Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.
Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.
Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.
~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roman Picisan
Dak
Dak
Dak
Suara ranjang besi mengiringi aktifitas gila Tomi mengejar kepuasannya. Dengan sudah adanya cadangan di dalam kotak merah itu, sekarang Tomi memasukkan jasad wanita yang dinodainya tadi ke dalam freezer besar.
Ctak!
Dharma mulai beraksi setelah memastikan Tomi pergi. Sebuah korek gas di tangan kirinya telah dinyalakan dengan sudut yang menyesuaikan. Perlahan tali sabuk di tangannya mulai meleleh. Sambil terus membakar dan menariknya mulai ada secercah harapan baginya meloloskan diri.
Ikatan yang terbakar sedikit demi sedikit membuat kulit lengan ikut melepuh, tetapi Dharma tak peduli. Bahan sintetik itu membuat api tak bisa bertahan lama, sebentar terbakar kemudian meneteskan bara karetnya. Dharma nekat melanjutkan aksinya meski dengan menahan panas dan perih. Sayang, belum sampai ikatannya putus ternyata isi gas korek tersebut sudah habis.
Ctak!
Ctak!
Ctak!
Hanya percikan-percikan api kecil yang muncul, tak lagi tercium bau gas.
Arrgh!!!
Klotak!
Dilemparkannya korek yang semakin membuatnya frustasi itu. Wajah Dharma semakin pucat, apalagi bagian bibirnya yang sudah sejak kemarin tak mendapat cairan selain liurnya sendiri. Sumpalan di mulutnya bahkan terlanjur basah oleh saliva.
Pandangan Dharma beralih ke monitor yang menampakkan ruang makan. Dengan sedikit memiringkan kepala dapat dilihatnya si botak sedang duduk di antara Tante Ruri dan Mika. Entah apa yang sedang di bicarakan karena tak ada suara audio terdengar. Si botak tampak bergerak begitu kaku sedari tadi, kontras dengan Mika yang begitu erotis melekat pada lengannya. Ini adalah pemandangan makan malam keluarga yang bahagia andai dalam situasi normal.
Tomi melintas begitu saja tampak tak tertarik untuk ikut bergabung. Seperti biasa dia selalu berangkat berburu ke hutan saat malam dan pulang esok pagi hari.Berbagai peralatan telah dibawa layaknya seseorang yang berangkat melakukan hobinya.
Tante Ruri beranjak dari tempat duduknya menuju ke belakang si botak. Entah sejak kapan kejadiannya tak terekam kamera, ternyata bagian dahi si botak sudah ada bekas irisan melingkar. Seperti membuka sebuah topi, Ruri mengangkatnya lalu dengan sebuah sendok makan mengeruk sebuah gumpalan kecil. Ruri menyuapi si botak yang dengan lahap mengunyahnya.
Hoekk!!
Hoeek!
Zorrr
Seketika Dharma muntah hingga sumpalan di mulutnya ikut terlepas. Tak ada lagi kata yang bisa menggambarkan kejijikan Dharma melihat kejadian di ruang makan itu. Ia memilih diam, mencari peluang meloloskan diri dari rumah itu dan menyelamatkan Nirmala. Segala doa dipanjatkannya. Lalu sejenak dia menyadari bahwa ini bukan saatnya berputus asa. Ada seseorang yang harus diperjuangkannya. Bahkan dia siap bertukar nyawa demi keselamatan Nirmala dan bayinya.
Ctak!
Ctak!
Tiba-tiba ada suara memecah keheningan. Dharma memandang ke sekeliling dan didapatinya sumber suara adalah dari kotak merah yang berisi mahasiswi pirang.
Ctak!
Krettt!
Ternyata wanita pirang di dalam kotak merah itu sedang berusaha keluar. Adalah tali BH jenis halter neck yang dilemparkannya beberapa kali dari celah kecil kotak merah itu. Beruntungnya tali BH itu berhasil terkait ke engsel. Tampak tali itu meregang kencang.
Klek!
Gerendel kotak itu bergeser terbuka, dan penutup kotak itu didorong perlahan dari dalam.
***
"Siapa kamu?" Nirmala berusaha tenang menghadapi penculik yang aneh itu.
"Toni"
Jawaban itu justru lebih aneh lagi bagi Nirmala karena tak mungkin seorang penculik menampakkan wajah atau menyebutkan nama.
"Perjalanan masih jauh. Kau suka kisah horor?" tanya Toni sambil menengok kepada Nirmala.
Jelas sudah sosok yang menculiknya. Dengan wajah yang baby face, tampaknya takkan ada seorangpun mengira bahwa Toni seorang penjahat atau pembunuh yang sadis.
"A--ku lebih suka kisah romantis," jawab Nirmala dengan cerdik.
"Baiklah, aku punya satu."
Nirmala merasa dirinya sedang berhadapan dengan psikopat yang aneh. Diculik tanpa diikat atau pun disakiti adalah suatu keuntungan baginya untuk mencari kesempatan menyelamatkan diri. Dia harus setenang mungkin menghadapi psikopat ini.
Toni memulai cerita yang dia anggap romantis itu. "Seorang wanita telah begitu dekat dengan ajalnya. Hidup tak memberinya pilihan selain menerima nasibnya sebagai korban penjajahan. Berbagai macam virus penyakit telah disuntikkan ke badannya untuk percobaan. Hingga datang seorang ilmuwan gila yang memberinya harapan ...."
Melintasi jalur pegunungan saat gerimis di antara kegelapan deret pepohonan belum mampu membuat prolog cerita itu menarik minat Nirmala hingga saat Toni menyebut sebuah nama.
"Ruri, nama wanita itu, dia menerima permintaan Tjip sang ilmuwan sebagai kelinci percobaan vaksin antivirus. Tjip berjanji sebuah kehidupan baru dengan menikahi dan memberinya keturunan."
"Ruri?"
"Sunyaruri"
Nirmala terhenyak menyadari bahwa cerita ini tentang tantenya Dharma.
"Setelah puluhan kali disuntik berbagai kombinasi vaksin antivirus ternyata Ruri selamat bahkan dinyatakan 100% sehat. Namun, sang ilmuwan sendiri begitu khawatir penemuannya disalahgunakan untuk bidang militer atau perang. Dia tak mau lagi penemuannya memperkuat pihak penjajah dan menambah kesengsaraan bangsa sendiri. Sehingga ketika vaksinnya diproduksi massal dan akan diujicoba, Tjip mencampurkannya dengan penyakit tetanus. Hasilnya ribuan romusha di Klender, Kemayoran, Palembang, Kalimantan, dan Surabaya meregang nyawa akibat vaksin berisi penyakit tetanus tersebut.
"Ilmuwan di tempat lain yang bertugas menyuntikkan vaksin menjadi kambing hitam, termasuk tokoh yang diidolakan oleh Tjip sendiri.
"Tjip dan Ruri berniat melarikan diri ke luar pulau. Ruri harus sembunyi di rumah orangtuanya sambil menanti kedatangan Tjip yang menyiapkan bekal pelarian. Ketika Tjip menyusul ke rumah orangtua Ruri ternyata rumah tersebut sudah dibumihanguskan. Tjip akhirnya melarikan diri sendirian."
Jalanan yang begitu ekstrim dan licin membuat Toni lebih menambah konsentrasinya untuk menyetir dan menghentikan ceritanya sejenak.
"Lalu apa yang terjadi pada Ruri?"
"Ruri ternyata selamat dari serangan tentara penjajah yang menyerang rumahnya. Bahkan para tentara itu dibantai sendirian olehnya yang mengamuk karena orangtuanya dibakar hidup-hidup dalam rumah itu. Pembantaian delapan tentara itu adalah pengalaman pertama kali Ruri membunuh, seorang diri dengan pedang katana yang direbutnya.
"Puluhan tahun berpindah-pindah lokasi melarikan diri, baru Ruri sadari ternyata eksperimen Tjip membuatnya mempunyai keistimewaan yang tak dimiliki manusia lain. Selain kekuatan dan kesadisan, ternyata usia tak lagi berpengaruh baginya, fisiknya tak sedikitpun berubah sejak eksperimen puluhan tahun yang lalu itu. Namun, sebagai efek sampingnya Ruri menjadi seorang yang mempunyai insting pembunuh serta selera akan darah dan daging manusia," tutur Toni dengan sesekali melirik Nirmala dari spion.
"Maksudmu kanibal?"
"Sempat mengasingkan diri di pegunungan, Ruri yang berusaha hidup normal bertemu seorang pemuda bernama Tirto yang begitu alim. Saling jatuh cinta, mereka pun berencana segera menikah. Namun, saat Ruri diajak ke rumah orangtua Tirto di pulau seberang, terbukti dunia memang begitu sempit. Tirto ternyata adalah anak kedua dari Tjip, ilmuwan yang dulu berjanji menikahinya."
(Bersambung)
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.