujuan. Bahkan kini pandangan Marthen makin dalam dan menusuk. Keberaniannya menjadi runtuh. Jangankan untuk memeluk Amara, mendekatinya saja dia tak punya keberanian.
“Kalau aku tidak boleh, bagaimana?” jawab Marthen.
Seketika meruntuhkan harapannya yang coba ia bangun. Tapi rasa yang telah terpatri indah dalam hatinya menolak untuk menyerah.
“Papa, kapan aku bisa menemui Irma kapan pun dan dimana pun aku bisa?”
Ada getaran halus dalam lirih kata-katanya yang menyiratkan sebesar apa beban kerinduan yang dia rasakan selama ini.
“Setelah di KUA, siap?” jawab Marthen tegas.
Hati siapa yang tak membuncah, ketika sinyal persetujuan terpampang jelas di hadapannya. Dengan segenap hatinya, Yordan pun menjawab, “Siap, Pa.”
Hati Amara juga membuncah. Senyumnya mengembang seketika. Ada hembusan rasa bahagia yang tiba-tiba menyapa relung hatinya dalam damai.
Bolehkah dirinya menghapus rasa khawatir. Yang beberapa waktu lalu sempat membuat dirinya pesimis atas ketulusan cinta dari seorang lelaki.
Sekarang hatinya telah memilih untuk menerima rasa yang mulai bersemi dalam hubungan yang lebih baik. Dia tak menapik kalau rasa ini telah membangkitkan kenangan pada saat dia pertama kali bertemu dengan Yordan.
Dia memang terpesona, namun saat itu dia berusaha untuk menepisnya. Namun ketegasannya saat ini memberikan keyakinan pada dirinya menerimanya pesona Yordan kembali.
Apakah itu wajar jika rasa itu kini datang kembali? Bagai semilir angin di musim semi yang selalu meninggalkan kerinduan. Terasa di jiwa tapi tak berbentuk nyata. Hembusan yang sejuk dan menenangkan.
Amara tak dapat memungkirinya kalau dirinya juga rindu, namun keadaannya saat ini memaksanya untuk bersikap sewajarnya mungkin. Kita belum halal di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Papa, apakah aku tidak kamu tanya?” kata Amara dengan getar detak jantungnya tak mungkin dia sembunyikan lagi.
“Nggak. Papa sudah bisa membaca jawabanmu. Atau kamu mau beralasan lagi?”
“Ah, Papa. Bukankah aku yang menjalankan. Mengapa aku tak diberi hak untuk bicara.”
Marthen bergumam dalam hati dengan sikap Amara yang sering memprovokasi tapi tak bisa menyelesaikannya sendiri.
Kadang antara guyonan dan kesungguhan hampir sama. Kalau bukan karena dia papanya, mungkin akan sulit mengetahuinya.
“Bagianmu nanti kalau sudah di Indonesia.”
“Ooooo...” Bentuk bulat sempurna namun tak bermakna apapun. Dan Amara mengernyitkan dahi dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia menjadi bingung sendiri dengan apa yang Marthen rencanakan.
Memandang Yordan hanya membuat Amara makin tertekan dengan kerinduan, lebih baik saat ini dia menjauhinya saja.
“Mama, Aku ingin bermain dengan ombak di sana!” ajak Amara.
Mama Ayu yang merasakan bagaimana gundah gulana nya hati Amara, segera memahami maksud putrinya. Dia hanya bisa bergumam dalam hati kecilnya, “Belum saatnya rindu itu kamu ungkapkan, wahai putriku yang cantik.”
Dan mama Ayu pun menjawab, “ Ayo.”
“Aku ikut dong,” kata Yordan.
“Urusanmu dengan papa belum selesai,” cegah Marthen.
“Papa, Aku hanya ingin menemani Irma bermain air doang,” kata Yordan.
“Akal-akalanmu saja,” jawab Marthen.
”Nggak nggak kalau aku mengganggunya. Lagian di sini ada Mama Ayu dan Papa. Mana aku berani.” rengeknya.
Akhirnya Marthen pun mengijinkannya, dengan syarat kalau mereka tidak akan pergi berduaan alias pacaran nggak jelas.
Syarat yang aneh, tapi demi mengambil simpati hati calon mertua, Yordan pun mengiyakan. Dia pun menyusul Amara dan mama Ayu bermain ombak di pinggir pantai. Dan sesekali mengejar ombak hingga ke tengah. Meski was was, tapi menyenangkan.
Waktu telah beranjak siang. Sinar matahari mulai memancar terang. Udara semakin terasa panas. Amara telah lelah. Demikian pula dengan Yordan. Mereka pun memutuskan untuk menyudahi permainan. Menyusul Marthen dan Ayu yang terlebih dulu tumbang.
“Hai sini.” Ayu melambaikan tangan, memanggil mereka.
Mereka pun mendekat. Kelapa muda sudah menanti mereka. Mereka pun menikmati segarnya air kelapa sambil memandang gelombang air laut yang mulai pasang.
“Gimana Amara, kita balik sekarang?” tanya Marthen.
“Ya, Pa. Amara juga mau Menyelesaikan tulisan. Amara mau kirim.”
“Aku boleh ikut?” tanya Yordan.
“Nggak boleh,” jawab Amara dengan tegas.
“Kakak apa nggak kerja. Ngikutin aku terus.”
“Bisa kerja dari sini,” jawab Yordan dengan tenang.
Amara pun menyerah.
“Terserahlah,” ucapnya kemudian.
Setelah menikmati segarnya air kelapa muda dan menghabiskan sarapan yang dibuat oleh Ayu dan Amara, Marthen pun mengajak mereka untuk kembali ke kota St. Petersburg.
Yordan tak mau lagi kehilangan jejak Amara. Ia pun segera cek out dari hotel, tempatnya menginap semalam. Dia berpindah ke hotel yang dekat dengan apartemen kepunyaan Marthen.
Marthen geleng-geleng kepala dengan sikap Yordan. Waktu dia muda dulu tak segitunya juga. Dengan terpaksa malam ini dia harus tinggal di rumah. Dari pada jalan-jalan, yang ada nanti dikutit terus oleh Yordan. Membuat kepalanya semakin pusing dan pr-nya tambah panjang. Jangan sampai anak gadisnya kabur dicuri orang.
Marthen menyerah dan merestui keinginan Yordan untuk mempersunting putrinya dengan segera.
“Baiklah Yordan. Aku tunggu kamu di Indonesia.” kata Marthen ketika puas berbincang-bincang hingga larut malam. mempermainkan waktu apel Yordan.
“Terima kasih, Pa.”
Tidak sia-sia, dirinya bertandang dan menemani berbincang-bincang dengan Papa Marthen sepanjang malam ini.
Meski tak bisa berbincang-bincang dengan Amara,tapi restu dari Marthen yang dia raih merupakan upah yang paling berharga yang ia dapatkan.
Bagaimana Yordan akan berbincang-bincang dengan Amara. Kalau sejak datang, Marthen sudah pasang badan sebagai tembok pembatas antara dirinya dan Amara. Tak sekalipun Amara diijinkan keluar menemuinya, menengok saja dilarang, apalagi berbincang-bincang.
Dia hanya bisa melihat bayangan Amara atau mendengar suaranya yang sedang berbincang hangat dengan Mama Ayu di dalam ruang keluarga, tanpa bisa nimbrung merasakan kehangatan bersama mereka.
Tapi tak apalah, jika restu Marthen bisa didapatkannya, dia terpuaskan. Dia meninggalkan apartemen Marthen dengan hati berbunga-bunga.
Tak ingin buang-buang waktu, ia segera memberitahukan kabar gembira ini pada Yohana, Gabriel dan Gelcira. Sekaligus meminta pada mereka agar segera menyusul dirinya ke Indonesia untuk melamar Amara sekaligus menghalalkan juga.
Meski selalu dihalang-halangi oleh Marthen, tapi Yordan selalu mempunyai cara agar dapat menculik Amara. Siapa lagi yang bisa dimintai bantuan kalau bukan Yohana.
Dengan Yohana, Marthen pasti luluh dan mengijinkan Amara keluar rumah. Bukan untuk pacaran, tapi hanya sekedar untuk fittjng baju pengantin dan juga membeli cincin pernikahan untuk Amara.
*
“Saya terima nikah dan kawinnya Amara khairul ummah binti Marthen van Houven dengan mas kawin satu set perhiasan berlian, satu unit rumah beserta isinya dan satu buah mobil dibayar tunai.”
“Bagaimana saksi?’
“Sah.” Jawab mereka serempak.
aku dah sabar menunggumu ❤️
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️