Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 35
Acara hampir berakhir, kedua pasutri itu sejak pagi sampai malam belum juga beristirahat. Mereka terus menggelar acara yang para undangan tak pernah habis dan terus bertambah berdatangan.
Gadis cantik yang saat ini menggunakan pakaian berwarna biru muda lengkap dengan aksesoris di kepalanya secara perlahan merasakan ingin tumbang. Namun ia terus bertahan di saat juga posisi kakinya yang entah mengapa bagian tumitnya terasa perih akibat sepatu yang terus menggesek kulitnya.
Saat ini ia benar-benar tak tahan dengan kakinya yang semakin sakit saat pembawa acara memerintahkan untuknya berdiri. 'Bertahanlah Laura!' gadis itu meremas-remas sisi pakaiannya.
Renggra sedari tadi memang sudah curiga dengan pergerakan gadisnya yang begitu lambat berdiri dan bergerak. Ia pun mengambil salah satu tangan gadisnya untuk menuntun kembali ke kamar karena acara telah di tutup dengan musik instrumen romantis.
Namun gadis itu berusaha berjalan sampai ia berhenti sebentar. Kakinya begitu nyeri sesaat sepatunya bergesekan dengan kulitnya.
Alis pria di sampingnya mendalam. "Kenapa?" ia begitu cemas melihat perubahan wajah gadisnya.
Laura ragu, namun ia harus berkata. Tidak mungkin ia memaksakan lagi. "I-itu Mas, kaki aku sakit kalau berjalan. Kayak perih gitu," Laura menunjuk kakinya.
Renggra langsung memeriksa kaki gadisnya sembari berjongkok. Nyatanya ia melihat kaki gadisnya mengeluarkan cairan berwarna merah segar. Ia begitu panik. Wanitanya baru berbicara sekarang. Wajar saja ia merasakan keanehan pada wajah istrinya itu. "Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Gadis itu mengigit bibirnya. Ia tak mau di bilang mudah mengeluh pada pria di hadapannya. Lama menunggu jawaban gadisnya yang terus menerus mengigit bibirnya, Renggra langsung saja menggendong istrinya itu.
Kedua mata gadisnya terlihat sekali terperanjat. Bukan hanya gadis itu, semua orang yang berada di sana terpaku akan keromantisan yang di lakukan pria dingin itu.
Renggra secara perlahan membawa gadisnya. "Mas, turunkan aku," Laura begitu malu di perhatikan semua orang.
"Diam! Kau berjalan aja nggak bisa! Sekarang lebih baik Kau pegangan." bentak Renggra yang memang ini adalah kesempatan bagus. Ia ingin merasakan pelukan gadisnya itu.
Laura tentu terdiam seribu bahasa. Ia memang tak mungkin bisa berjalan menggunakan sepatu. Namun gadis itu bisa berjalan jika sepatunya di lepas. Dasar pria itu saja yang sepertinya ingin pamer kemesraan. Gadis itu menjadi terpaksa melingkari kedua tangannya ke leher pria yang juga melihat sekilas ke arahnya.
Detak jantung gadis itu seakan berdetak begitu intens kembali. Sejak bersama pria itu, ia tak bisa mengontrol jantungnya saat ini.
Di sisi Nova dan Angga. Kedua pria itu tak berhenti-henti menarik bibir masing-masing ke atas. Sahabat mereka yang kesehariannya bergaya datar dan dingin itu ternyata bisa berperilaku lainnya juga.
"Begitulah cinta kalau sudah bersemayam di hati pria. Yang beku aja bisa jadi encer," ucap Nova sembari memegang dadanya.
"Sepertinya begitu," balas Angga yang menjadi penasaran. Bagaimana rasanya mempunyai cinta begitu besar seperti sahabatnya itu.
Sedangkan di posisi Ani dan Amina, mereka berdua saling bergenggaman tangan. "Tak akan lama lagi kita akan memiliki cucu Buk," ucap Ani yang tak sabaran mengasuh seorang anak kecil lagi.
Kata anak asuh menjadi buah pikiran wanita paruh baya yang mengingat kedua anak asuhnya lagi. Tinggal dua itu yang masih sibuk dalam dunianya sendiri. Ani menjadi pusing kembali memikirkan kedua anak asuhnya.
"Semoga aja Buk," balas Amina tersenyum manis sembari masih melihat kedua pasutri yang secara perlahan keluar dari ruangan.