Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK AKAN ADA YANG MELIHAT
Vianne berjalan masuk ke dalam universitas sambil merutuki dirinya sendiri. Ia merasa seperti wanita gampangan karena tanpa sadar telah menganggukkan kepala dan menerima Zero kembali menjadi kekasihnya.
Apa aku sudah gila? - batin Vianne yang masih tak percaya bahwa ia menerima Zero.
Ia pun terus berjalan hingga sampai di ruangannya. Pagi hingga siang nanti, Vianne memiliki jadwal untuk mengajar salah satu mata kuliah di fakultas kedokteran di universitas tersebut. Awalnya ia meminta Wesley pekerjaan itu, untuk menutupi bahwa sebenarnya ia tak amnesia. Namun, lama kelamaan ia menyukai pekerjaan itu.
Sesampainya Vianne di dalam ruang dosen, ia masih tak terima kalau ia telah menganggukkan kepalanya. Vianne berpikir, Zero pasti akan menganggapnya wanita gampangan yang akan selalu mau jika diminta untuk menjadi seorang kekasih.
"Arghhh!!" gumam Vianne. Ia tak ingin dosen lain melihatnya seperti itu.
Hingga menjelang sore, Vianne baru selesai melakukan tugasnya. Ia nelihat jam di pergelangan tangannya dan ini lebih cepat 45 menit dari biasanya. Ia sudah tidak pergi ke OR Trade lagi hari ini. Ia berencana akan langsung pulang untuk menemani Tuan Orlando.
Namun tiba tiba saja ia ditarik paksa oleh seorang pria dan dibawa menuju ke arah parkiran. Dari belakang, Vianne sangat tahu siapa yang menarik tangannya.
"Siapa anda, Tuan?" tanya Vianne berpura pura.
Pria itu tak menjawab dan langsung membuka pintu mobilnya dan memasukkan Vianne ke sana. Ia mengunci pintu sebelum Vianne sempat turun kembali, kemudian ia memutar di depan mobil untuk sampai di bagian kemudi. Ia pun masuk.
"Kamu masih tak mengenaliku?" Kini Vianne bisa melihat dengan jelas wajah Julian. Wajah pria tampan itu kini seperti berselimut amarah dan membuat Vianne bergidik ngeri.
"Ju-julian. Apa yang kamu inginkan?" tanya Vianne. Namun Julian tak menjawab dan langsung melajukan kendaraannya.
Dengan kecepatan tinggi, Julian melajukan kendaraannya. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah membawa Vianne pergi untuk dirinya sendiri. Hanya saja ia belum terpikirkan ke mana.
Perusahaan Hugo! Itulah yang terpikirkan oleh Julian saat ini. Ia tak mungkin membawa Vianne pulang karena di sana ada istrinya. Jadi lebih aman jika dibawa ke perusahaan.
Sesampainya mereka di sana, Julian kembali menarik Vianne. Tak ada perlawanan dari Vianne karena ia yakin Julian tak akan menyakitinya. Pria itu hanya ingin bicara dengannya, demikian pikirnya.
Para pegawai Perusagaan Hugo yang masih berada di perusahaan, melihat bagaimana Julian menarik tangan Vianne dan membawanya memasuki lift. Namun, mereka sudah menandatangani perjanjian kerja dan salah satu poin pentingnya adalah tak bergosip atau pun ikut campur dengan urusan pimpinan mereka.
Vianne mengira Julian akan membawanya ke dalam ruang kerjanya untuk berbicara empat mata, tapi ternyata tidak. Vianne sudah mengambil keputusan untuk tak lari lagi dari masalah yang sedang ia hadapi. Ia akan menyelesaikan semuanya dan kembali menjadi Vianne yang biasa.
Lift yang mereka naiki, langsung membawa mereka ke lantai teratas gedung Perusahaan Hugo. Julian membawanya ke tempat di mana terdapat lambang helipad di injakannya.
"Mengapa membawaku ke sini? Kita bisa bicara di ruanganmu saja," ucap Vianne. Rambutnya sudah tertiup angin karena begitu kencangnya angin di atas sana. Bahkan berbicara pun perlu berteriak karena suara seakan terbawa angin.
"Kita akan bicara di sini. Aku tak mau kamu melarikan diri," ucap Julian.
"Aku tak akan melarikan diri. Sebaiknya kita turun."
"Tidak! Aku bilang kita tetap di sini!" bentak Julian.
Vianne berusaha menetralkan degup jantungnya. Saat ia melihat Julian berteriak, ia seakan melihat Dad Jay. Ya, sikap Julian saat ini mirip dengan Dad Jay dan dia benci akan hal itu.
"Aku ingin kita segera menikah!" ucap Julian dengan lantang.
"Menikah? T-tapi aku ..."
"Apa kamu tak ingin menjadi istri keduaku? Aku sudah katakan pada Wesley bahwa aku akan menceraikan istriku. Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu," ucap Julian yang ingin menegaskan apa yang sebelumnya sudah ia katakan pada Wesley.
"Istri kedua? Apa kamu sudah menikah?" tanya Vianne yang memang tidak mengetahui tentang hal itu.
"Ya, aku memang sudah menikah. Tapi tenang saja, seperti yang kukatakan barusan, aku akan bercerai dan menikahimu."
"Kamu gilla, Ju! Jangan ceraikan istrimu."
"Kalau begitu, apa kamu siap menjadi istri keduaku?" tanya Julian.
"Aku tidak akan pernah menikah denganmu, Ju. Tidak akan!" tak pernah terpikir dalam benak Vianne untuk merusak hubungan seseorang, apalagi sebuah pernikahan. Saat ia tahu Julian bersama Samantha saja, ia berusaha menjauh, apalagi dengan hubungan Julian dengan istrinya.
"Kalau kamu tak mau menikah denganku, maka aku akan membuatmu hamil. Dengan begitu, mau tidak mau kamu akan menikah denganku!" teriak Julian.
"Aku tidak mau!" Vianne menyadari bahwa berbicara baik baik dengan Julian sepertinya tak akan didengar. Awalnya ia ingin tetap berhubungan baik dengan Julian, karena bagaimana pun juga Julian lah yang menolongnya dari sekapan Samantha waktu itu.
"Vianne Collins!" teriak Julian.
Dengan kasar Julian merebahkan tubuh Vianne hingga kepala wanita itu terasa sangat sakit karena langsung beradu dengan lantai helipad.
"Kita akan bermain di sini, tak akan ada yang melihat," ujar Julian.
"Kamu gilla! Lepaskan aku!!"
Brughhhh
🧡 🧡 🧡