Hai aku Aram, pekerja kantoran bergaji standar UMR di pinggiran ibukota. Wanita umur 30-an yang sudah dikejar deadline “kapan menikah?” dari orangtuanya.
Orang yang hanya melihat kehidupan romasa orang lain dari balik kursi penonton. Ketika sudah siap menyambut kematian, aku malah diberi kesempatan kedua menjadi Arabella, calon putri mahkota di novel yang kubaca dulu. Klise!
Tentu saja, Arabella adalah antagonis! Double klise!
Mau mengubah takdir? Ngga dulu deh…
Lagipula, aku sudah terjebak dengan skenario takdir yang mendukung peranku jadi antagonis. Jadi, Mmari kita serius menjalani peran antagonis dan mengakhirnya dengan tragis seperti yang sudah ditentukan dalam cerita!
Hip Hip Hore untuk jadi jahat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ESOK., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Lalu
“Saya tidak tahu kalau Nona bisa bersepeda?” Lanna kembali bertanya kaget saat melihatku mendayung sepeda sepulang dari pasar. Padahal aku juga sudah menuntun sepeda itu sejak keluar dari rumah.
Pagi setelah Lanna dan Elise pindah ke rumahku, aku mengajak mereka turun ke Scapo untuk berbelanja berbagai perlengkapan. Karena pasukanku juga bertambah, aku sekaligus memutuskan untuk membeli dua sepeda baru untuk mereka.
Kami bertiga beriringan mendayung sepeda masing-masing di sepanjang perjalanan pulang dan mengisi percakapan santai seputar kabar terbaru di kalangan bangsawan ibukota. Baru kali ini aku bisa mengobrol biasa dengan mereka berdua. Sejak di sini Lanna tidak lagi tampak ketakutan ketika aku berbicara dan Elise ternyata bisa menyampaikan cerita dengan paragraf utuh.
“Oh iya, kalian bilang Helen mengurusi bagian istana, apa dia masih ada di Istana Beryl?”
“Betul Nona,” Jawab Elise. “Dia sekarang melayani di bagian sayap kanan istana. Berjaga-jaga jika Nona membutuhkan informasi terbaru tentang para bangsawan.”
Sejujurnya, memang akan lebih mudah bagiku jika tetap tahu informasi terbaru seputar bangsawan dan penyebaran kabar di ibukota. Namun, aku tak pernah menyangka bantuan itu justru datang dari para pelayan yang dulu gemetar ketakutan saat berhadapan denganku.
“Kalau begitu, bagaimana dengan keluarga kalian?” Tanyaku cukup serius. Helen yang tetap di istana pasti masih mendapatkan gaji layak, tapi, dua orang di depanku ini kan sedang melayaniku secara sukarela.
Lanna dan Elise hanya tersenyum melihat kekhawatiranku. “Tenang saja, Nona.” Ucap Elise. “Kami semua hidup sebatang kara sejak kecil.”
“Maksudnya sebatang kara, kalian bertiga yatim piatu?” Aku mengerutkan kening tak mengerti. Kenapa nasib mereka bisa berbarengan seperti itu?
“Saat saya masih berusia 5 tahun, saya kehilangan semua anggota saya di daerah konflik di perbatasan. Sejak saat itu saya berpindah dari panti asuhan di berbagai tempat.” Lanna mulai bercerita tentang dirinya.
“Kalau saya berasal dari keluarga miskin dengan banyak anak sehingga saya dibuang oleh orang tua saya sendiri.” Elise ikut bercerita dengan kisah yang bahkan lebih tragis lagi.
Untung saja kami mendayung sepeda masing-masing, karena saat ini ekspresi wajahku sudah kaku. Bingung harus merespon bagaimana curhat dadakan mereka ini.
“Untungnya kami diselamatkan oleh Nona.” Lanna justru menyelamatkanku.
“Aku?” Tanyaku bingung sendiri.
“Ah, mungkin Nona sendiri juga tidak tahu. Tapi, kami semua adalah anak-anak yang masuk ke dalam sekolah asrama yang Nona dirikan saat berusia 13 tahun.” Lanjut Lanna.
Oh, sepertinya aku pernah membaca sekilas tentang itu dari salah satu berkas keuangan Arabella. Saat dia sudah dekat dengan Thierry dan mulai sedikit bebas di rumahnya, Arabella meminta Duke Heinstrein untuk membangun sebuah tempat penampungan untuk anak-anak miskin di daerah perbatasan.
Aku pikir itu hanya panti asuhan biasa untuk menaikkan citra sosialnya. Tapi kalau Lanna bilang sekolah asrama, bukankah tempat itu lebih layak dari bayanganku. Mereka bahkan mendapatkan pengajaran menjadi pelayan istana.
“Lalu, kalian melamar untuk jadi pelayanku?”
“Saat usia kami sudah cukup masuk istana, kami bisa bisa direkomendasikan untuk bekerja di samping Nona atau keluar mencari pekerjaan lain.” Kali ini Elise membalas pertanyaanku.
“Setahuku usia masuk istana itu 16 tahun.” Gumamku, “Lanna bilang dia baru masuk beberapa bulan lalu, berarti usia Lanna masih pertengahan 16 tahun dan Elise..”
“Saya dan Helen masuk sekitar satu setengah tahun yang lalu, Nona. Saya sebentar lagi berusia 18 tahun.” Elise menjawab.
Aku mengangguk-angguk, “Kalian semua tenyata lebih muda dariku.”
Aku dengar Arabella memecat banyak pelayan sebelum mereka, ternyata, alasannya bukan karena tidak percaya loyalitas. Arabella justru mencari orang-orang yang bisa bekerja kepadanya dengan niat membalas budi. Kalau ceritanya setragis itu, pantas saja mereka rela mengikutiku seperti sekarang ini.
Sepertinya, selain mempelajari tentang kerajaan, aku juga harus menggali lagi satu persatu berkas Arabella yang lain. Aku jadi penasaran apa Arabella yang asli juga mendapatkan bantuan seperti ini di novelnya?
Ah, sepertinya tidak. Kalau ujung-ujungnya dia mati sendirian di dalam penjara bawah tanah, berarti si sombong itu menolak bantuan dari ketiga pelayannya.
“Apapun yang terjadi, kalian sudah berjanji untuk mengikutiku, kan? Kalian harus buktikan itu sampai akhir.” Aku tiba-tiba mengultimatum kedua orang itu.
Tanpa ambil tempo, Lanna dan Elise menjawab cepat. “Siap, Nonaaa!”