Ketika cucu kesayangan pewaris konglomerat terlibat skandal besar yang mengancam masa depannya dan perusahaan!
Skandal yang mengharuskan dia untuk menikah dengan orang yang dipersiapkan kakeknya demi mengubur skandal tersebut.
Pernikahan mereka menjadi rumit karena jaksa terus mengincar perusahaan istrinya untuk membongkar skandalnya, kisah masa lalu dan jaksa yang menyembunyikan kekasih dalam pernikahannya.
Akankah pernikahan mereka runtuh karena skandal tersebut? Atau jaksa yang menyerah karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvina Stephanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Memerah
Victoria ingin melangkah lebih maju. Namun mobil itu meledak dan terbakar di depannya. Membuat Victoria dan Raphael terjatuh.
“Bu, anda tidak apa-apa?” Raphael segera memeriksa Victoria.
Sebuah mobil datang. Dan ternyata adalah Noah. Noah menyaksikan mobil yang sudah terbakar dan ada Victoria bersama asistennya di dekat mobil itu.
Noah pun menghampiri mereka. “Apa yang terjadi?” tanya Noah.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Victoria tanpa menjawab pertanyaan Noah.
“Ada seseorang yang mengakui telah membunuh Dena,” ucap Noah.
Terjadi ledakan susulan.
Victoria bangkit berdiri, menyaksikan api yang perlahan menghanguskan mobil itu.
“Hubungi polisi,” ucap Victoria.
“Baik, bu,”
“Halo, saya menelepon dari dekat pelabuhan XXX. Sebuah mobil meledak dan terbakar. Ada seseorang di dalamnya, kemungkinan dia sudah meninggal,”
Victoria berjalan pergi dari sana dan disusul Raphael.
Noah pun mengikutinya. “Apa kamu menerima telepon dari dia juga?” tanyanya.
“Kamu tidak tahu siapa orangnya? Padahal kamu seorang jaksa,” ucap Victoria.
Victoria tersenyum. “Melihat kobaran api, apa kamu tidak merasa déjà vu? Jangan bilang… kamu juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Victoria kemudian.
“Kali ini bukan ulahmu. Aku tahu,”
“Bersiaplah, aku mungkin akan kamu periksa lagi. Atau bahkan kamu penjarakan?” Victoria masuk ke dalam mobil.
Noah mencegat pintu mobil yang ingin Raphael tutup untuk Victoria.
“Pulanglah ke rumah setelah ini. Jangan pergi kemana pun,” ucap Noah lalu menutup pintu mobil.
Mobil mereka tiba bersamaan di rumah. Noah langsung menyuruh Raphael untuk pulang. Sementara Victoria masuk ke dalam rumah.
Victoria mengeluarkan sebotol wiski yang dia koleksi dan membukanya. Menuang minuman itu ke gelas dan meminumnya di meja makan. Hal itu baru pertama kali dilihat oleh Noah, bahwa Victoria minum alcohol.
“Orang yang mencuri ponsel Dena itu Erick,” ucap Noah yang bergabung dengan Victoria di meja.
“Aku tahu. Dia mengunjungi Xander Group. Aku memberikan kartu namaku saat bertemu dengannya, menyiratkan dia bisa meneleponku jika ada yang mau dia katakan. Lalu dia menelponku,” balas Victoria.
Victoria memutar rekaman pembicaraannya dengan Erick saat di telepon.
“Bagaimana kalau saya yang membunuh Dena?”
“Apa?”
“Saat tiba di sana, aku melihat dia duduk di kursi pengemudi. Saat aku berjalan ke arahnya, dia tiba-tiba pingsan ke samping,”
“Dia bunuh diri. Karena dia merasa bersalah telah membunuh Dena?”
“Entahlah,”
Victoria kembali memutar rekaman.
“Kenapa? Apa ucapanku barusan menarik perhatianmu sekarang? Saya tahu. Anda juga bertanggung jawab atas kematiannya,”
“Apa yang anda bicarakan sekarang?”
“Temui saya di 200 meter dari pelabuhan XXX sekarang,”
Victoria menghentikan rekaman.
“Apa masuk akal dia mengatakan ini saat merencanakan bunuh dirinya?” tanya Victoria.
“Dia bilang kamu juga bertanggung jawab. Jadi, mungkin dia berusaha sengaja membahayakanmu juga. Ledakan mobil itu, kamu juga bisa terluka,” ucap Noah.
“Bagaimana kalau dia tidak bunuh diri? Sama seperti Dena. Bagaimana kalau itu pembunuhan yang disamarkan sebagai bunuh diri?” tanya Victoria.
Noah terdiam. “Bagaimana denganmu? Kenapa kamu ada di sana?” tanya Victoria.
“Aku mendapat telepon yang sama,” jawab Noah yang memperlihatkan riwayat panggilannya.
Victoria lanjut menuang wiskinya dan meminumnya.
Dia memandangi wajah Victoria yang memerah karena alcohol. Mengingatkan dia pada kejadian di masa lalunya.
FLASHBACK ON.
Saat bola basket keluar dari lapangan dan ke arah Victoria, Noah segera melindungi Victoria seperti pahlawan dan membiarkan punggungnya mendapat hantaman dari bola.
Mata Victoria dan Noah bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
Jantung Victoria berdetak lebih kencang dan ritmenya lebih cepat dari biasanya.
“Kamu tidak apa-apa, adik kecil?” tanya Noah. Saat itu dia melihat wajah Victoria yang memerah dan tampak menggemaskan di matanya.
Jantungnya pun refleks berdetak lebih kencang begitu melihat wajah Victoria. Dia hampir tidak bisa menahannya. Jantungnya seakan ingin meledak.
Tidak pernah dia merasakan ini sebelumnya.
Perasaan apa ini? Kenapa rasanya membuatku sangat gugup… batin Noah.
Noah mengusap kepalanya dan melihat tangannya basah karena keringat. Noah kembali mengusap kepalanya dan bertanya-tanya kenapa dia bisa berkeringat. Padahal bukan dia yang sedang bermain basket.
FLASHBACK OFF.
“Kamu harus berhenti,” Noah mengambil gelas yang sedang digenggam Victoria.
“Bukankah besok kamu harus bekerja?” tanya Noah.
“Berikan padaku,” Victoria berusaha merebut gelasnya dari tangan Noah.
Noah semakin menjauhkan gelasnya agar Victoria semakin sulit menggapainya.
Victoria mau tidak mau berdiri, beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil gelas itu. Sedangkan Noah terus menjauhkan gelasnya ke belakang. Saat Victoria berusaha menggapai gelasnya, kaki Victoria tersandung kaki kursi yang Noah duduki hingga membuatnya terjatuh menimpa Noah yang sedang duduk.
Wajah mereka sangat berdekatan. Mata mereka saling bertemu. Keduanya pun merasa déjà vu. Mereka pernah mengalami hal tersebut di masa lalu dengan keadaan yang persis sama.
Wajah Victoria yang memerah, tidak diketahui penyebab pastinya, antara pengaruh alkohol, atau mungkin karena jarak mereka yang begitu dekat. Noah menjadi gugup, keringat mulai bermunculan tipis-tipis di sekitar pelipisnya. Jantung keduanya berdetak kencang dan ritmenya menjadi lebih cepat. Dan kembali merasakan perasaan aneh yang mereka rasakan 11 tahun yang lalu.
“Ini bukan salahku,” ucap Noah seakan memberi peringatan sebelum dia menarik wajah Victoria dan melabuhkan ciuman di bibir istrinya itu.
Noah memberi lumaatan dan hisapan lembut dan merasakan yang rasa wiskinya sangat melekat pada bibir Victoria. Tangannya yang memegang gelas wiski perlahan meletakkan gelas itu di atas meja dan menarik pinggang Victoria.
Ciuman mereka semakin dalam ketika Victoria membalas ciuman Noah. Noah mengangkat tubuh Victoria dan berjalan membawanya ke kamarnya. Kamar yang awalnya menjadi kamar mereka sebelum Victoria memilih untuk tidur di kamar mereka.
Noah membaringkan Victoria di atas ranjang dengan penuh kehati-hatian sambil menciumnya lembut.
...****************...
Di samping Victoria yang sudah terlelap, Noah duduk dan tidak bisa berhenti memandangi wajah istrinya.
Kalau memang bunuh diri, dia mungkin meledakkan mobilnya sendiri untuk membahayakan Victoria. Namun, kalau itu pembunuhan yang disamarkan sebagai bunuh diri, siapa pelakunya? Kenapa? Kenapa sengaja membahayakan Victoria? Noah berbicara di dalam hati.
KEESOKAN PAGINYA, DI KEDIAMAN THOMAS XANDER.
“Mobil Pimpinan Victoria dan Pak Noah yang menuju pelabuhan terekam CCTV di dekat sana. Setelah ledakan itu, mobil mereka juga terlihat pergi,” ucap Saul kepada Thomas yang sedang menyantap sarapannya.
“Mungkin saja mereka mengambil jalan yang sama. Itu bisa saja kebetulan,” balas Thomas.
“Benar, saya merasa aneh kalau mereka ada di sana saat dia bunuh diri. Namun dari informasi yang saya dapat, orang terakhir yang bicara dengan Erick di telepon adalah Pimpinan Victoria,”
“Siapa yang menelepon siapa?”
“Erick yang menelepon. Mereka bisa saja mengatur pertemuan di sekitar pelabuhan. Saya yakin Pimpinan Victoria tahu sesuatu saat dia menuju ke sana. Ada kemungkinan Pimpinan Victoria akan dimintai keterangan,”
“Dia pasti akan bisa mengatasinya,” ucap Thomas.
Victoria tiba di kediaman kakeknya. Dia menghampiri kakeknya di meja makan. Saul dan para pelayan yang ada di sekitar meja makan pun langsung pergi meninggalkan Victoria bicara dengan kakeknya.
“Kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanya Thomas.
“Aku baik-baik saja,” jawab Victoria.
Bersambung...