NovelToon NovelToon
I LOVE YOU TUAN DEVANO

I LOVE YOU TUAN DEVANO

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Cintapertama / Badboy / Tamat
Popularitas:446.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti sihite

Devano Gerald Martinz putra satu-satunya seorang pengusaha kaya raya dari L.A

Namun kedua orang tuannya Devano memutuskan untuk tinggal di indonesia semenjak Devano berusia 16 tahun hingga sampai sekarang Devano berusia 27 tahun.

Tetapi dibalik itu, kedua orang tuanya Devano tidak menyadari bahwa putra satu-satunya itu adalah ketua gangster yang sangat menyeramkan dan ditakuti didalam dunia gelap mereka.

Di usia 27 tahun.. Apakah seorang Devano si ketua gangster yang sangat menakutkan itu memiliki seorang kekasih atau sebaliknya?".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti sihite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Ditaman kampus.. "Lepasin Anna" Kesal Jenni menghempaskan tangannya Anna.

"Jenni" Lihat Anna.

"Kenapa Anna? kenapa kita harus mengalah sama orang seperti mereka?" Marahnya.

"Jenni.. Sebagai junior kita harus mengalah sama senior" Jawab Anna.

"Iiikkkhhhhh" Kesal Jenni membuang wajahnya.

"Jenni.. Bukan kita tak bisa melawan mereka, tapi lebih baik kita menghindar dari orang seperti mereka itu dari pada cari masalah dikampus ini" Peluk Anna.

"Tapi aku enggak suka melihat orang seperti mereka yang sok berkuasa dikampus ini Anna" Balas Jenni memeluk Anna.

"Anggap saja mereka tidak ada Jenni" Senyum Anna.

"Kamu bisa saja Anna" Balas Jenni akhirnya tersenyum.

"Dari pada kamu memikirkan mereka, lebih baik kita duduk disitu saja sambil makan gorengan" Ajak Anna.

"Ide bagus Anna" Jalan Jenni duluan.

"Tunggu bentar yah Jen, aku beli gorengan ya dulu".

"Iya Anna".

Anna segera membeli cemilan yang berada diluar kampus, "Pak.. Gorengan ya 10.000 ya".

"Iya nona, tunggu sebentar yah".

"Iya pak".

3 menit kemudian, "Ini nona" Berinya.

"Terima kasih ya pak".

"Sama-sama nona".

Kemudian Anna kembali ke taman yang sedang ditungguin oleh Jenni dengan sekantong gorengan dan 2 botol minuman, "Jenni".

"Mmmmmm" Senyum Jenni.

"Aku kelamaan enggak?" Duduk Anna disampingnya Jenni.

"Tidak Anna".

"Inih".

"Wah.. Gorengan" Ambil Jenni lalu memakannya. Begitu juga dengan Anna yang ikut menikmati gorengannya.

.

Di mension..

"Kamu mau kemana Vano?" Tanya Anisa melihat Devano yang sedang menuruni anak tangga.

"Vano mau keluar sebentar Mah" Jawab Devano melihat Anisa.

"Kemana Vano? kamu yakin mau keluar dengan kondisi mu yang baru pulih".

"Devano sudah baik-baik saja Mah".

"Tapi Vano".

"Vano pergi dulu Mah" Cium Devano dikeningnya Anisa.

"Hhhmmm.. Hati-hati kalau menyetir" Ingatkan Anisa.

"Iya Mah" Pergi Devano dari hadapan Anisa.

.

Dijalan raya Devano mengendari mobil sportnya dengan kecepatan tinggi.

Flasback.

"Ada apa Bian?".

"Itu tuan.. Salah satu client kita telah menggelapkan dana sebesar 2 M" Jawab Bian.

"Apa?" Bentak Devano.

"Iya tuan".

"Sekarang kamu dimana?".

"Ada dikantor tuan".

"Helena dimana?".

"Dia juga ada disini tuan".

"Saya akan kesana".

"Iya tuan".

*********************.

"Sial" Geram Devano memukul setir mobilnya.

DDDDRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..

"Hallo" Jawab Devano.

"Apa ini benar dengan tuan Devano?".

"Iya saya sendiri, ini siapa?" Tanya Devano masih fokus menyetir.

"Hahhahahahah" Tawanya langsung.

Mendengar suara tawa itu, Devano pun langsung menepikan mobilnya. "Siapa kamu?".

"Saya? Hahahahha.. Kamu tidak perlu tau saya siapa tuan Devano yang terhormat".

"Brengsek" Maki Devano terpancing emosi.

"Tenang dulu tuan Dev.. Jangan terlalu emosi" Ledeknya.

"Kurang ajar" Umpat Devano mematikan ponselnya, kemudian melajukan mobilnya kembali.

Sesampainya diperusahaan, Devano langsung menuju lantai ruangannya tampa memperdulikan karyawan yang sedang menyapanya.

BBBRRRAAAKKKK..

"Tuan" Lihat Bian kearahnya Devano.

"Ceritakan secara mendetail Bian" Duduk Devano diatas sofa.

"Ada apa dengan wajah mu Dev? kenapa kamu tampak marah sekali tidak seperti biasanya?" Tanya Helena.

"Aaakkkhhhh" Hela Devano menyandarkan kepalanya. "Ada yang meneror ku" Jawab Devano melihat Helena.

"Apa? meneror mu?" Kejut Helena begitu juga dengan Bian.

"Mmmmmm".

"Sialan.. Siapa mereka?" Lihat Helena kearahnya Bian.

"Sepertinya saya mencurigai seseorang tuan" Ucap Bian.

"Siapa?" Respon Devano.

"Aku yakin.. Ini pasti ulahnya Rojer tuan".

"Tidak Bian.. Ini bukanlah ulahnya Rojer" Tolak Helena.

"Jadi?" Lihat Bian.

"Tidak ada seorang pun yang mengetahui nomor Devan kecuali diantara kita ber-empat" Jawab Helena.

Mendengar itu Devano langsung teringat ke salah satu anak buah yang Devano percayai selain Bian. "Dimas" Ucap Devano.

"Dimas?".

"Mmmmmmm" Gumam Devano.

"Dimas?" Gumam Helena juga.

"Apa kamu sudah mencek lokasi Dimas sekarang ini Bian?".

"Sudah tuan dan saya sudah mengirim ke e-mail ya tuan" Jawab Bian.

"Apa kamu sudah memeriksa ya Dev?" Tanya Helena.

"Belum" Jawab Devano mengeluarkan ponselnya lalu membuka e-mail yang Bian kirim kemarin.

"Tempat itu disekitar hutan yang ada disebelah selatan tuan" Ucap Bian.

"Atau jangan-jangan Dimas ketahuan Dev?" Tebak Helena melihat Devano dan Bian.

"Sepertinya" Angguk Devano.

"Sialan" Geram Helena.

"Apa yang harus kita lakukan tuan?".

"Hhhhmmsss" Dengus Devano mengusap wajahnya.

"Kita harus bertindak Dev.. Kalau tidak nyawa Dimas bisa dalam bahaya".

"Aku akan memikirkannya, sekarang masalah Rojer saja belum selesai ditambah lagi client yang menggelapkan dana" Pusing Devano.

"Apa sebaiknya aku dan Bian saja yang kesana Dev?".

"Tidak.. Saya akan ikut kesana" Tolaknya.

"Kenapa tidak malam ini saja kita kesana Dev?".

"Saya setuju tuan dengan Helena".

Kemudian Devano melihat Bian dan Helena, "Apa kalian yakin?".

"Mmmmmmm" Angguk Bian dan Helena.

"Baiklah.. Malam ini kita akan kesana".

BBBRRRAAAKKKK..

"Kak Vano" Senyum Mikha menghampiri Devano kearah sofa.

"Kamu ngapain kesini?" Tanya Devano.

"Lihatin kak Vano.. Tadi itu Mikha enggak sengaja dengar dari karyawan lainnya kalau kak Vano ada disini" Duduk Mikha disampingnya Devano.

"Eeekkhhh Bocil.. Kamu kenapa bisa ada disini?" Kejut Helena melihat Mikha.

"Bocil" Kesal Mikha melihat kearah Helena, "Astaga.. Ternyata tante-tante girang, saya kirain siapa" Seringai Mikha.

"Haaahhhhh" Balas Helena melihat Mikha.

"Kenapa? Tante terkejut melihat saya bisa ada disini?" Ledeknya.

"Bian.. Kenapa dia bisa ada disini?" Geram Helena.

"Saya juga tidak tau Helen" Jawab Bian melihat Helena.

"Mereka siapa sih kak Van?" Rengek Mikha sambil merangkul tangannya Devano.

"Sebaiknya kamu kembali bekerja Mikha".

"Enggak mau kak.. Aku mau disini saja nemanin kak Vano" Sandar ya di bahu Devano.

"Bocil.. Sebaiknya kamu keluar deh!, atau perlu saya panggil security" Ancam Helena.

"Panggil saja, saya tidak perduli" Cuek Mikha.

"Ni anak yah" Bangkit Helena dari atas kursinya.

"Apa?".

"Sebaiknya kami berdua keluar Dev" Tarik Helena di tangannya Bian.

"Permisi tuan" Izin Bian sebelum keluar.

"Mmmmmm" Angguk Devano.

Lalu Devano melihat Mikha, "Mereka siapa kak? kenapa mereka berdua ada diruangan kakak? termasuk si tante itu?".

"Dia pemegang diperusahaan ini".

"Apa?" Kejut Mikha melihat ke arah pintu.

"Mmmmm.. Dikantor ini mereka berdua adalah atasan kamu" Bangkit Devano dari atas sofa.

"Terus kak Vano mau kemana?" Lihat Mikha.

"Saya masih banyak pekerjaan" Jawab Devano menuju kursi kebesarannya.

"Terus Mikha ditinggalin kak?" Kesal Mikha.

"Hhhhmmmsss" Dengus Devano melihat Mikha. "Sebaiknya kamu kembali bekerja sebelum atasan mu melihat kamu berkeliaran disini Mikha" Ingatkan Devano.

"Iiikkkhhhhh.. Kak Vano" Bangkit Mikha dari atas sofa.

"Kembali lah bekerja kalau kamu mau bertahan lama diperusahaan ini".

"Kak Vano jahat" Kesal Mikha langsung keluar.

BBBRRRAAKKK...

"Aakkhhhh" Legah Devano menyandarkan kepalanya.

Diluar pintu dengan sinis Mikha melihat Helena dan juga Bian, "Hhhhmmmm" Kesalnya.

"Hhhaaahhhhh" Seringai Helena. "Dasar bocil" Masuknya lagi kedalam ruangan Devano begitu juga dengan Bian.

"Tuan.. Apa dia tidak mendengar percakapan kita?" Khawatir Bian.

"Saya rasa tidak" Jawab Devano.

"Dia pasti tidak mendengarnya Bian" Sambung Helena.

"Baguslah kalau dia tidak mendengarnya" Jalan Bian mengambil pistol mereka didalam tempat yang hanya mereka bertiga ketahui.

1
christina paya wan
Jln crita yg mendatar.boring membacanya
halimah abdul hayes
Ejaan diperbetulkan uang cash bukan uang kes
halimah abdul hayes
Bagus…sebal wanita seperti mawar
Efrianti Sihite: Terimakasih sudah singgah 🥰
total 1 replies
halimah abdul hayes
Kenapa banyak benar wanita yang tidak malu mengejar laki
halimah abdul hayes
Sebal sama bundanya tuan muda
halimah abdul hayes
Menyampah dengan karakter mikha
Kasiani Winanti
Luar biasa
Kasiani Winanti
iya toor knpa ana meninggal siih🥺🥺🥺
Kasiani Winanti
Lumayan
Kasiani Winanti
Luar biasa
Diandra Kirana
seru juga ceritanya
imam zulkifli
kenapa di kalungnya ga dipasang GPS
imam zulkifli
kenapa ga ada yg ngasih kabar vano ya kalo ana masih hidup
imam zulkifli
ga sabar menunggu semoga saja vano setia pada ana
imam zulkifli
syukur lah anak belom meninggal
Anisa Nisa
trimah kasih juga Thor,telah menulis novel yang mengandung bawang😭Thor tdk adakah season kedua 😁
Anisa Nisa
wow Thor kamu hebat,padahal mataku udah sembab Krn menangis kirain Anna meninggal betulang 😁
Efrianti Sihite: Terima kasih sudah singgah mbak🤗
total 1 replies
Anisa Nisa
Thor kok meninggal sih Thor😭😭
Anisa Nisa
jadi ikut nangis😭 karna Anna
Anisa Nisa
Thor apa endingnya Anna akan mati😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!