Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oleh-Oleh
☕🍜Maret telah sampai pada ujung. Ia tengah siap mengetuk pintu April. Di sana, ada banyak sekali kenangan yang tak pernah berhasil ku lupa. Senyumanmu, mata teduhmu, juga wajah sendumu. Kini, bergelantungan di ranting bulu mataku. Meminta dipetik satu per satu, dengan hati sepenuh rindu🍜☕
Cahaya lampu motor merambat masuk halaman kontrakan. Dua gadis yang tengah menikmati makanan ringan itu tahu, yang datang bukan lain adalah Rizky.
Tapi, Rizky tidak sendiri. Di belakangnya ada sosok pria berambut gondrong dan dengan dagu yang diselimuti rambut-rambut halus hingga pinggir pipi. Tersusun rapi dan luwes, menambah pesona pria itu semakin berkharisma.
Berbagai pertanyaan timbul di dalam hati gadis pemilik lesung pipit di pipi sebelah kanan.
"Loh, itu kan Si Gondrong yang waktu itu … mereka saling mengenal? Sejak kapan? Ada hal apa saja yang terlewat selama aku di kampung? Apakah Salwa juga mengenalnya? Bagaimana bisa?"
Maira melihat ke arah Salwa, dan mendapati sahabatnya tampak santai menikmati makanan ringan—oleh-oleh yang Maira bawa dari kampungnya.
"Kenapa tidak ada wajah terkejut sama sekali? Apa itu artinya Salwa memang sudah mengenal pria gondrong dan gesrek itu?"
Maira menelan ludah. Berusaha bersikap sesantai mungkin. Meski entah kenapa kehadiran Si Gondrong membuat dia seketika menjadi gugup.
Dua pria itu mendekat.
Rizky masih cengar-cengir, sepanjang jalan dari Book Store ke kontrakan, Juan terus meledeknya pasca menggosip para author NovelToon.
"Hallo, Mbak Polisi. Tahukah kamu? Pemuda ini tiba-tiba julidin para author NovelToon. Tahu penyebabnya apa? Karena kerja lembur bagai kuda sampai lupa orangtua!" seloroh Juan dengan jurus SKSDnya—sok kenal sok dekat.
Yang sebenarnya Juan mati-matian menahan gemetar karena ada gadis pujaan hatinya.
Salwa menanggapi dengan tertawa pendek.
Rizky memukul lengan Juan, "Iiish! Dasar Si Gondrong bermulut lemes!"
Juan menyeringai, menunjukkan gigi serinya. Dia mencuri-curi pandang gadis pujaan hatinya yang sudah lama tak bersua.
Maira benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa diam dan berusaha bersikap santai. Maira benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Mereka tampak begitu akrab.
Rizky duduk di sebelah Salwa, diikuti oleh Juan.
"Fix! Corona takut sama karyawan toko!" Rizky masih mengomel. Rupanya memang benar, Rizky julid akibat kerja lembur bagai kuda.
"Tabahkan hatimu, Anak Muda!" kata Juan seraya menepuk-nepuk bahu Rizky.
Rizky semakin bersungut-sungut karena merasa diledek oleh Juan. Dia menyingkirkan tangan Juan dari bahunya. Juan menjulurkan lidah. Rizky membalasnya dengan menunjukkan salah satu biji matanya pada Juan. Begitu terus saling balas membalas.
Dua pria itu kini tampak seperti karakter kartun kucing dan tikus yang menjadi tontonan favorite anak-anak di kala libur sekolah. Salwa cengar-cengir memperhatikannya.
Maira tampak mengatupkan bibirnya—sedang berusaha menahan tawa. Namun, lesung pipit senantiasa membentuk di pipi kanannya.
Juan menangkap senyuman yang ditahan oleh gadis si pujaan hati. Membuat hatinya berdesir seketika.
Sedari tadi Maira belum mengeluarkan suara sepatah kata pun. Padahal Juan sangat menanti suara gadis itu menyentuh telinganya.
"Udah! Udah! Nih, makan ini aja, oleh-oleh dari Maira."
Salwa menunjukkan makanan ringan yang tergeletak di atas ubin. Makanan khas dari kabupaten yang berslogan Beriman.
Satu di antaranya ada yang berbentuk menyerupai angka 8. Makanan ini disebut sebagai lanthing. Makanan ringan berbahan dasar singkong. Dahulu makanan ini hanya memiliki dua rasa, yaitu, rasa original dan rasa bawang. Namun, kini sudah banyak macam-macam rasa yang dapat dinikmati.
Satu jenis yang lain, yang kini sedang Salwa nikmati adalah jipang kacang. Makanan ini terbuat dari kacang tanah, gula jawa, dan minyak sayur. Makanan satu ini sudah sangat melegenda, dan menjadi salah satu makanan wajib sebagai buah tangan dari kabupaten berslogan Beriman. Sensasi lengket ketika menikmati makanan khas ini membuat siapa saja berhasil lupa dengan hutang-hutangnya.
Walau Salwa tidak punya hutang, tapi Salwa menyukai makanan ini.
Rizky mengambil makanan yang berbeda dari yang sedang Salwa nikmati. Yang diambil olehnya adalah sale pisang.
Sale pisang khas ini dibuat dari buah pisang yang diiris tipis-tipis, kemudian pisang itu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari dengan maksud mengawetkannya; membuat pisangnya tahan lama.
Kemudian, pisang kering tersebut digoreng dengan tepung terigu, berbeda dengan sale pisang lain yang tanpa terigu.
Rasa sale pisang satu ini gurih dan ada manis-manisnya seperti senyuman gadis bernama Khumaira.
Rizky membagi sale pisang itu pada pria gesrek di sebelahnya.
"Kak Mai banyak sekali oleh-olehnya. Ada tiga jenis, dan masing-masing tiga bungkus. Belum lagi yang sudah dibagikan ke tetangga. Apa tidak repot bawanya?" kata Rizky seraya melahap sale pisang di tangannya.
Seperti biasa, Maira selalu tersenyum setiap kali hendak berbicara.
Maira menggeleng pelan, "Tentu saja tidak, Ky. Yang terpenting kalian menyukainya."
"Aku suka, Mai! Setiap kali kamu pulang kampung, selain menginginkan kamu cepat kembali, aku juga mengharapkan kamu membawa oleh-oleh kesukaanku yang satu ini!" seru Salwa. Dia menyeringai senang seraya menunjukkan jipang kacang yang ada di tangannya.
Beberapa tahun setelah mereka akrab menjadi sahabat, setiap Maira pulang kampung dia selalu membawa tiga jenis oleh-oleh itu untuk sahabatnya. Satu jenis yang tidak boleh Maira lupakan adalah jipang kacang, yang beberapa tahun ini menjadi makanan oleh-oleh favorite sahabatnya—Salwa.
Maira tersenyum senang melihat mereka menikmati oleh-oleh yang dibawanya.
Sejenak mereka tak saling bicara. Yang terdengar hanyalah suara kecapan lidah mereka yang sedang menikmati makanan.
Maira masih merasa sedikit gugup. Sebab, di ujung sana—sebelah Rizky, ada sosok pria lain yang beberapa waktu sebelum ia pulang sempat mengganggu hari-harinya.
Tentu saja Maira tidak lupa siapa nama pria itu. Juan sempat berbuat menjengkelkan pada Maira. Meski sudah meminta maaf, tapi hal itu tidak membuat Maira lantas melupakannya begitu saja.
Hatinya saat ini masih diselimuti rasa penasaran. Dia sudah memutuskan bahwa nanti dia akan menghujani pertanyaan pada Salwa dan Rizky tentang bagaimana pria gondrong itu masuk ke dalam lingkaran persahabatan mereka.
Maira menarik napas pelan. Diam-diam Maira ingin tahu sedang apa pria gondrong itu di sebelah sana.
Dengan hati-hati Maira melirik pria itu. Namun ... SIAL!
Matanya bertemu dengan pemilik mata si sasaran.
Seketika wajahnya memanas. Rona merah mulai menjalar di pipi. Maira segera memalingkan wajahnya. Dia memejamkan mata menahan malu. Dalam hatinya mengutuk diri sendiri.
Sementara di ujung sana—sebelah Rizky, Juan tersenyum penuh kemenangan.
Dalam hati Juan sedang membicarakan sesuatu. Entah apa, hingga membuat raut wajahnya tersenyum culas.
Salwa dan Rizky asik menikmati makanan. Mereka tak sadar dengan perseteruan bisu yang tengah terjadi antara dua orang yang berada di samping kanan dan kirinya.
Tiba-tiba Juan berdiri. Dia menenteng botol berisi air mineral yang tadi diberikan oleh Salwa di tengah-tengah menikmati makanan.
Juan berjalan mendekat ke arah Maira. Salwa dan Rizky sontak melihat Juan yang tiba-tiba berdiri. Pandangan mereka mengikuti ke mana Juan melangkahkan kaki.
Maira menunduk, masih sibuk dengan perasaan malunya. Dia tidak tahu ada seseorang yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Tidak ada badai, tidak ada petir. Tiba-tiba kucuran air mengalir di atas kepala Maira.
Maira lantas mendongak, kaget bukan kepalang. Begitupun dua sahabatnya. Dengan kompak Salwa dan Rizky berdiri. Menatap Juan nanar dan tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan.
Entah setan apa yang merasukinya. Juan malah memasang wajah tak berdosa. Dia tersenyum sok menawan dan sok ketampanan dengan apa yang sudah dilakukannya.
Juan masih berdiri dengan tangan sebelah kiri dimasukkan ke dalam saku celana, sedangkan tangan kanannya menenteng botol kosong yang isinya sudah ditumpahkan habis ke kepala Maira.
Salwa dan Rizky masih tak percaya. Mereka menatap bergantian pada Maira dan Juan. Lalu Mereka melempar pandangan satu sama lain.
Maira masih duduk. Dadanya naik turun menahan amarah. Kini, rona merah yang menjalar di pipinya bukan lagi rona malu. Melainkan rona merah menahan sumpah serapah.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗