NovelToon NovelToon
Sosok Pembawa Kepala

Sosok Pembawa Kepala

Status: tamat
Genre:Matabatin / Thriller / Iblis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Dendam Kesumat / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:170.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti H

Desa Karang digemparkan oleh sosok yang membawa kepala dan melemparkannya ke halaman setiap rumah korbannya. warga merasa seakan terkena teror yang sangat menakutkan, sebab tidak dapat diketahui siapa sebenarnya sosok yang sangat misterius tersebut. Sosok itu menghilang, setelah berhasil memenggal sebelas kepala warga desa yang semuanya adalah pria.

Apa yang menjadi motif dari sosok tersebut? maka ikuti kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa

Darmadi dan Andana menuruni jalanan berundak menuju lembah yang mana tempat Yogi dan juga Surya berada.

Keduanya membantu remaja itu untuk segera bangkit. "Ayo, kita tinggalkan tempat ini," titah Darmadi kepada Yogi dan Surya.

Andana terdiam. Ia merasakan hawa negatif berasal dari utara. Sepertinya ada sesuatu disana. Ia memandang arah yang menghantarkan hawa panas.

"Heei, buruan, pakai melamun segala," hardik Darmadi kepada Andana yang masih diam terpaku merasakan getaran negatif tersebut.

Gadis itu tersentak, lalu bergerak mengekori ketiga pria itu. "Sebaiknya kita shalat di mushallah, kalian berdua pulanglah, dan jangan katakan apapun dulu pada warga. Bang Darmadi ikut aku, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Andana kepada ketiganya.

Tanpa membantah, mereka bergegas menuju mushallah. "Tapi, Bu Bidan, kenapa seetannya kabur saat adzan?" ucap Yogi dengan nafasnya yang masih tersengal.

"Mereka takut dengan suara adzan, hingga membuat mereka lari ketakutan," jawab Andana.

Yogi menganggukkan kepalanya dan merasa jika itu sesuatu yang sangat menakjubkan, dimana makhluk mengerikan itu tidak dapat melawan kalimah suci yang dikumandangkan.

Keempat orang itu shalat berjamaah bersama pak Kasim yang menjadi imamnya. Tidak ada lagi jemaah lainnya, sebab warga sedang dilanda ketakutan yang sangat luar biasa, sehingga membuat mushallah sepi, sebab warga tidak lagi berani keluar malam ataupun subuh meskipun hanya sekedar shalat berjamaah.

Setelah selesai shalat, mereka kembali bertemu, lalu membahas rencana berikutnya.

"Saya ngantuklah, Bu Bidan," ucap Darmadi yang mulai menguap.

"Bentar saja," jawab Andana, lalu menyeret pria itu dengan menarik pergelangan tangannya.

Darmadi tersentak kaget saat gadis itu dengan kasar menariknya. "Yaelah, kasar amat jadi cewek," omel Darmadi kesal. Mau tidak mau ia harus mengikuti gadis itu, meskipun rasa kantuk lebih mendominasi.

Andana tak menggubris ucapan Darmadi yang terua saja mengoceh sepanjang jalan.

Mereka menyusuri jalanan sepi dan berembun. Tampak langit mulai temaram, dan sebentar lagi akan siang.

"Kita mau kemana sih, Bu? Kalau mojok jangan subuh-subuh juga, dihutan lagi," Darmadi semakin mengomel.

"Bisa diam, gak?! Berisik banget," tukas Andana kesal. Ia terus melangkah menuju ke tengah hutan, tempat hawa negatif itu berasal.

Mereka melewati semak belukar. Ada jalanan setapak menuju masuk kehutan tumbuhan perdu yang menjulang tinggi dan semak, tampak baru saja dibuat sepwrti lorong untuk masuk ke dalam hutan.

Sepertinya ada seseorang yang masuk lewat sini," Darmadi mulai berhenti mengomel, dan mengamati lorong yang terbuat dari semakkan.

"Ya, sepertinya beberapa minggu ini ada seseorang yang melintasinya," sahut Andana.

Darmadi mencebikkan bibirnya. Ia seolah menyetujui argumen yang diberikan oleh Andana.

"Melihat dari patahan rantingnya.sih, aku bilang 'Yes'" Darmadi menimpali ucapan wanita itu.

"Yes, yes, apaan? Emangnya uji bakat," Andana berbali mengomel.

Darmadi nyengir kuda, ia merasa akan sangat repot bila terus-terusan bersama gadis itu, tetapi hendak menyanggah, takut disuntik bius.

"Emang bukan uji bakat, tapi uji nyali," sahut Darmadi.

Wuuuusssshh...

"Sssssttt....," Andana menempelkan telunjuk dibibirnya, meminta pria itu diam sejenak

Udara panas menyeruak dari arah tempat mereka berjalan. "Auranya ada didepan, kita harus hati-hati," bisik Andana dengan nada yang sangat rendah.

Darmadi menutup mulutnya, dan mencoba mengikuti apa yang dikatakan gadis itu.

Saat diujung semak, Andana melihat ada sebuah gubuk kayu yang tampak saja dibuat oleh seseorang menggunankan atap ilalang.

"Ayo...," ucap Andana kepada Darmadi sembari menggerakkan tangannya untuk melambai maju.

Pemuda itu mengekorinya dari arah belang, dan terlihat ada tapak sendal seseorang yang baru saja dilewati malam tadi diatas tanah becek dan berumput.

Keduanya menghampiri gubuk tersebut. Terlihat suasana gubuk baru saja ditinggalkan oleh seseorang dan itu terlihat dari puntungan rokok yang masih baru.

"Lihatlah, anglo itu masih mengeluarkan asap dan aroma kemenyan masih menguar dari sisa pembakaran. Ada seseorang yang mengendalikan arwah Naii," ucap Andana dengan yakin.

"Apakah Ki Roso?" Darmadi mencoba menebak. Tetapi jika dilihat dari puntung rokoknya, maka Ki Roso tidak menghi-sap rokok ini,"Darmadi mencoba meneliti puntung rokok beserta merknya.

"Jangan sentuh," cegah Andana saat pria itu hendak mengambil puntung rokok yang tergeletak diatas lantai kayu.

Darmadi kembali mengurungkan niatnya untuk memegang puntung rokok teesebut.

Visual Ki Roso dulu ya reader. Untuk Naeswari , Andana dan juga Darmadi menyusul.

Keduanya mengamati kondisi gubuk. Sepertinya malam ini ia akan kembali lagi untuk melakukan ritual. Kita harus kembali lagi kemari," ucap Andana.

Sebaikanya kita pulang saja dulu, rahasiakan tempat ini, kita akan segera mengetahui siapa pelakunya," ucap Andana.

"Bagaiamana jika pelaku masih berada disekitar sini, dan kemungkinan ia akan melakukan sesuatu yang diluar rencana kita," tukas Darmadi.

Andana terdiam. Ia mencoba merenungkan ucapan Darmadi.

"Kita pulang saja dahulu, nanti malam kita akan cari tahu. Tidur dan beristirahat akan memudahkan orang untuk berfikir," saran Andana, sebab ia juga mengantuk.

"Ya sudah, ayo pulang," jawab Darmadi.

Andana menganggukkan kepalanya, lalu tanpa sepengetahuan Darmadi, ia meraih puntung rokok tersebut menggunkan jemari kakinya dan kembali menggunakan sendal.

Ditempat lain, Ki Roso merasakan jika dirinya sangat lapar. Ia berada ditengah hutan belantara, dan tidak terlihat tanda-tanda Darmadi datang menemuinya. Ia mencoba memburu hewan apa saja yang dapat dijadikannya sebagai bahan makanan.

Malam tadi ia baru saja melakukan ritual pemanggilan keris miliknya, tetapi sepertinya sang pengendali memiliki ilmu yang lebih tinggi darinya.

"Darsih, kemana dia? Mengapa ia tak menjenguk kemari?" gumam Ki Roso. Ia merasa Wanita itu tidak memperdulikannya.

Saat bersamaan, terdengar derap langkah yang sangat lamban dari arah depan jalan. Ia melihat tubuh wanita tambun sedang berjalan dengan sedikit lamban, disebabkan jalanan yang licin dan juga tubuhnya yang subur memperlambat langkahnya.

"Ni, ternyata kamu datang, juga ku kira kamu melupakannku," gumam Ki Roso dengan lirih saat melihat wanita itu datang dengan membawa beberapa makanan dalam wadah bakul yang terbuat dari anyaman rotan.

"Ki..., apakah aku terlambat?" ucapnya dengan lirih, lalu membawa bakul berisi singkong rebus, ikan asin goreng dan sambal terasi serta kopi hitam kesukaan ki Roso.

"Cepatlah, Ni, aku sudah sangat lapar," ucap Ki Ros o tak sabar.

Wanita itu menganggukkan kepalanya. Ia terlihat kesusahan, karena tubuhnya yang tambun dan juga perutnya yang membuncit sehingga mengira ia orang yang sedang hamil.

"makanlah, Ki. Pasti kamu sudah lapar," ucap Darsih sembari menyodorkan sarapan yang dibawanya.

Ki Roso menatap sarapan itu dengan tak sabar. Lalu menuang kopi hitam dari termos kecil dan masih tampak mengepulkan asap, lalu menyeuputnya. Tak lupa ia memakan singkong rebus dengan cocolan sambal terasi itu.

Hingga sesaat ia menghentikannya, lalu menatap wanita itu dengan tatapan miris.

"Kau," ucapannya tercekat ditenggorokan, dan terlihat darah keluar dari hidungnya.

Sesaat Darsih menatapnya dengan seringai mengerikan.

1
Anita Sari
kasian si naes
Ibrahim Efendi
shampoo yg ad gambar gajah itu y thor?
Ibrahim Efendi
ud bukan nurul lg thoor.. nurulnya ud nikah n ikut suaminya merantau...
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kang🤣
total 1 replies
Ibrahim Efendi
weleh Naes.. kok malah genit sm bang Darmadi 😜
Ibrahim Efendi
tak bernyawa thooor..
Akbar Aulia
Luar biasa
Mamake Nayla
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Dian Meilani
Luar biasa
Nur Ayla Ilmi
kecewa dengan visual Darmadi 😭😭😭
Afifah Nahda Rafanda
Luar biasa
Irmha febyollah
biar aja sih bapak dia menuntut balas, hati orang tua siapa yg tidak akan sakit hati melihat anak semata wayangnya mati mengenaskan n ternodai
Marty Anggrainy
Tolong diralat Thor... BANGSAWAN BUGIS BISA MARAH KLO DIPANGGIL DENGAN SEBUTAN DAENG
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: sudah saya revisi. makasih infonya🙏🙏
total 1 replies
Marty Anggrainy
Maaf Thor sekedar meralat utk gelar kebangsawanan di daerah Bugis mau laki-laki atau perempuan semua tetap memakai ANDI... sedangkan utk DAENG adalah panggilan utk orang Makassar, jadi sangat berbeda..contoh gelar Bugis ANDI DARMADI...ANDI ROSMAWATI
Contoh DAENG KEBO..DAENG MATOLA..
momoy: ijin kak orang tua saya asli Makassar makanya di kasih Andi itu,cuma kami lahir dan besar di aceh
total 2 replies
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
ya elah thor.. lg tegang jg.. langsung ambyar 🤣🤣🤣
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
Luar biasa
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhaniaˢ⍣⃟ₛ☠️⃝🦐
ini si Darmadi yg ada di kisah jerat tumbal pesugihan bukan sih?
N Wage
halah si boy,dikira sdh tobat gak taunya malah menebar fitnah.
boy...boy...tunggulah giliranmu.
INDRA
👍🏻👍🏻👍🏻
Sri Suryani
kan ki roso Gemoy thor
Sri Suryani
hantunya nglucu/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!