NovelToon NovelToon
Rahim Pengganti

Rahim Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:378.8k
Nilai: 5
Nama Author: El_Shally

Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika nasib nahas akan menimpa dirinya. Setelah sang ibu mengalami kecelakaan dan koma, Melati harus mau menikah dengan seorang pria dan menjadi yang kedua.

Dan lebih parahnya lagi dia harus merelakan anak yang di kandungnya sebagai syarat terwujudnya sebuah perjanjian. Namun seiring berjalannya dengan waktu, rasa cinta hadir diantara mereka dan membuat pria tersebut di landa kegalauan dalam hatinya. Siapakah yang akan di pilih oleh pria tersebut, istri pertama atau istri keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Shally, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Keluarga Baru

"I\_ini rumah siapa?" tanya Tia terbata. Dia tak menyangka jika dokter itu mengajaknya ke sebuah rumah bercat putih nan megah. Di depan rumah itu ada air mancur besar yang memperindah rumah tersebut. APalagi ketika masuk ke dalam yang harus membuka kaca mobil untuk pemeriksaan security di sana. Membuat nyali Tia semakin ciut dan hampir hilang.

Dadanya berdetak lebih kencang dari biasanya ketika melihat Irawan mematikan deru mobilnya dan langsung membuka sabuk pengamannya.

"Ayo kita turun!! Kenapa masih diam?" Ajak Irawan ketika melihat Tia hanya diam dan memegang erat sabuk pengamannya.

"I\_ini rumah siapa?"

"Nanti juga kamu bakal tau, tapi ingat apa yang aku katakan tadi. Jaga sikap kamu, karena aku nggak ingin kita malu karena kelakuan lasakmu."

Baru saja Tia akan melayangkan protesnya, Irawan sudah mengangkat tangannya agar Tia tak mengeluarkan suara. Sehingga dengan cepat Tia menelan suaranya kembali agar tak membuat Irawan kembali kesal. Dia sadar jika dia hanya tamu sekarang. Jadi bersikap baik adalah jalan terbaik saat ini.

"Aku tak menerima protes mu. Lebih baik kita turun, sebelum yang punya rumah keluar menyambut kita, bisa bahaya!"

Tia mendelik, seolah alarm di otaknya berbunyi ketika mendengar kata bahaya di ucapkan. Dengan segera dia membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil Irawan.

Irawan menahan tawanya ketika melihat Tia yang nampak lucu dengan wajah takutnya itu. Semakin senang saja dia membodohi Tia dengan ulah jahilnya.

Irawan segera beranjak keluar dari mobilnya, memasang wajah serius dan datar. Dan benar saja, Tia pun nampak salah tingkah dan sedikit ketakutan.

"Ayo!!" Irawan membuka lengan tangannya. Tia yang mengerti kode Irawan, segera mendekat dan memasukkan tangannya dan menempel erat di lengan Irawan. Mereka berjalan bersama ke dalam rumah itu dengan anggun, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang kasmaran.

Tia mencengkeram lengan Irawan dengan erat ketika melihat beberapa keluarga berkumpul di ruang tengah. Ketika mereka datang, semua orang menoleh ke arahnya. Dan tanpa sadar Tia semakin erat mencengkeram lengan Irawan karena rasa gugup dan takutnya.

"Tia, kendalikan rasa gugupmu." bisik Irawan seraya mengusap tangan Tia yang masih mencengkeram erat di tangan kirinya.

Tia menoleh dan menatap Irawan, bahkan ketampanan Irawan tak bisa membuatnya kembali tenang. Karena ini pengalaman kali pertama baginya bertemu keluarga asing yang tak pernah di temui sebelumnya. Dan entah mengapa sedemikian gugupnya.

"Selamat pagi semua, maaf sudah menunggu Awan terlalu lama."

Wanita parubaya yang masih sangat cantik menghampiri keduanya dengan senyum merekah di bibirnya. Membuat Tia semakin menunduk ketakutan. Bahkan kakinya seperti tak memijak bumi saking takutnya.

"Awan, sayang. Mengapa kamu lama sekali datangnya, nak? Mama sangat merindukanmu,"

Tia melepaskan tangan Irawan agar tak menghalangi wanita yang menyebutnya dirinya mama itu.

"Awan? Mama? Jadi dokter cabul ini membawaku ke rumahnya? Oh, Tuhan. Apa yang terjadi dengan dokter itu? Mampus aku!!kenapa hatiku juga tak enak seperti ini. Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini dari bencana yang melanda." Tia hanya menunduk melihat sepatu barunya, sungguh, dia tak tau apa yang bakal di lakukannya sekarang.

Lamunannya seketika ambyar saat ada sepasang sepatu kecil di depannya, kemudian dia menatap wajah cantik bermata bulat dengan poni di keningnya sedang tersenyum menatapnya. Tia mulai menghangat, kemudian dia melipat lututnya dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan gadis cantik itu.

"Hai, cantik. Siapa namamu?"

"Atu Aqilla. Ante ciapa namanya?" mata bulatnya membuat Tia sangat gemas bukan main.

"Nama tante Tia sayang. Iih, kamu lucu banget sih! Pengen tante cubit tau nggak pipi kamu yang kayak bakpao ini."

"Ante juga tantik. Qilla suka ama Ante."

Aqilla, keponakan Irawan yang berusia tiga tahun itu segera mendaratkan bibir basahnya pada Tia, sehingga membuat Tia terkejut sekaligus senang bukan main.

"Aaakhh!!! Terima kasih sayang. Tante boleh tidak mengecup pipimu itu. Tante gemes sekali sama kamu sayang!!" seru Tia, seakan kembali lagi sifat lebaynya karena bertemu Aqilla. Seolah dia lupa ultimatum yang di pernah ucapkan Irawan padanya.

Aqilla mendekati Tia dan langsung mengalungkan tangannya di leher Tia. Membuat Tia dengan bebas mengecup pipi gembul itu. Kemudian dia mengangkat tubuh Aqilla dalam gendongannya. Ketika dia akan melangkah, dia terkejut karena semua orang nampak memperhatikannya dan Aqilla.

"Eh, kenapa orang-orang pada melihat ke arahku?" gumam Tia dalam kebingungan.

Dia menoleh pada Irawan, yang ternyata juga menatapnya dengan senyum tipis di bibirnya. "Kenapa? Apa dandanan ku aneh? Apakah aku jelek? Ada yang salah denganku?" tanya Tia penasaran.

Irawan menggeleng, "Karena kamu adalah yang wanita yang kami cari?"

"Hah, apa? Apakah aku punya hutang?"

Mama Irawan tertawa, kemudian mendekati Tia yang masih menggendong Aqilla. "Ayo, sayang. Kita duduk dulu di sofa. Masa kamu mau berdiri saja di sini." Ucap Mama Irawan. "Sini sayang, uti gendong!! Nanti tante Tianya capek lho." Mama Irawan mengangkat tangannya agar sang cucu ikut bersamanya, namun sia-sia karena Aqilla lebih memilih bersama Tia.

"Ah, biarkan saja tante Aqilla bersama saya. Kebetulan saya juga suka anak kecil." ucap Tia dengan lembut. Membuat mama Irawan tersenyum menatapnya.

"Ya sudah, ayo kita ke sofa." Mama Irawan menarik Tia ke sofa untuk bergabung dengan keluarga yang lain.

Tia nampak canggung ketika duduk dengan wanita cantik di sampingnya. Ada rasa tak nyaman di sana. Apalagi Irawan yang membawanya ke sini malah duduk menjauh darinya. Membuat dia serba salah dan salah tingkah.

"Hai, Tia. Aku Iren, kakaknya Irawan. Kebetulan aku juga mamanya Aqilla." Iren memperkenalkan diri lebih dulu karena melihat Tia yang masih sangat canggung.

Tia menoleh seraya membalas senyuman tulus Iren padanya yang sedikit mengikis rasa malunya.

"Sini ayo sama mama, sayang." Iren membuka kedua tangannya, berharap Aqilla mau kembali ke pelukannya. Namun sayangnya Aqilla malah bersembunyi di ceruk leher Tia, seolah dialah ibunya.

"Aih, anak ini. Ayo kita makan dulu, nanti main lagi sama tante Tia, ok?" bujuk Iren kembali.

Aqilla mengangkat wajahnya, kemudian menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan sang mama.

"Ayo, kita makan dulu. Pasti kamu lapar kan?"

Sekarang giliran Iren yang menarik lengan Toa agar lekas bangkit dari duduknya. Tangan Iren masih menggandeng tangan Tia hingga sampai di meja makan.

Ketika sampai di sana, Tia tercengang melihat hidangan yang begitu banyaknya, apalagi semua mengundang seleranya dan membuat perutnya lapar seketika. Apalagi sedari tadi pagi dia belum memakan apapun saking gugupnya mempersiapkan kostum untuk bertemu Irawan.

"Sini sayang, duduk di sini!!"

Mama Irawan menepuk kursi yang berada di sebelahnya. Tia mengangguk, lantas segera melangkah ke kursi tersebut dan mendudukkan bokongnya dengan perlahan.

"Mau makan apa, sayang? Biar Tante ambilkan," tanya Mama Irawan pada Tia.

"Terserah Tante saja."

Mama Irawan segera mengambilkan nasi beserta lauk pauk yang lumayan banyak sehingga membuat Tia terkejut bukan main.

Belum juga mulutnya terbuka untuk melayangkan protes , sebuah tendangan membuatnya mengurungkan niatnya. Dia melirik tajam pada Irawan yang sedang menahan senyumnya walau sama sekali tak melihat ke arah Tia.

Tia menerimanya dengan terpaksa, kemudian secara bersama-sama menyantap hidangannya.

"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Mama Irawan dengan santainya.

Uhukk..uhuk..uhuk..

1
Enok Renmaur
mgkin ni crita trburuk yg bner" mnjengkelkan bgi sy😠😠😠
mf authooorr....lo sy blg trburuk yg su bkin z kecewa bc crita author.
krna dsni tokoh utama yg trtindas mpe su brjuang ksh anak tp msh kalah sm perem mandul😏🙄😠😠
su mandul tp g tau diri jg msh mo kuasai lakix, bner" perem g brguna.
sumpah.....sy bner" rasa rugi bc crita ni biar sy bc jg lompat" , endingx bkin emosi
Zhang Mila: sukses bikin kakak jengkel y...🤣🤣
total 1 replies
💐ERNA💐🥀🌹
Ceritanya Bagus 👍👍👍👍👍 Dan Menarik ❤️🌹❤️
Nurfatihah Tiha
/CoolGuy/
Nurfatihah Tiha
/Frown/
Nurfatihah Tiha
/Drool/
Nurfatihah Tiha
/CoolGuy/
Nurfatihah Tiha
/Drool/
Yundari Gayosa
Luar biasa
Safa Almira
otw bucin
Eka 'aina
di sini harusnya yg terpaksa adalah melati, seterpaksanya arka dia yg butuh dia butuh anak harusnya jngn sekasar itu sama melati
Elsje Emilia
yaaaaa melati pergi. kasian betul
♡Ñùř♡
kasian melati😭😭😭
Zhang Mila: Inn Syaa Allah kak...
total 3 replies
Daulat Pasaribu
bodoh Annisa mau dipoligami
Sena Fiana
mudah mudahan seru ceritanya
Diana M
next thor
herdaize
tamu hebat masih pagi sudah berkunjung,sua ta'ada garam dirumahnya warung masih tutup 😀😀😂😂💃💃💃
Diana M
next thoor 👍👍❤️
Ivana Theresia
tim Annisa cerai sm aryaa
Ivana Theresia: *arka jadi typo saking keselnya
total 1 replies
Nilam sari Nasution
up lagi thor seru
♡Ñùř♡
kapan up lg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!