Satu rumah dengan orang yang paling kita cintai, memang impian semua orang, tapi bagiku itu seperti neraka.
Bagaimana jadinya jika pernikahan yang seharusnya tumbuh karena cinta dan malah terjadi karena ketidaksengajaan.
Dan di satu rumah kan bersama orang yang kita sayangi namun berakhir tragis.
bagaimana kelanjutan kisahnya, jangan lupa untuk menambahkan ke favorit biar dapat informasi updatenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJAUH
Setelah kejadian itu komunikasi antara aku dan Danial terputus begitu saja, dan bahkan Oma sering menelpon untuk mampir kerumahnya.
Aku bahkan belum tahu siapa Wanita yang Danial hamili itu, aku merasa dipermainkan olehnya dia yang mau hubungan serius dari awal nyatanya sekarang dia yang mempermainkan aku, rasanya aku seperti di buat mainan olehnya.
3 Bulan sudah berlalu, aku menata kehidupan dan suasana baru. Setelah kejadian itu kami sekeluarga pindah ke luar kota untuk menyembuhkan Luka yang di buat Danial.
Aku bekerja diperusahaan milik Noku dan dia sudah berjanji tidak akan melibatkan Danial dalam pekerjaan kami bahkan Noku juga sering bilang kalau Danial berusaha mencariku.
"Zi Danial mau menikah 2 hari lagi, yakin lo gak apa-apa?" tanya Noku.
"Ya terus gimana, masa iya aku harus ngamuk-ngamuk di pernikahannya" jawabku bercanda.
"Sebenarnya sih aku udah gak mau tahu apa-apa lagi tentang dia, aku udah Ikhlas tentang masalah yang lalu." jelasku.
"Kamu juga masih gak mau tahu siapa Wanita itu?" Tanya Noku sambil menatapku penuh arti.
"Siapa?"
"Zahra" jawabnya.
"Oh" aku seperti tidak menyangka dengan semuanya, kenapa harus wanita itu kenapa bukan wanita lain saja.
"Kamu akan datang di pernikahannya nanti?" Tanya Noku.
"Apa tidak akan merusak suana jika aku datang?" rasanya ingin sekali datang untuk melepas Danial terakhir kalinya.
"kalo kamu mau ya kita datang saja, kita gak akan ganggu acara mereka" ucap Noku.
"Kita?"
"maksudnya gimana?" Tanyaku
"ya kita datang, kamu datang sebagai pasanganku jadi mau Zahra atau Danial sekalipun gak akan bisa ngusir kamu" jelas Noku.
"terus nanti Oma gimana ? gak mungkin kan kita ngaku pasangan di depan Oma" Ucapku.
"Ya gak ada salahnya kan kita mencoba hal baru, lagian kamu udah kenal aku dari lama, dan aku juga udah kenal kamu jadi kita gak perlu pengenalan lagi kalo perlu seminggu lagi kita nikah juga bisa" Kata-kata Noku makin melantur.
"Kamu sakit ya?" candaku.
"Aku beneran jatuh cinta sama kamu Zi, apa kamu akan terima aku jika melamar kamu sekarang?" tanyanya semakin melantur.
"Kamu bercanda gak sih?" aku berusaha menatap matanya namun tidak menemukan keraguan sedikitpun dimatanya apa mungkin dia sungguh-sungguh.
"Zi, kamu percaya kan sama aku, aku bisa buat hidup kamu bahagia. Aku ingin kita bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, aku mau kamu menjadi istriku" penuturannya membuatku sedikit tergerak.
"Noku, apa kamu yakin. aku aja belum tahu apa aku bisa menjadi istri yang baik nantinya" ucapku meyakinkan.
"aku gak peduli dengan masalalu kamu, aku cuma mau kita bisa bahagia bersama" ucapnya sambil mengelus pipiku lembut karena posisi kami duduk berhadapan.
Tiba-tiba Noku mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku lalu menatap penuh harap padaku.
"Aku gak yakin bisa menjadi istri yang baik buat kamu, kamu sendiri tahu kan aku gak semudah itu membuka hati" aku bingung memberikan alasan apa padanya.
"ya udah kita jalani aja dulu, soal cocok dan tidaknya nanti kita lihat bagaimana kedepannya aku yakin kamu bisa membuka hati kamu lagi" ucap Noku meyakinkan.
Aku tidak menjawabnya dan hanya bisa diam mendengar itu semua rasanya seperti mimpi Noku yang awalnya Om dari kekasihku sekarang mengajak menikah tiba-tiba.
"diamnya kamu aku anggap sebagai jawaban" ucapnya sambil senyum penuh arti.
"aku gak yakin . . . . . " belum sempat aku melanjutkan kata-kata Noku sudah lebih dulu membungkam mulutku dengan bibirnya yang entah dari kapan dia menjadi seperti itu.
"kamu janji gak akan ninggalin aku kan ?" Tanya Noku setelah melepaskan kecupannya dari bibirku.
"Eemmmmm,, aku gak yakin sih ini sangat mendadak buat aku" jawabku kebingungan.
Bagaimana tidak gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba dilamar seperti ini, apalagi orang yang melamarnya om dari mantan kekasih dulu.
"Noku tapi, aku gak yakin" ucapku dengan lirih sambil menduduk.
"Heyy bangun, kamu harus yakin kamu wanita kuat kita bisa lewati ini kok" ucapnya sambil menggenggam tanganku dengan penuh harap.
Aku memang mengagumi Noku dan itu hanya sebatas teman saja tidak lebih, aku juga tidak yakin bisa menikah dengan dia apalagi nanti pasti kedepannya aku harus lebih sering bertemu dengan Danial, itu membuatku sedikit pusing.
"Danial gimana?" Tanyaku tanpa sadar.
"Kamu gak usah mikirin dia, dia kan udah mau nikah lagian kamu kenapa mikirin dia ? Masih ada rasa sama dia?" Ucapnya sedikit menyelidik.
"Enggak, bukan begitu. Aku udah gak ada rasa apapun sama dia cuma aku takut nantinya dia akan mengira yang macam macam tentang kita" ucapku berusaha menjelaskan.
"Macam-macam bagaimana Zi?" Tanya Noku lebih heran.
"Ya dia pasti akan berpikir aku dan kamu punya hubungan dari lama dan itu akan ngebuat dia semakin dendam sama aku, kamu sendiri juga tau kan gimana dulu dia bencinya sama aku" jawabku.
"Hemmm,, itu gak usah kamu pikirin, nanti aku yang urus" ucapnya meyakinkanku.
"Baiklah" jawabku singkat.
Setelah percakapan itu kami pergi kerumah Noku untuk memberitahukan masalah ini kepada Oma, entah bagaimana reaksi Oma mendengar ini semua.
Setibanya kita disana rumah terlihat sepi dan ini kali pertama aku menginjakan lagi kaki disini setelah sekian lama.
"Omaaa" ucap Noku memanggil Oma nya.
Tidak ada jawaban kami terus melangkah menuju ruang keluarga, namun disitu juga tidak terlihat siapa-siapa.
"Bi kemana orang-orang?" Tanya Noku pada salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan ada di dapur.
"Itu den, tadi Oma pergi sama den Danial dan calon istrinya untuk belanja buat seserahan nanti" jawabnya.
"Oh gitu, jadi di rumah gak ada siapa-siapa dong?" Tanyanya dengan senyum penuh arti.
"Eh jangan berpikir yang aneh-aneh ya" aku langsung menyenggol tangan Noku karena aku rasa dia punya rencana yang aneh.
"Enggak juga, kamu aja yang pikirannya negatif terus" timpalnya dengan bercanda.
"Ya udah kita pulang aja, besok-besok kita kesini lagi" ajaku padanya.
"Enggak, kamu pikir nyetir dari tadi itu gak capek, kita perlu 2 jam loh untuk sampai kesini kamu gak lupa kan kalo jarak rumah Oma Sam rumah kamu itu jauh?" Tolaknya.
"Ya terus, kita kan gak tau kapan mereka pulang" ucapku.
"Ya udah kamu tunggu aja dulu sekalian istirahat" jawabnya sambil merangkulku menuju lantai 2.
"Ehh mau kemana?" Aku menghentikan langkahnya.
"Kita ke kamar, kamu istirahat di kamar aku. Kamu tenang aja aku gak akan ganggu kamu kok" bisiknya membuatku sedikit merinding karena dia bicara dengan lembut dan entahlah pikiranku semakin kotor.
Sesampainya dikamar Noku membuka lemarinya mengambil kaos oversize miliknya.
"Ini kamu ganti baju dulu, biar enak istirahatnya" titahnya sambil menyodorkan baju itu.
"Tapi aku gak ada celana buat kamu" ucapnya dengan senyum menggoda.
Aku meraih bajunya dan lihat kalau itu besar dan muat sampai atas lutut jadi gak perlu pakai celana lagi.
"Ini juga besar kok gak perlu pakai celana"
"Tapi kamu keluar aku gak nyaman sekamar dengan laki-laki" ucapku sedikit mengusir.
"Ini juga kamar aku" ucapnya dengan bangga.
" Ya udah aku ganti baju dulu" ucapku sambil melangkah menuju kamar mandi.
"Kenapa gak disini aja gantinya" ucapnya kembali menggoda.
"Apaan sih, kamu makin aneh deh. Awas kalo berani macam-macam" ancamku sambil mengepalkan tangan ke arah Noku.
Selesai ganti baju aku melihat Noko berbaring di ranjang dengan baju yang sudah dia ganti, aku mendekatinya ternyata dia sudah terlelap dengan pulas.
"Sebaiknya aku juga istirahat biar kembali fresh" ucapku sambil melirik sekeliling kamar dan ternyata aku baru sadar tidak ada sofa apapun di kamar ini.
Terpaksa aku tidur di sebelah Noku karena aku yakin dia tidak akan berbuat macam macam, beberapa menit kemudian aku menyusul Noku terlelap di alam mimpi.
*
Aku terbangun merasakan ada sedikit rasa geli di leher, dan ternyata saat membuka mata Noku menyusup ke leherku.
"Ehhhhh, kamu ngapain, bangun!!!" ucapku menjauhkan diri dari dekapan Noku.
"Maaf, habisnya nyaman" ucapnya tanpa dosa.
Aku beranjak dari kasur berniat mengambil baju yang tadi aku pakai untuk di ganti lagi.
Belum sempat aku mengambil baju ternyata Noku sudah memeluk pinggangku dari belakang karena kebetulan baju yang aku ambil ada di sampingnya.
"Ehh ngapain, jangan macam macam lepasin atau aku tarik kembali soal permintaan kamu tadi" ucapku sambil berusaha melepas pelukannya.
"Permintaan yang mana?" Tanyanya heran.
"Itu yang katanya mau nikah sama aku, kalo kamu gini terus kita batalin aja deh" ucapku beralasan.
"Ngapain di batalin orang besok kita nikahnya" jawabnya.
"Gak mungkin juga nikah besok orang berkasnya belum di urus, belum ada persiapan apapun juga, kalo mau beralasan yang logis lah" aku sedikit meledeknya.
"Kalo gak percaya gak apa-apa, yang jelas kamu gak bisa lari dari aku, dan waktu kamu hanya tersisa malam ini saja karena besok pagi kita akan nikah" jawabnya dengan percaya diri.
"Ehh emang kamu pikir kamu itu bandung Bondowoso gitu bisa buat acara nikahan selama satu malam hah" ucapku dengan terus meledeknya Karena aku yakin semua perkataannya mustahil orang kita belum kasih tau siapa-siapa dan belum siapin apa-apa.
Mendengar ledekanku membuat Noku semakin mengeratkan pelukannya dan malah membawaku kembali tidur di dekapannya.
Ditengah perkelahian kami tiba-tiba pintu kamar terbuka aku tidak bisa melihat siapa yang datang karena posisi ku membelakangi pintu dan terhalang tubuh Noku.
"WOY, KALIAN BELUM NIKAH APA-APAAN MAKSUDNYA ?" Perkataannya membuatku terkejut karena suara itu mirip dengan suara Danial.
Aku melepas pelukan Noku dan melihat siapa orang itu dan ternyata benar itu Danial sedang berdiri di depan pintu sambil menggandeng seorang wanita.
semangat terus up nya,, ceritanya bagus 😍💪
-cinta jangan datang terlambat
-ternyata itu cinta