Warning! Khusus dewasa.
☕☕☕
Nuraini Safaruddin 19 tahun tidak menyangka, suami yang menikahinya adalah seorang pria loyo yang tidak bisa memenuhi nafkah batin istrinya.
Meskipun dirinya dianggap menjadi penyebab kedua orang tua suaminya itu meninggal, perempuan yang sehari-hari dipanggil Anik itu setuju dirinya dijadikan alat shock terapi membantu pria itu kembali normal.
Menjalani nikah kontrak dengan Agung Mahendra 27 tahun, di dalam kehidupan rumah tangga mereka yang masih seumur jagung, hadir wanita yang mirip dengan seseorang dari masa lalu suaminya itu yang dirasa mampu membuatnya menjadi pria sejati.
Akankah Agung akan berpaling dari istrinya?
Akankah Anik pasrah dengan nasibnya ataukah akan berjuang merebut cinta suaminya?
Selamat mengikuti, like dan vote sebanyak-banyaknya ya, thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Hotel WJ, daerah Jkt pusat.
Di atas kasur super jumbo King size, Anik berbaring membelakangi Agung, sementara Agung duduk diam terbengong seperti ayam yang mau dipotong.
Berapa kali telah dicoba tetap gawang yang setipis kulit ari itu tidak bisa ditembusnya, Dicky benar-benar mempermainkannya. Pemberi harapan palsu, bisa bangun saat dirangsang namun akan langsung terkulai tiba diarahkan ke depan pintu masuk kemalwn Anik.
"Hah!" Desah Pria tampan usia 27 tahun itu.
Masih muda menderita penyakit mati pucuk tak pernah terpikirkan olehnya akan bernasib mengenaskan di kehidupan pernikahannya.
Sebenarnya alasan Agung lari dari tanggung-jawabnya tiga tahun yang lalu memberi nafkah batin pada istri yang tidak disukainya itu, salah satu penyebabnya adalah rasa khawatirnya yang berlebih-lebihan. Jika Anik mengetahui kelemahannya, habislah harga dirinya di depan perempuan itu.
Kalau sekarang ia mempunyai alasan mengancam Anik untuk membatunya sembuh seperti pria normal lainnya, Agung menatap punggung perempuan yang telah dinikahinya itu, sendu. Sementara Anik pura-pura tertidur padahal tidak mengantuk sama sekali, tidak dipungkiri dirinya kesal juga dikacangin oleh Dicky.
Benar-benar sakit, time to in batang lembek.
Hum, tersenyum sinis.
Saat berusia 16 tahun aku dinikahkan Ayah, ternyata yang kudapat adalah pria loyo. Wahai para gadis di luar sana, kalau kalian mau menikah jangan lihat tampang dan harta semata. Tapi cobalah rasa burungnya terlebih dahulu, bisa matuk apa tidak agar kalian tidak menyesal di kemudian hari. Hehe maaf, jangan ditiru ya aliran sesat.
Plak!
"Aduh!"
Kaget melihat kaki panjang melingkari tubuhnya, ternyata Agung memeluk Anik dari belakang.
Astaghfirullah, berat nian dikau bang.
"Maaf," ucap Agung di telinganya.
Kenapa minta maaf dalam hati Anik tetap pura-pura tidur.
"Kita coba sekali lagi setelahnya kamu aku ijinkan tidur," desis Agung menggigit daun telinganya, terasa Dicky mengeras di belakangnya, "aku ngantuk." Anik menjawab khas orang mabuk.
"Jangan alasan! Jam lima pagi kamu bisa tidur sepuasnya sampai sore."
Agung mengguncang-guncang tubuhnya. "Hais," Anik berbalik badan.
"Bagaimana kalau besok kita ke dokter atau beli obat tahan lama di apotik?"
"Aku tidak mau," jawab Agung cepat.
"Kenapa?" Tanya Anik.
"Aku tidak sakit kenapa harus ke dokter dan aku tidak mau ketergantungan minum obat, tugas kamu mendidiknya menjadi pria sejati." Kata Agung mengangkat batangnya yang telah kembali mengeras.
Anik berpikir-pikir. "Kita buat perjanjian dulu hitam di atas putih, setelah itu aku membantumu"
Disini aku yang ngatur bukan kamu.
Dalam hati Agung tidak mengindahkan. "Jangan khawatir mengenai itu, sekarang waktunya mencoba lagi." Kata Agung Anik meraih tangannya menggenggam Dicky.
Astaga tingkat kekerasan cukup tapi kenapa saat dihadapkan ke pintu sorga, langsung letoy bikin darah tinggi.
Anik menelan liur. "Aku menghitung kita telah mencobanya puluhan kali, tidakkah sebaiknya malam ini istirahat dulu tidur yang cukup. Besok saat bangun pikiran dan tubuh kita fresh, baru coba lagi."
Agung yang merasa Dicky ready to in, "sekali lagi ayo lebarkan kakimu," katanya memaksa Anik membuka kakinya lalu berlutut diantara dua paha.
Astaga!
Belum diarahkan, Dicky terkulai lemas.
"Akh!"
Agung terhempas di tubuhnya, Anik memeluknya menenangkan perasaan pria di atasnya.
*
Setelah softlens terpasang, Adelia takjub dengan apa yang dilihatnya.
"Wow, keren sekali ini," serunya.
"Apa yang kamu lihat?"
"Dirimu dan isi pikiran kotormu," menjawab cepat. "Aaaaa!" Teriak perempuan itu kaget, terasa intinya ditusuk pedang yang tajam.
Pria itu tersenyum sinis, barusan dia menyundulnya tanpa perasaan. "Makanya jaga bicaramu, walaupun sikapmu kurang sopan aku bisa maklum untuk yang satu itu!" Kembali Suga menghentaknya lebih keras daripada barusan.
"Akh! Kamu minum obat kuat ya, huh!" Adel diterpa badai kenikmatan lagi.
"Tentu saja tidak, kamu menyukainya hup!" Seringai Suga menyundul lagi.
"Banget! Oh no, lakukan lagi."
"Setelah katakan apa yang kamu lihat."
"Hah!" Desah Adel mengalah. "Baiklah! Penghuni kamar di sebelah kanan sedang tidur berpelukan, kamar sebelah kiri seperti posisi kita sekarang, hahaha."
Perempuan itu tertawa saat melihat kamar depan, seorang pria gendut susah payah menggenjot seorang gadis belia di bawahnya sambil makan kacang koro.
"Apanya yang lucu?" Tanya Suga.
"Softlens ini benar-benar keren, aku akan mengambilnya." Kata Adel memandang Suga, pori-pori wajahnya hampir tidak terlihat saking halusnya. "Kulitmu sangat terawat seperti kulit bayi," ujarnya.
"Benarkah?" Tanya pria itu pura-pura.
"Sungguh, dimana kamu perawatan?"
"Tidak ada! Hanya sabun cuci muka," ujarnya terpaksa bohong, Suga tidak mau Adel mengetahui bahwa dirinya juga pernah mengalami kerusakan wajah seperti Junior yang sekarang. Bertahun tahun ia baru bisa pulih, itupun harus berganti wajah .
"Kamu juga awet untuk wanita se usiamu, aku banyak kenal wanita kulit mereka kelihatan kerutan saat tidak tertutup make up."
"Terimakasih, boleh lanjutkan yang tadi sundul di tempat yang sama," kata Adel gak fokus diajak ngobrol.
Tentu saja Suga tau karena bereaksi pada batangnya yang semakin terjepit, hup!
Hentaknya menggoda Adelia. "Ayo lihat ke kamar lainnya, apakah ada orang yang kamu cari."
"Lakukan dulu aaa," rengek Adel. "Cepat, lakukan lagi!" Teriak perempuan itu mendamba menatap sayu, Suga menurutinya, hup hup hup hup hup.
Argh, Adel merasa pahanya gemetar setelah pelepasan yang dahsyat padahal bisa dihitung cuma lima kali hentakan.
Gerak cepat Suga mengejar ketertinggalannya, di bawahnya Adelia menjerit-jerit bagian dalamnya habis diobrak-abrik. Berkali-kali dirinya diterpa badai kenikmatan namun pria diatasnya ini benar-benar monster cabul gak ada matinya.
Hah!
*
Dini hari pukul 03.30 waktu negara I daerah Jkt bagian selatan.
"Ayo Pak, katanya mau ke kantor." Ojak yang sudah selesai dengan Dina mendatangi Opak di sofa, ternyata masih berkubang di dalam lumpur maksiat.
"Iya dikit lagi," ujar Opak parau menikmati Mika yang naik turun di pangkuannya.
"Hais," keluh Ojak.
Pria yang baru tau enaknya rasa perempuan itu kembali ke kamar menemui Dina yang sedang mengenakan pakaiannya. "Kenapa yeang?" Tanyanya.
"Opak belum kelar, hah!" Ojak terhempas di kasur, "bobok sini yeang," ajaknya.
"Hum." Dina menghampiri kekasihnya.
"Kamu kenapa mau denganku?" Tanya Ojak pada cewek yang berbaring di sampingnya.
"Kenapa ya, suka aja dengan gaya kamu berpakaian," jawab Dina. "Kalau tidak berpakaian lebih suka lagi hihi," sambungnya malu membenamkan wajah di dada Ojak.
"Terimakasih sudah menyukaiku." Ojak mencium ujung kepala Dina.
"Aku yang harus berterima kasih." Dina mendongak memberikan senyum terbaiknya.
"Kita sama-sama berterima kasih, cup!" Ojak mengecup bibirnya. "Kamu enak banget," ujarnya.
"Kamu juga enak."
Tapi Ojak tidak mendengar lagi, melirik ke pintu melihat Opak dan Mika belum selesai juga malah sekarang sudah berganti posisi membajak sawah. Mika yang jadi kerbaunya di belakang Opak memecut pantatnya.
Yang bikin gak nahan adalah teriakan Mika, jadi teringat bunyi teriakan Adelia di ponsel Opak.
Astaga! Opak sepertinya terobsesi pada mbak Adel.
Dalam hati Ojak melihat teman yang pernah laga pedang dengannya itu semangat memacu kerbaunya, dirinya berdua Dina menonton live dari pintu kamar yang terbuka lebar.
Sampai kapan selesainya ini sudah mau pagi, hah!
"Bentar yeang," kata Ojak gak sabar meninggalkan Dina menemui Opak.
Sampai di ruang tengah. "Pak! kita jalan duluan ya, kamu nyusul aja."
Opak mengangguk. "Iya deh Jak, thanks ya. Heah heyah ah akh!" Opak memecut pantat kerbaunya yang bohai.
Ish.. dasar.
***tbc.
Like, komen and share 👍.
atau agung dgn Lia
ayo kak😅😅😅😅😅