Lidah itu sangat kecil dan ringan. Tapi bisa mengangkatmu ke derajat yang paling tinggi, tapi bisa menjatuhkanmu ke derajat paling rendah.
"Karena ketika sudah kecewa, apapun yang baik akan tetap terlihat buruk."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
...~Happy Reading~...
Byurr!
Tubuh Hilal seketika langsung menegang saat mendengar suara yang sangat jelas dari salah satu bagian tubuh istrinya. Matanya langsung menunduk dan menatap pada lantai yang kini ternyata sudah banjir dengan sebuah cairan berwarna bening bercampur merah segar, tentu saja membuat nya semakin terkejut dan matanya membola dengan sempurna.
“Astagfirullah, Hilal! Ketuban Kirana pecah!” pekik seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Hasna kakak kedua Hilal.
Ketuban? Pecah? Seolah tersadar dengan keadaan istrinya yang semakin tak baik baik saja, membuat Hilal dengan cepat dan tanpa pikir panjang langsung mengangkat tubuh istrinya dan menggendong nya keluar gedung menuju mobil.
Berbeda dengan Hilal dan para keluarga nya yang panik dengan keadaan Kirana. Wanita itu masih terdiam dengan ekspresi wajah datar nya, seolah tidak merasakan apa apa. Hanya sesekali, ia memejamkan mata dan menarik napas nya dengan begitu berat. Namun, meskipun ia hanya diam tanpa ekspresi, air matanya tak bisa berbohong, di balik cadar yang ia kenakan, bibir nya kini sudah mengeluarkan darah segar karena sejak tadi ia terus menggigit bibir nya.
Bohong jika Kirana tidak kesakitan saat merasakan kontraksi yang kini ia rasakan. Namun, entah mengapa, rasa sakit pada perut nya, seolah tak seberapa di banding sakit nya luka batin yang kini menimpa nya. Bayangan perkataan Fanya dan Hilal yang terus terngiang di kepala nya, membuat nya lupa bahwa saat ini ia mengalami pendarahan yang cukup hebat.
“Astagfirullah, Sayang aku mohon sadarlah. Aku mohon, jangan membuat ku takut!” Hilal terus bergumam sambil mengusap wajah istrinya. Meskipun mata Kirana terbuka, tapi Hilal merasa bahwa istrinya kini sedang tak sadarkan diri. Bagaimana tidak, jika sejak tadi tatapan matanya hanya kosong, padahal ketuban nya sudah pecah bahkan sampai mengeluarkan darah.
Begitu pun dengan Hasna yang duduk di kursi depan bersama suaminya, Ali. Ia juga sesekali menoleh ke belakang, sedikit meringis membayangkan betapa sakit nya yang Kirana rasakan saat ini. Memori nya ketika dulu ia hendak melahirkan, merasakan sakit luar biasa membuat nya sedikit bergidik, tapi berbeda dengan Kirana yang sejak tadi hanya diam seolah tak merasakan apapun.
“Istighfar Hilal, bersabarlah. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit,” tutur Hasna berusaha menenangkan adik nya, “Mas lebih cepat.”
Tak butuh waktu lama, kurang dari lima belas menit, kini mobil yang di kendarai Hilal dan yang lain nya sudah tiba di rumah sakit. Hilal dengan cepat menggendong kembali tubuh istrinya dan membawa nya masuk ke dalam menuju ruang penanganan.
“Dok, tolong istri saya!” ucap Hilal terlihat begitu panik setelah meletakkan istrinya di atas brankar rumah sakit.
“Insyaallah kami akan berusaha semaksimal mungkin, silahkan tunggu di luar ya!” ujar salah seorang perawat yang segera menutup pintu setelah menyuruh wali pasien meninggalkan ruangan itu.
‘Aaaaaarrrrrkkkhhhhhhh!”
Baru saja, Hilal hendak mendudukkan dirinya di kursi tunggu, tiba tiba ia mendengar suara teriakan Kirana yang sangat kencang, hingga membuat nya terkejut dan semakin panik, begitu pun dengan Ali dan juga Hasna.
“Astagfirullah, ya Allah lindungi istri hamba, selamatkan dia ya Allah!” gumam Hilal terus berdoa.
“Tenanglah Hilal, Kirana akan baik baik saja,” ujar Hasna mengusap lembut bahu adik nya mencoba untuk menenangkan nya.
Suara raungan dan teriakan dari Kirana seolah menjadi sebuah belati yang begitu tajam menusuk relung hati Hilal. Membuatnya kian terasa cemas dan khawatir karena sejak tadi suara itu terus menggema di dalam ruangan sana.
...~To be continue .......