Airin Daranize, wanita yang belum menemukan jodohnya di usianya yang ke 28 tahun.
Airin wanita mandiri yang membuka usaha butik yang cukup berhasil. Sehingga waktunya lebih banyak tersita ke butik nya.
Tiba- tiba saja Dika teman masa kecilnya muncul dan melamarnya. Tapi Airin menolak karena tidak mau menerima perjodohan.
Suatu hari Dika sakit, tanpa sengaja Airin tau kalau Dika sedang sekarat . Akankah Airin mau menerima lamaran Dika?
Apakah Dika sembuh dari penyakitnya?
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Seiring berjalan waktu, keadaan Airin semakin dekat untuk persalinan. Suport dari Dika dan kedua orantuanya menambah semangat Airin untuk kuat dalam menjalani persalinannya.
Tengah malam Airin merasakan perutnya mulas, tib-tiba. Rasanya dia seperti mau buang BAB. Airin melihat Dika yang tertidur pulas disampingnya. Tidurnya begitu damai, ada senyum tersimpul di sudut bibirnya.
Rasa mulas itu makin hebat, kini Airin merasakan napasnya tersenggal.
"Dik, Dika,.... Aduh....!" Airin menahan sakit yang makin bertambah. Mendadak Dika, terjaga saat mendengar suara Airin yang mengaduh kesakitan, dan memegangi perutnya.
"Ai, kamu kenapa sayang? Tubuhmu kok, berkeringat sepweprti ini?" Bergegas Dika meraih tubuh istrinya.
"Sakit, Ka, sepertinya aku mau melahirkan, tapi perkiraan dokter kan masih dua minggu lagi," ucap Airin disela kesakitannya.
"Iya, perkiraan hari lahir itu bisa saja maju mundur, Ai. Sebentar, aku telepon dulu Bidan Ratna." Ditengah kepanikannya, Dika menelepon bidan Ratna, diangkat oleh bidan itu sendiri. Dika menjelaskan keadaan istrinya, bidan Ratna akan datang segera. Dan menyuruh Dika menyiapkan segala keperluan untuk persalinan Airin.
"Bentar ya, sayang. Bidan Ratna segera datang. Ayo, tarik napas panjang dan lepas perlahan. Aku bangunkan dulu Ibu, dan Mama." Dika bangkit dan beranjak ke luar kamar hendak memberitahukan keadaan, Airin.
Dalam gerak cepat, Bu Tia dan Bu Ratna sudah berada di kamar Airin. Mereka sudah siaga, kapan saja Airin akan melahirkan. Semua perlengkapan Airin untuk melahirkan sudah dipersiapkan sebelumnya. Ada dua tas koper berisi keperluan dedek bayi dan Airin.
Bidan Ratna yang datang dengan segera, memeriksa keadaan Airin. Semuanya normal tekanan darah Airin juga tidak mengkhawatirkan.
"Ayo, bu ibu disiapkan dulu air panas dek bayinya. Sudah pembukaan empat ini." Bidan Ratna mengelus-elus perut buncit Airin dengan lembuat. Dek bayinya udah gak sabar, pengen liat mama sama papanya." Canda Bidan Ratna menhalihkan ketegangan Airin terlebih Dika.
Yah, Dika memang nampak sangat tegang, setiap kali Airin mengeluh sakit, justru Dika merasakan kesakitan sendiri. Dengan lembut Dika mengusap keringat di kening Airin.
"Bu, apa kita tidak ke rumah sakit saja," saran Dika saking tak tahannya melihat Airin yang kesakitan saat mengejan. Lengannya sampai luka bekas cakaran Airin saat menahan sakit.
"Tidak apa-apa, Pak. Kelahiran sudah dekat ini. Kalau kita bawa ke rumah sakit, takutnya malah brojol ditengah jalan. Ayo, Airin saat kamu mersakan mulas dan sakit, saat itulah kamu mengejan ya?"
"Ka,...." Airin memegangi tangan Dika, mencari kekuatan. Saat dia merasakan sakit yang luar biasa melilit perutnya. Lalu sesuatu seperti terdorong dari perutnya, dan ada rasa lega yang di rasakan Airin.
Namun, tak seorang pun yang tau, karena luput dari perhatian mereka. Disaat Airin merasakan puncak kesakitannya dalam proses melabirkan itu, Dika juga mengalami sebuak reaksi yang sama.
Dika merasakan juga sakit yang luar biasa di kepalanya. Kepalanya seolah berputar dan potongan-potongan ingatannya seolah menyatu, utuh kembali.
Semua ingatan masa kecilnya. Tentang pernikahannya dengan Airin. Semua ingatan itu telah kembali, bersamaan dengan lahirnya seorang putranya dengan selamat dengan persalinan normal.
Ketika jerit tang" is bayi itu terdengar, saat itulah Dika tersadar kalau ingatannya juga sudah kembali.
"Airin....?" Dipeluknya seketika tubuh Airin yang bermandi peluh. Diciuminya seluruh wajah istrinya. Dika ingat kini, kalau istrinya adalah wanita yang sangat ia cintai.
"Sayang, terima kasih ya. Kamu telah memberikan seorang bayi dan selama ini sabar tetap menemaniku. ingatanku telah kembali, sayang. Seiring lahirnya putra kita."
"Apa, ingatannu sudah kembali? Kamu sudah sudah ingat siapa aku?!" beliak Airin penuh suka cita.
"Iya, aku sudah ingat siapa kamu, Ai. Perempuan yang paling kucintai dan kusayangi." Dika mengecup kembali kening Airin istrinya. Dika tak bisa menahan harunya, air matanya mengenang di kelopak matanya.
Bu Tia dan Rista, berpelukan penuh haru. Kebahagian mereka lengkap sudah dengan hadirnya cucu tersayang mereka, Dika juga sembuh dari amnesia yang dia derita beberapa bulan ini.
Segala sesuatunya memang akan indah pada waktunya. Manusia boleh berencana, Tapi kehendak Tuhan jualah yang jadi. Manusia hanya bisa menjalalni takdir hidupnya yang telah digariskan padanya. ****
"Halo reader setiaku. Maafkan ya, banyak novel author yang terpaksa di tamatkan, karena lama hiatus. Berhubung Author sakit, jadi tidak bisa fokus lagi mengejar ketinggalan dan telah kehilangan mood. Salam sehat buat semuanya, ya. Author akan fokus pada karya baru. Silahkan mampir di "Rasa yang hilang" ya. Karya author yang baru "