Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alya mengalami keram.
Sesampainya di halaman kost. Mobil Dewa berhenti, disini ekspresi keduanya tidak sama seperti sebelumnya ada rasa canggung yang entah kapan datangnya.
Alya turun begitu juga dengan Dewa lalu saat langkah mereka akan menuju ke tempatnya masing-masing tiba-tiba saja Alya bersuara.
"Mas, makasih banyak untuk belanjaannya ini," ujar Alya.
"Sama-sama, besok kalau pulang jangan langsung pergi, tunggu aku dulu," pesan Dewa sebelum meninggalkan Alya.
Sementara Alya hanya terdiam, dia tidak menghindar di dalam posisi ini akan tetapi ua juga gak mau jatuh kedalamnya, karena ia sadar siapa dirinya.
"Mulai sekarang aku mau jalani hidup seperti biasanya, dan fokus meniti masa depan bersama Senja ku," gumamnya lalu masuk ke dalam kamar kost.
Sementara Dewa baru saja masuk ke pintu rumahnya di ruang tamu sudah ada sang adik yang selalu menyambut kepulangannya.
"Selamat malam Kak," sapa Emil.
"Kamu belum tidur?" tanya Dewa.
"Ya belum lah, kan nunggu Kakak," godanya sambil senyum-senyum sendiri.
"Sudah tidur," suruh Dewa.
"Enggak ah, aku mau kepoin Kakak!" seru Emil
"Kepoin apa?"
"Kenapa akhir-akhir ini Kakak dekat dengan Mbak Alya atau jangan-jangan ...."
"Sudah jangan ikut campur," sahut Dewa.
Emil terkekeh kecil, melihat ekspresi kesal sang kakak, tapi di dalam hati kecilnya ia merasa senang, akhirnya sang kakak kembali tersenyum setelah sekian lama menutup hati dari perempuan.
"Semoga saja Mbak Alya jadi masa depanmu Kak," celetuk Emil.
Dewa yang baru saja menjatuhkan bokongnya langsung melempar tatapan tajam pada adiknya.
"Jangan ngawur, Alya itu masih merasakan trauma," ujarnya pelan.
"Iya-iya, tapi gak Kakak saja yang jadi obatnya?"
"Emil!" tegur sang Kakak.
"Ya deh.... gitu aja ngambek," ucap Emil.
Seketika Dewa mengurungkan duduknya ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya, tapi entah kenapa sudut bibirnya terangkat tipis dan apa yang diucapkan oleh sang adik memang benar adanya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di kota lain sedari tadi Arlan masih terus kepikiran akan mimpi itu. Hingga diam-diam membuatnya mencari tahu keberadaan Alya. Bahkan beberapa kali ia menelpon panti tempat asal Alya.
Tapi sayang seribu sayang panti itu rumornya sudah ditutup dan Arlan pun semakin ketakutan sendiri. Apalagi di dalam mimpi itu sangat jelas sekali wajah kecewa sang nenek.
"Aku harus mencarinya di mana lagi, apa di luar sana dia baik-baik saja," ucapnya.
Arlan memejamkan matanya sejenak, entah kenapa ia kembali mengingat wajah terakhir Alya saat menggeret koper, tidak ada yang mencegah kepergian wanita itu. Bahkan anggota keluarga ini seolah mempersilahkan wanita itu pergi untuk selama-lamanya.
Padahal tanpa mereka sadari justru wanita itulah yang menjadi satu-satunya orang kedatangan Nek Ratih. Bukan anaknya kandungnya, juga bukan dirinya yang merupakan cucu kandungnya.
"Nek, jika memang Arlan tidak bisa menemukan Alya, Arlan minta maaf," gumamnya.
Tanpa sadar ucapan itu terdengar langsung oleh Erika yang sedang masuk ke dalam kamarnya.
"Nak, kamu ngomong sama siapa?" tanya wanita paruh baya itu.
Arlan sedikit terkejut. "Gak Ma, Arlan hanya teringat Nenek saja."
"Mama ngapain?" tanyanya.
"Mama mau bicarakan acara pernikahan kamu yang semakin dekat Nak," sahutnya.
"Bukannya semua sudah dibicarakan Ma," sahut Arlan sambil memijat pelipisnya.
"Iya tapi Mama hanya memastikan saja," ujarnya pelan.
"Pokoknya Mama tinggal nunggu beres saja," sahut Arlan.
Entah kenapa di saat hari pernikahannya yang sudah dekat bersama Amara seharusnya ia senang, tapi karena mimpi itu semuanya berubah begitu saja.
☘️☘️☘️☘️
Malam mulai larut saat pria itu berada di dalam kamarnya. Hujan rintik-rintik mulai bersuara di luar sana sementara pikirannya justru kembali pada perempuan yang ia antar pulang tadi.
"Kenapa aku jadi ikut memikirkan dia?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Bayangan Alya yang tersenyum saat menerima pemberian sepatu darinya kembali muncul. Lalu wajah gugupnya ketika mencoba sepatu baru. Hingga kalimat yang terus terngiang di telinganya.
"Aku takut bergantung padamu."
Seketika senyum di bibirnya muncul. Entah sejak kapan ia memberi perhatian untuk wanita itu yang jelas dari awal pertemuan mereka, hatinya sudah tergerak sendiri untuk peduli.
"Tuhan... ternyata dia mempertanyakan hal itu," ucapnya sambil menatap rintikan hujan dari jendela.
Meskipun ia tahu Alya masih mengalami trauma atas kegagalannya dalam berumah tangga apalagi saat ini perempuan itu sedang berbadan dua. Ada sedikit rasa peduli namun di sisi lain muncul rasa aneh di dalam dadanya.
"Dia berbeda dari wanita kebanyakan," entah kenapa pemikiran itu lolos dari mulutnya.
Saat menyadari ucapannya itu Dewa mengacak rambutnya sendiri, seolah ingin melupakan bayangan wajah perempuan itu, tapi semakin ia memejamkan mata, maka wajah wanita itu semakin memenuhi kepalanya.
"Ah, kenapa harus seperti ini!"
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di dalam kost yang sempit Alya berbaring diatas kasur tipisnya hujan tiba-tiba mengguyur kota ini. Sementara tubuhnya sedikit menggigil tidak seperti biasanya. Mungkin karena malam ini curah hujan cukup deras, hingga tubuhnya tidak mampu menahan cuaca dingin.
"Ya Allah dingin sekali," gumamnya pelan.
Alya terus meraih selimutnya, untuk menutupi tubuhnya namun tidak cukup menghilangkan rasa dingin di tubuhnya, hingga bibirnya menggigil, dan rasa dingin itu semakin merasuk ke tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, hujan masih terus mengetuk-ngetuk atap-atap rumah angin berhembus kencang hingga menggerakkan hordeng di jendela. Dan pada saat itu juga Alya merasakan rasa nyeri di sekitar perut bawahnya.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya dalam posisi seperti ini ia masih berusaha untuk meraih handphone di meja kecil samping tempat tidurnya.
Dengan tangan yang bergetar serta sambil menahan rasa sakitnya, akhirnya ia pun mulai menghubungi seseorang, tangannya dengan cepat menekan nomor Emil.
Tut ... Tut ....
Tidak ada jawaban, dan rasa nyeri dalam perutnya terus menjalar, hingga akhirnya ia memberanikan diri menekan nomor Dewa.
Tut .... Tut ....
"Plis angkat Mas," pintanya dengan cemas.
Lalu tidak lama kemudian akhirnya pria itu mengangkat panggilannya.
"Halo Al, kenapa malam-malam nelepon?" tanya pria itu khawatir.
"Mas, perutku nyeri," ucap Alya dengan nada yang bergetar.
Deg!
Seketika pria itu langsung keluar dari kamarnya. Langkahnya tergesa karena takut terjadi apa-apa dengan wanita itu.
"Al, jangan kemana-mana tunggu aku." ucapnya.
Dan tidak lama kemudian pria itu mengetuk pintu kamar Alya. "Al cepetan buka pintunya."
Dengan berjalan sempoyongan bahkan kaki palsunya belum terpasang sempurna Alya melangkah membuka pintu kamarnya.
"Krieet..." pintu terbuka.
Saat pintu terbuka tubuh Alya sudah mulai lemah dan nyaris limbung, pada saat itu pula Dewa segera menangkap tubuh Alya lalu membawanya ke parkiran kost.
"Al bertahan ya, kita ke rumah sakit malam ini juga," ucapnya sambil menggendong tubuh Alya.
Bersambung ....
Assalamualaikum selamat malam dan semoga selalu menantikan kisah selanjutnya ya kak 🙏🙏🙏🙏