Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Hadiah Apa?
Kejadian di laboratorium, di jam praktikum.
Dante yang ada pada posisi dekat dengan Bianca, tidak mendengarkan instruksi dari guru pembimbing.
Dia justru iseng sendiri, dengan cairan yang seharusnya digunakan untuk keperluan uji coba mereka semua. Dan dia juga tidak tahu, jika cairan tersebut bisa menjadi asap, jika di campur dengan sedikit cairan lainnnya.
Dante membuat suasana laboratorium menjadi seperti sedang terjadi kebakaran.
Meskipun guru pembimbing meminta pada anak-anak yang lain tetap tenang, tapi kegaduhan tetap saja terjadi.
Pada akhirnya, Dante masuk ke ruangan BK. Untuk mendapatkan teguran dan SP. Dengan hukuman skorsing selama seminggu kedepannya.
Tapi skorsing tersebut justru membuat Dante merasa sangat senang.
"Tapi Bi, Aku bisa bebas dan tidak harus berangkat sekolah kan!" Dante bicara dengan bangga, pada sepupunya sendiri. Yaitu Bianca.
"Eh dasar ya! Awas aja itu tugas sekolah yang harus Kamu kirim lewat online telat. Aku juga gak mau ngajarin Kamu. Weee..."
Keduanya, Dante dan Bianca, akhirnya saling kejar-kejaran. Karena kesal dengan ejekan satu sama lain.
Madalena tersenyum tipis, melihat drama kedua temannya itu.
Sedangkan yang lainnya, ikut tertawa-tawa senang. Sambil sesekali menimpali mereka berdua yang masih saja bertingkah seperti anak-anak.
Gavino memperhatikan bagaimana cara Madalena yang terlihat murung. Dia tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Madalena saat ini.
"Hai, apa Kamu baik-baik saja?"
Madalena menoleh. Dia tersenyum tipis, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya.
"Iya. Aku baik-baik saja Gavin."
Pada akhirnya, Madalena menjawab pertanyaan tersebut. Meskipun pada awalnya hanya diam dan cuma tersenyum tipis.
"Apa ada yang menggangu pikiranmu?" tanya Gavino lagi.
Dia ingin tahu, bagaimana keadaan Madalena. Setelah kejadian demi kejadian yang terjadi di rumahnya.
"Eh, emhhh... tidak ada Gavin."
"Aku... Aku hanya kangen dengan mama.'
Ada bulir air mata, yang jatuh dengan sendirinya di pipi. Setelah Madalena selesai mengatakan kalimat terakhirnya.
Gavino jadi merasa bersalah, karena bertanya hal yang justru membuat Madalena jadi seperti ini.
"Sorry," ucap Gavino, dengan tersenyum canggung.
"Gak apa-apa Gavin. Aku yang justru minta maaf. Hiks... Kamu jadi tahu, jika sebenarnya Aku ini cengeng." Madalena mengusap air matanya, dan pura-pura tegar. Supaya tidak terlihat oleh temannya yang lain.
Gavino mengangguk paham. Dia tidak ingin bertanya apapun lagi. Karena dia juga tidak mau jika Madalena kembali bersedih hati. Karena pertanyaan ataupun kata-katanya yang bisa membuat Madalena teringat dengan keadaan dirinya. Dan juga keadaan keluarganya.
Tiba di lorong sekolah, di mana ada persimpangan antara jalan ke area parkir dengan jalan ke gerbang sekolah.
Dante dan Lorenzo, menuggu Gavino. Karena mereka bertiga searah, menuju ke tempat parkir. Sedangkan Bianca dan Madalena, akan berjalan menuju ke gerbang sekolah, di mana supir mereka berdua sudah menunggu. Sama seperti yang dilakukan oleh teman-teman mereka yang lainnya juga.
"Aku duluan ya Gavin," pamit Madalena, saat akan berpisah dengan Gavino.
"Vin. Aku duluan ya!"
Bianca juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Madalena. Yaitu berpamitan pada Gavino.
"Eh, sama kita gak pamitan ini?" tanya Dante bergurau.
"Gak weee..."
Bianca justru menyahut cepat, dengan menjulurkan lidahnya pada sepupunya sendiri.
"Bi. Ikut Aku saja sekalian!" ajak Dante, pada Bianca.
"Gak ah. Kasian pak supir. Nanti gak gajian gimana?" sahut Bianca, dengan asal.
"Kasih Kamu lah!" jawab Dante asal juga.
"Ah, usah ah. Kirain antar Kamu yang kasih."
"Bye semua..."
"Madalena, ayok!"
Bianca menyudahi perdebatan mereka berdua, kemudian mengajak Madalena untuk segera pergi.
Madalena pun menurut. Dia juga tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Dan supirnya pasti sudah menuggu juga di depan sekolah.
Di tempat parkir, Gavino tidak langsung masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dia justru berjalan menuju ke arah mobilnya Dante, bersama dengan Lorenzo juga.
"Kamu sekalian mau ke bengkel?" tanya Gavino pada temannya, yang selalu bawa motor sendiri.
Tapi karena tadi pagi motornya mogok di jalan, akhirnya dia terpaksa harus ikut bersama dengan Dante.
"Iyalah. Pasti sudah beres sekarang."
Lorenzo merasa sangat yakin jika, motornya sudah selesai diperbaiki.
Gavino hanya mengangguk saja. Dia membukakan pintu mobil untuk Lorenzo.
Pluk!
"Thanks," ucap Lorenzo, dengan menepuk pundaknya Gavino.
Tapi sebelum Dante meninggalkan area parkir, Gavino sempat bertanya pada Lorenzo. "Jika ada yang memberi hadiah. Kamu mau motor atau mobil?"
"Hahaha... mimpi apa sih Kamu ini Gavin! Kalau ada yang kasih hadiah cuma-cuma ya... Aku pasti milih mobil. Ya gak Dante?" jawab Lorenzo dengan meminta dukungan pada Dante.
Lorenzo menganggap bahwa, pertanyaan yang diajukan oleh Gavino tadi hanya sebuah lelucon belaka. Dia tidak berpikir bahwa, apa yang ditanyakan oleh Gavino adalah kebenaran. Yang akan dia realisasikan.
"Sudahlah. Kita balik dulu ya!" pamit Dante, dengan menyalakan mesin mobilnya.
Gavino hanya mengangguk saja, melihat kepergian mereka berdua dengan mobilnya Dante.
Sekarang, dia masuk ke dalam mobilnya sendiri. Tapi tetap saja tidak langsung pergi. Gavino ingin melakukan sesuatu, untuk membuat sebuah kejutan hadiah untuk temannya. Yaitu Lorenzo.
'Sistem aktif.'
( Ting )
( Sistem diaktifkan )
( Apa yang ingin good father perintahkan )
'Aku ingin memberikan sebuah mobil untuk temanku tadi. Yaitu lorenzo.'
( Mobil akan segera di kirim ke rumah Lorenzo )
'Apakah ini benar?'
( Good father bisa menerima panggilan telpon dari Lorenzo. Di saat dia tiba di rumah nanti )
'Baiklah. Kirimkan satu unit mobil ke rumah Lorenzo.'
( Ting )
( Mobil dikirim ke alamat rumah Lorenzo )
1%
5%
15%
25%
35%
50%
60%
70%
80%
90%
95%
100%
( Ting )
( Mobil dikirim dan diterima oleh keluarga Lorenzo )
'Hemmm... baiklah. Terima kasih.'
( Sistem di non aktifkan )
( Ting )
Gavino menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia merasa lega. Dan tinggal menunggu kabar dari Lorenzo saja.
Sekarang, dia bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya sendiri.
*****
Gavino baru saja tuba di rumah. Bahkan belum sempat turun dari mobil, pada saat handphone miliknya bergetar.
Drettt drettt drettt!
Pada saat melihat layar handphone miliknya, ada nama Lorenzo di layar tersebut.
"Ternyata dia juga baru saja tiba di rumah." gumam Gavino, menyadari bahwa. Lorenzo pasti menghubunginya karena mobil yang sudah ada di rumahnya.
..."Halo Lorenzo. Ada apa? Apakah motornya sudah selesai diperbaiki?" ...
..."Hai Gavin! Apakah Kamu seorang cenayang, atau keturunan indigo?" ...
..."Maksud Kamu apa Lorenzo?" ...
Gavino pura-pura tidak tahu, apa yang ingin disampaikan oleh Lorenzo. Dengan menghubungi dirinya saat ini.
..."Kamu tahu Gavino, apa yang Kamu tanyakan tadi menjadi kenyataan." ...
..."Aku tanya apa sama Kamu?" ...
Gavino masih pura-pura tidak tahu. Dengan apa yang ingin dikatakan oleh Lorenzo padanya.
..."Mobil. Ternyata di rumah ada sebuah mobil, yang katanya itu untukku." ...
..."Wahhh... hebat!" ...
Gavin justru ikut bersorak senang, mendengar kabar dari Lorenzo barusan.