"Setelah anak itu lahir, mari kita berpisah. Tanda tangan semua surat-surat ini," ucap pria dingin tersebut pada wanita yang telah mengandung benihnya.
Sebuah kesalahan telah mereka lakukan di Italy, membuat keduanya harus menikah untuk menutupi aib keluarga. Bagaimana kisah Dito si suami dingin dengan Tiwi, istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PDKT
Pria Dingin Itu Suamiku Bagian 35
Oleh Sept
CEKUK ...
Tiwi yang terkejut, langsung menarik tangannya dan langsung cegukan. Hal itu membuat Dito tersenyum. Reflek Dito mengusap kepala mantan istrinya itu. Tiwi pun mundur untuk menghindar. Bukan karena tidak suka, tapi karena merasa malu. Terlihat dari rona wajahnya yang bersemu merah.
"Bagaimana?" tanya Dito kembali.
Tiwi yang masih shock, dia belum bisa memberikan jawaban.
"Tidak harus menjawabnya sekarang, aku akan menunggu sampai kamu siap. Kerena sudah malam, masuklah ... aku akan pulang," ucap Dito kemudian.
Tiwi yang speechless, ia pun mengangguk pelan. Saat Dito masuk ke dalam mobil, ia pun menatap kendaraan itu sampai keluar dari halaman rumahnya. Tiwi masuk ke dalam, kemudian nyonya Haidar hanya menatapnya dengan senyum tipis. Karena sudah malam, Tiwi pun disuruh langsung istirahat.
Mantan istri Dito itu langsung masuk ke kamar, kemudian berbaring bersama Sienna yang sudah tidur terlelap duluan.
***
Waktu terus berjalan, tidak terasa matahari sudah bersinar terang. Sienna bangun langsung minta keluar kamar.
Hari ini Tiwi kelihatan sumringah, wajahnya berseri sambil membawa Sienna keluar kamar, dia juga mengambil ponselnya kemudian disimpan di dalam saku, barusan ada WA masuk dari Dito. Setelah duduk di ruang keluarga, barulah dia balas pesan singkat dari mantan suaminya itu.
[Sienna sedang apa?]
Padahal mau bertanya Tiwi sedang apa, tapi Dito malah modus bertanya tentang Sienna.
[Lagi bermain]
Tiwi membalas sambil mengirim foto Sienna yang sedang bermain boneka dan mainan yang lain.
[Dia cantik, sepertimu]
Seketika bibirnya menggembang, Tiwi tersenyum tipis membaca gombalan Dito di ponselnya. Sejak kapan mantan suaminya jadi raja gombal?
Karena Tiwi sekarang sibuk menjaga Sienna, setelah itu dia tidak membalas pesan Dito. Membuat laki-laki itu gelisah sendiri.
Dito lantas berangkat kerja, dia menatap apartemen mewah miliknya. Tempat itu terasa kosong, hampa. Ia menarik napas panjang, kemudian meraih tas lalu mengunci pintu apartemennya.
Waktu terus berjalan, sampai di kantor, ia malah bolak-balik melihat ponsel. Baru kali ini dia menunggu sesuatu dengan gelisah. Seperti anak ABG baru jadian yang menunggu balasan SMS dari sang pacar.
"Sedang apa kamu ini?" gumam Dito.
Menjelang sore, ketika dia akan pulang. Dito akhirnya nekat video call untuk pertama kalinya setelah beberapa purnama.
Tidak langsung diangkat, baru panggilan ke tiga diangkat oleh Tiwi. Mantan istrinya itu habis mandi, karena terlihat masih memakai bathrobe.
"Ya," jawab Tiwi yang memperlihatkan segarnya habis mandi. Kemudian meletakkan ponselnya di meja dengan posisi berdiri.
Sienna menangis, membuatnya harus mengabaikan video call Dito.
"Anak Mama kenapa? Cup .. cup."
Tiwi menimang putrinya, sambil memeluk. Dan Dito hanya bisa melihat dari ponselnya.
"Kita telpon nanti lagi, Sienna rewel."
Mau bilang jangan, tapi telpon keburu dimatikan. Dito kelimpungan seorang diri di ruang kerjanya. Sepertinya dia harus menikah lagi.
***
Langit mulai gelap, Dito pulang ke apartemen dengan malas. Ia kemudian mandi, dan menelpon Tiwi dulu.
"Sedang apa?" tanya Dito.
"Rebahan saja." Tiwi menggantupkan bibir.
"Sienna mana?"
"Sama mama di bawah."
"Oh ... mau makan keluar?" tawar Dito.
"Sudah makan tadi," jawab Tiwi singkat yang sudah makan malam bersama keluarga beberapa saat lalu.
"Oh ... oke."
Suasana hening sejenak, kemudian keduanya sama-sama berbicara.
"Kam..."
"Yasud ..."
"Kamu duluan," ucap Tiwi.
"Hemm ... ya sudah istirahatlah, sudah malam."
Tiwi kelihatan kecewa. Namun, ia hanya diam saja.
"Ya, selamat malam."
"Hemm."
Tiwi kemudian menyimpan ponselnya. Ia menatap langit-langit kamar, kemudian memeluk guling.
TING
Ada pesan masuk. Tadi di telpon irit bicara, sekarang keduanya malah seperti anak baru pacaran sambil chatingan.
[Sebenarnya aku lapar, ingin makan di luar. Tapi sepertinya lain kali]
Mata Tiwi berbinar. Ia kemudian membalas pesan mantan suaminya itu.
[Kenapa gak ke rumah saja?]
Tiwi deg degan menanti balasan.
[Besok]
Pipi Tiwi langsung merona.
***
Esok harinya, nyonya Haidar menatap aneh pada putrinya. Tumben pakai baju cerah, pakai riasan juga.
"Mau ke mana?" tanya sang mama.
Tiwi tersenyum tipis kemudian menggeleng.
"Kok dandan cantik?"
Eh sesaat kemudian terdengar deru mobil. Tiwi langsung keluar, dan nyonya Haidar hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Papamu itu sepertinya," ucap nyonya Haidar sambil menuntun jalan Sienna. Anak itu mulai belajar jalan, tidak bisa diam.
Di depan rumah, Dito keluar dari mobilnya. Sepertinya mau berangkat kerja, karena memakai pakain rapi.
"Mana Sienna?" tanya Dito basa-basi.
"Ada di dalam."
Dito mengangguk, kemudian melangkah ke arah Tiwi.
"Mau ke mana?" tanya Dito yang memperhatikan penampilan Tiwi.
"Nggak ke mana-mana."
"Oh."
"Masuklah."
"Tidak, aku hanya mampir sebentar. Sejam lagi ada meeting."
Tiwi langsung kecewa.
"Mau ikut?"
Wanita itu mendongak.
"Aku ada meeting di dekat sini. Kemudian free ... mungkin kita bisa bawa Sienna juga."
Tiwi menggigit bibir bawahnya, kemudian melihat ke belakang. Sepertinya ide bagus.
"Mau?"
Ia langsung mengangguk. Dan nyonya Haidar pun tidak masalah. Mungkin saatnya Sienna dekat dengan papanya.
***
Kali ini Tiwi pergi tidak ditemani babysitter, dan benar saja, ia pun langsung kerepotan saat di dalam kendaraan. Untung, Dito ternyata tidak sedingin dulu. Pria itu bahkan berkali-kali melawak di depan Sienna, tidak hanya Sienna yang terkekeh, bahwa Dito juga membuat Tiwi tersenyum bahagia.
"Rasanya aku ingin menyimpan momen seperti ini," gumam Dito saat melihat mantan istrinya tertawa lepas. Sienna yang lucu, tawa Tiwi yang renyah. Rasanya Dito ingin memiliki keduanya.
Sesuai rencana, dua jam Tiwi ditinggal untuk meeting. Kemudian mereka pergi bersama lagi ke sebuah pusat perbelanjaan. Ada arena bermain untuk anak-anak.
"Kami jarang keluar seperti ini," kata Tiwi tiba-tiba.
"Nanti akan lebih sering ... kalau kamu mau bersamaku lagi," gumam Dito lirih.