Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Hanna benar-benar terluka, ia tidak memiliki alasan apapun untuk bertahan saat ini. Pengkhianatan yang ia saksikan sendiri benar-benar mengguncang dunianya
Ia hanya ingin menghabiskan hidupnya bersama pria yang dicintai. Perpisahan tidak pernah terpikir olehnya
Bukannya membenci putrinya, tapi Hanna terluka melihat rupa bayi mungil itu yang begitu menjiplak wajah Rizal sang ayah
Jika Hanna melihatnya maka luka itu kembali terasa perih dan membuatnya ingin melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan
Setelah hampir satu jam, mobil yang dikendarai Hanin berhenti didepan sebuah rumah
Tiga wanita beda usia itu masuk, Hanum menggendong sang cucu sementara Hanin tengah membawa barang
"Ini kamar kamu, kalau butuh apa-apa bilang sama ibu! Ibu juga akan dikamar ini untuk menemani kamu dan Eleanor!"
Ya, mereka telah menetapkan nama Eleanor bagi putri kecil Hanna. Untuk nama lengkap akan Hanna berikan saat wanita ini telah dalam keadaan baik
Stress yang dialami Hanna tentu saja mempengaruhi produksi ASI. Bayi Elea terpaksa harus mengkonsumsi susu formula
Beruntung bayi cantik ini tidak rewel. Ia akan menangis jika tengah lapar, Hanin juga mambantu mengurus keponakannya bersama sang ibu
Keberangkatan Hanna untuk melakukan pengobatan di Singapura juga tengah dipersiapkan, tentu saja dokter Rama yang mengatur segalanya
Dokter tampan itu merasa begitu prihatin pada Hanna yang sepertinya memiliki masalah yang begitu berat
Hanin juga sudah menceritakan semuanya padanya hingga ia bersimpati dan semakin Keukeh untuk menyembuhkannya
Hanin tengah memeriksa pekerjaannya, sementara Hanum tengah memasak saat terdengar suara tangis bayi yang begitu nyaring dari lantai atas dimana kamar Hanna berada
"Elea kok nangis kejer gitu Bu?" Tanya Hanin saat berpapasan dengan sang ibu
"Ibu gak tau nak, tadi ibu tinggal dia tidur" Keduanya tampak khawatir, bagaimana jika sesuatu terjadi
"Ayo nak!"
Pintu dibuka, disana Hanna duduk dilantai sambil bersandar pada sisi tempat tidur. Tatapannya kosong tak peduli suara tangisan bayi yang nyaring memekakkan telinga
"Astaghfirullah!" Hanum mendekat pada sang putri yang diam saja sementara Hanin mengarah pada boks bayi dimana sang keponakan tengah menangis
"Sini sayang!" Hanin mengangkat tubuh bayi Elea yang menegang karena menangis "Maafin Tante Hanin yaa sayang! Kamu laper yaa?"
Hanin mendekap erat tubuh kecil itu lalu membawanya keluar kamar
Hanum menatap putri sulungnya dengan prihatin. Hanin benar, Hanna butuh perawatan untuk menyembuhkan mentalnya
"Nak" Hanum menyentuh bahu Hanna yang masih diam "Ada apa? Apa kamu mau cerita sesuatu sama ibu?"
Hanna menoleh, menatap sang ibu dengan mata yang sudah mengembun, cairan bening itu sudah memenuhi mata indahnya
"Bu.."
Hanum membawa sang putri dalam dekapannya, Hanna menangis pilu mencurahkan segala rasa sakit yang ia rasakan
Pengkhianatan suaminya benar-benar menghancurkannya. Hanna seolah tidak ingin hidup lagi
"Apa salah aku Bu? Kenapa semua ini terjadi?" Hanna menangis sambil sesenggukan
"Sabar nak! Pikirkan anak-anak mu, mereka butuh ibunya"
Hanum terus mengusap punggung putrinya, Hanna merendahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya dipangkuan sang ibu
Ia menjadi putri kecil ibunya yang hanya ingin disayangi. Hanum melakukannya hingga tersisa isakan kecil dari Hanna
Hanum mengusap pipinya yang terdapat air mata, ia terluka melihat putri kesayangannya yang diperlakukan tidak adil
Ia kehilangan suaminya saat masih mengandung Hanin dan Hanna berusia tiga tahun. Sejak saat itu dirinya harus menjadi ibu sekaligus ayah untuk mereka
Putri-putri nya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, dan saat Rizal datang melamar Hanna waktu itu ia berharap jika putrinya akan selalu dilimpahkan kebahagiaan
"Ayo nak! Sebaiknya kamu pindah ke atas ranjang! Disini dingin"
Hanna menatap sang ibu "Tapi aku mau ditemenin!"
Hanum mengangguk, keduanya naik lalu Hanna kembali meletakkan kepalanya dipangkuan sang ibu dan Hanum mengusap kepala putrinya dengan lembut
Sementara itu Hanin baru saja menidurkan keponakan kecilnya diatas tempat tidur. Bayi perempuan itu baru saja selesai menyusu dan sekarang ia mengantuk
"Tante janji, kamu akan mendapatkan kasih sayang ibumu lagi sayang!" Hanin mengusap pipi lembut Eleanor
"Kita akan balas dendam pada ayah durjanamu itu nanti" Malam ini bayi cantik ini akan menginap dikamar sang Tante
Eleanor harus bersabar menunggu hingga sang ibu kembali waras
Setelah semua persiapan selesai, hari ini Hanna akan berangkat ke Singapura untuk mengembalikan lagi kewarasannya yang hilang karena ulah suaminya sendiri
Wanita cantik itu berangkat dengan ditemani Hanin dan dokter Rama karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan sementara Hanum akan mengurus si kecil
Hanin dan dokter Rama akan akan berkunjung lagi nanti karena kesibukan mereka
Rizal mengunjungi kediaman ibu mertuanya, entah kenapa ia merasa sesuatu yang ia cari ada disini
Hari ini ia memberanikan diri untuk datang, tak peduli jika ibu mertuanya atau siapapun akan menghabisinya sekalipun
Rizal menekan bel, seorang wanita paruh baya membuka pintu dan itu bukan ibu mertuanya
"Cari siapa yaa mas?"
"Saya ingin bertemu ibu mertua saya" Jawab Rizal
"Maksudnya ibu Hanum?" Tanya wanita yang sepertinya seorang asisten rumah tangga
Ya, sejak mereka sibuk dengan kondisi Hanna dan bayinya, Hanum memang mengambil keputusan untuk memperkerjakan seorang asisten rumah tangga
Mengingat Hanin yang sibuk dengan kuliahnya serta toko pakaian milik mereka dan Hanum yang mengurus putri serta cucunya bergantian dengan Hanin
"Iya, apa mereka ada dirumah?"
"Sebentar ya mas" Rizal mengangguk, ia tidak dipersilahkan masuk artinya ia harus menunggu diluar
Tak lama Hanum keluar, wajahnya sungguh tidak sedap dipandang. Rizal sadar apa kesalahannya, namun ia kesini untuk meminta maaf dan bertanya dimana istrinya
"Assalamualaikum Bu"
"Waalaikumsalam" Rizal menyalami ibu mertuanya "Ada apa kamu kesini?"
Suara Hanum begitu ketus namun Rizal menerima semuanya "Aku ingin bertanya tentang Hanna, apa ibu sudah memiliki informasi tentang Hanna?"
"Untuk apa lagi kamu mencari Hanna? Untuk disakiti? Apa kamu tidak cukup dengan wanita itu?"
Deretan pertanyaan itu menyadarkan Rizal bahwa ibu mertuanya ini tau sesuatu. Artinya Hanna sudah ditemukan dan mungkin saja berada dirumah ini
"Aku minta maaf Bu, aku juga akan minta maaf pada Hanna. Tapi aku mohon untuk memberitahu aku dimana Hanna"
Rizal memelas, bahkan pria itu sudah mengatupkan tangannya didepan dada. Berharap ibu mertuanya ini akan merasa iba
"Ibu tidak tahu dimana Hanna! Sekarang kamu pergi!" Usir Hanum namun Rizal tidak beranjak bahkan pria itu sudah bersimpuh dikaki ibu mertuanya
"Aku mohon Bu! Aku tau aku sangat salah, tapi aku menyesali semuanya dan ingin bersama Hanna lagi!"
Hanum terkejut saat melihat menantunya itu sudah menangis, apa Rizal benar-benar sudah merasa bersalah?
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.