Seorang pemuda yang baru saja mengakhiri perang abadi antara dewa dan manusia kini sudah mati bersama dengan lenyapnya dewa, di atas ruangan kematiannya sendiri kini dia hanya diberi satu pilihan yakni harus menyelamatkan dunia yang baru saja ia selamatkan.
"Tidak ada cara menolaknya, bila ada? Mungkin sudah ku tolak dari dulu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 34 - Konyol
“Jadi, kita akan kemana? Kau tahu bukan ini masih sangat pagi.”
“Diamlah! Aku juga tidak tahu soal masalah itu.”
Di balik cakrawala langit malam, dua orang yang berlawanan jenis dengan jenis perempuannya yang tampak sedang menggendong bayi, ini mungkin membuat banyak orang salah paham dengan mereka berdua, tapi apa boleh buat.
Langit masih belum menunjukkan warna birunya, kini yang ada hanyalah warna hitam yang agak kekuningan lantaran adanya lampu-lampu yang masih menyala di kota ini.
“Kota ini tampak tidak pernah sepi ya!” Xin Chen mengungkapkan pendapatnya.
Dirinya sebenarnya ingin bertanya langsung kepada You Lin, tapi apa gunanya juga bertanya, jika hanya berpendapat saja You Lin juga akan menjelaskan hal tentang itu kepadanya.
“Kota ini memang tampak tidak pernah sepi dari dulu… kota ini terkenal karena biasanya jalur perdagangan harus melewati kota ini.”
“Perdagangan?” Xin Chen bertanya memastikan.
Dirinya kemari sama sekali tidak jalan yang lancar sama sekali, melainkan jalan yang membingungkan yakni hutan belantara. Jika saja dirinya tidak bertemu dengan dua saudara bodoh itu mungkin dirinya tidak akan pernah sampai kesini.
“Aku tidak melihat pedagang sama sekali di gerbang masuk kemarin.”
You Lin yang mendengar perkataan dari Xin Chen tersebut langsung menoleh kan wajahnya menghadap dirinya. “Kau lewat gerbang mana?”
“Eh memangnya gerbang mana lagi? Bukankah di kota ini hanya ada satu gerbang masuk.”
You Lin menghela kan napasnya di hadapan Xin Chen langsung, membuat Xin Chen merasa tidak enak. “Apa kau tahu, gerbang di kota ini tidak hanya ada satu, melainkan empat! Empat gerbang”
You Lin mengatakan hal itu sembari memelototi Xin Chen dengan tajam, sehingga membuat Xin Chen mundur beberapa langkah ke belakang. Dirinya hanya bisa tersenyum kecut menanggapi tatapan tajam dari You Lin tersebut yang tampak tidak bisa di hindari.
“Kau ini memang sangat bodoh ya.” You Lin tampak mendengus kesal, dirinya kemudian melanjutkan langkahnya dengan kesal.
“Entah kenapa aku merasa déjà vu.” Xin Chen menyusul You Lin beserta Xin Ying dengan langkahnya yang santai.
<__>
“Hei kemana anak itu?”
“Tidak hanya dia saja, anak ku juga menghilang kau tahu!”
<__>
Xin Chen berhasil menyusul mereka berdua sekaligus, dirinya saat ini sudah berjalan beriringan kembali dengan You Lin. Xin Chen tampak melihat You Lin, dirinya memperhatikan gaya berpakaian You Lin yang tampak sedikit terbuka, tapi anehnya. “Mana bagian Baja Putihnya?”
Bukan hanya di sini dia memperhatikan You Lin dia sudah terheran-heran sejak di penginapan tadi, lantaran bertanya-tanya sebenarnya di mana bagian Baja Putihya dari gadis tersebut.
“Ini kedua kalinya kau menatap ku seperti itu.” You Lin melirik Xin Chen yang masih tampak sangat amat penasaran.
“Jujur saja, bagian mana dari mu yang di sebut Baja Putih?... Jangan-jangan watak mu yang keras kepala inilah yang dis-“ Perkataan Xin Chen terhenti setelah mendapati pisau dapur berada di lehernya.
“Tunggu itu benar-benar pisau dapurkan? Itu bukan pisau yang lebih keren dari itu kan?” Xin Chen mengangkat tangan nya karena dirinya masih sayang dengan nyawanya yang hanya ada satu tersebut.
“Bicara lah sekali lagi, maka pisau ini akan membunuhmu dalam sekejap.” You Lin menekan kan nadanya.
“Baiklah, aku minta maaf! Aku menyerah.”
You Lin menarik pisaunya kembali dan tampak menghela kan napasnya pelan. Dia melanjutkan langkahnya sembari sedikit memainkan pisaunya itu di tangannya, memutar, melempar, kemudian menangkapnya, atau gerakan yang lebih sulit dari itu dia menunjukkannya dengan enteng.
Xin Chen sempat khawatir dengan pertunjukkan pisau itu, karena pertunjukkan itu tepat ada di depan Xin Ying, mungkin saja secara tidak langsung Xin Ying akan termotivasi oleh permainan pisau itu di masa depan yang menyebabkan masa depannya itu kacau.
Xin Chen berniat ingin melarangnya, tapi sekali lagi dirinya tidak berani. Xin Chen berpikir sebentar, sampai melupakan suatu hal yang mendasar dari muncul nya pisau itu.
“Dari mana kau mendapatkan pisau itu. Bukankah pedang mu masih ada di kamar ku tadi?” Xin Chen bertanya penasaran kepada You Lin.
You Lin meresponnya dengan santai, dirinya berhenti memainkan pisau tersebut dan menunjukkan dari mana asal pisau tersebut. Dengan percaya diri yang sangat tinggi You Lin mengangkat sedikit baju bagian atasnya sehingga membuat perutnya terlihat sedikit, itu terlihat sedikit karena Xin Chen menutup matanya dengan cepat.
“Tolong jangan disini jika ingin bercocok tanam” Xin Chen bergumam pelan, meskipun begitu You Lin masih bisa mendengarnya.
“Cocok tanam matamu! Kau pikir aku perempuan murahan.”
“Kalau kau tidak murahan kau tidak akan mengangkat bajumu memamerkan perut mulus mu itu!” Xin Chen membalasnya dengan nada membentak.
Xin Chen tampak berjalan kesal mendahului You Lin, dirinya tampak sudah muak dengan sikap aneh perempuan yang selalu tidak bisa ia mengerti. “Sialan, sepertinya aku harus belajar banyak darinya.”
Di sisi lain You Lin tampak tersipu malu setelah mendengar perutnya yang di nilai mulus oleh Xin Chen, dirinya tampak sangat gugup setelah peristiwa tersebut, sehingga di perjalanan ini mereka tidak ada yang memulia pembicaraan terlebih dahulu.
Lima belas menit berlalu, perjalanan mereka kini terasa hampa dengan kesunyian yang mengiringi mereka berdua. Di sini lah Xin Chen mulai membuka pembicaraan terlebih dahulu, karena aneh saja bila gadis keras kepala yang ada di belakangnya itu terus-terusan diam.
“Aku lupa. Kita akan kemana?” Xin Chen menolehkan wajahnya menghadap ke wajah You Lin.
Xin Chen mengerutkan dahinya setelah mendapati You Lin tertunduk dengan pipi memerah. ‘Bukankah ini konyol. Terserah kau saja lah.’
“Oi” Xin Chen memangil You Lin sekali lagi, You Lin tampak terkejut dengan panggilan Xin Chen barusan, dirinya sedikit tersentak membuat Xin Ying yang ada di gendongannya juga merasa kaget karena itu.
“Aa-ada a-pa?” You Lin mengalihkan pandangan dengan gugup, dirinya tidak berani menatap wajah Xin Chen setelah peristiwa tadi.
“Kau yang ada apa?” Xin Chen membalikkan pertanyaan yang di terimanya. “Kau tahu bukan, kita masih belum memiliki tujuan. Jadi tolong pilih lah, jangan hanya diam saja. Kau punya mulut kan?”
“Berisik.” You Lin memanyunkan bibirnya kesal karena mendengarkan perkataan Xin Chen tersebut.
‘Mudah! Dengan di pancingnya sifat aslinya keluar, dirinya langsung menjadi dirinya yang tadi. Aku sungguh tidak tahu apa yang dipikirkan oleh perempuan ini, tidak mungkin semuanya aku juga tidak tahu. Benar-benar konyol.’ Xin Chen membatin sembari terkekeh pelan.
“Jadi, kita akan kemana?”
“Aku lapar!” You Lin membalasnya dengan cepat membuat Xin Chen kehabisan kata-kata untuk membalas perkataannya itu.
“Baiklah.”
“Kau yang traktir”
“Eh kenapa aku, apa kau tidak punya uang?”
“Tidak, aku memang punya uang tapi aku tidak membawanya saat pembunuhan.”
“Mohon maaf, tolong jangan ungkit-ungkit soal pembunuhan di depan adikku, dirinya masih kecil.”
“Oh baiklah, itu mudah. Mungkin.”