Sejak bangku SMA Lili dan Anjas bersama, berangan-angan menikah dan memiliki pernikahan impian, memiliki banyak anak dan hidup menua bersama.
Rencana itu begitu indah, hingga sebuah malapetaka menguji cinta mereka.
"Gugurkan, dia bukan anakku," ucap Anjas.
Lili termenung, menyentuh perutnya yang berdenyut nadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DW Bab 35 - Rasa Yang Mengganjal Di Masa Lalu
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit akhirnya Anjas telah tiba di rumah dia, ketika baru pertama kali memasuki halaman rumahnya sudah dia lihat dengan jelas mobil milik Robby yang terparkir di halaman rumah.
Anjas juga melihat bahwa Robby berdiri di samping mobilnya itu dengan kedua tangan yang melenggang di pinggang, tatapan pria itu pun begitu tajam lurus menatap ke arah kedatangannya.
Tanpa perlu dijelaskan Anjas sudah tahu kenapa pria itu terlihat begitu marah padanya, karena tadi pagi Putra telah melaporkan kepada dia tentang pertemuan Putra dengan Robby di pengadilan.
Jelas aja saat ini Robby sudah mengetahui tentang perceraiannya dengan Lili.
Dengan hati-hati, Anjas menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil milik Robby. Dan saat itu juga Robby pun mulai melangkah mendekati pintu kemudi sang sahabat.
Anjas segera keluar dan belum sempat dia menutup pintu mobilnya kembali, namun tubuhnya sudah lebih dulu ditarik oleh Robby dan dia mendapatkan sebuah pukulan yang sangat keras di wajahnya.
Bugh!
Sampai Anjas jatuh tersungkur.
"Shhiit! kurang ajjar kamu Rob!" geram Anjas, tanpa merintih kesakitan dia langsung bangkit berdiri. Kemarin mungkin dia memang tidak bisa membalas pukulan papa Irwan, namun sekarang dia tidak akan segan untuk balas memukul Robby.
Dan dengan gerakan yang sangat cepat akhirnya pukulan Robby itu pun mendapatkan balasan yang setimpal.
Bugh! Anjas memukul sama kuatnya, hingga Robby terhuyung dan jatuh bersandar di mobil.
"Kenapa? kenapa marah padaku? hah! karena gugatan cerai itu?" tanya Anjas, mempertegas dugaannya.
"Kurang ajjar, berani-beraninya kamu meninggalkan Lili dalam keadaan seperti itu! pengecut!!" balas Robby, dia kembali menyerang Anjas sampai keduanya berakhir saling memukul satu sama.
Bahkan memukul dengan sangat kuat, sampai menimbulkan luka dan lebam yang begitu jelas. Terkadang Anjas yang tersungkur, lalu kemudian Robby pun jatuh sampai tak berdaya.
Sudut bibir mereka telah sama-sama mengeluarkan darrah segar.
"Kamu lah yang pengecut, aku tau selama ini kamu mencintai Lili kan? HAH!!" bentak Anjas, rasa yang mengganjal di masa lalu akhirnya kini dia utarakan semua, sekaligus menjadikan Robby sebagai pelampiasan amarah atas takdir yang saat ini sedang membelenggu.
Anjas tau Robby juga mencintai Lili, namun Robby seolah berkorban dan mengalah padanya. Hingga tetap memendam rasa itu dan tidak mengutarakannya kepada sang istri.
Sikap Robby yang seperti itu justru membuat Anjas muak, seolah Lili pun menaruh hati pada Robby namun terhalang karena sudah terlanjur memulai hubungan dengannya.
Anjas benci pemikiran yang seperti itu, padahal dia yakin cinta Lili hanyalah untuknya. Meski pun Robby mengutarakan perasaannya Lili akan tetap memilih dia.
"Bagus lah kalau kamu tau jika Aku mencintai Lili, jadi cepat cerai kan Lili agar aku bisa menikahinya." balas Robby, dan kemudian di jawab oleh pukulan keras dari Anjas.
BUGH!!
"Kurang ajjar," geram Anjas, sampai detik ini cintanya pada Lili masih lah tak berkurang. Satu-satunya yang membuat dia tidak tahan adalah anak itu.
Bugh! keduanya terus saling memukul sampai babak belur, terlebih tak ada pula orang yang melerai perkelahian mereka.
Sampai sama-sama habis tenaga barulah perkelahian itu sedikit terjeda. Baik Anjas ataupun Robby kini telah terkapar di halaman rumah itu. Sama-sama melihat langit yang masih nampak cerah, meski sore nyaris menjelang.
"Aku akan benar-benar menikahi Lili andai kamu menceraikannya," ucap Robby diantara sisa-sisa tenaga.
"Sekarang aku tidak akan mundur," tambah Robby lagi.
Sementara Anjas hanya mampu mengepalkan kedua tangannya kuat.
rasa sayangmu pada anakmu itu wajar walaupun hasil pelecehan.
dan rasa sakit hati anjas juga wajar karna hargadiri laki itu besar
yg salah kalian tidak bicarakan tuntas dr awal sebelum menikah...
tidak ada anak haram dan rasa sayang pada anak itu alami bagi setiap ibu terlepas itu hasil dr hal bejat.