Gara-gara bola basket nyasar, Matahari Senja harus berurusan dengan si badboynya SMA Air langga, pentolan geng Atlantis yang terkenal hobi tawuran, playboy dan balap motor. Batara Matahari namanya
Matahari, nama mereka sama. Takdir keduanya pun hampir sama untuk dituntut sempurna. Tapi takdir tak semudah itu untuk membuat mereka bersatu. Matahari Senja dan Batara Matahari dengan luka mereka masing-masing, bisakah menyembuhkan satu sama lain?
.
Jangan lupa like, komen dan vote...🙏❤️
Follow ig author : @mukarromatul28
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan
Pagi datang menyambut hari seperti biasa, mentari masih menyilaukan cahaya dari ufuk timur. Pagi yang sama untuk seorang Senja Matahari, tidak!, tapi mungkin lebih buruk dari pagi biasanya. Gadis itu berdiri mematut wajahnya didepan cermin. Wajahnya sedikit pucat, mungkin karena kehilangan banyak darah atau karena terlalu lelah dengan drama kehidupan. Luka gores dipergelangan tangan sudah ia obati dan perban, untungnya baju sekolah mereka panjang, jadi bisa ia tutupi
Senja meraih handphone diatas nakas, menyalakan benda pipih itu dan melihat lima panggilan tak terjawab lima menit lalu dari nomor tanpa nama, ia tau pemilik nomor itu walau tak menyimpannya secara langsung.
Tanpa menoleh sedikitpun pada acara sarapan dimeja makan, Senja langsung berlalu. Tak peduli lagi dengan istilah sopan santun atau apalah itu, mereka tak mengerti bagaimana diposisinya saat ini
Tiga orang laki-laki itu pun hanya nampak tak acuh. Pak Darmantio seperti sedikit melihat perubahan pada putrinya, tapi entah apa ia tak tau
Senja berusaha mengatakan tak peduli, dan kejadian kemarin tak akan berpengaruh. Nyatanya ia salah, kalimat dan rasa sakit itu seperti terngiang dalam otaknya membuat gadis itu kehilangan fokus dan hampir menabrak pengendara didepannya. Beruntungnya ia dengan sigap membelok arah motor ke tepi walau akhirnya ia sendiri yang meringis karena terjatuh
Suara kenalpot motor yang membelah jalan terhenti disana
"Senja?" Batara melepas helm yang menutup kepalanya untuk melihat apakah gadis itu memang Senja, ternyata benar
"Maafkan teman saya pak, dia emang lagi kurang sehat" Ucap Batara segera mengambil alih Senja yang dituntun bapak-bapak disana
"Kalau kurang sehat nggak usah paksain bawa motor dik, bahaya buat pengguna jalan yang lain"
"Saya akan lebih hati-hati pak" balas Senja dengan suara seraknya. Batara menuntunnya duduk pada kursi warung yang ada didepan sana
Tangan gadis itu gemetar dengan wajah sedikit pucat. Batara menghela nafasnya panjang
"Minum dulu" ia membuka botol yang diambil dari warung itu kemudian mengarahkan pada gadis itu. Senja tak menolak, gadis itu meminumnya walau dengan tatapan kosong
"Kenapa? Ada masalah lagi?" Gadis itu tak bicara namun tiba-tiba menangis
"Ada yang sakit, ada yang lukaluka?" Tanya Batara beruntun
"Lutut lo luka" ucapnya kemudian saat menyadari rok berwarna abu itu sedikit robek dan berwarna merah pada bagian lututnya
"Yang sakit bukan itu, tapi disini" gadis itu memegang dadanya
"Gimana rasanya nggak pernah dianggap ada sama orang lain, sampai kamu ngerasa cuma hidup buat diri kamu sendiri" Batara tau pasti telah terjadi sesuatu dengan gadis itu. Tak pernah ia melihat Senja menangis sekeras ini, beban gadis itu pasti makin berat pikirnya
"Manusia itu makhluk yang terikat. Ia membutuhkan orang lain dan orang lain membutuhkannya. Ia tak pernah sendiri" gadis itu diam, tangannya masih terlihat gemetar memegang botol air
"Aku udah pernah bilang kan, ada aku buat kamu" balas Batara
"Apa yang bikin kamu ragu? Trauma buat percaya sama manusia?" Senja diam saja tapi Batara sudah tau jawaban gadis itu
"Bunda gue dateng" Senja mulai bicara setelah diam beberapa saat. Batara diam mendengarkan gadis itu
"Dan lo tau dia bilang apa?"
"Dia bilang gue seharusnya nggak pernah ada"
"Ini buat gue mikir, apa segitu nggak diharapkannya kehadiran gue?"
"Dia juga yang buat luka baru disini?" Batara mengangkat pergelangan tangan gadis itu yang tersingkap karena lengan bajunya terangkat
"Lagi-lagi gue nggak bisa nahan diri, self harm seolah obat buat gue" Batara menarik nafas panjang mendengarnya
"Senja, please kasih gue kesempatan buat lo percaya sama gue"
"Gue nggak minta kesempatan kedua, gue cuma minta kesempatan buat kali ini aja"
"Gimana kalau lo sama aja kayak mereka, akan ada fasenya lo bakal pergi dari gue saat tau gue ternyata nggak..."
"Ssstttt" Batara menaruh tangannya didepan bibir sebagai isyarat pada gadis itu untuk diam
"Gue nggak suka lo ngomong kayak gitu lagi, percaya kalau gue nggak bakal pernah pergi gimanapun keadaan lo, gue janji"
"Kalau lo ngelanggar?"
"Gue pernah bilangkan? Hukum gue kayak gimanapun yang lo mau, lo mau bunuh gue juga nggak masalah"
"Please, percaya sama gue"
"Gue bakal berusaha"
"Terima kasih"
"Dokter Amalia bilang, lo perlu konsultasi lagi seenggaknya satu kali dalam sebulan, cuma karena luka ini mungkin dia bakal nyuruh lebih dari itu"
"Gue ngerti, gue bakal berusaha buat nggak ngelakuin ini lagi"
"Bagus, lo harus janji buat nggak bakal kayak gini lagi. Love your self, cintai diri lo sendiri"
"Maaf" cicitnya pelan, bukan untuk Batara atau orang lain. Tapi maaf ini untuk dirinya sendiri, padahal ia pernah bilang kalau membenci itu biarlah jadi tugas orang lain, ia tak pantas membenci dirinya sendiri. Tugasnya hanya boleh mencintai diri sendiri
.
Lembayung di ufuk barat pertanda malam akan tiba, langit gelap dengan suasana sunyi selalu identik dengan hal menakutkan tentang malam. Gelapnya selalu memberitau manusia seolah untuk waspada dengan kejahatan. Namun banyak orang yang menjadikannya sebagai waktu untuk berperang dengan pikiran mereka sendiri
"Jalan masih panjang Senja, jangan cepat menyerah"
"Kalau sakit minum obat, jangan semakin sakiti diri lo sendiri"
"Lo punya tanggung jawab atas diri lo sendiri, apa yang lo bakal bilang sama tuhan nanti kalau dia tanya kenapa lo ngerusak ciptaannya yang sempurna?"
"Lo punya cita-cita buat kuliah diluar negri? Lo pasti bisa! Setelah lulus SMA lo mau ke Harvard kan?"
Dengan segala kalimat yang terucap dalam kepalanya gadis itu menulis pada sebuah note kemudian ia tempel di dinding tepat diatas meja belajarnya
List masa depan
- Kuliah di Harvard
- Orang sukses
- Dianggap ada
- Bahagia
- Senyum :)
Senja terkekeh saat membaca tiga bagian terakhir dari apa yang ditulisnya, kemudian ia menambahkan satu kalimat dibawah catatan itu
"Semua pasti berlalu"
Gadis itu tersenyum membacanya, masa depan adalah rahasia, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Kita hanya perlu memilih dalam bagaimana kita menjalani hari ini, karena makna sebenarnya dari hidup adalah tentang arti sebuah pilihan. Apa yang kita pilih itulah yang akan membentuk kita
Brummm
Suara keras knalpot motor terdengar cukup membuat gadis itu berhenti dari kegiatannya, harusnya ia acuh atau bersikap tak peduli, tapi hati kecilnya masih saja tak bisa bersikap acuh. Gadis itu menghela nafasnya kemudian teringat pesan yang dikirim Batara beberapa saat lalu, laki-laki itu bilang akan pergi balap dengan gengnya Langit. Sudah pasti adiknya juga ikut. Senja bisa jadikan menonton Batara sebagai alasan agar Lingga tak merasa ia dipedulikan