Adelia itu cuma murid biasa, menurutnya.
Namun siapa sangka, justru banyak yang mengincar pacar Vero itu. Tapi, kedatangan dari yang namanya mantan memang merusak kisah pacaran.
Ditambah lagi kehadiran Ravi sebagai pangeran kesiangan, justru berhasil membuat seorang Adelia Morva Agustina si cewek kasar jatuh ke dalam pelukannya.
Tapi, cinta monyet itu memang ngeri-ngeri sedap sensasinya. Apalagi, kalau penunggu di penantian mereka justru akhir tak terduga.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Aku dan Vero pun menabrak pembatas jalan di samping mobil itu, sehingga motor beserta kami berdua ikut terjatuh.
Untung saja kami berdua hanya lecet-lecet sedikit, karena Vero mengendarai motor dalam keadaan santai, tapi orang yang tabrakan di depan kami tadi tampak mengenaskan. Darah mengalir pelan dari balik punggung serta area dekat leher korban yang terbaring itu.
Tangannya bengkok ke arah yang berbeda sehingga bisa dipastikan kalau itu patah. Aku dan Vero mencoba berdiri di bantu orang-orang yang ada di lokasi kejadian.
Kami pun melirik ke arah korban yang terkapar itu, kondisinya benar-benar menyedihkan. Aku... Merasakan iba yang teramat dalam untuk korban tersebut, namun berbeda dengan Vero.
Tubuhnya gemetaran dan ia pun tiba-tiba mual karena melihat keadaan korban tersebut.
“Vero! Kamu kenapa?” tanyaku kaget sambil menggosok pelan punggungnya.
Ini pertama kalinya aku melihat Vero seperti itu, tampaknya ia sangat syok dengan pemandangan yang dilihatnya.
“Vero, kamu baik-baik saja?” aku benar-benar cemas sekarang.
Vero masih belum menjawab pertanyaanku, tampak kalau ia sangat kelelahan karena mual itu, sehingga matanya pun memerah.
“Maafkan aku Del, aku tak bisa lihat darah,” tukasnya gemetaran.
“Iya, gak apa-apa, ayo kita istirahat dulu,” tandasku sambil memegang lengannya.
Orang-orang yang lain pun menolong menepikan motor Vero, sedangkan aku dan Vero diminta untuk istirahat di sebuah warung pinggir jalan tersebut. Kami pun berjalan tertatih-tatih ke sana sambil di bantu oleh ibu-ibu yang ada.
Mereka menunggu ambulance untuk menangani korban yang terkapar itu, sementara mobil yang di tabrak hanya ringsek bagian depannya.
Aku tak begitu ingat dengan kronologi kejadian yang terjadi di depan mataku, aku tak tahu kenapa tapi tiba-tiba aku langsung lupa begitu saja.
“Bagaimana jika nanti kita pulang saja? Kita gak mungkin ke sekolah dalam keadaan seperti ini,” tukasku pelan pada Vero.
Tapi tiba-tiba ibu warung itu pun memberikan dua gelas teh manis pada kami dan meletakkannya di meja.
“Minum dulu nak,” tukas ibu warung tersebut.
“Iya buk, terima kasih,” sahutku sambil mengangguk pelan.
Vero tak menjawab perkataanku tadi, dia tampak syok dengan kecelakaan itu, apakah dia punya phobia terhadap darah? Ingin kutanyakan tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat.
Aku melirik ke lengan kiri Vero, tampak ada luka goresan di sana, juga memar di siku serta pinggiran tangan kirinya.
“Nak, obati dulu lukamu pakai ini,” pungkas ibu warung itu sambil menyodorkan kotak P3K padaku.
“Terima kasih buk, maaf sudah merepotkan,” ucapku sambil menerimanya.
“Iya nak, tak apa-apa, cepat di obati kalau gak nanti infeksi,” jelas ibu warung tersebut.
“Iya buk,” anggukku.
Lalu aku membuka kotak tersebut dan mengobati luka Vero. Ia tak meringis kesakitan saat kubersihkan lukanya dengan antiseptik.
Ia masih terdiam dengan pandangan yang tak jelas. Ada apa dengannya? Aku sangat penasaran, tapi ia benar-benar tampak terguncang dengan kejadian tadi.
Selesai mengobati lukanya, aku langsung menggosok pelan punggungnya. “Di minum dulu tehnya Ver,” gumamku pelan.
Tapi Vero hanya menggeleng tak menjawab perkataanku, ia hanya menatap ke depan seperti orang dengan pandangan kosong namun sepintas juga ada yang sedang dipikirkannya. Aku tak bisa menggambarkan dengan jelas ekspresinya yang sekarang ini.
Sepertinya kami memang tidak bisa pergi ke sekolah dalam keadaan seperti ini, “Ver, kita gak usah masuk sekolah dulu ya hari ini,” tukasku sambil mengambil hp di saku.
Aku berniat menghubungi teman-temanku agar bisa izin tak masuk sekolah hari ini. “Maaf Del,” ucap Vero pelan tanpa menatapku, ia menunduk sambil menggenggam tangannya sendiri.
“Mmm... Gak apa-apa, lagi pula ini di luar kehendak kita, aku akan menghubungi anak-anak kalau kita tak bisa masuk sekolah hari ini, biar mereka yang izinin kita sama guru,” sahutku.
Vero pun mengangguk dan aku langsung menghubungi Riri.
“Tut... Tut...” panggilan langsung di angkat.
“Halo? Iya Del? Kok masih belum datang?” tanya Riri tiba-tiba tanpa membiarkan aku berbicara terlebih dahulu.
“Ri, sepertinya aku gak bisa masuk sekolah hari ini.”
“Loh! Kenapa?”
“Kami tadi kecelakaan, cuma lecet-lecet sedikit sih, tapi sepertinya kami gak bisa masuk hari ini,” jelasku.
“Kecelakaan?! Kok bisa?! Ceritanya gimana?!” ocehnya bertubi-tubi.
“Besok saja aku kasih tahu ya, pokoknya izinin sama guru ya, jangan lupa,” pungkasku.
“Eh, iya-iya!”
“Ya sudah, aku matiin dulu ya, aku mau telepon si Andin dulu!”
“Andin?! Kenapa?!” pekik Riri. “Halo Del? Halo!” tapi sayangnya panggilan sudah terputus begitu saja.
Aku pun menghubungi Andin, sama seperti Riri panggilanku langsung di angkat olehnya.
“Halo Del? Padahal sebelahan pakai telepon-teleponan,” ledek Andin tanpa tahu kenyataan.
“Ndin! Izinin Vero dong! Dia gak bisa masuk ke sekolah hari ini,” sahutku tiba-tiba.
“Hah? Kenapa?!”
“Kami tadi terlibat kecelakaan,” ucapku singkat.
“Hah?! Terus gimana? Ada yang luka-luka gak? Kecelakaannya di mana?!”
“Cuma lecet-lecet sedikit, tapi pokoknya izinin sama guru ya kalau kita gak bisa hadir hari ini.”
“Iya-iya!” pungkas Andin sambil menganggukkan kepala mengikuti irama perkataannya.
Panggilan pun langsung kuputus begitu saja. Baiklah, jadi sekarang harus bagaimana? Aku melirik Vero, kondisinya tampak sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, namun teh manis di depannya masih belum ia sentuh.
Motor Vero pun sudah terparkir di depan warung, kondisinya baik-baik saja karena tadi didorongkan oleh orang-orang yang menepikan motor dan mengantarnya ke tempat kami berada.
“Ver, bagaimana jika kita pulang saja?” tanyaku mencemaskannya. Walau luka fisiknya terlihat tak begitu parah, tapi lain cerita dengan mentalnya yang bisa kurasakan tak baik-baik saja. Aku benar-benar mencemaskannya.
“Adel!” panggil seseorang tiba-tiba.
Aku pun menoleh pada orang yang memanggilku, “papa?!”
Papaku pun memarkirkan mobil di depan warung dan turun dari mobil dengan setelan gurunya.
“Kenapa kamu ada di sini? Apa yang terjadi?” tanya papaku penuh selidik. Ia lalu menatap lekat aku dan Vero secara bergantian, sementara Vero masih menunduk tak memandang ke arah papaku.
Ambulance pun datang membuyarkan pandangan papaku pada kami, “sepertinya ada kecelakaan,” tukas papaku menatap ke arah kerumunan.
“Tapi kenapa kamu di sini? Apa kamu terlibat kecelakaan?!” tanya papaku kelabakan.
Aku pun mengangguk pelan, “kami jatuh saat menghindari kecelakaan itu, cuma lecet-lecet sedikit,” tukasku.
“Kami?” tanya papa sambil menatap ke arah Vero. Papa lalu memperhatikan Vero dari atas ke bawah dan Vero pun akhirnya perlahan-lahan mengangkat wajahnya menatap papaku.
“Maafkan aku om, tadi aku dan Adel berangkat bersama,” pungkas Vero agak terbata-bata. Papaku tak mengatakan apa-apa dan hanya menatap diam Vero yang bermata sayu.
“Ya sudah, siapa nama temanmu ini Del?”
“Vero Pa!”
“Vero, rumahmu di mana nak? Biar om antar pulang.”
“Gak usah om, saya baik-baik saja, gak perlu di antar om,” ucap Vero kelabakan.
“Tapi dengan kondisi seperti ini kalian tak mungkin tetap pergi ke sekolah, biar om antar kamu pulang dan menghubungi guru kalian,” tukas papaku.
“Lalu motor Vero bagaimana?” tanyaku sambil menatap motor Vero yang masih terparkir di dekat papaku.
“Gak apa-apa om, Del, aku pulang pakai motorku saja,” lirih Vero pelan.
“Kamu yakin bisa bawa motornya?” papaku tampak khawatir.
“Mmm, aku bisa om, aku akan pelan-pelan.”
“Jangan deh, di antar saja ya,” ucapku tak rela mengingat kondisinya tadi.
“Aku gak apa-apa, kamu gak perlu cemas,” tukas Vero menenangkan.
“Ya sudah, biar om iringi kamu pakai mobil. Di belakang.”
“Gak usah om,” tolak Vero yang merasa tak enak merepotkan papa.
“Gak apa-apa, lagi pula buat jaga-jaga. Adel, kamu ikut sama temanmu ya,” perintah papaku.
“Eh? I-iya,” jawabku heran. Kenapa papa menyuruhku ikut sama Vero? Aku pikir papa akan menyuruhku mengikuti Vero dari dalam mobil untuk mengantarkannya.
💙💙💜💜❤️❤️💜💜🌷🌷💜💜💕💕💕💜💜💜♥️♥️♥️💜💜💜💙💙💜💜💜
beli jaringan aja 🤣🤣🤣♥️♥️♥️💕💕❤️❤️🌷🌷💕💕♥️♥️
🤣🤣🌷🌷🌷💙💙💜💜♥️♥️♥️💕💕💕❤️❤️🌷🌷💙💙💜💜
♥️♥️♥️🌷🌷🌷💜💜💜💜💜