NovelToon NovelToon
Kamar No.11B

Kamar No.11B

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Contest / Rumahhantu / Eksplorasi-misteri dan gaib / Hantu / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:8.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: vikryviik

Ada apa di kamar 11B? Sejak Adi menempatinya, hal-hal tak biasa sering ia alami. Mimpi buruk kadang mengganggu tidurnya, bahkan sesosok wanita sering menghantuinya? Apa karena harga kost tersebut murah? Sampai-sampai Adi tak berniat pindah dari sana.

Atau ada hal lain? Yang membuatnya harus tetap bertahan demi menguak misteri yang terjadi.

Belum lagi, puluhan ekor kucing kadang mengganggu Adi. Seolah selalu memperhatikan dan mengawasinya.

Rasa takut bercampur penasaran menggelayut di kepala Adi. Dapatkah Adi menemukan jawaban tentang sesuatu yang mengganggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vikryviik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 34

Jam di ponselku menunjukkan pukul 22:10, percakapanku dengan Kemala di chat telah usai sedari tadi. Ia bilang akan pergi tidur karena esok ada jadwal kuliah pagi. Aku belum mengantuk, nyanyian dari suara gerimis belum membuatku mengantuk. Malah, chat dari Kemala yang membuat mataku segar.

Aku pindah ke ruang tengah kamarku, ku rebahkan diri di atas kasur. Pandanganku masih tertuju ke layar ponsel, entah apa yang ku lihat, hanya untuk membuat mataku lelah saja agar cepat tertidur.

Pukul 22:35, aku pun tertidur.

***

"Waaaaaaaaa.."

Aku bangun terkaget. Jantungku berdegup kencang. Suara teriakan yang membuatku terbangun.

"Aaaaaaaaaa.."

Teriakannya makin kencang dan melengking. Aku beranjak dari kasurku. Cepat ku buka pintu kamar dan melihat sekeliling. Sumber suara teriakannya berasal dari kamar 11d.

"Waaaaaaaaa.."

Teriakannya terdengar kembali. Seseorang keluar dari kamar 11d, Dini. Ia menuju kamar 11e, kamar Bang Oji.

"Bang, Bang Oji, tolong bang." Dini mengetuk pintu kamar Bang Oji.

"Kak, ada apa kak?" panggilku. Dini menoleh ke arahku. Wajahnya nampak ketakutan. Pipinya basah oleh air mata.

"Bang, tolongin temen saya bang." ucap Dini.

Bang Oji membuka pintu kamar, ia mengucek matanya. Suara teriakan dari kamar 11d masih terdengar.

"Kenapa Din?" tanya Bang Oji.

"Tolongin Ela bang, Ela kesurupan." ucap Dini sambil menangis sesenggukan. Bang Oji bergegas masuk ke dalam kamar 11d, aku mengekor di belakang Bang Oji di ikuti Dini di belakangku. Kami masuk ke ruang tengah kamar 11d.

Benar saja, Ela sedang berdiri di sudut kamar. Kepalanya tertunduk, rambut panjang terurai menutupi wajahnya. Tangannya mengepal. Suaranya merintih sambil sesekali tertawa terkekeh. Menyeramkan.

"Ela, Ela kenapa La?" Bang Oji memanggil.

"Hihihihihhihihi.." hanya suara tawa cekikikan yang keluar dari mulut Ela. Aku menelan ludah, jantungku berdegup cepat. Ini pengalaman pertamaku melihat seseorang kerasukan.

"Di, bantuin gue ya. Kita tangkap Ela, terus kita rebahin badannya di kasur." ucap Bang Oji.

"I..i..iya bang." jawabku gugup menahan rasa takut.

"Dini, kamu ke rumah Nek Iyah. Minta tolong sama Nek Iyah buatin air. Cepet!" Bang Oji menyuruh Dini. Dini mengiyakan lalu bergegas meninggalkan aku dan Bang Oji berhadapan dengan Ela yang kerasukan.

"Siap Di?" tanya Bang Oji.

Ela masih tertawa terkekeh. Matanya terbelalak. Senyumnya menyeringai lebar.

"Satu.. Dua.." Bang Oji menghitung memberi aba-aba.

"Tiga!!"

Aku dan Bang Oji merangsek menangkap tangan Ela. Menariknya, mencoba merebahkan tubuh kecilnya ke kasur. Astaga, tubuh Ela sama sekali tak bergeming. Tangannya masih mengepal.

"Hihihihihhihihi." Ela tertawa cekikikan. Matanya melirik ke arahku.

Deg

Tatapan Ela membuat nyaliku ciut. Tanganku gemetar memegang tangannya. Keringat di dahiku menonjol keluar, membentuk butiran besar.

"Eerrggghh, ayo tarik Di!" ucap Bang Oji.

Ku coba kembali menarik tangan Ela. Nihil. Tubuhnya sama sekali tak bergeming, bahkan satu centi pun. Aku dan Bang Oji tak dapat berbuat apa-apa.

Tiba-tiba, tangan Ela terangkat perlahan. Aku dan Bang Oji pun melepas cengkraman. Tangannya bergerak luwes, seperti gerakan menari. Lehernya bergerak patah-patah, persis gerakan leher penari Bali. Sambil bersenandung atau humming terdengar dari mulutnya. Aku mundur pelan, Bang Oji pun mundur. Aku amat ketakutan.

"Hmmmm.. Hmmmm.. Hmmmm.. Hmmmm.." Ela bersenandung, nadanya terdengar asing bagiku.

Gerakan tangannya masih terus menari. Matanya masih terbelalak menyeramkan. Aku dan Bang Oji hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.

Tak lama Nek Iyah datang membawa segelas air putih di ikuti Dini. Ela masih menari dan bersenandung.

"Astaghfirullah." gumam Nek Iyah.

"Nek.." belum sempat Bang Oji meneruskan kata-katanya, tangan Nek Iyah memberi kode untuk diam. Kami pun diam seribu bahasa.

Nek Iyah memejamkan matanya. Ela masih menari dan bersenandung.

"Hihihihihihihihihi.." kemudian Ela tertawa, tawanya terdengar mengerikan. Melengking. Keras. Aku makin mundur menjauh dari Ela.

Tiba-tiba Ela terdiam, ia berhenti menari dan bersenandung. Kepalanya kembali tertunduk. Ela tertawa terkekeh pelan.

"Mau apa kau Badriyah?" Ela berkata, suaranya serak dan parau. Itu jelas bukan suaranya.

"Hihihihihihi. Mau apa kau Badriyah?" Ela kembali berkata.

Badriyah? Apa itu nama Nek Iyah?

"Hihihihihihihi." Ela kembali tertawa pelan.

"Mau apa kau Merah?" Nek Iyah pun berkata.

Merah? Siapa itu? Apa yang merasuki Ela bernama Merah?

"Hihihihihihihihi. Aku.. hanya ingin.."

"Bersenang-senang.. Badriyah.." Ela kembali berucap.

"Cukup Merah. Kau sudah cukup bersenang-senang. Sekarang pergilah!" balas Nek Iyah.

"Hihihihihihihihihi. Baiklaah. Aku hanya ingin.. mengucapkan.. terima kasih padamu.. Badriyaahh." Ela menjawab, suaranya serak dan berat.

Nek Iyah diam tak berkata.

"Pemudaa.. itu.. sangat aku.. sukaa. Hihihihihi."

Pemuda? Siapa yang di maksud? Aku terus mundur pelan.

"Sekarang pergilah!" tiba-tiba Nek Iyah membentak. Aku dan yang lain terperanjat.

"Hihihihihihihihihi." Ela kembali tertawa.

"Akuu.. ingin seorang.. lagii.. Badriyaah.." Ela meneruskan.

"Seoraang.. pemuda lagii.. Hihihihihihihihi." ucap Ela, kemudian tatapannya tertuju kepadaku. Bulu kudukku seketika berdiri. Jantungku memompa darah dengan kuat.

Lalu Nek Iyah meneguk air dari gelas yang di bawanya. Menyemburkannya ke wajah Ela.

"Hihihihihihihihihi." tawa terakhirnya dan Ela ambruk. Ia pingsan tak sadarkan diri. Aku, Bang Oji dan Dini saling pandang. Tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Tak paham dialog yang Nek Iyah katakan dengan yang di sebut "Merah".

Aku dan Bang Oji mengangkat Ela, membopong dan merebahkannya ke atas kasur. Dini masih menangis.

"Nek, Ela kenapa nek?" tanya Dini.

"Nggak apa-apa. Mungkin kecapean saja." ucap Nek Iyah menenangkan Dini.

Kemudian Nek Iyah duduk di sebelah Ela, mengusapkan air dari gelas yang di bawanya ke seluruh wajah Ela. Ku lihat Dini masih ketakutan. Aku pun begitu.

"Nanti Ela kambuh lagi nggak nek?" Dini bertanya, ku yakin ia panik. Kalau aku jadi Dini, aku pun akan mengajukan pertanyaan yang serupa.

"Enggak. Sudah nenek doain. Sudah nggak apa-apa." Nek Iyah bangun dari duduknya.

"Din, kamu tidur di ruang depan aja kalau memang masih takut." saran Bang Oji.

"Enggak mau bang. Dini nggak mau di sini. Dini takut." ucap Dini.

"Terus mau gimana?" sergah Bang Oji.

"Sudah nggak ada apa-apa Dini. Sudah aman. Jangan takut." jelas Nek Iyah.

"Udah gini aja, kalau Ela kenapa-kenapa lagi, kamu ketok aja kamar Bang Oji. Nanti Bang Oji bangun." Bang Oji coba menenangkan Dini.

"Bismillah aja kak. Insya Allah kalau kata Nek Iyah sudah aman, pasti nggak kenapa-kenapa." sahutku.

Nek Iyah pun kembali ke rumahnya. Aku dan Bang Oji duduk di teras depan kamar 11d, sekedar menemani Dini dari luar. Kami mengobrol membahas yang baru saja terjadi. Banyak pertanyaan muncul, banyak pula opini-opini ngawur dariku dan Bang Oji.

Pukul 01:05, aku kembali ke kamar. Dini nampaknya sudah tidur. Bang Oji pun kembali ke kamarnya. Tubuhku lelah, amat lelah. Energiku seperti tersedot. Tenggorokanku kering, kutenggak segelas air dengan cepat. Ku rebahkan tubuh lemasku di atas kasur. Dan aku pun kembali tidur dengan cepat.

1
Dewii Ratna Daffa'rizkiansyah
iya nih kek badrun y kmna gak muncul2..
Mila Karmila
aneh ya kok semuax bengong bukan membunuh si merah mlh santai santai aja gimn sih ceritax g paham aq
Mila Karmila
ha ha ha jagox kalah
Mila Karmila
mn tika
Mila Karmila
mana ilmu di cemen
Mila Karmila
bukanx mau ambil mustika lupa yaaaa
Shankara Senja
bukan tokoh utamanya yg ga peka.taoi penulisnya ga peka sama konent pembaca
Shankara Senja
si adi lemot apa bodoh ya..secara lulusan pesantren gtu loh..kecuaki orang biasa..hapalan doa untuk apa jg pasti diajarkan..apa penulis yg kurang paham
Wiwit
koq Adi ga ada nanya yg ada perempuan d rmh mang Ujang, koq ceritanya ngambang trus
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
ujang gmn?
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
perasaan udah jelas banget... kalau si adi bakal di jadiin tumbal si kunti *merah* tapi karna punya jimat pengganti nya si wati..... masa adi masih ga paham juga... padahal udah di kasih tau dan dapat petunjuk banyak bangat (dari mimpi).
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
itu mereka ga ada kepikiran buat cari si bagas di rumah mba kunti apah?
KATAKURI
Jujur gua benci sama wanita kayak Kemala ini!!!! asli!!!!
Achiek
adi... adi..... cara pikir mahasiswa kok gitu sih.... yg diincar bkn hny loe... tika dan nyokap kemala kan diincar juga....
Achiek
lho bknnya nyai asih blm meninggal saat keguguran... dan dikuburkan bkn disekitar rumahnya.... ini crt kok jd mundur maju.... belibet nggak jelas....
Achiek
bodoh.... kok bs sich thor sosok bodoh dijadikan aktor utama....
Aris Setyawan
si guntur emang g berguna,,malah nambah masalah
Aris Setyawan
bentar2 dengkul lemas,, aslinya adi punya nyali g sich
Aris Setyawan
selain adi yg pekok,, ternyata anak ponpes satunya juga g kalah pekoknya...hehehehe..
Aris Setyawan
ne cerita nya adi tokoh utama yg g peka,, katanya lulusan ponpes kok g peka,, katanya nyaman dikost ternyata merasa dihantui,, nyamannya dimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!