Ayunindya, gadis yang hanya bekerja sebagai pembantu di keluarga Wiliam. Kecantikannya mampu membuat anak dari majikannya itu jatuh hati padanya. Tapi sayang, keluarga Wiliam yang menjunjung tinggi nama baiknya membuat Affandra Wiliam mengubur rasa cintanya.
Hingga akhirnya, Affandra dijodohkan dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Namun, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dipernikahannya. Affandra kecewa dengan sang istri.
Aileen, istri dari Affandra telah menanam kebencian untuk suaminya. Dirinya yang tak lagi suci membuat Affandra kecewa, tepat di malam pengantinnya.
Malam pengantin yang harusnya berakhir bahagia pada Affandra tapi nyatanya tidak, hingga ia mabuk berniat melupakan semuanya. Karena pengaruh alkohol ia malah melakukan keselahan, di mana ia malah menghabiskan malam pertamanya dengan Nindya, pembantu yang ia cintai sejak dulu.
Lalu, bagaimana dengan kisah rumah tangganya?
Akankah Affandra tanggung jawab pada Ayunindya gadis yang ia rampas mahkotanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Di rumah sakit.
Sudah hampir satu jam mereka menunggu kedatangan Andra. Tak lama dari situ, dokter datang menemui pasien untuk memeriksanya.
Penasaran akan usia kandungan Aileen, Lidia menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi kandungannya, Dok?" tanya Lidia, bukan perhatian, melainkan ia hanya ingin tahu usia kandungan Aileen.
"Untuk saat ini kandungannya baik-baik saja, mungkin karena banyak pikiran membuatnya pingsan kemarin," jelas dokter. Karena kondisi pasien baik-baik saja, dokter pun undur diri. Tapi kepergian dokter terhambat karena Lidia kembali bertanya.
"Tunggu, Dok. Berapa usia kandungannya sekarang?" tanya Lidia lagi.
"Apa-apaan ini? Kenapa dia ingin tahu sekali?" batin Aileen. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu, kalau tidak ada untuk apa dia menanyakan usia kandungannya, pikir Aileen.
"Maaf, Nona Aileen tidak ingin melakukan USG jadi saya tidak terlalu yakin berapa usia kandungannya," jelas dokter.
"Kenapa tidak yakin? Dokterkan spesialis Dokter kandungan, tanpa USG seharusnya tahu dong berapa usia kehamilannya," ucap Lidia lagi.
Dokter itu bukan tidak tahu akan usia kandungannya, tapi Aileen mengaku bahwa kehamilannya belum sampai satu bulan. Dia juga mengaku bahwa bulan kemarin pun masih mendapatkan menstruasi. Padahal dokter sudah menjelaskan secara detail pada pasiennya bahwa ada kesalahan dalam usia kandungannya yang ia taksir.
Dokter tidak lagi berkata apa pun karena ia melihat tatapan tajam dari pasien. Dokter mengira ada masalah yang tak seharusnya ia ikut campur. Dokter itu hanya berurusan dengan pasien bukan dengan keluarganya.
"Jika ingin lebih jelas, bujuk Nona Aileen melakukan USG," kata dokter itu.
"Kenapa dia tidak mau melakukan USG?" Sebuah pertanyaan dari seseorang membuat mereka semua teralih pada sumber suara itu. Ya, Andra datang tepat waktu.
Aileen yang melihat keberadaan suaminya semakin berkeringat dingin, apa ini awal dari kehancuranya? pikirnya.
"Iya, lakukan USG saja biar lebih pasti," timpal Anye. Anye ingin segera membongkar kebohongan menantunya itu.
"Dok, lakukan USG sekarang juga," suruh Andra.
"Baik, Tuan." Karena yang menyuruhnya adalah suami dari pasien, dokter pun langsung mengambil tindakkan. "Sus, siapkan alat USG-nya," ucap dokter pada suster yang ikut dengannya.
"Baik, Dok." Suster langsung menyiapkan alat USG tersebut.
Kini Aileen sudah terbaring dan siap untuk dilakukan USG.
"Tunggu, apa kalian tidak percaya pada usia kandungan yang dikatakan Aileen sampai harus melakukan USG?" kata Morano.
"Pa, hasil USG bukan hanya untuk melihat usia kandungannya saja. Itu lebih akurat untuk melihat kondisi janinnya dalam keadaan sehat apa tidak," jelas Lidia.
"Sial, wanita itu benar-benar pengganggu," batin Aileen menggerutu.
Suster mulai meletakkan gel di perut Aileen, sensasi dingin yang terasa di kulitnya ia sampai memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Bagaimana, Dok?" tanya Andra sambil melihat layar monitor. Meski ia tak mengerti tapi ia tahu di mana letak janinnya karena terlihat gumpalan di sana.
"Kondisi janinnya sehat, dan ini usia kandungannya." Jelas dokter sambil menunjuk arah angka yang tertera di layar monitor itu.
"Usianya gak salah, Dok?" tanya Lidia.
"Gak, ini usia kandungannya," jelas dokter.
"Kalau usia kandungannya segitu, berarti itu lebih tua dari pernikahan mereka," ucap Lidia lagi.
Morano dan Wiliam nampak terkejut, bahkan saking tak percayanya Wiliam menghampiri layar monitor dengan sangat dekat. Ia memakai kacamata untuk melihatnya. Raut kecewa dan marah begitu nampak di wajahnya.
"Bisa jelaskan semuanya kenapa bisa seperti ini?" tanya Wiliam pada Aileen, hidungnya sudah kembang kempis karena sedang menahan amarah.
Aileen tak menjawab, wanita itu hanya bisa menangis. Lalu ia bersujud di kaki Wiliam.
"Maafkan aku, Dad. Aku tak bermaksud berbohong, aku tidak tahu kalau ternyata aku hamil," jelas Aileen.
Morano pun sangat malu akan hal ini, bagaimana ini bisa terjadi? Meski begitu, Aileen tetap anak yang ia sayangi. Ia tak rela jika putrinya bersimpuh meminta maaf, terlebih harus mengemis cinta dari suaminya.
"Aku mencintai suamiku, Dad. Tolong maafkan aku," lirihnya lagi.
"Cinta kamu bilang? Ini penghianatan namanya! Bahkan kamu masih menjalin hubungan dengan kekasihmu setelah menikah denganku. Perlu aku bawa pria itu datang kemari?" kata Andra.
"Apa kamu masih ingat? Kamu datang ke rumah sakit dan memaksa Adam untuk pasang vasektomi, kamu benar-benar wanita gila yang pernah aku temui. Senekat itu ide gilamu? Karena tak mendapatkan sentuhan dariku sampai kamu berbuat seperti itu!" sarkas Andra.
Lidia dan Anye sangat shock ketika mendengar kenekatan Aileen.
"Ini yang disebut wanita terhormat? Bercinta dengan laki-laki lain sampai hamil, dan setelah itu kamu lakukan berbagai macam cara agar aku bisa tidur bersamamu." Kemarahan Andra begitu meletup-letup.
"Apa Daddy ingat dengan kejadian tempo lalu?" tanya Andra pada Wiliam saat sang daddy memperegokinya di hotel. "Dia menggodaku, dan hampir aku masuk ke dalam jebakannya," sambungnya lagi.
"Ya ampun, Aileen. Kenapa kamu semurah itu jadi wanita," ucap Lidia.
"Ya, aku murahan. Saking murahnya aku sampai mengemis cinta pada suamiku, apa itu salah? Salah jika aku mempertahankan rumah tanggaku?" Aileen menangis sejadi-jadinya.
"Ini bukan alasan, Aileen. Pernikahan kita tidak bisa lagi dilanjutkan, anak yang kamu kandung bukanlah anakku. Dia juga punya ayah yang begitu menyayanginya, dan dia juga menyayangimu. Buka matamu, bukankah dia lelaki yang cukup bertanggung jawab?" kata Andra.
"Jangan bilang kalau itu adalah Adam?" ujar Morano.
"Hentikan untuk semua ini, semuanya sudah jelas, Morano. Aku kecewa pada putrimu, bahkan aku sempat mempercayainya ketimbang pada anakku sendiri. Semua selesaikan di persidangan, aku tidak ingin memiliki menantu murahan sepertinya," kata Wiliam. Setalah mengatakan itu, Wiliam berlalu tanpa tahu bagaimana Aileen yang begitu merasakan sakit yang amat luar biasa.
Karena sudah jelas, Anye pun menyusul suaminya. Sementara Andra, pria itu masih berada di sana karena ia belum menyelesaikan urusannya dengan Aileen.
Aileen masih dalam keadaan berlutut, jiwanya sangat hancur. Tubuhnya begitu bergetar. Dan Andra menghampirinya bahkan ikut berjongkok, bagaimana pun wanita masih istrinya.
"Berhentilah menangis, semuanya tidak bisa kembali seperti semula. Anak yang kamu kandung butuh sosok ayah, menikahlah dengan Adam," kata Andra. Ia mencoba memberi pengertian pada wanita itu, karena sesungguhnya cinta tak harus memiliki.
"Tapi aku tidak mau berpisah denganmu, aku mencintaimu." Tangis Aileen pecah saat itu juga di hadapan suaminya.
"Kita akhiri semuanya dengan baik-baik, aku tunggu di persidangan nanti." Tanpa mempedulikannya lagi, Andra segera pergi dan meninggalkan Aileen.
Setelah kepergian Andra, Morano begitu marah. Meski anaknya yang salah, ia tak terima jika putrinya diperlakukan begitu rendah oleh Wiliam. Kata-kata murahan begitu terngiang di telinganya. Pria itu mengepalkan tangannya, tidak ada lagi namanya persahabatan di antara mereka.
tapi kadang juga merupakan firasat
Ketika papanya Dewi akan berangkat kerja...
Dia mengatakan " Titip Dewi...jaga baik-baik karena akan pergi jauh"....
itulah perkataan terakhir yang ternyata merupakan suatu firasat....
Nandya punya sikap dan pribadi yang baik...dia dapat menahan perasaannya ketika bertemu dengan Doni ,ayahnya Dewi....
Padahal Nandya sejak Hanum masih hidup dia greget bangeet dengan Doni suaminya Hanum
Tapi karena ada ibunya Doni yang sudah tua...jadi Nandya menahan perasaan itu agar tidak marah kepada Doni....
Nandya menghormati keberadaan ibunya Doni , neneknya Dewi
jadi ketika Akhsa bertanya kepada Dewi ,Apakah dia ( Nathan)sudah mengungkapkan perasaannya kepadamu?"
Jawaban Dewi terhadap pertanyaan Akhsa membuktikan bahwa Nathan tidak berkhianat kepada Akhsa...
Memang kalo sudah jodoh tak kan kemana.
di dunia nyata dan dunia narasi....
pasti hatinya sedih ...
sbb tak ada seorang ibupun yg mau berpisah dg anak yg tlh dilahirkan...
Sabar ya Aileen....masa itu akan datang
Masa dimana kau akan bertemu dengan anak yg tlh kau lahirkan
Morano kalo imitasi gimana bisa pake lebel mas murni.
rongsokan ya berkumpul dengan bardol atuh kang morano. jangan marah dibilang murahan kalo memang di obral.
barang orie mana di obral, di segel kali.
sayang aku telat baca nya ya thoor