NovelToon NovelToon
My Enemy Is My Love

My Enemy Is My Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: seizy kurniawan

Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.

Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.

Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.

Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.

Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?

Simak di MEIML

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahan Yang Nikmat

Kini Elata dan Marcell sedang duduk di sebuah cafe. Perasaan Elata menjadi tak enak. Entah apa yang akan terjadi. Tapi sebuah pirasat buruk menghantui pikiran dan hatinya.

"Batin gue gak enak banget" gumamnya dalam hati. Wajahnya mulai tak enak di lihat. Matanya enggan menatap Marcell.

Marcell hanya diam memperhatikan Elata.

Pelayan perempuan datang membawa buku menu di tangannya. Memberikan buku itu pada pelanggan yang akan memesannya.

"Loe, mau pesan apa, El?" tanya Marcell. Senyumnya sungguh menggoda iman. Sangat manis sekali.

"Gue, jus alpukat saja. Cel" jawabnya Elata canggung. Tangannya yang ada di bawah meja di katupkan dan di remas. Entah kenapa Elata menjadi sangat takut.

"Jus alpukatnya dua ya, Mbak!"

Pelayan itu mengangguk kemudian berlalu.

"Gue, ke toilet bentar, ya!" ucap Marcell pada Elata. Elatapun mengangguk dan tersenyum samar.

****

Saat Gama masih berlatih dengan kawan-kawannya. Jantung Gama tiba-tiba berdebar kencang. Sama seperti saat Elata yang akan bertabrakan dengan sebuah truk.

"Loe, kenapa Gam?" tanya Askan saat melihat Gama menyentuh dadanya.

Gama hanya menggeleng.

Abram dan yang lainnya seketika berhenti dari permainannya. Mendatangi Gama yang tiba-tiba break.

"Loe, sakit Gam?" tanya Abram

Gamapun kembali menggeleng.

"Latihan hari ini udahan dulu ya!" sahut Gama pada teman-teman futsal nya. Merekapun mengiyakan dan berlalu dari lapangan satu persatu setelah pamit pada Gama. Askan dan Andrapun ikut berlalu setelah berpamitan.

Sementara Cindy dan Flora yang tadi menemani pacar mereka latihan sudah pulang duluan, karna alasan bosan. Maklum lah ya, namanya cewe. Hal yang paling membosankan adalah menunggu.

"Loe, napa sih Gam?" tanya Abram saat mereka kini hanya tinggal ber dua.

"Perasaan gue tiba-tiba gak enak" ucapnya lirih. Matanya bergerak tak menentu.

"Gak enak gimana maksud, loe? Loe sakit?" Abram kini menampakan wajah yang khawatir pada karibnya.

Gama hanya menggeleng.

****

"El, kenapa belum di minum?" seringai di wajah marcell sungguh saat ini sangat tidak enak di pandang. Elata hanya tersenyum. Kemudian menyedot sedikit demi sedikit jusnya.

Mata Marcell menatap Elata tajam. Kemudian ia juga menyedot minumannya. Tapi pandangan itu tetap mengarah ke mata Elata.

"Kenapa, El?" tanya Marcell saat Elata mulai mengibas-ngibaskan tangannya. Merasa gerah dan sangat panas sekali di sekujur tubuhnya. Tapi Marcell masih santai menatap Elata dengan penuh arti.

"Gak tau nih. Tiba-tiba kepala gue pusing. Trus juga tubuh gue panas banget." badan Elata sudah merasa tak enak. Ia terus mengibas-ngibaskan tangannya. Padahal Elata dan Marcell duduk di dekat jendela. Mana mungkin Elata merasa sangat panas?

"Coba loe minum lagi" Marcell memeberikan minuman Elata kembali. Elata menyedotnya sampai habis.

Seyum licik yang Marcell perlihatkan di wajahnya. Tapi Elata tak menyadari itu.

"Kepala gue pusing banget, Cell" Elata memijat ke dua sisi keningnya.

"Kalau gitu gue anter loe pulang, ya?" Marcell beranjak mendekati Elata. Ia membantu memapah tubuh Elata untuk berjalan.

Marcell memasukan Elata ke dalam mobil yang ada di kursi sebelah kemudi. Memasang seatbelt pada dada Elata. Marcell sedikit berlari memutari mobil menuju arah kemudi.

Di dalam mobil Elata meronta seperti menahan sesuatu. Tapi Marcell hanya santai saja. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu pada Elata. Tapi apa yang akan di lakukan Marcell? Seringai bengis tak lepas dari wajahnya.

****

Sementara di tempat lain Gama di antar oleh Abram dengan mobilnya. Motornya ia titipkan pada Pak Mamat security sekolah.

"Gam, bener loe gak apa? Perlu ke Rumah Sakit gak?" tanya Abram saat matanya melihat Gama terus memegang dadanya yang sesak.

Seperti ada magnet dalam hati Gama pada Elata. Gama selalu merasakan sesak jika mengingat Elata. Tapi bukan mengingat seperti biasannya.

"Gue punya feeleng gak enak pada Elata"

Abram menoleh pada Gama. Ia tak mengerti apa maksud dari ucapan Gama.

"Maksud loe, Elata dalam bahaya?"

Gama mengangguk.

"Gue pernah ngerasa sesak kaya gini waktu mobil Elata akan bertabrakan dengan truk"

Ya, Elata pernah cerita pada Gama sewaktu Elata pulang larut dulu.

****

Marcell membawa Elata ke sebuah hotel. Elata tak sadar akan hal itu. Karna kepalanya yang sangat pusing dan tubuhnya merasa panas yang luar biasa.

Marcell membaringkan Elata di kasur yang berukuran king size. Marcell menyelimuti Elata. Tetapi gadis itu menyibakkan selimut yang menutup tubuhnya. Elata menggeliat tak karuan. Matanya hanya terpejam.

"El..?" Marcell mencoba memanggil Elata. Tapi sepertinya gadis itu sudah tidak sadar akan suara di sekitarnya.

Wajah Elata memerah. Kepalanya ia gelengkan ke kanan dan ke kiri.

"El, gue akan lakuin apapun asal loe jadi milik gue. Gak peduli pada akhirnya loe akan membenci gue. Gue sadar, gue bukan hanya terobsesi sama, loe. Tetapi gue juga ingin memiliki, loe" Marcell membelai pipi kiri Elata dengan lembut. Elata hanya mampu menggeliat.

Marcell mendekatkan wajahnya perlahan ke wajah Elata. Hanya berjarak satu jengkal saja. Marcell tersenyum devil saat matanya mendapati bibir Elata yang tipis dan merah itu.

Hanya butuh waktu persekian detik Marcell bisa menikmati bibir Elata. Di sentuh pipi Elata oleh tangan nakal Marcell. Di belai rambut Elata yang hitam pekat. Di cium bau rambut Elata yang wangi. Marcell sudah tidak tahan ingin mendapatkan Elata.

Mercell membuka jaket yang ia kenakan di tubuh atletisnya. Kemudian pemuda itu duduk di sisi ranjang samping Elata. Kembali ia dekatkan wajahnya pada wajah Elata.

Tubuh Elata terus menggeliat, kini semakin hebat. Dan rambut Elata sudah berantakkan karna ia terus menjambaknya. Sungguh saat ini Elata seperti menahan sesuatu di dalam dirinya.

Saat bibir Marcell akan menempel pada bibir Elata. Suara ketukan pintu dari luar mengganggu aksinya.

"Shitt.. Siapa sih? Mengganggu saja!" Marcell berdecak kesal. Ingin sekali ia menimpuk orang yang sudah mengganggunya.

Untuk beberapa saat Marcell tak menggubrisnya. Ia sibuk melihati bibir tipis Elata. Tapi suara ketukan pintu itu semakin keras. Mengganggu saja! Pikirnya.

Dengan terpaksa Marcell beranjak dan membuka pintu kamar hotel. Dan betapa terkejutnya Marcell saat tangannya membuka pintu dengan lebar. Seseorang berdiri dengan wajah yang merah menahan amarah. Tanpa ba bi bu lagi seseorang itu nyelonong masuk tanpa permisi.

"Elata" Betapa terkejutnya Gama yang melihat Elata terbaring di kasur dengan tubuh yang terus menggeliat.

"Gue, gak lakuin apapun pada Elata. Gue..." belum Marcell melanjutkan kalimatnya, Gama sudah lebih dulu memotongnya.

"Loe, tinggalin kamar ini. Biar Elata gue yang urus" Gama melayangkan tatapan tajam pada Marcell. Tangannya terkepal. Ingin rasanya Gama melayangkan kepalan itu pada wajah Marcell. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menunjukkan kemarahannya.

Saat ini yang terpenting di kepala Gama adalah Elata!

Marcell tak bisa berkata lagi. Ia mengambil jaketnya kemudian pergi meninggalkan Elata dan Gama di kamar hotel, berdua saja!

TBC

**kira-kira apa yang akan di lakukan Gama dan Elata di kamar hotel ya??

Tinggalkan jempol kalian di bab ini..

follow ig aku *seizyll_koerniawan***

1
Indah Sari
kmmmnuygrfeeĺllllllhkrdfxc, hcdnnikno p frsvtr
I’m Aylaa
Lumayan untuk bab pertama..
Suci Narala Lendra
aku suka cerita ini, selain alurnya mengasyikan partnya banyak2 lagi, trima kasih kk thor👍
Suci Narala Lendra: Sma2 kk thor, thank ceritanya👍👍👍
Good luck
total 3 replies
PENGEPUL MAMAH MUDA
gamalama 🤣🤣🤣
dewi deshita
ih nyebelin ngeselin banget, airmata aku udah se ember kirain elata meninggal huhuhu
dewi deshita
mssa meninggal sih jadi males deh
Angun Elok
huhfhhttt kirain bneran ninggl tor
Angun Elok
ini beneran mati elatax ... g suka ... 😭😭😭😭😭😭
Angun Elok
qg gama gitu ... beda dari suami yg laen... biasax law usg kan antusias
Angun Elok
hamil paling elata .. dr nya aja yg bego
Angun Elok
cintax awet semua ... dri SMA smpe pelaminan semua.. indah ya g px mntan
Angun Elok
pinjm kt" x diln 2
Angun Elok
wah kirain marsel dah tewas tor
Angun Elok
bener kata elata .. g mo jd milia klo akhirx di tingglin
Morta Pangaribuan
wom keren
Ichy
nggak asyik de masa elata meninggalkan 😭
faradilla aulia azzahra
thor jngan bnyak² dong ngsih bawang nya kan perih😭😭😭😭😭
Karina Hilya Ajibah
jangan di gantung dong thor😫😫
Agus Sohe
ggpppp
Morta Pangaribuan
baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!