NovelToon NovelToon
Jas Merah

Jas Merah

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / TimeTravel / Contest / Romansa Istana / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Gerimis Senja

Stop plagiat!!
Dan ini karya prematur, jadi jangan bandingin sama Kun.. Ini genre romance bukan detektif, jadi jangan nyari teka-teki di sini. Kalau mau mecahin teka-teki, belilah buku teka teki silang 😗
.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah) -Ir. Soekarno.. atau maksudku, jangan sekali-kali merubah sejarah...
Aku seorang gadis bernama Ayu yang benar-benar mencintai sejarah romantis tentang Raja Anggara namun aku malah begitu membenci ratu yang bersamanya.
Dia pengkhianat dan tak pantas untuk raja.
Ya, itu yang sebelumnya selalu ku katakan, sebelum aku terdampar pada masa-masa berdirinya kerajaan yang di pimpin oleh Raja Anggara..
Ternyata... ini yang sebenarnya terjadi..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di balik Layar

Raka membawaku menuju ke tempat semula. Tempat di mana mereka membangun tenda untukku.

"Hei, Raka.. kaki ku tak apa-apa. Apa tak sebaiknya kau menurunkan aku?" Tanyaku sambil meletakkan dagu di pundaknya.

Ia sedikit mendengus. "Ini gelap, kalau di gendong begini, setidaknya kita tak perlu berbagi penerangan, karena hanya aku seorang yang akan fokus ke jalan yang akan di tapak."

"Lagipula semak di hutan ini sangat tinggi. Kau akan berteriak jika tak sengaja menginjak sesuatu seperti ular atau pun sejenisnya. Itu tentu akan menarik perhatian musuh." Terangnya menjelaskan. Atau bahkan beralasan??

"Lagi pula, bukannya mereka akan datang besok?? Kenapa bisa jadi malam ini?" Tanyaku heran.

"Mungkin saja informasi mengenai prajurit kerajaan yang bersiap untuk menuju ke desa pesisir telah bocor."

Aku terkesiap dan mengangkat kepalaku dari pundaknya. "Bocor? Bagaimana bisa?? Lalu, kenapa bisa secepat itu informasinya sampai pada mereka? Bukankah kerajaan musuh berada di seberang laut?"

Ia sedikit menoleh ke arahku, lalu kembali menghadap ke depan. "Kau ini kuno sekali! Apa kau tak tahu dengan sistem kabar burung?? Merpati yang sudah di latih dan di jinakkan bertugas untuk mengantar surat yang berisi informasi penting. Dan jangkauan mereka cukup luas, dari kerajaan satu ke kerajaan lain. Bahkan bisa sampai menyeberang pulau sekali pun." Ucapnya, menjelaskan dengan nada bicara yang terdengar sombong.

"Pih!! Sok modern!! Kau pasti tak akan tahu bagaimana canggihnya video call kan?!" Gerutuku di belakangnya.

"Apa kau bilang? Sayur kol?" Ia menyergah, membuatku terkesiap karena ternyata ia mendengar ocehanku barusan.

"Iya!! Maksudku, burung merpati itu pasti memakan sayur kol." Lanjutku sambil cengengesan.

"Tidak. Dia memakan jagung." Sahutnya.

"Aku juga tahu kalau burung merpati itu memakan jagung!!" Bentakku kesal.

"Bukannya tadi kau sendiri yang bilang, kalau burung merpati makan sayur kol?" Ia mengulanginya dengan begitu polos.

"Yah! Benar!! Yang itu juga benar. Hehe." Lanjutku, sambil tertawa canggung.

"Kalau ada informasi yang bocor mengenai hal ini, besar kemungkinan kalau ada mata-mata kan di kerajaan Aridul?" Terkaku, berspekulasi.

"Ya. Memang sejak dulu itu selalu terjadi. Sayangnya, masih sulit untuk menemukan yang mana lawan dan yang mana kawan. Musuh berbulu domba itu memang menyebalkan." Gerutunya, terdengar mengeluh.

"Tapi.. bukankan informasi yang di dapat, pihak musuh kini tengah menuju ke kerajaan ini dengan menggunakan kapal. Apakah itu informasi yang palsu?"

Raka menggelengkan kepalanya. "Tidak. Itu benar. Tapi, sepertinya mereka telah menduga kalau akan terjadinya kebocoran informasi. Maka dari itu, kemungkinan pihak kerajaan musuh, telah mengirimkan beberapa orang prajurit yang bersembunyi di dalam hutan. Kemungkinannya, mereka telah berada beberapa hari di tempat ini dan memantau keadaan sekitar." Terangnya panjang lebar.

"Wah! Pintar juga ya!! Tapi.. bukannya para jenderal sebelumnya juga sudah melacak dan memeriksa tempat ini secara langsung?"

Raka sedikit terkesiap mendengar perkataanku. "Dari mana kau tahu hal itu?" Tanyanya, membuatku segera menutup mulut karena keceplosan. Aku malah mengatakan informasi yang ku dapat dari menguping pembicaraan para jenderal.

"Ahaha.. lupakan." Singkatku kikuk. "Tapi.. kalau ini memang akan terjadi peperangan, bagaimana dengan nasib penduduk desa pesisir?" Tanyaku lirih.

Dari apa yang ku tangkap, aku bisa melihat Raka menggenggam obor di tangannya dengan kuat, sampai tangannya terlihat begitu bergetar.

"Sejak dulu, tempat kami selalu menjadi sasaran perebutan kekuasaan wilayah. Karena hal itu, banyak dari rakyat telah mengantisipasi dan siap untuk melindungi diri ketika terjadinya peperangan. Intinya mereka semua telah terbiasa dengan hal ini."

"Namun tetap saja, sesuatu yang tiba-tiba tentu akan mengagetkan. Dan hasil dari rasa kaget itu pun tak main-main, karena taruhannya adalah nyawa mereka sendiri." Suaranya terdengar sengau, seperti tercekat atau menahan sesuatu di pundaknya. Apakah karena bobot tubuhku begitu berat??

"Lalu, bagaimana dengan Bu Sari dan yang lainnya?" Pertanyaanku tak mendapatkan jawaban dari Raka.

"Setelah mengantarmu, mungkin kau akan di jaga oleh seorang jenderal dan juga beberapa prajurit. Kau akan aman dari serangan." Ucapnya, membuatku mengernyit bingung.

"Bukan itu yang ku tanyakan. Tapi.. bagaimana dengan Bu Sari?" Tanyaku lagi, berusaha memperjelas. Dan lagi-lagi ia hanya terdiam.

"Dulu.. aku bisa melindungi ibu. Namun sekarang, aku punya kewajiban lain. Aku harus melindungi kerajaanku, dan seluruh wilayah desa pesisir." Jawabnya.

"Jadi maksudmu... Kau tak bisa mengatakan sesuatu pada ibumu? Setidaknya supaya dia bersiap dan lari dari tempat ini." Lanjutku, benar-benar merasa gelisah dan khawatir.

"Aku ingin. Tapi aku tak bisa. Aku harus kembali ke perbatasan pantai dan bersiap mempertahankan wilayah di sana." Aku mengerjap cepat mendengarnya.

Kasihan sekali dia. Sepertinya dia sangat ingin menyelamatkan ibunya, tapi.. dia tak bisa melakukannya karena punya kewajiban dari yang mulia raja.

"Kalau begitu, turunkan aku." Aku menggeliat di punggungnya, membuat Raka terhenti dan berusaha menahan punggungku agar tak jatuh dari gendongannya.

"Berhentilah bergerak begitu!" Keluhnya.

"Aku ingin turun, dan aku ingin mengatakan hal ini pada mereka!!"

Raka mendecakkan lidahnya. "Kau pikir ini taman bermain dan kau bisa aman-aman saja bolak balik dari desa ke hutan??" Aku tak menyahut. "Kalau kau takut mati, maka jangan cari mati!" Lanjutnya, membuatku terkesiap dan mematutkan wajahku.

Biarkan saja, aku akan tetap pergi kalau situasi sudah aman. Aku harus tetap ke sana. Aku takut terjadi sesuatu pada penduduk desa

"Berhentilah memikirkan rencana buruk di dalam hatimu! Aku bisa mendengarkan itu!!" Perkataan Raka membuatku tersentak kaget.

"Wiiiii?! Kau juga seperti Kun?" Keluhku panik.

"Jadi kau memang merencanakan hal buruk ya?" Tanyanya, seolah merasa menang. Ternyata dia hanya menerka-nerka saja. Lagi pula kan dia bukan setan ataupun kuntilanak, jadi mana mungkin dia bisa mendengar isi hatiku.

"Tidak!! Aku hanya sedang berpikir!!" Dalihku.

"Berpikir apa?" Tanyanya cepat.

"Aku.. a.. anu.."

Memikirkan apa ya??

"Aku hanya sedang heran, kenapa setiap kali aku dalam bahaya, kau tiba-tiba saja datang dan muncul di hadapan ku?" Tubuh Raka nampak terkesiap atas ucapanku. Sepertinya ini adalah pertanyaan pengalihan yang bagus.

"Waktu itu, ketika pertama kali ke balai kota, aku hampir di hajar oleh para pengawal karena melindungi anak kecil, lalu kau juga muncul di waktu yang tepat.."

".... Sebenarnya, apa yang bisa membuatmu menemukan ku secepat itu? Bahkan malam ini pun begitu."

"Di saat semua orang tak ada, kau benar-benar muncul dan melindungiku. Bukankah itu aneh? Kau seolah memiliki radar denganku, dan itu terhubung." Terangku panjang lebar, membuatnya menundukkan kepala sesaat sebelum menjawab perkataanku.

"Memang aneh, dan itu juga membuatku berpikir lumayan keras." Ucapnya, membuatku mengernyit bingung.

"Maksudnya??"

"Setiap kali kau berada dalam bahaya, aku selalu bisa merasakan dan mengetahuinya. Bahkan aku mengetahui tempat, letak, waktu dan jaraknya. Sampai sedetil itu. Seperti ada yang menuntunku menemuimu." Ucapnya. Terus terang saja itu membuatku terkejut dan merasa heran.

Kenapa bisa begitu?? Apakah yang sebenarnya terjadi. Ini bukanlah kebetulan kan?? Terlalu naif jika kedatangannya di waktu yang tepat adalah sebuah kebetulan.

Lantas.. penjelasan masuk akal apa yang bisa terpikirkan oleh otak dangkal ku ini?? Mungkinkah, ini yang di namakan ikatan batin?? Jodoh, ataukah kami telah melakukan telepati??

Tapi pertanyaannya, kenapa harus Raka? Dan kenapa aku bisa terhubung dengannya??

.......

.......

.......

.......

*Agam POV

Kejadian sebelumnya....

"Kun??!" Seruku lagi, karena tatapan mata hijaunya nampak kosong meski ia telah membuka kedua matanya.

"Gam!! Gawat!!" Keluhnya sembari menenggak ludah. "Saya merasakan.. Ayu..."

Aku mengernyit heran. "Ayu?? Kenapa Ayu?" Tanyaku.

"...Ayu.. Dalam bahaya!!"

Deg!!

Jantungku seketika berdenyut ngilu, dan tentu saja perasaanku membuat Kun merasa semakin kesakitan dan tersiksa. Ia mencengkeram kembali dadanya, sambil meringis kesal menatapku.

"Jangan libatkan perasaanmu!! Kau ingat, selepas kita menyatu, perasaan mu itu benar-benar bisa saya rasakan sepenuhnya!!" Geramnya sambil terus mencengkeram dadanya.

"Maaf, Kun.. Tapi, gimana dengan Ayu?? Apa yang udah terjadi sama dia?" Tanyaku, berusaha untuk tetap tenang dan mengatur perasaanku sendiri.

"Saya melihat dia ketakutan. Ada seseorang yang datang dan menepuk pundaknya dari belakang."

"Rasa ketakutan ini.. terasa seperti nyawanya berada di ambang kematian. Dia akan di bunuh oleh seseorang!!" Terang Kun, membuatku mendengus panjang.

"Kalau itu terjadi, berarti dia sedang gak berada di dalam istana. Karena kemungkinannya, di istana.. dia gak akan mendapatkan ancaman seperti itu."

"Jadi kemungkinannya, ada suatu daerah yang sedang dia kunjungi.. dan kemungkinannya lagi, tempat itu adalah medan pertempuran, mengingat Ayu sekarang telah memegang pekerjaan sebagai tabib prajurit. Dengan kata lain, dia pasti akan ikut turun ke medan pertempuran kalau memang ada peperangan yang akan terjadi." Terkaku, berusaha untuk membaca situasi.

"Ya! Saya setuju!" Balas Kun.

"Oke!! Kalau gitu, elu bisa ngeliat di mana posisi Ayu sekarang??" Tanyaku.

Kun menganggukkan kepalanya. "Oke! Saya akan melepaskan roh dan terbang menuju ke tubuhnya. Ingat, ini adalah jarak yang cukup jauh dan lagi, kini tubuh kita benar-benar berada di tempat ini secara nyata setelah benang merah kita terputus."

"Berbeda dengan sebelumnya, kita berada di dua batas dimensi.. kali ini, terlepasnya roh saya, akan membahayakan tubuh ini. Dan saya tak mungkin melepaskan paku dari kepala saya."

"Intinya, jika terjadi sesuatu pada tubuh saya, selepas sepeninggalan roh saya.."

"Sadarkan saya, bagaimana pun caranya!!" Pinta Kun. Dan aku pun segera mengangguk paham.

"Cepat! Kita gak punya waktu!!" Tukasku.

Tak perlu menunggu waktu yang lama, tubuh Kun langsung terhuyung dan terjatuh di atas kasur dalam posisi tengkurap.

Selepas kepergiannya Kun, kakek Didi muncul dengan wajah lusuh dan sedikit sembab. Ia mengucek matanya sambil menatapku dengan kesal.

"Hei anak ganteng!! Kenapa kau berisik dan membangunkanku selarut ini? Apa kau kira ini sudah pagi?? Aku ini sudah tua, dan punya masalah kesulitan saat tidur malam!!" Gerutunya, terdengar begitu marah.

"Maaf kalau aku membangunkan mu." Ucapku.

Ia memalingkan wajahnya dariku dan menatap lekat ke arah Kun. "Ku rasa yang berteriak tadi adalah anak kurang ajar itu, tapi..." Ia menilik ke arah Kun. "Apa dia pingsan?" Tanyanya, membuatku nyaris tersedak ludah sendiri.

"Tidak. Dia hanya mengigau dan berteriak." Dalihku.

"Dasar!! Tidur saja masih mau menyusahkanku!! Kalau dia berteriak lagi, sumpal mulutnya dengan kaki!!" Gerutunya sambil berlalu dari kamar kami.

Aku menghela napas dan membalikkan tubuh Kun, agar dapat memantau dan melihat keadaannya. Napasnya masih normal, dan tak terjadi hal yang berbeda darinya.

Aku terus memantau perkembangannya, wajah Kun mulai meringis, dengan sigap aku duduk di dekatnya, memperhatikannya dengan seksama.

Hingga ia mulai mengernyit dalam, dan sesuatu mulai keluar dari hidungnya. "Darah?!" Gumamku dengan kedua mata yang terbelalak.

"Kun!! Kun!! Lu dengerin gue?!" Sentakku panik, sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Hn.." Kun hanya menjawab singkat, itu pun jeda antara pertanyaanku dengan jawabannya cukup lama. Responnya mulai lamban dan tak sewajar biasanya.

Buaaah!!

Seketika darah kental keluar berhamburan dari dalam mulutnya. Aku benar-benar panik, ku bangunkan Kun sekali lagi, namun ia masih saja tak sadarkan diri.

Aku menatap kedua tanganku sambil meringis. "Sebelumnya, gue minta maaf, Kun!!" Seruku sambil melayangkan kepalan tangan ku dan...

Buagh!!!

Aku menghantam wajah Kun, membuat tubuhnya tersentak kaget dan kedua matanya terbuka lebar, menampakkan mata hijaunya yang mengerjap cepat.

Pandangan kami seketika bertemu, dan aku merasakan adrenalin aneh yang membuat jantungku kian terpacu, terlebih setelah Kun bangkit dan menarik tubuhku mendekat ke arahnya.

Aku memejamkan mataku dengan erat, membuat penglihatan Kun tergambar jelas di dalam pikiranku.

Aku melihat roh makhluk ini terbang keluar dari dalam jasadnya. Dengan kecepatan kilat, ia terbawa hembusan angin dan melayang ke kiri dan ke kanan bak layangan yang putus dan tak bertuan.

Ia memasuki sebuah desa, jauh dari tubuhnya berada. Aku mengenal desa itu, itu adalah desa pesisir. Dan ia terus melesat ke hutan dan menemukan tubuh Ayu yang ketakutan di dalam hutan.

Selepas mengetahui keberadaan Ayu, ia terbang setinggi mungkin ke atas langit, dan melesat cepat ketika melihat penampakkan Raka yang tengah panik mencari keberadaan Ayu yang menghilang dari dalam tenda.

Kun melesap ke dalam tubuhnya, bukan untuk merasukinya, melainkan untuk mengirimkan sinyal keberadaan Ayu kepadanya.

Raka seketika tersentak. Ia terlihat kebingungan dengan isi hatinya yang tiba-tiba saja memberitahukan keberadaan Ayu.

Kun yang keluar dari dalam tubuhnya dan berada terlalu jauh serta terlalu lama, mulai menampakkan tanda-tanda aneh. Ia merasa kesakitan dan terus menutup hidung dan mengusap dadanya sendiri.

Ini akan memberikan efek buruk ketimbang jika ia melepaskan paku dan jadi roh. Jika melepaskan paku, maka ia akan kehilangan tubuhnya, sementara jika melepaskan roh dari dalam tubuh, maka itu akan membahayakan tubuhnya.

Dua-duanya sama buruk, tapi pilihan terbaiknya hanya pada pelepasan roh, bukan paku.

Roh Kun mulai mengeluarkan darah ketika Raka masih berdebat dengan batinnya. Kun tak pergi, ia ingin memastikan kalau Raka benar-benar sampai pada Ayu dan menyelamatkannya, meski ia kesakitan menahan efek dari tubuhnya yang tertancap paku.

Raka berlari kencang, karena tak ada pilihan selain menuruti kata hati yang telah di sampaikan Kun, sama seperti yang di lakukan hantu itu beberapa kali, ketika Raka menolong Ayu di dekat balai kota.

Raka berlari tanpa henti, dan ia berhasil menemukan Ayu tepat ketika Kun mulai memuntahkan Darah dari dalam rohnya dan berefek pula pada tubuhnya.

Ia tersentak, dan rohnya langsung terserap kembali ke tubuh ketika tersadarkan secara paksa oleh pukulan ku.

Aku mengerjap dan bergidik, ketika ingatan Kun terlepas dari pikiranku. Aku menatapnya yang mulai melepaskan cengkeramannya pada lenganku.

Ia jatuh terhempas namun dengan sigap aku menangkapnya. "Good job, Kun!! Lu berhasil nyelametin Ayu, melalui Raka." Tukasku penuh kebanggaan.

"Kihihihi, berikutnya.. saya akan memukuli kambing bodoh yang ceroboh itu kalau bertemu!!" Keluhnya sambil menyeringai, dan sesekali terbatuk-batuk karena efek buruk dari pelepas rohnya.

.......

.......

.......

.......

...Bersambung......

1
Ryan Alkhumaira
udah sering ngulang kisah ini,tetap saja terharu bacanya..
Ryan Alkhumaira
iyalah pedas mulutnya,ponakan Kun gitu loh
Ryan Alkhumaira
ga pa2 duda,asalkan temannya agam
Ryan Alkhumaira
bener tuh gam,gimana dengan kami kunations?ga ditembak juga?😆
myPuspa
oh ternyataaa
myPuspa
💚
Rofik Aulian
ngambil darah Raka untuk kebangkitan ludira
Rofik Aulian
untung Raka mengikuti
Rofik Aulian
keknya Raka anaknya dah
Rofik Aulian
waaah sudah tau kalo mereka bersama tira
Rofik Aulian
aku sampe lupa siapa dara saking lamanya terakhir baca kun
Rofik Aulian
siapa anda ini
Rofik Aulian
hayo siapa
Rofik Aulian
kebetulan atau tidak yg diincar raja adalah wanita raka
Rofik Aulian
apakah tira adalah raja
Rofik Aulian
ludira
Rofik Aulian
dab setelah ini ayu jadi jembatan perselingkuhan mereka
Rofik Aulian
gila
Rofik Aulian
paku yg akan membunuh raka
Rofik Aulian
koq bisa punya belati?
dan belati itu yg akan menikam ayu sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!