NovelToon NovelToon
CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:554k
Nilai: 5
Nama Author: Ough See Usi

Adisti harus memutuskan pertunangannya dengan Prasetyo Anggoro, seorang pewaris Anggoro Putra Group, saat 30 hari menjelang pernikahannya. Rita Gunaldi, desainer sekaligus MUA baju pengantin yang merupakan, pemilik The Ritz “mengambil” tunangannya tepat di depan matanya.

Siapa yang menyangka tepat di hari H yang sudah dibatalkan, Adisti jatuh dari tebing dan justru bertemu dengan jodoh yang sebenarnya di tengah jurang, Bramasta Sanjaya seorang pewaris Sanjaya Group dan perintis B Group. Pertama kali mereka bertatap mata di tengah jurang, pertama kalinya mereka merasakan jatuh cinta. Dan huruf “G” kecil tulisan tangan Adisti semakin meyakinkan hati Bramasta.

Keluarga Anggoro dendam. Begitupula Rita Gunaldi. Dendam menguak aib dan kejahatan yang mereka lakukan. Melibatkan Interpol dan polisi di dalamnya.

Cinta dan Dendam, kepada siapa nasib akan berpihak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35– VIRAL SEKALI LAGI

Medusa terhuyung, tepat ke arah tong sampah yang terbuka. Dia menjerit saat hilang keseimbangan dan terjerembab masuk ke dalam tong sampah. Rok pendeknya yang mengembang bagai bunga peony memenuhi permukaan tong sampah, sementara tubuhnya melesak ke dalamnya. Kakinya mencuat di udara.

Tong sampah terhentak ke arah belakang. Bagian depan dasarnya terdorong dan terangkat. Beban tubuh si Medusa membuat tong sampah rebah ke belakang. Sialnya, pedestriannya tidak datar tapi menurun hingga ujung. Tong sampah menggelinding dengan Medusa di dalamnya yang menjeri-jerit panik.

Bramasta terengah. Memegang Adisti.

“Ada apa ini?”

“Tetehnya gak salah, Pak. Ibu-ibu itu yang datang-datang langsung jambak si Teteh,” kata gadis penjual boba.

“Disti, kamu gak apa-apa?”

Adisti tidak menjawab. Rasa sakit pada bahu, leher dan kepalanya membuatnya disorientasi. Telinganya berdenging nyaring oleh rasa sakitnya. Pandangannya memudar. Gelap dan hening.

Bramasta memeluk Adisti dengan cepat. Dia bisa melihat darah mulai merembes di kerudung Adisti. Bramasta berseru panik. Gadis penjual boba membantu membukakan pintu mobil. Bramasta terus-terusan beristighfar sambil menaruh tubuh Adisti dengan hati-hati.

“Terimakasih banyak Teh,” kata Bramasta kepada Gadis Penjual Boba. Si Gadis hanya mengangguk karena Bramasta dengan cepat menghilang menekan pedal gasnya meninggalkan suara raungan mesin bersilinder besar.

Dia melihat ke arah tong sampah yang kini berhenti tersangkut selokan. Seorang anak muda hendak menolong wanita di dalam tong sampah itu tapi sekelompok orang dari arah kanan gadis penjual boba berteriak-teriak ke arah pemuda tadi.

“Ulah! Ulah ditulungan. Tuman. Jahat pisan jadi awewe teh!_Jangan! Jangan ditolong. Jahat banget jadi perempuan sih!_” kata mereka.

Anak muda itu urung menolong si wanita yang kian menjerit dan memaki.

Dia berjalan mendekati kelompok orang tersebut untuk menanyakan apa yang terjadi. Salah seorang dari mereka memperlihatkan layar handphonenya ke arah anak muda tadi. Menonton rekaman kejadian itu. Seruan-seruan geram dan kagum terdengar dari arah kerumunan itu.

Seorang dari mereka menunjuk ke arah tong sampah. Dia mengarahkan handphonenya untuk merekam tempat sampah yang bergerak-gerak.

Ada tangan yang menjulur dari dalamnya, mencari pegangan. Lalu kepala dengan rambut yang berantakan, terlihat basah dan lengket dengan tutup gelas dan sedotan boba tersangkut di rambutnya. Tubuhnya yang dibalut atasan katun berenda dengan belahan dada rendah tampak tumpah ruah dengan segala macam bungkus kemasan. Roknya tampak mengenaskan, bagian depannya mengembang tapi bagian belakangnya menguncup karena basah.

“Makanya Bu, jadi orang jangan jahat banget!” teriak seorang di antara mereka.

“Apa kalian?! Saya tuntut kalian semua. Saya bakal tuntut perempuan miskin itu! Sialan!!! Sialaaaan!” kakinya dihentak-hentakkan lalu jemarinya menunjuk pada kerumunan, “Brengs*k kalian!!”

Kerumunan itu menertawakan wanita itu yang berjalan dengan langkah tersendat sambil memegangi pinggangnya. Tangan satunya mencabuti sampah-sampah yang menempel pada rambut dan badannya. Seseorang datang menghampiri wanita itu, menuntun wanita itu berjalan.

“Dari seragamnya seperti pekerja di salon dan butik ujung jalan,” kata seorang wanita dari kerumunan itu.

“Gila, baru 3 menit upload yang nonton sudah hampir seribu..” kata seorang anak muda yang memakai tas ransel.

Gadis penjual boba memungut kain gendongan tangan yang dilemparkan Adisti sebelum dia melakukan tendangan memutarnya. Dia melintas di depan kerumunan itu sambil berjalan terpincang. Lututnya perih karena terjatuh saat didorong oleh wanita gila itu.

“Eh, itu Teteh yang nolongin. Itu apa Teh?” tanya salah seorang dari mereka sambil mengarahkan handphonenya ke gadis penjual boba tadi.

“Ini, kain gendongan tangan punya si Teteh yang diserang tadi. Kasihan, tangannya sedang cedera begitu malah diserang dari belakang. Tapi gak nyangka ya, ternyata si Tetehnya jago bela diri,” semua orang dikerumunan menyetujui perkataan gadis penjual boba.

“Terus, mau diapain Teh, kain gendongannya?”

“Gak tahu. Paling saya simpan siapa tahu Teteh yang tadi atau Masnya datang untuk mengambil kain gendongan ini.”

“Teh, lututnya berdarah,” kata pemuda dengan tas ransel.

Gadis penjual boba menunduk. Melihat darah yang mengalir di depan tungkainya.

“Tadi di dorong ibu-ibu itu ya Teh?” Gadis penjual boba mengangguk.

“Ish.. jahat banget si ibu itu,” kata seorang gadis, “Teh, saya borong deh es bobanya. Nanti kalau dapat bonus dari bosnya, beli obat antiseptik ya Teh supaya gak infeksi.”

“Saya juga.”

“Saya mau, 5. Rasa yang berbeda ya Teh..”

“Alhamdulillah,” si Gadis penjual boba membungkukkan badannya ke arah kerumunan itu, “Hatur nuhun pisan, Akang, Teteh!”

Sore itu, jagat maya dihebohkan dengan kejadian yang tidak biasa yang terjadi di pedestrian depan toko meubeul. Video yang diberi label DEPAN PEDESTRIAN TOKO MEUBEUL Part 1, 2 & 3. Video Part 1 diberi caption “SALAH PILIH LAWAN”, Part 2 diberi caption “TUMAN!!” dan Part 3 dengan caption “YUK KITA BORONG BOBANYA”.

***

Bramasta mengemudi bagai kesetanan. Beruntung lalu lintas sore itu tidak padat. Torsi mesin yang besar membuat mobilnya mampu melesat cepat memperpendek jarak dengan rumah sakit. Suara raungan knalpot mobilnya membahana di jalanan yang lengang.

Memasuki jalur UGD, Bramasta menekan klakson mobilnya berkali-kali kepada security. Security paham, dia segera mengambil kursi roda. Bramasta berteriak, “Minta bed-nya Pak. Pasien tidak sadarkan diri!”

Seorang petugas security mengenali Bramasta, dia memberitahu perawat di dalam, mereka kedatangan pasien VVIP. Bed datang didorong oleh security dan perawat. Memindahkan pasien dengan hati-hati.

“Kenapa?” tanya perawat.

“Dia diserang pada bagian kepalanya. Saya khawatir ada cedera pada tulang lehernya,” kata Bramasta dengan panik.

“Kita tangani dulu pendarahan luar pada kepalanya ya Pak. Baru kita periksa CT Scan. Bapak sekarang menunggu di luar dulu,” kata dokter jaga.

“Tolong selamatkan calon istri saya, dok. Tolong dokter. Minggu ini kami akan menikah. Tolong dia,” Bramasta menangis.

“Iya.. sekarang Pak Bramasta tunggu di luar dulu ya. Supaya tidak mengganggu kerja kami.”

“Tidak, saya ingin melihat Adisti. Saya harus berada di sisi Adisti,” Bramasta meraung marah.

Serbuan adrenalin dari semenjak mendengar perempuan yang menjerit-jerit minta tolong lalu melihat Adisti diserang dari arah belakang hingga tiba di rumah sakit membuat otaknya kebanjiran adrenalin. Pandangannya berputar, telinganya berdenging. Bramasta ambruk di lantai UGD rumah sakit.

Para petugas medis heboh begitu juga keluarga pasien yang ada di ruangan UGD.

“Telepon B Group, hubungi sekretarisnya, beritahu untuk segera mendampingi Tuan Bramasta,” kata dokter jaga senior kepada salah seorang perawat.

***

Indra sedang menyesap kopinya sambil matanya memperhatikan layar laptop laporan bulanan Divisi Restaurant & Café ketika dering intercom berbunyi. Indra menyalakan loudspeaker, “Assalamu’alaikum, ya ada apa?”

“Wa’alaikumussalam Pak Indra. Kami menerima telepon dari rumah sakit, meminta Pak Indra untuk datang ke UGD mendampingi Pak Bramasta.”

“Apa?”

“Sambungkan saya dengan telepon dari rumah sakit.”

“Selamat sore, Pak Indra. Dimohon kedatangannya untuk mendampingi Pak Bramasta yang kini tengah tidak sadarkan diri di UGD,” suara perawat terdengar begitu tegang di telepon.

“Kenapa? Ceritakan kejadiannya?”

“Tuan Bramasta membawa pasien wanita yang tidak sadarkan diri dengan cedera terbuka pada kepala dan kemungkinan cedera leher juga. Kata Tuan Bramasta, pasien diserang pada bagian kepalanya dari arah belakang. Beliau menyebut, pasien adalah calon istrinya, Adisti.”

“Baik, saya ke sana sekarang. Terimakasih banyak.”

Indra meraih kunci mobil dan handphonenya. Dia berlari ke arah lift. Membuat panggilan kepada Hans. Berbicara dengan cepat menceritakan kronologinya. Meminta Tuan Alwin untuk datang ke UGD.

“Jangan beritahukan kepada Nyonya sebelum semua tertangani dengan baik,” pesan Indra kepada Hans.

Indra menghubungi berkali-kali handphone Agung. Tidak ada jawaban. Dia memukul stirnya berkali-kali. Akhirnya dia menghubungi Papinya. Menceritakan kronologi singkat lalu meminta papi untuk menyuruh Agung segera ke UGD.

Agung baru saja memperkenalkan dirinya di depan para manajer di Divisi Keuangan ketika pintu ruang meeting terjeblak terbuka berikut sosok besar tubuh Kusuma Wardhani, direktur mereka, memenuhi ambang pintu.

“Agung, segera ke UGD sekarang. Jangan bawa kendaraan sendiri. Saya sudah menyuruh Hans untuk pergi bersama kamu. Tuan Alwin dan Hans sedang di teras lobby menunggu kamu. Kalian pergi duluan. Nanti saya menyusul.”

“Ada apa, Pak?”

“Adisti diserang. Cedera terbuka di kepala. Bramasta mengamuk di UGD sebelum pingsan.”

“Subhanallah!” Agung berlari menerobos tubuh besar Pak Direktur di ambang pintu. Berlari kencang ke arah lift yang hampir menutup.

“Tahan pintunya!” seru Agung.

Di ruangan meeting para manajer berdengung seperti lebah. Membicarakan kehebohan yang baru saja terjadi. Dan mereka menyadari manajer yang baru saja direkrut oleh Sanjaya Group bukan orang biasa. Berhubungan langsung dengan Pak Direktur, Pak Presdir dan Presdir B Group. Siapa sebenarnya Agung Aksara Gumilar? Siapa Adisti?

1
Ough See Usi
gak di ACC pihak NT.

Sama dengan Mr. Architect, awalnya pakai foto Taehyung BTS, tapi disuruh ganti.
Niken Dwi Handayani
Awalnya pakai photo Chow Yun Fat, kok bisa ganti jadi Hyun Bin Thor?
Ough See Usi: waduh salah kolom sayanya.. 🙏🏼

karena gak di ACC pihak NT
Ya gitu deh...
total 1 replies
Ough See Usi
Eric masih 11 tahun
Alif 8 tahun
Abay 5 tahun
Andra 2 tahun
Sidney 15 tahun
Niken Dwi Handayani
Di novel ini Eric umurnya berapa ya? Sebab di novel nya Anton, umurnya sudah 11 tahun kalau ga salah baca.
Ough See Usi: maaf salah naruh komen.
Author juga salah nempatin umur 🙏🏼🙏🏼

Belum direvisi 🙏🏼🙏🏼
Mau nge-revisi udah kelewat jauh.

Semua novel, masih ditahun yang sama.
total 1 replies
Syaiful Leli
kapan munculnya naga2 dalam tubuh merwka thor
Ough See Usi: ada di bab-bab ataupun cerita berikutnya

Keempat novel Author itu twtralogi, saling menyambung jalinan ceritanya.

Selamat membaca, semoga suka ya. 😍😍😘
total 1 replies
Ulla Hullasoh
halahhhh....... lupa tuh Indra
Ough See Usi: qqqqqq 😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
keluarga medusa emang keluarga bejad menyeramkan
Ough See Usi: jahara pokoknya..
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Hadiah buat ayah mertua/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ough See Usi: ofcourse... 😁😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
wahhhhh ngebut nih Bram wkwkwk
Ulla Hullasoh
keren nih bang Bram tanjabbb tanpa basa basi...keren Thor
Ough See Usi: Bram gitu loh.... 🥰🥰
total 1 replies
Ulla Hullasoh
tamu nya Adisti pada kreatif wkwkwk
Ough See Usi: qqqqqq 🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
waduhhhh mama toh yang membocorkan
Ough See Usi: Mommy memang gak bisa nge-keep cerita... 😁😁🤣
total 1 replies
Ulla Hullasoh
semangat Thorrr
Ough See Usi: siyyyaaaap
(walau sambil meriang...)
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Anton keren kumplit nih laporannya
Ough See Usi: selalu dong... Anton... 😁😁
total 1 replies
Ulla Hullasoh
lanjut Thorrr ceritamu selalu bagus. kerennn
Ough See Usi: Hatur nuhun, hatur tengkyu

🥰🥰🥰🥰🌷🌷🌷
total 1 replies
Ulla Hullasoh
kerennn Thor...saya malah sdh duluan baca cerita Anton yg sdh menikah. kerennn
Ough See Usi: Author baru nemuin Reader yang membacanya dengan urutan terbalik... 🤭

Kalem, gak akan jadi bingung.
Paling, "Ooh jadi begitu benang merahnya..."


Selamat membaca ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
amelia Adwin
ttp setia deh...tenang za...😘
Ough See Usi: 🥰🥰🥰 iya... iya.... 😁😁😁😘
total 1 replies
Noni Diani
Luar biasa
Ough See Usi: Terima kasih banyak🥰🥰
Ayo capcus ke novel berikutnya supaya lebih kenal dengan para Babang Ganteng di Kuping Merah 😁😁😉🌺
total 1 replies
Noni Diani
Biasa
Ough See Usi: Terimakasih banyak
Jangan lupa baca novel selanjutnya ya.. 🌷
total 1 replies
Septi Lahat
aq nggk ush baling-baling apapun tuh kak thor,, aq pengen punya kendaraan yg bisa anter jemput ank2 qu dg aman terlindungi dri panas n hujan 😁😁😁
Ough See Usi: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!