Dahulu, Yin Xiang hanyalah seonggok sampah tidak berguna dan berasal dari keluarga pengkhianat kekaisaran. Kehadirannya bahkan dianggap sebagai pembawa sial bagi setiap orang. Karenanya, Yin Xiang kerap sekali direndahkan dan disiksa.
Suatu hari, Yin Xiang terjatuh ke jurang neraka tanpa dasar. Di sana, Yin Xiang menemukan serpihan jiwa Dewa Kegelapan dan Yin Xiang ditunjuk sebagai penguasa kegelapan berikutnya. Yin Xiang bangkit dan menjadi orang yang kuat. Yin Xiang bertekad membalas dendam semua orang yang sudah menghinanya serta keluarganya. Selain itu, Yin Xiang harus berhadapan dengan kaum vampir yang mengganggu kehidupan manusia.
Bagaimana kisah Yin Xiang membalaskan dendamnya? Apakah Yin Xiang bisa menghadapi para kaum vampir yang datang mengganggu? Ikuti kisah Yin Xiang dalam cerita 'Kembalinya Sang Pendekar Kegelapan'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virisani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Menjalankan Misi (Menjemput Permaisuri)
Yin Xiang, Wen Tian, Wen Qian dan Lu Ning sudah bersiap pagi buta. Mereka cukup antusias dalam menjalankan misi pertama di luar sekte. Walaupun hanya menjemput permaisuri, bagi mereka itu merupakan suatu kehormatan yang patut diapresiasi.
Pada dasarnya, permaisuri merupakan orang nomor dua yang patut dihormati dan dikagumi di seluruh Kekaisaran Yu. Pemimpin serta panutan para gadis dan wanita di sana. Bukankah ini sudah menjelaskan betapa mulianya misi mereka? Belum tentu ada orang lain yang bisa mengambil tugas seperti mereka di Sekte Halilintar.
Perjalanan menuju Kekaisaran Guo akan mereka tempuh menggunakan kuda. Guna menghemat waktu. Lagipula, jarak antara Kekaisaran Guo dan Kekaisaran Yu tidak terlalu jauh. Mereka akan mengambil jalan pintas melalui sebuah hutan. Agak rawan memang, tapi mereka tidak ambil pusing.
“Hm, berapa lama kira-kira kita akan sampai di Kekaisaran Guo?” tanya Lu Ning memecah kesunyian. Matahari masih belum menampakkan wujudnya saat ini. Penerangan yang mereka dapat hanyalah dari sinar rembulan yang sudah redup.
Wen Qian yang menunggang kuda di samping Lu Ning menjawab, “Kemungkinan sore hari jika kita berkuda santai seperti ini atau siang hari jika kau memacu kuda dengan kecepatan penuh.”
Lu Ning mengangguk. Netra hitamnya melirik gadis di sampingnya. Oh, bukan hanya melirik, tapi, Lu Ning menatap Wen Qian dengan binar di matanya. Seolah tengah memuja sosok dewi tercantik di nirwana. Tanpa diduga, jantung Lu Ning berdebar keras. Layaknya tabuhan genderang yang mengumandangkan perang. Bedanya, saat ini, Lu Ning tengah berperang batin. Pikiran dan hatinya berkecamuk. Mencoba menelaah perasaan asing menyenangkan apa yang menerjang perutnya.
Dua orang di belakang hanya mengendali kuda dengan tatapan jengah dan bosan. Apalagi Wen Tian. Sorot matanya menajam dan alisnya menukik tanda tidak suka. Hawa ancaman menguar dari tubuhnya. Membuat bulu kuduk Lu Ning berdiri tanpa sebab. Sedang Wen Qian, dia hanya anteng menatap jalanan. Tidak memperdulikan tatapan Lu Ning atau hawa tidak enak Wen Tian.
“Pacu kuda kalian lebih cepat. Aku merasakan hawa tidak enak di sini,” ucap Yin Xiang sembari menyentakkan tali kekang kudanya. Gadis itu melesat seperti angin. Meninggalkan ketiga temannya di belakang.
Duo Wen dan Lu Ning yang kaget hampir terjatuh dari kuda. Untungnya mereka bisa sigap mengendalikan diri dan mengejar Yin Xiang yang lebih dahulu pergi. Ketiganya saling susul. Saat sudah berada di belakang Yin Xiang, Wen Tian membuka suaranya, “Yin Xiang, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba memacu kuda secepat itu? Apakah ada musuh?”
Yin Xiang melirik sekilas, “Vampir. Aku merasakan keberadaan vampir. Jumlah mereka cukup banyak sepertinya. Kita akan kesulitan melawan.”
Mendengar jawaban Yin Xiang membuat Duo Wen saling melirik. Sedangkan Lu Ning hanya meneguk ludah kasar. Seumur hidup mereka, tidak pernah sekalipun mereka berpapasan dengan vampir. Bahkan, saat terjadi huru-hara di hari penyeleksian, mereka tidak berada di lokasi untuk menyaksikan para vampir mengacau. Pengecualian bagi Yin Xiang tentunya.
“Kalau begitu, kita harus segera pergi dari kawasan ini. Sebentar lagi kita akan memasuki area hutan. Kita tidak boleh lama-lama di hutan. Perkiraanku, saat matahari masih berada di timur (sekitar pukul 10.00), kita sudah ada di luar area hutan. Matahari sebentar lagi terbit. Ini waktu yang tepat untuk memasuki hutan,” jelas Lu Ning sambil terus memacu kuda mereka.
Untuk menuju Kekaisaran Guo totalnya ada lima wilayah yang harus mereka lalui. Yakni, dua desa di Kekaisaran Yu, kemudian wilayah hutan yang menjadi perbatasan antar kekaisaran, lalu dua desa di Kekaisaran Guo sebelum memasuki area ibu kota dan menuju istana kekaisaran. Saat ini, keempatnya sudah berada di hutan perbatasan. Dengan kecepatan kuda yang maksimal, mereka bisa sampai di Kekaisaran Guo saat siang hari.
Di perjalanan, Lu Ning selalu mencari celah untuk bisa berkomunikasi dengan gadis Wen. Mengabaikan tatapan tajam dan menusuk Wen Tian, Lu Ning sangat gencar mendekati Wen Qian. Respon Wen Qian sendiri sangat positif. Selalu saja menanggapi setiap pertanyaan yang dilontarkan Lu Ning. Yin Xiang sendiri hanya menatap ketiganya dengan tatapan datar khasnya.
“Wen Qian, apa kau tahu apa perbedaan antara dirimu dan matahari?” tanya Lu Ning sambil menatap paras indah Wen Qian.
Wen Qian menggeleng pelan. Tanpa menoleh ke arah Lu Ning, gadis itu menjawab, “Aku tidak tahu. Memang apa bedanya?”
“Matahari menyinari bumi dan isinya. Sedangkan dirimu menyinari hatiku,” Lu Ning membalas dengan suara lembutnya. Sarat akan pujaan terhadap gadis di sampingnya.
Wen Qian sendiri bisa merasakan kalau dua pipinya memanas. Wajahnya seolah terbakar oleh api yang tak kasat mata. Kemungkinan, api cinta Lu Ning bagi Wen Qian mulai menyala.
Wen Tian mengepalkan tangannya kuat. Pegangannya pada tali kekang kuda semakin erat. Dia tidak terima adik perempuannya merona karena rayuan remeh pemuda Lu. Perasaannya sebagai seorang kakak terpanggil. Dia tidak ingin adiknya direbut darinya untuk saat ini.
“Ekhem! Aku tidak tahu kalau mulutmu bisa semanis itu, Lu Ning,” celetuk Wen Tian sambil mengeluarkan hawa membunuhnya yang pekat pada Lu Ning. Tidak akan dia biarkan pemuda Lu itu mendekati adik cantiknya. Sejengkalpun tidak akan. Karenanya, kakak Wen Qian itu mengambil tempat di samping Lu Ning. Meminta adiknya untuk bertukar tempat.
Yin Xiang menghela napas pasrah sambil menggelengkan kepalanya pelan. Gadis es itu agaknya terganggu dengan tingkah konyol mereka. Tatapannya yang malas melirik sekilas Wen Qian yang kini berkuda di sebelahnya. Matahari juga mulai menuju ke arah timur. Bersamaan dengan itu, empat murid sekte halilintar memacu kuda mereka semakin cepat.
Membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk keluar dari hutan. Kini, keempatnya sudah mencapai perbatasan. Gerbang perbatasan antara hutan dan Kekaisaan Guo dijaga oleh dua prajurit.
“Berhenti!” seru salah satu prajurit sembari menghentikan empat orang itu.
“Tunjukkan identitas kalian dan katakan tujuan kalian!” perintahnya lagi.
Empat remaja itu menunjukkan giok identitas mereka sebagai murid dari sekte halilintar, sekaligus mengeluarkan satu gulungan berupa perintah untuk menjemput Permaisuri Kekaisaran Yu.
“Jadi, kalian adalah utusan untuk ikut mendampingi Yang Mulia Permaisuri Yu?”
“Benar, tuan,” jawab Lu Ning sembari tersenyum ramah.
“Baiklah, kalian boleh masuk,” keempat remaja itu akhirnya dipersilakan memasuki wilayah Kekaisaran Guo.
Yin Xiang menggulirkan matanya ke sana-sini. Meneliti berbagai macam hal yang bisa ia tangkap dari Kekaisaran Guo dan membandingkannya dengan Kekaisaran Yu.
Kekaisaran Guo merupakan sebuah kekaisaran yang hampir menyamai Kekaisaran Yu. Namun, dari segi pertahanan, Kekaisaran Yu lebih unggul. Permaisuri Yu berasal dari Kekaisaran Guo. Dia adalah putri satu-satunya dari Raja Guo terdahulu. Kaisar Guo yang sekarang bernama Guo Ping, kakak laki-laki dari Permaisuri Yu.
Tanpa menunggu waktu lama, Yin Xiang, Wen Qian, Wen Tian dan Lu Ning langsung menuju istana kekaisaran. Bertemu langsung dengan permaisuri dan merencanakan perjalanan pulang. Permaisuri Yu memilih untuk menggunakan kereta kuda bersama dengan rombongannya saat berangkat. Sedangkan untuk empat murid sekte halilintar diutus sebagai penjaga tambahan agar perjalanan pulang sang permaisuri lebih terjamin aman.
“Hm, aku tidak sabar untuk pertunjukan besok”
***
saling dukung yukk
mending cetak aja mukamu di koin atau lembaran mata uang
dijamin, semua orang bakal kenal