Usia Alexius Calandra memang sudah tidak lagi muda. Dan dia dijodohkan dengan seorang gadis yang pemarah dan arogan. Bagaimana cara dia menghadapi gadis muda itu yang punya sikap sangat menjengkelkan menurutnya.
Beberapa kali Sarah dan Alex berusaha menggagalkan perjodohan tetapi selalu gagal karena Ibu Alex sangat pintar dan berpendirian teguh.
Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka menikah agar tidak dicoret dari daftar warisan keluarga.
Selalu ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga Alex dan Sarah di setiap harinya, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu justru semakin mendekatkan hubungan mereka.
Sebuah rahasia terungkap saat Alex mulai mencintai Sarah begitupun sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba mereka harus bercerai karena anak kandung Adolf Chavali yang hilang telah kembali dan mengambil semua haknya yang dipinjam Sarah selama ini, termasuk perjodohannya dengan Alex.
Bagaimana sikap Alex selanjutnya? Dan akankah kedua orang tua Sarah tetap menyayangi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sebuah apartemen kelas menengah di tengah kota menjadi pilihan Alex untuk tinggal sementara bersama Sarah. Dia tidak kembali ke rumah lama karena satu dan banyak alasan lainnya.
Setidaknya apartemen tersebut punya keamanan yang cukup ketat dan tidak menerima tamu sembarangan. Hanya orang-orang yang punya identitas lengkap yang bisa berkunjung.
"Maaf, aku tidak bisa memberi tempat yang lebih baik untukmu," ucap Alex, sambil membantu merapikan perabotan yang sudah tersedia di ruangan dengan ukuran cukup besar tersebut.
Semua fasilitas sudah tersedia dan lengkap. Kamar tidur, kamar mandi, dapur dan ruang keluarga memiliki ukuran yang cukup luas untuk mereka berdua.
"Ini sudah lebih dari cukup," jawab Sarah, wanita muda itu menampilkan senyum yang disukai Alex. Pria itu cukup mengagumi sikap istrinya yang begitu tabah menghadapi cobaan.
"Bagaimana dengan Valerie dan Hunter?" tanyanya pada sang suami.
"Mereka itu suka berpetualang, kemungkinan mereka tidak akan menetap di satu tempat," jawab Alex panjang lebar.
"Begitu, ya? Pasti itu sangat menyenangkan!" ujar Sarah, kedua tangannya menangkup serta wajah yang berseri.
"Kau suka pengalaman seperti itu?" Alex menarik pinggang Sarah untuk merapat ke tubuhnya, membuat sang istri terkejut.
"A- … tidak juga, hanya saja itu- …." Ucapan Sarah terhenti saat menyadari tatapan Alex yang membuat wajahnya semakin merona.
Alex menyelipkan rambut panjang Sarah ke belakang telinganya, tanpa menyadari kulit tubuh wanita itu sudah meremang dibuatnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Sarah mencoba menghentikan tatapan seduktif Alex walaupun kegugupannya tidak bisa disembunyikan.
"Biarkan aku melihat dan mengingat wajahmu!" jawab Alex, selain menatap sekarang satu tangannya mengusap pipi putih Sarah.
Tangan kiri Alex merangkul pinggang Sarah dan terus merapatkan tubuh keduanya. Sarah merasa malu karena perlakuan suaminya itu.
"Kurasa aku harus merapikan barang-barang," ucap Sarah sambil menolak halus rangkulan Alex, tetapi gerakannya tertahan karena Alex mencegahnya.
"Aku tahu kau terus menghindariku, apakah kau tidak percaya padaku?!" Sarah terkejut melihat kekecewaan pada raut wajah Alex.
"Tidak, bukan begitu! Aku hanya tidak tahu, semua terasa salah bagiku," kilah Sarah sambil mengusap wajah sang suami.
Sarah mungkin bahagia bisa bertemu kembali dengan pria yang sangat dicintainya, tetapi beban pikiran lain selalu bergelayut dan mengganggu pikirannya.
"Aku tahu kau selalu bimbang karena statusmu sebagai mantan keluarga Chavali, tapi tidak bisakah kau memikirkan perasaanku juga?!" tuntut Alex pada Sarah.
Sarah segera memeluk Alex sekedar mengobati kekecewaan pria itu karena sikapnya. "Maafkan aku," ucapnya seraya mengecup bahu sang suami beberapa kali. "Aku begitu cemas, aku takut tidak bisa menghadapi ini," lanjutnya.
"Aku akan selalu bersamamu, melangkahlah bersamaku, hm?!" Alex merangkul punggung Sarah dengan kedua tangannya begitu erat seolah tidak ingin melepaskannya.
"Aku tidak bisa melewati ini sendiri, kau harus mendukungku karena kau adalah penyemangat hidupku," lanjut Alex.
Alex merasakan anggukan Sarah di bahunya. Untuk beberapa lama mereka betah dengan posisi seperti itu. Alex hanya memejamkan mata, menikmati hangatnya tubuh Sarah dalam pelukannya.
…
Sementara di tempat lain …
Valerie dan Hunter sudah kembali ke apartemen sederhana dimana Hunter tinggal, walaupun sebenarnya Hunter lebih sering berkeliaran dari pada tinggal di tempat tersebut.
Sebuah tempat yang tidak begitu rapi juga tidak begitu berantakan. Valerie juga melihat beberapa sepeda motor sport milik Hunter di pelataran parkir bawah tanah beserta kendaraan lain milik orang-orang yang merupakan tetangga Hunter.
"Kau ingin jalan-jalan?" tanya Hunter, tidak lupa kecupan ringan mendarat di kening Valerie.
Wanita muda itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Kau harus beristirahat! Untuk memulihkan lukamu," jawab Valerie sambil mengalungkan tangan di leher pria muda tersebut.
"Besok kita akan berkunjung ke tempat Alex, untuk membicarakan rencana selanjutnya," ucap Hunter yang dijawab anggukan oleh Valerie.
"Dan … kau bisa menginap di sini!" goda Hunter sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ah, apa ada jaminan kau tidak menyerangku?" protes Valerie.
"Memangnya kau tidak mau?" tanya Hunter.
"Tidak! Kau itu pria petualang, aku tidak percaya padamu!" kilah Valerie.
"Aa, itu menyakiti perasaanku," rajuk Hunter dengan wajah yang pura-pura sedih.
"Sudahlah! Pinjamkan aku pakaian, karena bajuku sudah kotor," ucap Valerie mengakhiri candaan keduanya.
"Kau ambil saja di lemariku, oke? Jangan sungkan! Anggap saja ini adalah rumahmu!" ucap Hunter yang ditanggapi tawa oleh Valerie.
"Formal sekali, tanpa disuruh aku pasti seperti itu," jawab Valerie sambil berlalu ke kamar yang dimaksud.
"Jangan buka laci paling bawah!!" teriak Hunter.
"Kenapa? Apa kau mengoleksi pakaian wanita?" timpal Valerie dengan suara yang terdengar kecil karena wanita itu sudah berada di dalam kamar.
Hunter yang belum pulih segera mendaratkan bokong di sofa yang berhadapan dengan meja televisi. Selang beberapa menit Valerie kembali keluar dan terlihat marah.
"Kau memang sialan, Hunter!!" ucap Valerie setengah berteriak sambil melempar lembaran foto yang cukup banyak ke arah Hunter.
"Sudah kukatakan untuk tidak membukanya, kau keras kepala!" ucap Hunter sambil menghela napas, detik berikutnya Valerie menerjangnya dengan sebuah pelukan sampai Hunter terlentang di atas sofa dengan tubuh Valerie di atasnya.
Wanita yang memakai kaos putih kebesaran itu hanya menangis sambil menenggelamkan wajah di dada Hunter.
"Tidak ada alasan bagimu untuk lari dariku, Valerie!!" Hunter mengusap rambut Valerie yang tidak begitu panjang. Mereka tetap berpelukan tanpa mengubah posisi.
Beberapa foto jatuh terbalik dan sebagian lagi memperlihatkan gambar-gambar Valerie beberapa tahun silam, Hunter menyimpan semua memori tentang Valerie dengan begitu baik.
Cinta mereka memang tidak pernah terwujud karena terhalang intrik dan permusuhan serta tuntutan profesi yang membuat keduanya menjadi rival.
Seharusnya mereka saling membunuh dan mengalahkan, tetapi mereka justru malah saling mencinta dan membuat keduanya kesulitan mengungkap perasaan.
…
Sierra mengetuk-etukan jari telunjuk tangan kanan di atas meja, sementara jemari kiri menopang dagu, sangat terlihat dia sedang berpikir keras, entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Permisi, Nona!" Seorang pria muda mendatangi Sierra, pria itu membungkuk pada nona muda kepercayaan sang bos.
"Hm, iya. Ada apa?" tanya Sierra.
"Informasi tentang Nona Valerie dan Pozzi Hunter, mereka sudah kembali ke London," ucap pria tersebut.
"Hmm, bagaimana dengan Sarah Chavali?" tanya Sierra kembali.
"Nama Sarah Chavali tidak terdaftar di catatan kependudukan di Yorkshire," jawab pria itu lagi.
Sierra tampak berpikir keras, bagaimana bisa nama Sarah tidak terdaftar di data penduduk Yorshire? Apakah Sarah tidak membuat data baru? Atau dia memang tidak mendaftar.
Sierra memijat pangkal hidung dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Memikirkan begitu banyak hal membuat dia tidak bisa fokus pada satu masalah.
Hari minggu hampir tiba dan Alex belum menunjukkan batang hidungnya. Bukan tanpa alasan Sieera cemas, bagaimana jika pria itu tidak datang pada acara pertunangan nanti.
Hal itu membuat Sierra geram karena merasa dipermainkan. Terlebih dia punya beban dua pilihan yaitu menyelamatkan Alex dan mengambil apa yang diinginkan Valentin, atau membiarkan pria itu diburu ayah angkatnya dan dia akan kehilangan Alex.
"Arghh!!!" Sierra menggeram tertahan karena merasa sulit menemukan solusi.
…
Sarah menyiapkan sarapan pagi untuk Alex dan dirinya, dengan peralatan seadanya serta beberapa bahan yang dia temukan dari dalam lemari es.
Sarah cukup senang bisa memasak untuk Alex, setelah menikah dia pernah memasak untuk Alex dan pria itu menyukai rasa dari hasil olahan tangannya.
Mengingat itu Sarah hanya bisa mengulum senyum karena dulu Alex pernah menganggapnya gadis yang hanya pintar bersolek saja.
Tangan Sarah cukup piawai menyiapkan segalanya, dalam waktu yang cukup singkat ada beberapa makanan yang siap tersaji di atas meja dan menggugah selera.
"Wah, selain cantik, kau juga pintar memasak, aku rindu sekali masakanmu," puji Alex saat muncul dari dalam kamar, tidak lupa dengan penampilan yang sudah lebih rapi dan segar.
"Bagaimana, apa ketampananku sudah kembali? Semalam kau bilang aku tidak menarik," tambah Alex.
Sarah hanya bisa tertawa, sungguh hal kecil seperti itu membuatnya merasa bahagia, semua karena Alex yang terbawa suasana darah muda Sarah.
"Kau percaya diri sekali," cibir Sarah sambil membuka apron yang terpasang manis di tubuhnya.
"Sarapanmu tidak akan tahu bahwa yang memakan mereka tampan atau tidak," ujar Sarah lagi.
"Setidaknya mereka bersyukur yang memasak cantik dan yang memakan tampan," kilah Alex yang membuat Sarah tidak bisa menahan tawa.
"Berhenti mengagumi diri sendiri! Habiskan sarapanmu, sebelum mereka menjadi dingin!" titah Sarah dengan tangan yang sibuk menata makanan.
"Baiklah, Nyonya Alex! Makanan ini tidak akan kusisakan, aku akan menghabiskannya." Alex mengecup pipi Sarah beberapa kali tidak lupa pelukan pagi yang membuatnya tidak mau melepaskan istri kecilnya.
"Temani aku makan!" bisiknya yang dijawab anggukan wanita bertubuh mungil dalam pelukannya.
…
Hunter memperhatikan Valerie yang sedang menatap langit malam di balkon apartemen. Wanita itu seperti larut pada keindahan malam yang penuh misteri.
Bulan hanya menunjukan garis lengkungan tipis yang kurang dari bentuk sabit, dan para bintang tidak cukup gemerlap dan hanya beberapa saja yang terlihat.
"Apa kau ingin pulang? Kau rindu rumah?" tanya Hunter, pria itu berdiri di samping Valerie yang bersandar di pagar pembatas balkon.
Valerie menggeleng lemah sambil tersenyum. "Tidak, aku bukan anak kecil yang merindukan mamanya," jawabnya.
Tentu saja Hunter sangat memahami hal itu, Valerie dibesarkan oleh seorang mafia tanpa kasih sayang seorang ayah ataupun ibu. Bahkan sejak kecil Valerie sudah diajarkan mandiri oleh pria tersebut.
"Apa kau tidak pernah mencoba untuk mencari tahu siapa orang tuamu yang sebenarnya?" Hunter kembali bertanya mengingat bahwa Valerie pasti memiliki keluarga sebelum dia dirawat oleh Valentin.
"Untuk apa? Mereka sudah meninggal," jawab Valerie sambil menunduk, tetapi Hunter tahu bahwa Valerie mengatakan hal yang berlawanan, mungkin sebenarnya wanita itu juga ingin mengetahui siapa keluarganya.
"Ya, mungkin saja di luar sana masih ada kerabat dari orang tuamu," ujar Hunter sambil mengusap puncak kepala wanita cantik tersebut.
"Entahlah, aku tidak yakin," ucap Valerie lagi.
Hunter sedikit mengernyit. "Apa jangan-jangan kau sudah tahu atau bertemu dengan mereka?" tebak Hunter yang membuat Valerie sedikit terkejut.
"Ah, bisa dikatakan seperti itu," jawab Valerie gugup dengan sedikit tawa yang dipaksakan.
"Kenapa? Apa kau tidak pernah menemuinya?" Hanya pertanyaan yang keluar dari mulut Hunter, membuat Valerie hanya bisa menghela napas sedikit panjang.
"Bagaimana jika kerabat yang ingin kau temui hidupnya menderita karena perbuatan orang tuamu?" Valerie melontarkan satu pertanyaan yang membuat Hunter semakin tidak bisa memahaminya.
"Mau tahu sebuah rahasia?" tanya Valerie saat melihat tatapan Hunter yang menyimpan banyak pertanyaan.
"Apa aku bisa dipercaya?" tanya Hunter yang dijawab senyuman oleh wanita kesayangannya itu.
"Saat kematian Papa dan Mama, aku mungkin masih kecil saat itu, tetapi aku bisa mengingat siapa namaku, siapa orang tuaku," ucap Valerie sambil menatap kembali langit malam yang terhampar di hadapannya.
"Valentin Bykov menyelamatkanku saat aku terjatuh karena Mama yang mendorongku keluar mobil, entah itu takdir atau kebetulan pria itu yang datang seperti malaikat penolong." Hunter masih mendengar ucapan Valerie.
"Sekarang aku tidak bisa bertemu dengan saudaraku atau mengatakan kalau aku ini adalah keluarganya karena sebuah kenyataan yang menyakitkan," ucap Valerie dengan nada yang sedih.
"Kau sudah bertemu dengannya?"
Valerie mengangguk. "Iya, sepuluh tahun yang lalu, aku menyadari kalau dia adalah saudaraku, tetapi aku tidak bisa berbuat apapun karena takut," ucap Valerie dengan nada frustrasi.
"Aku menyadarinya saat mengingat nama Papaku … Richard Calandra."
Seperti petir yang menyambar, Hunter sangat terkejut mendengar penuturan Valerie yang sangat sulit untuk dipercaya, dia mencari kebohongan pada tatapan mata wanita itu tetapi dia tidak menemukannya.
Hanya sekilas Hunter berpikir bahwa Valerie hanya mengarang cerita, apakah wanita itu masih setia pada Valentin dan ingin mempermainkan sebuah kebohongan menjadi sesuatu yang terdengar seperti nyata untuk menarik simpati.
Nama Calandra sudah tidak asing di telinga Hunter, tidak perlu berpikir keras bahwa yang sedang dibicarakan Valerie adalah sang sahabat--Alexius Calandra.
"Aku tahu kau pasti mengira aku berbohong, itulah sebabnya aku memilih untuk tetap diam dan membiarkan ini tetap kusimpan. Entahlah, mungkin sampai aku mati," Valerie berucap panjang lebar.
"Penderitaan Alex bermula karena Papa dan Mamaku, aku tidak tahu bagaimana sikapnya jika dia tahu aku adalah keluarganya, aku tidak mau menyakitinya untuk kedua kali." Hunter merasa trenyuh karena kejujuran Valerie, dari sekian banyak tipu daya, wanita itu tidak mungkin memanipulasi masa lalu sang sahabat dengan begitu keji.
"Untuk kali ini aku percaya padamu. Entahlah, sangat sulit dipercaya, karena kabar yang kudengar Richard Calandra meninggal bersama- … wanita simpanannya," ucap Hunter dengan begitu ragu.
Valerie tersenyum walaupun itu senyuman pahit. "Tidak perlu ragu mengatakan apa yang kau pikirkan," jawabnya.
"Yang aku tahu Mama dan Papa sudah menikah, aku ingat itu karena foto pernikahan mereka terpajang di dinding rumah kami," lanjut Valerie.
"Apakah takdir ini baik atau tidak, aku hanya takut melihat tatapan benci Alex padaku, jika dia tahu hal ini."
"Sudahlah, sebaiknya kita tunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya!" Hunter meraih tubuh Valerie ke dalam dekapannya.
Satu sisi Alex adalah sahabatnya, dan sisi lain Valerie adalah wanita yang dicintainya. Sisi mana yang harus dia pilih? Masalah itu juga membuat dilema pada diri Hunter.
"Hmm, aku hanya tidak mengerti kenapa kalian para wanita suka sekali menyimpan rahasia," ucap Hunter saat memeluk Valerie.
"Kalian siapa yang kau maksud?" tanya Valerie saat melepas pelukan Hunter.
"Kau dan Sarah. Kakak iparmu juga memintaku untuk merahasiakan sesuatu dari Alex," jawab Hunter.
"Sarah?"
Hunter mengangguk. "Iya, dia sedang hamil tapi tidak ingin Alex mengetahuinya," ucap Hunter dengan nada yang sedih.
"Kenapa?" Valerie kembali bertanya.
"Aku tidak tahu. Dia punya alasan sendiri, aku hanya khawatir jika terjadi sesuatu padanya."
"Itu benar. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apakah ini ada hubungannya dengan Sierra?" Hunter mengangguk mendengar pertanyaan dari Valerie.
"Kurasa begitu!"
Valerie tampak berpikir keras, mungkin wanita itu mencemaskan keadaan Sarah. Ternyata jalan hidup memang tidak pernah datar, terlalu banyak kerikil yang mengganggu.
Ada banyak pilihan di dunia, tetapi tidak semuanya punya akhir yang baik. Seperti yang sedang dialami keempat orang yang punya ikatan benang merah yang menghubungkan satu sama lain.
TBC
See you next chap
I Love you all 🌺🌺🌺
dan lihat 37 bab
ku pikir
berhenti di tengah jalan atau Hiatus atau pindah ke aplikasi lain nya karena ada tulisan end
eh ternyata emang bener di bab 37 tamat
keren bisa tamat
walaupun hanya 37 bab
semoga bisa berkarya lagi ya Thor 🤲 Aamiin 🤲
tetap semangat berkarya yah thor....🤟💪💪💪👍👍👍👍👍🎉🎉🎉🎉