Hari dimana umat manusia menyaksikan sebuah meteor menhancurkan sebuah desa di kaki gunung Tasikmalaya yang menyebabkan tercemarnya aliran air dan juga menjadi sebuah wabah terjangkitnya yang di sebut "Inang" sebutan bagi manusia yang terjangkit di karenakan mereka bertingkah monster yang memakan manusia dan menginfeksi korban mereka, Mampukah manusia bertahan atau "inang" yang menang dalam wabah ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KURORYU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 READY OR NOT (2)
"Dah... Jangan lu pikirin! Dia mungkin lagi sensi aja... Yo, jalan!"
Ucap Gilang sambil berjalan mendahului Wildan. Dia selipin satu batang rokok ke bibir, ngeluarin korek dari saku, lalu nyalain dengan satu gerakan. Asap tipis keluar dari mulutnya, menguap di udara pagi yang masih agak dingin.
Wildan nyusul dari belakang, ngelirik sekilas ke rokok di tangan Gilang. Dia ulurin tangan, tatapannya datar.
"Rokok."
Cuma satu kata, pendek.
Gilang nyengir, langsung nyodorin bungkus rokoknya ke tangan Wildan.
"Udah gue tebak. Nih, ambil."
Wildan narik satu batang, nyalain pake korek dari Gilang, trus ngisep pelan.
---
Setelah beberapa menit jalan kaki, mereka akhirnya nyampe di lapangan yang kemarin jadi lokasi acara "malem berkabung". Sekarang lapangan itu udah rame lagi, tapi vibe-nya beda—lebih serius. Ada beberapa kelompok kecil yang lagi ngobrol, kebanyakan pake jaket team masing-masing. Wajah-wajah baru juga keliatan, kandidat buat masuk Bar-Bar King.
Di ujung lapangan, ada truk gede. Di atas kabinnya, keliatan Reze sama Oglost duduk santai. Reze lagi ngopi, Oglost ngerokok sambil ngelepas pandangan kosong kayak biasa. Dari kejauhan, keliatan mereka ngobrol dikit, tapi nggak jelas ngomongin apa.
Wildan ngajak Gilang buat nyamperin sisa anggota squad Farmer yang udah ngumpul di sisi kiri lapangan.
"Ayo, kenalin lu ke anak-anak. Biar resmi."
Tapi baru beberapa langkah, suara mic berdengung keras.
"Tes... satu, dua...!"
Terdengar berat, jelas dari speaker yang terpasang di tengah lapangan.
Seorang pria berbadan gede, botak, berdiri di atas panggung darurat dari peti kayu. Jaket hitamnya bertuliskan "Bar-Bar King" di punggung, dengan lambang tengkorak gigit belati.
"Selamat datang buat para anggota baru yang mau masuk Bar-Bar King!!"
Suaranya lantang, bikin semua mata merhatiin dia.
Wildan nengok ke kanan, suara samar dari kejauhan.
"Will!! Sini gabung!!"
Teriakan itu datang dari salah satu anggota timnya, ngacungin tangan tinggi-tinggi biar keliatan. Wildan angguk pelan, nunjuk Gilang buat ngikutin.
---
Mereka sampe di area tempat squad Farmer ngumpul. Ada beberapa orang duduk nglesot, ada juga yang berdiri, sebagian besar wajahnya pucet—campuran antara takut sama tegang.
Seorang cowok dengan rambut cepak nyamperin, langsung nyodorin tangan ke Gilang.
"Gua Arka. Welcome, wakil baru."
Dia nyengir lebar, meskipun jelas-jelas ada bekas luka baru di pelipisnya.
"Gilang."
Gilang nyambut tangan Arka, salaman singkat tapi erat.
Wildan berdiri di samping mereka, ngebenerin kerah jaketnya.
"Nih anak bakal banyak bantuin kita mulai sekarang."
Seorang cewek dengan rambut dikuncir kuda, jaketnya penuh emblem tempelan, nimbrung.
"Baru ya? Semoga awet deh di sini. Nama gue Mayang."
Gilang cuma angguk.
"Gue usaha."
Mereka ketawa kecil, meskipun suasana masih agak kaku.
---
Suara mic terdengar lagi.
"SEMUA KANDIDAT KUMPUL DI TENGAH LAPANGAN! Tes pertama segera dimulai!"
Wildan nunjuk ke depan.
"Yo, Lang. Lo maju, ikut instruksi mereka. Gue pantau dari sini."
Gilang tarik napas pelan.
"Oke, Wil."
Dia jalan menuju lapangan, nyempil di antara para kandidat lain. Kebanyakan cowok, tapi ada juga beberapa cewek yang keliatan keras kepala.
Di depan mereka, berdiri lagi pria berbadan besar itu.
"Nama gue Andra. Pelatih fisik Bar-Bar King. Hari ini, kita mulai dengan HAL SEDERHANA—bertahan hidup!"
Mata Gilang nyempit. Hawa lapangan langsung berubah. Ada yang senyum kecil, ada yang jelas-jelas mulai panik.
Andra nunjuk ke deretan alat tempur di sampingnya—senjata blunt, pisau tumpul, kayu, rantai besi.
"Satu lawan satu. Yang kalah... MINGGAT!"
Riuh. Beberapa peserta mulai saling lirik, ngukur lawan potensial. Gilang diem aja, nyimak, sambil nunggu namanya dipanggil.
---
Dari atas truk, Reze nyengir kecil.
"Liat tuh bocah lo, Wil. Gue rasa dia tahan banting."
Wildan ngelirik.
"Gue nggak yakin soal itu... Tapi dia punya alasan buat bertahan."
Oglost diem, matanya nggak lepas dari Gilang di tengah kerumunan.
"Kalo dia gagal, gue sendiri yang beresin dia."
Suara Oglost pelan, tapi dingin.
Reze ngelirik ngeri, tapi nggak komentar.
---
Nama pertama dipanggil. Duel pertama dimulai.
Gilang berdiri di barisan ketiga, nunggu giliran sambil narik napas dalam-dalam. Tangannya ngeremas celana tempurnya, nahan grogi.
Matanya ngelirik, nyari Wildan—yang berdiri agak jauh, ngangguk pelan, ngasih kode semangat.
Giliran Gilang bakal dateng.
Dia tahu, sekarang bukan cuma soal fisik. Ini tentang nahan rahasia... dan bertahan.
"Dah... Jangan lu pikirin! Dia mungkin lagi sensi aja... Yo, jalan!"
Ucap Gilang sambil berjalan mendahului Wildan. Dia selipin satu batang rokok ke bibir, ngeluarin korek dari saku, lalu nyalain dengan satu gerakan. Asap tipis keluar dari mulutnya, menguap di udara pagi yang masih agak dingin.
Wildan nyusul dari belakang, ngelirik sekilas ke rokok di tangan Gilang. Dia ulurin tangan, tatapannya datar.
"Rokok."
Cuma satu kata, pendek.
Gilang nyengir, langsung nyodorin bungkus rokoknya ke tangan Wildan.
"Udah gue tebak. Nih, ambil."
Wildan narik satu batang, nyalain pake korek dari Gilang, trus ngisep pelan.
---
Setelah beberapa menit jalan kaki, mereka akhirnya nyampe di lapangan yang kemarin jadi lokasi acara "malem berkabung". Sekarang lapangan itu udah rame lagi, tapi vibe-nya beda—lebih serius. Ada beberapa kelompok kecil yang lagi ngobrol, kebanyakan pake jaket team masing-masing. Wajah-wajah baru juga keliatan, kandidat buat masuk Bar-Bar King.
Di ujung lapangan, ada truk gede. Di atas kabinnya, keliatan Reze sama Oglost duduk santai. Reze lagi ngopi, Oglost ngerokok sambil ngelepas pandangan kosong kayak biasa. Dari kejauhan, keliatan mereka ngobrol dikit, tapi nggak jelas ngomongin apa.
Wildan ngajak Gilang buat nyamperin sisa anggota squad Farmer yang udah ngumpul di sisi kiri lapangan.
"Ayo, kenalin lu ke anak-anak. Biar resmi."
Tapi baru beberapa langkah, suara mic berdengung keras.
"Tes... satu, dua...!"
Terdengar berat, jelas dari speaker yang terpasang di tengah lapangan.
Seorang pria berbadan gede, botak, berdiri di atas panggung darurat dari peti kayu. Jaket hitamnya bertuliskan "Bar-Bar King" di punggung, dengan lambang tengkorak gigit belati.
"Selamat datang buat para anggota baru yang mau masuk Bar-Bar King!!"
Suaranya lantang, bikin semua mata merhatiin dia.
Wildan nengok ke kanan, suara samar dari kejauhan.
"Will!! Sini gabung!!"
Teriakan itu datang dari salah satu anggota timnya, ngacungin tangan tinggi-tinggi biar keliatan. Wildan angguk pelan, nunjuk Gilang buat ngikutin.
---
Mereka sampe di area tempat squad Farmer ngumpul. Ada beberapa orang duduk nglesot, ada juga yang berdiri, sebagian besar wajahnya pucet—campuran antara takut sama tegang.
Seorang cowok dengan rambut cepak nyamperin, langsung nyodorin tangan ke Gilang.
"Gua Arka. Welcome, wakil baru."
Dia nyengir lebar, meskipun jelas-jelas ada bekas luka baru di pelipisnya.
"Gilang."
Gilang nyambut tangan Arka, salaman singkat tapi erat.
Wildan berdiri di samping mereka, ngebenerin kerah jaketnya.
"Nih anak bakal banyak bantuin kita mulai sekarang."
Seorang cewek dengan rambut dikuncir kuda, jaketnya penuh emblem tempelan, nimbrung.
"Baru ya? Semoga awet deh di sini. Nama gue Mayang."
Gilang cuma angguk.
"Gue usaha."
Mereka ketawa kecil, meskipun suasana masih agak kaku.
---
Suara mic terdengar lagi.
"SEMUA KANDIDAT KUMPUL DI TENGAH LAPANGAN! Tes pertama segera dimulai!"
Wildan nunjuk ke depan.
"Yo, Lang. Lo maju, ikut instruksi mereka. Gue pantau dari sini."
Gilang tarik napas pelan.
"Oke, Wil."
Dia jalan menuju lapangan, nyempil di antara para kandidat lain. Kebanyakan cowok, tapi ada juga beberapa cewek yang keliatan keras kepala.
Di depan mereka, berdiri lagi pria berbadan besar itu.
"Nama gue Andra. Pelatih fisik Bar-Bar King. Hari ini, kita mulai dengan HAL SEDERHANA—bertahan hidup!"
Mata Gilang nyempit. Hawa lapangan langsung berubah. Ada yang senyum kecil, ada yang jelas-jelas mulai panik.
Andra nunjuk ke deretan alat tempur di sampingnya—senjata blunt, pisau tumpul, kayu, rantai besi.
"Satu lawan satu. Yang kalah... MINGGAT!"
Riuh. Beberapa peserta mulai saling lirik, ngukur lawan potensial. Gilang diem aja, nyimak, sambil nunggu namanya dipanggil.
---
Dari atas truk, Reze nyengir kecil.
"Liat tuh bocah lo, Wil. Gue rasa dia tahan banting."
Wildan ngelirik.
"Gue nggak yakin soal itu... Tapi dia punya alasan buat bertahan."
Oglost diem, matanya nggak lepas dari Gilang di tengah kerumunan.
"Kalo dia gagal, gue sendiri yang beresin dia."
Suara Oglost pelan, tapi dingin.
Reze ngelirik ngeri, tapi nggak komentar.
---
Nama pertama dipanggil. Duel pertama dimulai.
Gilang berdiri di barisan ketiga, nunggu giliran sambil narik napas dalam-dalam. Tangannya ngeremas celana tempurnya, nahan grogi.
Matanya ngelirik, nyari Wildan—yang berdiri agak jauh, ngangguk pelan, ngasih kode semangat.
Giliran Gilang bakal dateng.
Dia tahu, sekarang bukan cuma soal fisik. Ini tentang nahan rahasia... dan bertahan.