Jangan lupa tekan jempol dan tulis apa pun di kolom komentar. Itu semua sangat membantu penulis untuk terus update dengan semangat. Terimakasih sudah membaca. Lanjutan dari novel Abang Penjual Sate, Imamku.
********
Ayra, balita berusia lima tahun yang kehilangan ibunya saat baru beberapa Minggu dilahirkan. Mengenal sosok ibu dari cerita semua orang di keluarganya.
Suatu hari, ia meminta pada ayahnya untuk tidak pernah menggantikan ibunya yang pergi. Karena menurutnya, Aisyah tidak akan pernah bisa tergantikan.
Namun, berbeda cerita saat ia bertemu dengan seorang wanita sederhana dari masa lalu sang ayah. Beberapa Minggu bersamanya, Ayra sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok ibu.
Dia meminta pada ayahnya untuk menjadikan wanita itu sebagai ibunya.
Ikuti kisahnya di sini!
Cover: PicsArt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan III
Hingga hari berlanjut malam, Razka dan Ayra masih berada di restauran. Sedangkan Rendy, ia sudah lebih dulu pulang sebelum petang. Keduanya sedang duduk di sebuah bangku restauran. Berbaur bersama pengunjung lain yang sedang menikmati makan malam mereka.
"Ayah, bukankah ini sup? Siapa yang membuat resepnya? Sup ini rasanya beda dengan yang lain," cetus Ayra saat mencicipi kuah sup yang baru saja dihidangkan dan masih mengepulkan asap tipis.
Razka tersenyum, "Eyang yang membuatnya. Beliau memang pemilik resep paling enak di Negeri ini," jawab Razka bangga pada mendiang Nenek.
Ayra mengangguk sembari tersenyum. Mereka memakan makanan restauran sendiri malam ini. Gadis kecil itu begitu lahap menikmati hidangan sup hangat di mangkuknya.
Alunan musik grup lokal menemani para pengunjung menikmati santap malam mereka. Hiburan gratis yang disediakan oleh pihak restauran.
Keadaan di dalam begitu ramai, dengan obrolan para pengunjung yang seolah tak ada hentinya, tak jarang terdengar tawa dari mereka. Lalu-lalang para pelayan yang mengantar pesanan atau pun yang merapikan meja-meja setelah ditinggal pengunjung. Menambah kesibukan di dalam gedung bertuliskan Kedai Si Abang Penjual Sate itu yang terpampang di atas pintu masuk restauran.
Meski duduk di sudut ruangan, menghadap langsung pada jendela, tetap saja keduanya menjadi pusat perhatian para pengunjung. Banyak yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan mengabadikannya menggunakan kamera ponsel mereka.
Kapan lagi, mereka bisa melihat pemilik restauran dan Putri kecilnya itu duduk di bangku pengunjung bersama mereka menikmati hidangan makan malam dari restaurannya sendiri.
Razka dan Ayra sudah selesai dengan makan malam mereka, seorang pelayan datang dan membersihkan meja Razka. Dua minuman hangat dihidangkan di hadapan mereka. Ia pergi membawa piring bekas makan mereka.
"Ayah, kenapa Paman Sam lama sekali? Ini bahkan sudah malam, tapi belum kembali juga," celetuk Ayra tiba-tiba. Karena semenjak mengantar Zia ke butik, Sam belum juga kembali ke restauran.
"Biarkan saja, mungkin Paman Sam bosan berada di restauran. Dia ingin berjalan-jalan sebentar," tukas Razka. Ayra manggut-manggut mengerti.
Razka melirik jam dinding, pukul 20.30. baginya itu sudah larut. Ia menilik Ayra yang masih menyeruput jeruk peras hangat di gelasnya.
"Kita pulang?" ajaknya pada Ayra. Gadis kecil itu meletakan pipet pada gelas dan menyudahi minumnya. Ia memandang ayahnya lalu mengangguk.
Razka beranjak berdiri, ia berjalan keluar dari kursi dan menggandeng tangan Ayra meninggalkan restauran. Ada Roy di pintu masuk yang sengaja menunggunya. Ia membungkuk tatkala Razka dan Ayra melewatinya.
Dengan menaiki motor bututnya, mereka meninggalkan parkiran restauran. Ayra duduk di depan menikmati sepoi angin malam yang berhembus lembut. Razka melaju dengan perlahan, angin malam tidak bagus untuk kesehatan.
"Ayah, kapan acara festival jajanan dimulai?" tanyanya memecah hening antara mereka berdua. "Seminggu lagi, sayang. Kau sudah tidak sabar ya?" goda Razka diikuti kekehan darinya. Ayra hanya mengangguk.
"Ayah, sesuatu terjadi dari arah sana!" ucapnya sembari menunjuk arah kanan tubuhnya.
Razka memalingkan wajah menatap sisi kanan jalan yang terdapat sebuah gang sempit dan gelap.
Ia tidak menghentikan laju motornya, membuat Ayra melakukan gerakan gelisah di atas motor.
"Ada apa?" tanya Razka menatap kepala Putrinya yang berada di bawah dagunya. Ayra melengak menatap ayahnya dari bawah.
"Hal buruk terjadi di tempat itu!" katanya lagi menunjuk arah yang tadi ditunjuknya. Razka mendesah. Tapi di kejauhan telinga kecil Ayra mendengar sesuatu.
"Ayah, apa Ayah mendengarnya?" tanyanya lagi, semakin gelisah gerakan yang dilakukannya. Seolah ingin melompat dari motor Razka dan berlari ke arah tersebut.
"Apa? Ayah tidak mendengar apa pun," tukas Razka yang membuat Ayra berdecak kesal.
Suara itu terdengar lagi, banyak dan diikuti sebuah suara lengkingan yang abstrak tertiup angin.
"Ayah, bisa hentikan laju motor Ayah?" pintanya yang membuat Razka semakin bingung. Sebenarnya apa yang diinginkan gadis kecilnya.
Razka menurut, ia menghentikan laju motornya di pinggir jalan. Perlahan suara abstrak itu semakin jelas terdengar.
"Itu ...." Razka menggantung kalimatnya, saat telinganya menangkap sebuah suara samar di kejauhan.
"Langkah kaki, banyak orang. Dan jeritan ... perempuan!" pekik Ayra melotot pada Razka. Pria itu pun ikut membelalak tak percaya.
"Tolong!" Suara itu begitu jauh terdengar. Tapi, Razka bergeming di tempatnya. Dia hanya berpikir apakah itu memang benar atau hanya permainan yang sedang dilakukan beberapa anak di malam hari. Konyol.
"Ayah, bukankah sebuah kejahatan saat tahu ada kezaliman di sekitarnya tapi hanya diam saja," celetuk Ayra yang membuat Razka tersadar dari lamunannya.
Ia mendorong motornya tanpa menyalakan mesin. Mendorong terus hingga mendekati mulut gang yang mereka pikir dari sanalah asal suara itu.
Langkah kaki itu semakin jelas terdengar, suara pekikan seseorang pun semakin nyata. Itu perempuan. Dia menjerit meminta tolong pada siapa saja yang ada di luar gang tersebut.
Razka memarkirkan motornya di pinggir, ia beranjak dari atas motornya dan berjalan mendekati mulut gang. Berdiri di balik tembok menunggu siapa saja yang datang.
Tangan kanannya direntangkan menahan tubuh Ayra agar tetap bersandar pada tembok itu. Sementara dirinya bersiap menghadang siapa saja yang datang.
Derap langkah itu semakin kuat terdengar, diikuti suara beberapa laki-laki yang terdengar kejam.
"Cepat! Jangan sampai kita kehilangan dia lagi!" teriak salah satu dari mereka.
"Tolong!" Suara perempuan itu terdengar lagi semakin jelas. Ia berlari sekuat tenaga untuk dapat lolos dari kejaran para penjahat yang mengincarnya.
Razka bersiap di tempatnya, tangannya bergerak menarik tangan perempuan itu dengan kuat.
"Argh!" Ia memekik terkejut saat seseorang mencekal tangannya dengan kuat dan menariknya keluar dari gang. Mereka tak sempat bertatap, karena fokus Razka kini terpaku pada beberapa laki-laki yang mengejarnya.
Ia hampir terjatuh jika saja Razka tidak menahannya. Razka melepas cekalan tangannya, tanpa melihatnya ia berjalan dan berhenti tepat di mulut gang. Menanti kedatangan para penjahat yang mengejar wanita itu.
Gadis itu memegangi pergelangan tangannya yang dicekal Razka. Ia meringis, sembari memperhatikan siapa yang telah menariknya dengan kuat. Hingga sebuah sentuhan membuatnya berpaling dengan waspada.
Seorang gadis kecil memakai kaos putih dan celana jeans biru dengan rambut yang diikat dua di sisi kanan dan kirinya. Tersenyum ke arahnya.
Entah mengapa, wanita itu justru bergidik ngeri saat melihatnya. Ia pikir gadis kecil itu hantu yang tiba-tiba datang untuk mengganggunya.
"S-siapa k-kau? D-dan a-apa m-maumu?" tanyanya terbata. Ia menjauh saat Ayra mencoba untuk mendekatinya.
"J-jangan sentuh?" pekiknya terkejut, tangan kanannya terangkat menahan Ayra yang mengangkat tangan hendak menyentuh dirinya.
Ayra memberengut lucu, ia tidak mengerti mengapa wanita itu takut padanya. Ia mendesah menatap garang pada wanita yang semakin mengkerut ketakutan.
"Aku Ayra! Dan aku ... manusia!"
bayi dong