Patah hati melihat gadis yang di cintai lebih memilih pria lain membuatnya bertemu dengan seorang gadis keturunan kerajaan luar Jawa, gadis yang berbeda dari trah garis darahnya.
Perbedaan di antara mereka dalam segi apapun membuat mereka sering berselisih pendapat dan tidak akur namun siapa sangka waktu telah membuat mereka sering berjumpa.
Seiring berjalannya waktu, ada benih rasa yang sedang bermekaran namun hati yang masih tertambat pada sang mantan kekasih membuatnya melukai hati sang putri. Mampukah mereka bersatu dalam perbedaan dan keadaan atau mereka menyerah begitu saja?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Tidak ada yang berani.
Bang Anom terpaksa membopong Syila meskipun badannya sudah basah kuyup.
"Mari saya bantu Dan..!!" Kata Prada Harto.
"Nggak usah, tolong kamu panggilkan saja petugas kesehatan lapangan. Istri saya butuh perawatan." Perintah Bang Anom.
...
"Kalau dalam ilmu kesehatan mungkin ini yang namanya hyperemesis Dan. Muntah sepanjang hari dan tidak mau makan apapun. Tapi untuk kasus ibu...... Terus terang saya kurang paham kenapa bisa sampai tidak mau lihat wajah Danki, benci melihat rambut Danki, ijin Dan.. ilmu saya tidak sampai disana." Jawab seorang petugas lapangan.
Bang Anom menepuk dahinya. Syila baru saja sadar tapi istrinya itu langsung memalingkan wajahnya.
"Minta air mineral donk..!!" Pinta Bang Anom dengan wajah masam.
Prada Harto segera mengangsurkan sebotol air mineral pada Danki barunya.
Tak banyak bicara Bang Anom langsung mengguyur kepalanya dengan air mineral. Setelah rambut nya basah kembali, Bang Anom mengeluarkan sisir kecil dari dalam dompetnya lalu menyisirnya dengan rapi dan menyimpannya lagi di dalam dompet.
"Abang sudah ganteng nih. Sekarang apa lagi yang ibu Danki permasalahkan?" Tanya Bang Anom.
"Syila tidak suka lihat rambut Abang menantang langit." Kata Syila.
"Lha terus??? Masa Abang kamu suruh pakai konde?? Lagipula biasanya kamu senang saja lihat jambul Abang." Protes Bang Anom.
"Sekarang nggak suka, Syila juga nggak suka lihat Abang pakai rambut warna hitam." Jawab Syila.
"Allahu Akbar.. ini anak belum lahir saja sudah buat bapaknya frustasi, bagaimana kalau sudah lahir???? Ini anak laki atau perempuan????" Gerutu Bang Anom.
"Memangnya Abang nggak suka anak perempuan????" Syila melirik Bang Anom tapi kemudian rasa mual kembali menyerangnya.
Paham sang istri kembali mual, Bang Anom memercikkan air di kepalanya. Benar saja, rasa mual Syila mendadak hilang.
"Lama-lama Abang jadi manusia setengah ikan." Bang Anom kembali menggerutu memikirkan Syila. Tapi saat mengingat sang istri tengah mengandung buah hatinya, rasa hati Bang Anom tetap saja merasa tidak tega. Ia mengusap dadanya meredakan emosi nya sendiri. "Tau begini Abang saja yang mual. Paling tidak.. Abang masih bisa mengatasi mual sendiri." Kata Bang Anom sesumbar karena merasa kerepotan dengan segala tingkah Syila yang sedang mengidam.
Para anggota berusaha menahan tawa tapi kasus Pak Danki nampaknya memang lebih serius dari apapun. Malam ini juga belum sampai acara yang di minta ibu Danki tapi Ibu Danki sudah ambruk dan lumayan meresahkan bapak Danki.
Prada Harto mendekat dan membisikkan sesuatu pada Bang Anom. "Ijin Dan, bagaimana rencana nanti malam? Sekarang persiapan sudah delapan puluh persen, tinggal menunggu catering yang di pesan ibu datang."
"Coba tanyakan sendiri pada permaisuri saya..!! Saya tidak mau salah lagi, bisa celaka sendiri saya nanti."
Prada Harto mendekat pada Syila untuk meminta arahannya. Meskipun sebenarnya Syila berusia lebih muda darinya tapi kali ini istri Danki benar-benar sedang dalam situasi siaga satu hingga dirinya lebih memilih untuk berhati-hati.
"Ijin ibu................"
"Tetap di lanjutkan acaranya. Biar para anggota beserta keluarga merasa terhibur." Sambar Syila menjawab sembari memejamkan mata.
"Siap Ibu." Prada Harto melirik Bang Anom untuk meminta petunjuk.
Dankinya itu hanya mengangguk dan meletakan telunjuk di depan bibirnya agar ajudannya itu mengikuti saja apa yang di katakan Syila.
-_-_-_-_-
Acara akan dimulai satu jam lagi tapi Syila masih berbaring di atas ranjang dengan dasternya yang super longgar bahkan istri Kapten Anom itu masih setia dengan gadget nya.
"Sebentar lagi acara di mulai dek. Biasakan tepat waktu dan jangan buat jam karet..!!" Tegur Bang Anom.
"Perempuan dandannya lama Bang." Jawab Syila santai saja.
"Kalau tau lama kenapa tidak dandan dari sekarang." Kata Bang Anom.
"Kenapa sih jadi laki-laki itu ribet sekali. Abang hanya tinggal duduk dan menunggu, yang dandan itu Syila.. bukannya Abang. Lagipula apa Abang tidak punya pekerjaan lain sampai harus mengurusi Syila, Syila juga tau waktunya mepet.. tapi Syila nggak punya warna lipstik yang sesuai dengan pakaian yang akan Syila pakai. Apa Abang tau rasanya keluar rumah dengan penampilan tidak sepakat???"
"Allah Ya Karim..!!!!! Abang jawab hanya bawa satu anak buah. Kamu jawabnya satu jajaran personel di bawa semua."
Syila langsung melirik Bang Anom dengan tatapan tanda bahaya.
"Oke.. Abang tunggu di ruang tamu. Abang khan penyabar." Jawab Bang Anom sembari beranjak menuju ruang tamu dan duduk tanpa bersuara lagi.
.
.
.
.
selalu kutunggu karya²mu kak