Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Beruntung, sebelum Luis dan kedua sahabat Lulu pergi ke apartemen Devin. Karina mengusulkan agar mereka pergi dengan taksi. Karina pikir, Devin pasti akan curiga jika mereka datang menggunakan mobil Luis, bisa-bisa rencana sahabatnya itu akan gagal sebelum waktunya. Karina juga menyarankan agar Luis menunggu di basemen. Dia tidak ingin jika Lulu kembali mendapat masalah akibat kedekatannya dengan Luis lagi.
"Sudah kumpul semua, kan? kalau begitu ayo kita berangkat!" Seru Lulu bersemangat.
Lulu dan teman-temannya akhirnya berangkat bersama ke vila milik Kakek Satrio di pinggiran pantai. Di sana, ternyata Lulu sudah meminta ijin dan di sediakan semua keperluannya oleh para pekerja di sana. Sedangkan di apartemennya, Devin terlihat tengah ragu-ragu untuk menghubungi seseorang.
"Aku harus melakukannya! kalau tidak, dia akan terus berharap atas apa yang tidak mungkin dia dapatkan dariku!" Gumam Devin seraya menekan kontak Thalita untuk menghubungkan panggilan.
📞 "Halo, Vin! ada apa? apa kamu rindu padaku? oh iya, besok kita jadi pergi, kan?" Tutur Thalita di sebrang telepon tanpa memberi kesempatan Devin untuk bicara.
📞 "Thalita... sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama kamu! ini tentang... hubungan kita." Sahut Devin tak menghiraukan pertanyaan Thalita sebelumnya.
📞 "Hubungan kita? apa kamu tidak akan menunggu satu tahun untuk menceraikan gadis nakal itu? Vin, aku sudah menebaknya! kamu pasti tidak tahan, kan hidup bersama dengan gadis nakal seperti istrimu itu?" Tebak Thalita dengan enteng.
Devin terdiam, dia masih berusaha merangkai kata untuk menjelaskan perasaannya saat ini. Setelah kembali dari luar Negeri, sikap dan sifat Thalita banyak yang berubah. Apalagi, kesibukannya yang semakin banyak membuat Devin kesulitan untuk sekedar makan siang bersamanya.
📞 "Tha, sebelumnya aku mau minta maaf! mungkin aku memang egois! tapi... aku benar-benar tidak bisa menceraikan Lulu! aku ingin mengakhiri hubungan kita yang tak seharusnya masih terjalin ini. Aku baru sadar, jika dia benar-benar gadis yang baik yang Kakek pilihkan untukku! aku benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan dia selama ini! bahkan, dengan sengaja aku malah melukai hatinya berkali-kali dengan memilih pergi dengan kamu!".
📞 "A...apa? apa maksud kamu, Vin? kenapa kamu tidak mau menceraikannya? bukannya kamu bilang, kamu cuma mencintai aku! lalu selama ini apa artinya aku di hati kamu, Vin? jawab! kenapa kamu tega seperti ini sama aku!" Teriak Thalita berderai air mata.
📞 "Maaf, Tha! tapi ini sudah menjadi keputusanku! aku dan Lulu bahkan sudah menikah. Aku tidak mau melukainya lagi! aku benar-benar takut kehilangannya! aku harap kamu bisa menerima keputusanku ini, semoga kamu mendapatkan pengganti ku yang jauh lebih baik lagi, Tha!" Lirih Devin seraya memutus sepihak panggilan teleponnya.
Air matanya luruh membasahi pipi. Sekian lama Devin menjalin hubungan dengan Thalita, dia sama sekali tak pernah merasakan takut kehilangan seperti saat Lulu meregang nyawa tempo hari. Devin sadar, jika Lulu lah yang paling berarti di hatinya.
"Brengsek! Devin sialan! kamu pikir, kamu bisa seenaknya saja memutuskan hubungan denganku! lihat saja nanti! aku tidak akan menyerah sebelum membuat kamu melarat bersama si tua bangka itu!" Racau Thalita yang saat ini tengah berada di ruangan istirahatnya selama sesi pemotretan.
Selepas mengakhiri panggilan teleponnya dengan Thalita, Devin akhirnya mengemas beberapa pakaiannya. Jika sudah penat seperti itu. Biasanya Devin akan menenangkan dirinya sendiri di vila Kakek Satrio yang berada di dekat pesisir pantai. Deburan ombak yang berirama menjadi obat tersendiri baginya di saat kekusutan pikiran dan banyaknya masalah.
"Sepertinya aku sudah lama tidak mengunjungi vila Kakek! aku akan ke sana sebelum Lulu pulang, besok! dia pasti lelah setelah mengerjakan tugas bersama teman-temannya, sepertinya memberikannya waktu istirahat yang cukup akan membuatnya kembali segar saat aku pulang nanti," Monolog Devin.
...----------------...
"Den, Aden mau kemana? kenapa bawa pakaian juga? apa Aden mau menyusul Non Lulu, ya?" Tanya Bi Asih saat melihat Devin menggandeng tas berisi pakaiannya sendiri.
"Tidak, Bi, Dev hanya ingin menenangkan pikiran beberapa hari ke depan! Dev, pergi dulu, ya!" Tutur Devin berpamitan.
"Hati-hati, Den!" Seru Bi Asih menatap nanar kepergian majikannya.
Vila.
"Hei, cepat-cepat! haduh, pasang balonnya jangan seperti itu, coba taruh lebih atas!" Seru Lulu sibuk menginstruksi teman-temannya yang tengah membantu mendekor.
"Seperti ini, ya?" Tanya Toni teman Luis dan Devin.
"Iya, benar! selesai. Ha... akhirnya jadi juga," Gumam Lulu seraya menatap hasil dekorasinya bersama teman-teman.
"Lu, kamu yakin kalau suami kamu itu bakal datang ke vila ini?" Tanya Karina memastikan.
"Tentu dong, sebentar! sekarang aku akan telepon dia dulu, ya!" Sahut Lulu seraya memainkan ponselnya untuk menghubungi sang suami.
"Apa kamu begitu mencintai, Dev ya sekarang? kenapa aku semakin tidak rela, Lu?" Batin Luis menatap Lulu yang tengah tersenyum di goda kedua sahabatnya.
📞 "Halo, ada apa, Lu? apa kalian sudah selesai mengerjakan tugasnya?" Tanya Devin setelah menggeser gambar hijau di layar ponselnya.
📞 "I...iya, sebenarnya... A... aku... A... aku haciuh!" Sahut Lulu seraya berpura-pura bersin.
📞 "Alula! kamu dimana sekarang? kenapa kamu bersin-bersin, barusan? kamu sakit lagi ya?" Tanya Devin panik. Padahal dirinya saat ini tengah mengemudi, beruntungnya Devin bisa menjaga fokusnya berkendara, sehingga dia masih bisa aman meski perasaannya benar-benar khawatir.
📞 "Dev, haciuh! A...aku mau minta maaf, tadinya setelah selesai mengerjakan tugas aku mau menikmati pantai sebentar! tapi, haciuh!" Tutur Lulu yang langsung di sanggah oleh pertanyaan Devin.
📞 "Dimana kamu sekarang? aku sedang di perjalanan menuju vila Kakek yang dekat pantai juga sekarang! cepat sebutkan posisi mu, aku akan ke sana sekarang juga!" Seru Devin dengan nada yang begitu panik dan cemas.
📞 "Apa? kamu sedang dalam perjalanan, sekarang? ka...kalau begitu kamu tunggu aku di dekat Resto seafood saja, a...aku akan menemui kamu di sana!" Sahut Lulu yang tak mengira jika Devin sudah dalam perjalanan menuju vila Kakeknya.
📞 "Apa Restonya yang dekat tenda warna merah, ya?" Tanya Devin memastikan.
📞 "I...iya, apa kamu sudah sampai? aku akan ke sana sekarang!" Sahut Lulu seraya menginstruksi teman-temannya untuk segera bersembunyi di tempat yang sudah mereka sepakati.
📞 "Kamu dimana? aku sudah di depan Resto!" Tanya Devin lagi.
📞 "Aku sedang jalan menghampirimu! tunggu sebentar!" Sahut Lulu.
📞 "Kenapa kamu tidak pergi ke vila Kakek saja? jaraknya kan benar-benar sangat dekat dari sini! kamu bisa istirahat juga di sana!" Cecar Devin yang masih enggan mengakhiri sambungan teleponnya.
📞 "Turunlah, aku sudah sampai!" Seru Lulu.
Devin menurut. Dia segera turun dari mobilnya dan mengedarkan pandangan untuk mencari sosok yang tengah mengisi hatinya saat ini.
📞 "Kamu dimana?" Tanya Devin.
📞 "Maafkan aku, Dev! kamu naiklah lagi ke mobil! sebenarnya aku sudah ada di vila Kakek. Karena terlalu lelah, aku jadi mampir ke sini bersama Karina dan Loli, tadi!" Sahut Lulu mengulur waktu, agar semua teman-temannya bisa bersembunyi di tempat yang tak bisa Devin ketahui.
📞 "Syukurlah kalau kamu sudah di sana, kalau begitu aku akan menyusul kamu sekarang!" Ucap Devin tanpa terdengar marah sedikit pun. Padahal, Lulu sudah sangat cemas jika suaminya itu akan kesal padanya dan memarahinya.
"Hu... syukurlah, Dev tidak memarahiku!" Gumam Lulu setelah mengakhiri sambungan teleponnya.
"Kalau begitu kamu bersiap saja di depan! nanti kalau dia sudah datang, kamu tinggal giring dia ke taman belakang!" Seru Karina.
"Ok! kalau begitu aku akan menunggunya di ruang tamu depan, ya!" Sahut Lulu bergegas ke ruang tamu.
Mobil yang Devin kendarai pun tiba di halaman vila. Namun ternyata, saat itu bukan hanya mobilnya saja yang berhenti di sana.
Bruk... bunyi pintu mobil yang terbanting di tutup.
"Vin!" Seru seseorang yang membuat Devin berbalik lagi ke belakang.
.
.
.
.
.
See you next bab 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.